writing, sharing, expressing

Pasar Ngasem, Pasar Burung Tertua dan Terlengkap di Indonesia

DALAM masyarakat Jawa, burung memiliki kedudukan tersendiri. Satwa yang dapat terbang dan mengeluarkan suara indah tersebut di lingkungan masyarakat Jawa telah lama dianggap bagian dari gaya hidup. Bahkan pemilikan burung telah menjadi simbol kemapanan hidup. Para priyayi Jawa di masa lalu merasa belum menjadi priyayi yang sesungguhnya bila belum mempunyai turangga, curiga, dan kukila (kuda, keris, dan burung).

Kuda sebagai kendaraan pribadi, keris sebagai senjata pengamanan diri dan burung sebagai sarana hiburan di rumah. Bagi kalangan elite tertentu di saat ini agaknya dapat disamakan dengan mobil pribadi, pistol dan televisi. Tetapi jenis burung yang menjadi bagian gaya hidup priyayi Jawa di masa lalu terbatas pada burung perkutut. Suara indah yang dikeluarkan burung perkutut menjadi salah satu sumber hiburan.

Kedudukan khusus kukila di lingkungan masyarakat Jawa, khususnya di kalangan priyayi, agaknya mendorong dibukanya pasar burung di kawasan Kraton, yakni Pasar Ngasem. Pasar ini letaknya sekitar 400 meter dari Kraton Kasultanan Yogyakarta, tepatnya di sebelah barat kraton.

Sejarah

Belum ada data akurat mengenai sejarah Pasar Ngasem, khususnya sebagai pasar burung. Dua orang petugas pasar, Sumamo (35 th) dan Sarino (43 th), terus terang mengakui bahwa mereka tidak tahu sama sekali kapan pasar burung Ngasem mulai ada dan berkembang. “Para petugas di sini juga tidak ada yang tahu,” ungkap Sumamo. Hal itu bisa dimaklumi mengingat para petugas pasar hanyalah pegawai Dinas Pasar Pemerintah Kota Yogyakarta yang hanya bertugas menarik retribusi pasar.

Sejauh ini, ada dua versi mengenai sejarah Pasar Ngasem sebagai pasar burung. Versi pertama menyebutkan, Pasar Burung Ngasem mulai berkembang menjelang tahun 1960. Tepatnya sejak dipindahkannya pedagang burung dari Pasar Beringharjo ke Ngasem, 44 tahun lalu. Sedang menurut versi kedua, Pasar Burung Ngasem sudah ada sejak dua abad lalu. Hal ini diperkuat oleh bukti adanya foto tahun 1809 yang dimuat situs http://www.tembi.org. Foto yang menghiasi tulisan “Djogdja Tempo Doeloe” tersebut memperlihatkan kegiatan perdagangan burung di Pasar Ngasem. Bila di tahun 1809 saja sudah ada perdagangan burung di Pasar Ngasem, berarti Pasar Burung Ngasem sudah ada sebelum itu. Ini berarti Pasar Burung Ngasem merupakan pasar burung tertua di Indonesia. Kalaupun 44 tahun lalu ada perpindahan pedagang burung dari Pasar Beringharjo ke Pasar Ngasem, hal itu hanyalah usaha menyatukan pasar burung ke Pasar Ngasem yang telah berkembang lebih dulu.

Aset Wisata

Pasar Burung Ngasem sesungguhnya hanya menempati areal sekitar sepertiga Pasar Ngasem. Sebagaimana dijelaskan Sarino, salah seorang petugas pasar di Pasar Ngasem, dari luas keseluruhan Pasar Ngasem (6.000 meter persegi), kegiatan jual beli burung hanya menempati areal kurang lebih sepertiga (2.000 meter persegi) yang terletak di bagian timur. “Tetapi karena kegiatan jual beli burung lebih ramai dibanding kegiatan jual beli barang lain, maka pamor Pasar Ngasem yang menonjol adalah pasar burung,” jelas Sarino. Apalagi kios-kios di depan Pasar Ngasem hampir semua menjajakan pakan burung, sangkar burung dan berbagai kelengkapan hobi memelihara burung.
Ditinjau dari variasi koleksinya, Pasar Burung Ngasem dapat dikatakan sebagai pasar burung terlengkap di Indonesia. Burung apa saja dapat ditemui di sini. Tidak hanya burung lokal (Indonesia) seperti kutilang, kepodang, emprit, prenjak, jalak, parkit, betet, derkuku, perkutut, dara, cucakrawa, kacer, murai, elang/gagak, kenari dan beo saja yang diperjualbelikan di Ngasem. Burung-burung hasil penangkaran burung mancanegara seperti poksay dari Cina, gelatik silver dari Kanada dan berbagai burung yang bukan khas Indonesia, juga dapat ditemui di Ngasem. Sehingga juga tak begitu salah bila Pasar Burung Ngasem layak diberi predikat Pasar Burung Internasional. Bahkan tidak hanya aneka burung saja yang diperjualbelikan di Pasar Ngasem. Berbagai jenis ikan hias, aneka ayam, berbagai jenis reptil (biawak, ular jinak, tokek), hewan klangenan (pet animal)~ seperti kelinci, marmut, anjing, kucing, juga dapat ditemui di Pasar Ngasem. Seperti dijelaskan Ny Nani (46 th), salah seorang pedagang burung yang kiosnya terletak di sisi paling timur Pasar Ngasem, mulai burung yang termurah sampai termahal (jutaan rupiah) dapat ditemui di Pasar Ngasem. “Bahkan kadang-kadang juga ditemui burung langka yang dilindungi undang-undang, seperti burung nuri kepala hitam dan kakatua koki. Tetapi terus terang kami tidak berani membeli dan menjualnya, sebab takut melanggar undang-undang. Apalagi bila ketahuan petugas, burung tersebut disita, sehingga pedagang rugi besar,” ungkap Ny Nani yang sudah 5 tahun menggeluti bisnis burung di Pasar Ngasem. Petugas pemerintah yang dimaksud ibu yang menjual burung emprit, cucakrawa dan branjangan ini adalah petugas dari Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Dinas Kehutanan DlY.

