writing, sharing, expressing

Baru Sekarang Saya Bisa Tertawa Lepas

Wanita anggun itu kini pergi ke negeri lain. Dia pergi tidak tanpa beban. Air mata maupun tawa mewarnai detik-detik akhir, sebelum dia mengabdi di sebuah lembaga internasional.

Hanya lewat layar kaca, aku bisa melihat senyatanya gestural Sri Mulyani, Rabu (26/5/20) siang. Kala itu, dia menyempatkan diri menjawab sejumlah pertanyaan wartawan, beberapa jenak sebelum keberangkatannya ke Negeri Paman Sam.

Dia mengenakan kebaya putih, terlihat bersinar, senyumnya lepas, dan kecantikannya begitu memancar. Dia berkata-kata begitu luwes dan bijaksana, sehingga tayangan itu tidak garing.

Ini tentu beda dengan beberapa bulan belakangan, ketika kita kerap disuguhkan wajah lecek, kumal, ataupun bete dari wanita yang sebelumnya menjabat Menteri Keuangan itu. Maklum, dia sedang diserang dan digencet dugaan keterlibatan skandal Bank Century yang digitnya triliunan itu.

Tapi hari ini, Sri tampil lain, mungkin seperti inilah performance dia waktu gadis dulu. Membuat remuk hati seorang pria yang kasmaran, dengan wajahnya yang berbinar, senyum yang memikat, dan tutur kata halus.

"Saya berangkat didampingi suami."

"Anak-anak titip sama kamu saja, ya?"

"Ya di sana kan ada masa inisiasi, saya akan pelajari bundelan dokumennya, dan siap masuk kantor per 1 Juni, nggak ada masalah."

"Maaf teman-teman wartawan mungkin nunggu saya lama. Soalnya saya harus menyeleksi, mana yang perlu dibawa, mana yang tidak."

"Oke, saya sudah mau berangkat nih. Boleh ya?"

Begitu potongan ucapan Sri, disela hujan pertanyaan bernada tidak sabar dari para juru warta. Dia pun berlalu dengan lambaian serta permohonan doa.

Sri dikenal sebagai wanita tegar berpendirian tegas sekaligus keras. Tapi belakangan, setelah dipastikan dia melepas "beban" sebagai Menkeu dan menerima jabatan di Bank Dunia, kita disuguhkan sisi manusiawi terdalam dari seorang tokoh wanita itu.

"Baru sekarang saya bisa tertawa lepas," ucap Sri dalam sebuah tayangan perpisahannya. Dia terlihat tertawa lepas dipadu canda ceria.

Di tayangan lain, Sri terlihat tersedu-sedu saat menyampaikan sambutan serahterima jabatan dengan Menkeu penggantinya. Beberapa kali pidatonya terhenti, dan seseorang memberikan air putih yang segera diteguknya sedikit.

Tangis itu sebagai ungkapan lega terlepas dari berbagai himpitan di negaranya sendiri. Sepertinya, pekerjaan baru nun di negeri orang, jauh lebih menjanjikan kedamaian dan ketenangan.

"Saya boleh nangis, karena bukan Menteri Keuangan lagi. Soalnya kalau masih Menteri Keuangan, rupiah bisa berguncang," candanya di sela isak tangis dan usapan air mata dengan tissue.

Itulah sosok Sri, figur yang dihantam dari berbagai sisi justru di negerinya sendiri, tapi rupa-rupanya amat dibutuhkan di negeri orang. Jabatan baru di bank dunia pun bukan main-main, konon orang nomor dua atau tiga di lembaga internasional itu.

Sri, hanya satu hal yang belum bisa kuteladani dari dikau. Mungkin aku harus belajar lagi, bagaimana caranya bisa tertawa lepas. Dan, tentu, tawa lepas yang tanpa beban. Ajari, ya...

Severianus Endi | Foto: Kompas Image | Terkait Keberangkatan Sri Mulyani di Kompas




0 komentar:

Posting Komentar

terima kasih telah berkomentar :)

Baru Sekarang Saya Bisa Tertawa Lepas