writing, sharing, expressing

Pijat Refleksi dan Secangkir Kopi

*Relaksasi di Akhir Pekan

Jika Anda pekerja keras, cobalah sekali-kali berelaksasi di akhir pekan. Beban pikiran dan ketegangan bisa dilepaskan dengan pijat refleksi.

Sebuah ruangan berukuran 8 x 8 meter, didominasi warna merah diselingi hitam, dengan beberapa cermin lebar di sepanjang dinding. Itulah salon The Guh Wijaya Negara, Lantai 2 Ramayana Mal, satu- satunya di Pontianak.

Sebuah kursi hitam yang empuk telah menanti. Di depannya ada kursi kecil penyangga kaki. Sebelum dipijat, kaki direndam dalam sebuah baskom berisi air hangat dan busa sabun.
Setelah sekitar lima menit direndam, kaki diangkat ke kursi penyangga. Yanti (21) si pemijat mengeringkan kaki dengan handuk kecil.

Ia lalu melumurkan cream di telapak kaki dan betis. Jemarinya yang lincah mulai beraksi.
"Terasa ndak, Pak?" tanyanya. Memang, pijatannya terlalu lembut awalnya. Selang beberapa saat, jari- jarinya mulai 'garang'.

Telapak kaki dan urat-urat di sekitar jari kaki mulai terasa sakit. Melihat wajah yang meringis, Yanti tersenyum. "Sekarang saya sudah mengeluarkan tenaga dalam," candanya.

Sambil menikmati pijatan Yanti, Anda boleh tertidur nyenyak di sandaran kursi. Atau sambil membaca, meski majalah yang tersedia tampak kumal dan 'kadaluwarsa'.

Ruangan berpendingin itu cukup sepi di hari Sabtu (3/5). "Memang agak sepi, biasanya tak sampai sepuluh orang yang pijat," kata Yanti. Pengunjung ternyata lebih banyak yang potong rambut, cuci rambut atau creambath serta meluruskan rambut atau bonding.

Yanti mengenakan hem putih yang lengannya dilipat sampai siku. Karyawan perempuan lainnya berbusana sama, namun ditambah jas hitam. Tak ada tanda pengenal yang mereka kenakan, selain bordiran nama salon di jas.

Dari cermin besar, tampak dua wanita sedang creambath. Seorang lagi sedang bonding. Karyawan salon yang sedang tak bekerja, bercengkrama sesama temannya. Suara permainan anak-anak di sebelah salon, kadang terdengar saat pintu kaca itu dibuka.

Yanti terus memijat. Setelah jari-jari kaki mengering, ia melumurkan lagi cream buatan Thailand itu. "Ada jenis penyakit yang bisa diketahui lewat pijatan di jari kaki," ujarnya.
Memang, saat ia memijat salah satu jari kaki, rasanya sakit sekali. "Oh, Bapak sakit maag ya," ucapnya.

Pijatan beralih ke betis. Urat-urat yang bersimpul terasa diurai satu per satu. Kantukpun menyerang. "Kalau ngantuk boleh tidur, nanti saya bangunkan kalau sudah selesai," ucapnya lagi. Pijatan nikmat itu pun membaur dalam tidur yang nyenyak.

Sekitar 40 menit, Yanti sibuk dengan cream, jari kaki, dan betis. Lagi, ia melumurkan cream sejuk itu secara merata.

Lalu kedua kaki diselimuti handuk kecil. Hampir sepuluh menit kemudian, barulah ia kembali dan mengelap sisa-sisa cream.Kemudian menaburkan bedak ke seluruh telapak kaki dan betis. "Sudah selesai, Pak," katanya.

Anda cukup membayar Rp 16 ribu untuk pijat refleksi. Anda pun boleh memberi tips pada pemijat yang telah melayani. Jumlahnya terserah Anda, tentu saja.

Selesai pijat, Anda bisa bersantai di food court yang berjarak 5 petak dari salon. Menghirup secangkir good day coolin' cofee, sambil menghisap rokok mild. Makanan lain siap menggugah selera. Ada bakso, cap cay, serta fast food.

"Bagaimana Pak, enak pijatan Yanti tadi?" tanya Rendra (25) sambil menyeruput kopinya. Maklum, ia bertugas sebagai supervisor atau pengawas di salon The Guh Wijaya Negara.