Burung Langka

Mengenai burung-burung langka yang dilindungi undang-undang, menurut Agus (56 th), hanya kadang-kadang saja ada. Menurut penjual ayam hias yang kiosnya ada di bagian tengah ini, para pedagang burung di Pasar Ngasem yang jumlah resminya 140-an umumnya sudah mengetahui burung apa saja yang dilarang diperjualbelikan secara bebas. Di dinding Kantor Pasar Ngasem sudah lama ditempelkan gambar dan nama burung yang dilindungi Undang-undang. Juga di pintu masuk pasar, dicantumkan bunyi undang-undang yang melarang jual beli satwa yang dilindungi. “Kalaupun ada satu dua oknum pedagang yang nekad memperjualbelikan burung atau satwa langka, biasanya karena ingin mendapatkan keuntungan besar dengan berspekulasi. Tetapi kalau ketahuan petugas justru akan rugi besar,” cerita Agus yang sudah berjualan di Ngasem sekitar 40 tahun.

Dari pengamatan di lapangan, terbukti tidak hanya warga Yogya saja - khususnya hobies burung -yang mengunjungi Pasar Ngasem. Selain turis mancanegara, tidak sedikit pula wisatawan domestik yang tertarik mengunjungi Pasar Ngasem. “Kami berlima berasal dari Pekalongan. Seusai mengunjungi Kraton dan Tamansari, kami menyempatkan diri mampir di Pasar Ngasem. Ternyata banyak burung yang dijual di sini dan umumnya sangat menarik,” ungkap Sukardi (27 th) yang sedang melihat-lihat burung yang dijajakan oleh Ny Nani. Sukardi mendengar perihal Pasar Burung Ngasem dari teman-temannya yang pernah ke Yogya.

Khusus wisatawan mancanegara, saat ini memang hanya sedikit yang mampir ke Pasar Burung Ngasem. Akibat surutnya turis asing yang datang ke Yogya sesudah ledakan bom di Bali, makin sedikit pula turis asing yang mampir ke Ngasem. “Namun demikian setiap hari minimal 25 turis asing pasti mampir ke sini, sesudah ataupun sebelum ke Tamansari. Dulu, saat ramai turis, setiap hari turis asing yang datang lebih dari seratus,” ungkap Sumamo, petugas pasar.

Pasar Burung Ngasem memang potensial dijadikan objek wisata. Satwa yang diperjualbelikan, kecuali beragam dan menarik, juga kaya akan cerita. Misalnya tentang ayam cemani yang sering digunakan untuk keperluan upacara tradisi. Letak pasar yang dekat Kraton dan bersebelahan dengan Tamansari juga merupakan nilai lebih tersendiri. Sayang kondisi pasar tak dibenahi secara optimal, sehingga terkesan kumuh. Juga belum ada pengemasan dalam bentuk cerita dan gambar secara khusus terhadap koleksi satwa di Pasar Ngasem yang disajikan untuk para wisatawan, sehingga daya tarik Pasar Ngasem belum banyak terungkap.

(Kristi Praptiwi, SMU Negeri 2 Yogyakarta, juara I Lomba Penulisan Gaya Jurnalistik yang diselenggarakan JJC/Junior Journalist Club)

source: www.primagama.co.id




4 komentar:

Posting Komentar

terima kasih telah berkomentar :)

Pasar Ngasem, Pasar Burung Tertua dan Terlengkap di Indonesia