writing, sharing, expressing

Awas, Ada Tuhan!

Ada yang memotret gue hehe Foto: koleksi pribadi
Tuhan sedang pupuler baru-baru ini. Eits, sabar dulu. Ini bukan soal agama apalagi soal Yang Maha Kuasa. Ini hanya persoalan nama.

Di Banyuwangi, ada seseorang yang bernama Tuhan. Begitu yang tertulis di KTP-nya! Seperti biasa, hal unik begini segera menjadi santapan media massa.

Utamanya media online yang bisa diakses oleh siapa saja di mana saja sejauh pengaksesnya memiliki perangkat seperti smarphone yang berkemampuan internet. Dan seperti biasa, info ini segera menjadi bahan diskusi, debat, atau eyel-eyelan.

Saya tak bisa menyembunyikan senyum dan tawa, bahkan ngakak, membaca riuh-rendahnya pembicaraan mengenai Pak Tuhan ini. Misalnya ada judul berita online: Dua Hari di Jakarta, Tuhan Demam.

Rupanya Pak Tuhan diundang sebuah stasiun televisi di Jakarta. Namanya yang dinilai unik ini akan dikupastuntas tas tas. (Nanti di bagian bawah tulisan saya ini, akan saya tampilkan link-link berita online tentang Pak Tuhan).

Saya sendiri pernah punya pengalaman tentang sebutan Tuhan. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih bekerja sebagai wartawan sebuah koran di Kota Pontianak.

Bidang liputan saya adalah politik dan pemerintahan. Ini membuat saya banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh di 'segmen' itu dan tentu harus senantiasa mengikuti dinamika isunya setiap saat.

Sepanjang saya bertugas di bidang itu, ada satu pejabat tinggi di daerah ini yang tidak pernah bisa saya kontak secara langsung ke telepon selulernya. Pejabat satu ini memang sangat protektif sehingga tidak sembarang orang bisa menghubungi penyeranta pribadinya, kecuali melalui pembantu-pembantunya.

Sebagai wartawan, saya dituntut bisa mengakses nara sumber kapanpun di manapun. Tak heran pada masa itu, saya cukup kenal banyak tokoh politik dan pemerintahan yang sewaktu-waktu bisa saya kontak langsung ke penyeranta pribadinya.

Tapi...untuk pejabat tinggi yang satu ini memang tidak bisa dikontak langsung dalam kondisi darurat. Ha, kondisi darurat dalam dunia kewartawanan adalah saat harus melakukan konfirmasi terkait berita penting dan tidak ada kesempatan berjumpa langsung. Mewawancarai melalui telepon selular adalah solusi dan saat yang sama suara mesin cetak sudah menderu-deru bagai paduan hymne malaikat pencabut nyawa.

Saya baru bisa mewawancarai dia pada momen tertentu misalnya usai pelantikan pejabat, saat kunjungan kerja, atau saat dia menggelar jumpa pers. Ciloko dan cilokonya, atasan saya kerap 'memaksa' dalam keadaan genting, bagaimana caranya saya bisa melakukan suatu konfirmasi kepada 'sang pejabat tinggi' yang nomer handphonenya tak pernah bisa saya peroleh.

Tensi kerja yang tinggi kadang menyulut emosi! Tidak sabar dengan derita ini (hahai) suatu saat saya katakan dengan tegas:

"Hanya Tuhan yang bisa menelpon Pak Tiiit...(sensor demi keselamatan nyawa saya hehe)."

Betapa tidak, mesin cetak yang sudah mulai berbunyi menjelang tengah malam, sudah menjadi teror tersendiri bagi wartawan dan editor yang naskahnya belum tuntas. Nah, kadang ada peristiwa amat penting yang last minute memerlukan tanggapan dari pak 'pejabat tinggi tanpa nomor handphone' dan lagi-lagi mata para editor mengarah ke saya.

Syahdan...suatu malam seperti biasa, news room sedang bertegangan tinggi bagai ruangan IGD di rumah sakit. Ada isu yang lagi-lagi membutuhkan tangapan pak pejabat 'tanpa nomor handphone'. Dan siapa lagi kalau bukan saya yang diminta 'dengan amat sangat' oleh atasan untuk bagaimanapun caranya menghubungi pejabat tinggi 'tanpa nomor handphone' itu, meski untuk sepatah dua patah kata saja (sepatah dua patah kata? Batang singkong kelesss).

Dengan frustrasi saya coba kontak nomor seluler sahabat saya yang merupakan orang dekat sang pejabat tinggi. Dewi Fortuna sedang berpihak kepada saya!

Sang sahabat kebetulan sedang berada bersama 'pak pejabat tanpa nomor handphone' di suatu tempat di Bali. Sepertinya ada agenda politik yang sedang mereka hadiri. Saat saya telepon, mereka sedang beristirahat santay (jangan protes dengan kata 'santay' karena sekali-kali saya pengen alay juga donk!).