Tugasnya memastikan para karyawan disiplin dan melayani pelanggan dengan baik.
Pria asal Jakarta ini baru 2 minggu menjadi supervisor di Pontianak. Ia menggantikan sementara supervisor yang telah mengundurkan diri. Sebelumnya, ia pernah menjadi supervisor di salon The Guh di Bali dan Salatiga.

Masih Sepi
Salon ini berpusat di Mal Mangga Dua Jakarta. Sudah membuka sekitar 100 cabang di Indonesia. "Cabang yang dibuka di Pontianak baru satu-satunya di Ramayana ini. Kalau tidak salah, dibuka sekitar tahun 2006. Belum ada rencana membuka cabang lain di sini, karena masih sepi," paparnya.

Ia mengatakan, pengunjung salon The Guh memang belum banyak. Hanya berkisar 25-an orang di hari biasa dan sekitar 50-an orang di hari Minggu. Itupun kebanyakan pengunjung yang potong rambut dan keramas.

Peminat pijat refleksi hanya berkisar 5 sampai 10 orang saja per hari. Khusus untuk pijat refleksi, mereka memang kekurangan tenaga. "Hanya ada dua karyawan untuk pijat refleksi. Diharapkan mereka bisa menurunkan ilmunya kepada karyawan lain," ujar Rendra.

Salon ini pun tidak menyelenggarakan trainning bagi karyawan baru. "Kami hanya menerima karyawan yang siap pakai. Mungkin sebelumnya mereka pernah ikut training di tempat lain, atau pindahan dari salon lain, itu yang kita terima," papar Rendra lagi.

Karyawan ini, lanjut Rendra, tidak diikat kontrak. Setelah melewati tiga bulan masa percobaan, mereka akan diangkat menjadi karyawan. Kinerja mereka berikutnya yang akan menentukan, apakah dipertahankan atau tidak.

Disiplin dan Harga Terjangkau
"Kami lebih menekankan kedisplinan. Selain itu, Pak Teguh sebagai pemilik melarang karyawan berdandan secara berlebihan. Cukup dengan make up sederhana, pakaian yang pantas dan sikap yang sopan. Ini untuk menghindarkan penilaian negatif orang-orang terhadap karyawan salon," jelasnya.

Salon ini pun menggondol berbagai penghargaan. Seperti tertulis di brosurnya, meraih predikat salon berprestasi tahun 1996, juara Asia tahun 1995, dan piala bergilir Mendiknas. Sayang, tidak dijelaskan kategori apa saja yang dinilai, sehingga mendapat penghargaan tersebut.

Karyawan salon The Guh Wijaya Negara cabang Pontianak sejumlah 13 orang. Tujuh orang capster yang melayani cuci rambut, pijat refleksi, dan facial. Empat orang stylist yang melayani potong rambut, dan sisanya kasir dan supervisor.

Salon dibuka setiap hari, termasuk hari besar dan libur, mulai jam 10.00 sampai 21.00 WIB. Pola kerja karyawan, satu minggu kerja full-time sesuai jam buka, minggu berikutnya sesuai shif 6 jam, begitu seterusnya.

Apa keistimewaan salon ini dibandingkan salon lain? "Harga bersaing dan lebih terjangkau jika dibandingkan dengan salon lain. Salon ini untuk semua kalangan, dari menengah ke bawah sampai menengah ke atas," kata Rendra.

Sekadar gambaran, biaya potong rambut Rp 7 ribu, creambath Rp 8 ribu, pijat relfeksi Rp 16 ribu. Bandingkan misalnya dengan salon Johnny Andrean, potong rambut Rp 7 ribu, creambath Rp 14 ribu, pijat refleksi Rp 18 ribu. Salon lain, Rudi Hadisuwarno, potong rambut Rp 20 ribu, creambath Rp 20 ribu, dan pijat refleksi Rp 30 ribu.

Akhir pekan, saatnya anda escape dari kesibukan kerja. Pijat refleksi boleh dicoba. Tergantung mana yang sesuai dengan selera dan kocek Anda. Iye ndak?

Artikel terkait: Demi Mama yang Terkena Stroke

Pontianak, 3 April 2008
SEVERIANUS ENDI


* Foto ilustrasi koleksi pribadi.




5 komentar:

Posting Komentar

terima kasih telah berkomentar :)

Pijat Refleksi dan Secangkir Kopi