writing, sharing, expressing

Jurnalisme Kulit Ari

Suasana human interest Taman Nasional Danau Sentarum,
lebih menarik daripada seremonial pejabat.
Foto: Antarafoto.com

SEBERAPA penting kulit ari? Jelas penting, setidaknya dia menjadi bagian dari kelengkapan tubuh manusia. Tetapi kurit ari gampang mengelupas, lepas, lalu lenyap tiada bekas. Sang pemilik tubuh pun tak sedih atau menderita jika hanya kehilangan kulit ari.


Begitu juga jika kita mencermati perkembangan pemberitaan sebagian media, baik yang maistream maupun yang aternatif, akhir-akhir ini. Jurnalisme kulit ari mungkin cocok untuk menyebut pemberitaan yang hanya menampilkan permukaannya saja.


Berita yang kurang dalam, kurang detail, dan nyaris tidak menampilkan makna apa-apa. Jelas berseberangan dengan apa yang pernah dicetuskan petinggi Kompas, Jacob Oetama, sebagai jurnalisme makna. Apa makna pemberitaan tertentu bagi kebaikan hidup umat manusia?


Simaklah berita-berita yang jika media lebih sabar melakukan ekspolorasi lebih mendalam, justru akan memberikan banyak manfaat bagi pembaca. Ambil contoh suatu iven yang kebanyaka hanya menampilkan seremonial belaka.


Bahwa acara ini dibuka oleh bla bla bla, dan sambutannya menyatakan bla bla bla; kutipan yang normatif dan membosankan serta tidak memberi makna apa-apa, selain penanda bahwa hari itu telah dilangsungkan suatu kegiatan. Sangat khas berita humas!


Setiap berita akan menjadi sangat bermakna jika ditampilkan detailnya. Semisal suatu festival, meskipun digelar di pelosok negeri, tetapi menyangkut suatu taman nasional yang memiliki keanekaragaman hayati terlengkap di dunia.


Pembaca pasti ingin tahu, bagaimana detail peristiwa itu. Jika misalnya iven dimaksudkan untuk mengundang turis mancanegara, mengapa media tidak fokus pada berapa banyak bule yang lalu lalang di arena acara (note: meski turis luar negeri tidak harus selalu bule).


Jika iven dimaksudkan untuk memperkenalkan kekayaan budaya lewat kerajinan tradisional, mengapa media tidak fokus menampilkan kisah-kisah human interest, kerajinan apa saja yang ditampilkan, bagaimana membuatnya, berapa besar produksinya, seperti apa perjuangan pengrajin mencari bahan bakunya.


Saya kira, informasi terkait detail itu jauh lebih menarik minat pembaca, ketimbang seremoni yang menampilkan pejabat-pejabat berbaju rapi (dan narsis), yang anehnya kerap tidak tahu data-data detail semacam itu.


Mana yang lebih bermakna: detail-detail kecil namun penuh corak, atau statemen normatif para pejabat? Kulit ari tetap penting, namun sumsum jauh lebih penting!




8 komentar:

Posting Komentar

terima kasih telah berkomentar :)

Jurnalisme Kulit Ari