"Bisakah saya berbicara dengan beliau melalui handphonemu, Bro," pintaku kepada sahabat itu dengan nasa yang super memelas.

"Oh bisa, kenapa tidak?"

Hampir saya meloncat setinggi-tingginya dan menari-nari terbalik dengan kaki menjejak plafon ruangan. Sambungan telepon saya putus, karena saya akan kembali menghubungi nomor sahabat saya itu menggunakan telepon kantor di ruangan pimpinan saya, sekaligus supaya pimpinan bisa menyaksikan langsung wawancara spektakuler ini.

Kertas kosong dan pulpen saya siapkan. Daftar pertanyaan cukup di dalam kepala, toh ini cuma akan konfirmasi singkat. Nomor seluler sahabat saya pencet di papan dial telepon kantor dan segera tersambung.

"Hallo," suara dari seberang sana.

"Ya ini aku, Bro. Pakai telepon kantor. Mana Bapak?"

Bapak yang saya maksud adalah pejabat tinggi 'tanpa nomor handphone' yang sedang bersama sahabat saya itu. Tak berapa lama di seberang sana telepon telah berpindah tangan.

"Iya hallo, gimanaaa..." wow suara serak dan berat yang sebelumnya hanya saya dengar melalui wawancara face to face akhirnya menggema di horn telepon yang kutempelkan di telingaku. Ada perasaan yang tak terkatakan! Saya lirik pimpinan saya yang memperhatikan saya dengan seksama, ada senyum penuh makna di sana.

"Selamat malam Pak. Maaf mengganggu malam-malam. Saya (menyebut nama) dari harian (menyebut nama koran saya)." Noted: suara saya sudah saya setel dengan begitu berwibawa sampai bos yang sedang di hadapan saya mengangguk-angguk seakan saya berbicara kepada dia, heeee.

"Iya, gimana..." sambut suara di seberang sana. Nadanya rileks.

"Begini Pak. Bla bla bla bla..."

Sejauh yang saya ingat, konfirmasi itu ingin mengetahui pendapat pejabat yang saya telepon terkait konstelasi politik di pusat (Jakarta) yang hari itu berubah cukup drastis. Dua partai politik di pusat memutuskan untuk tidak berkoalisi. Sementara di daerah kekuasaan sang pejabat yang saya telepon, dua partai tadi justru menjadi penyusun paket kepala dan wakil kepala daerah.

Saya minta tanggapan sang pejabat bagaimana dia menyikapi hal ini karena dia adalah ketua satu di antara dua partai politik itu di level daerah. Ternyata dia menangapi dengan santai.

"Ya itu kan di pusat. Kita di daerah lain cerita. Koalisi kami kan sudah lama berjalan. Hehehe."

Wew terdengar tawa riang sang pejabat. Sebelumnya tadi saya mengira, bakal kena damprat! Maklumlah, doi terkenal lumayan temperamen. Saya pernah menghadiri sebuah pelantikan, dan di situ pak pejabat tinggi ini membentak seorang bawahannya di depan umum. Hiii!

Tapi kali ini sepertinya mood-nya sedang bagus. Saya beruntung!

Udah, cuma itu saja yang saya butuhkan dan sedikit tambahan basa-basi. Tugas selesai dan saya segera harus marathon melengkapi naskah dengan tambahan dari wawancara dengan pejabat tinggi itu.

Bagai isu selebritis di televisi, kabar tentang berhasilnya saya menelepon pejabat tinggi 'tanpa nomor handphone' itu segera tersiar ke segenap ruangan. Ada teman yang iseng berkelakar:

"Wah ada Tuhan di kantor kita. Ente pan bilang, hanya Tuhan yang bisa menelpon doi." (Ada dialek Betawi sedikit karena sang komentator memang orang sana yang akhirnya nemplok di Kota Khatulistiwa ini).

Tawa kecil terdengar sayup dari beberapa penjuru mengiringi rasa hangat di telinga dan wajah saya yang sok sibuk mengetik sisa naskah. Saya kira beberapa ulas senyum juga tersugging di bibir rekan-rekan yang khusuk menatap layar monitor masing-masing.

Sejak hari itu! Setiap kali saya memasuki ruang kerja, atau menyusuri koridor di kantor, entah dari sisi mana, beberapa kali kerap terdengar bisikan teman-teman jahil: Ssst... awas ada Tuhan...

Saya antara menyembunyikan senyum dengan ekspresi sok pura-pura tidak mendengar!

Oh ya, bagi yang masih belum sempat update, silakan simak beberapa berita online mengenai Tuhan asal Banyuwangi di link ini.



4 komentar:

Posting Komentar

terima kasih telah berkomentar :)

Awas, Ada Tuhan!