<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178</id><updated>2012-02-17T10:17:20.369+07:00</updated><category term='Wartawan'/><category term='Kanada'/><category term='Reuters'/><category term='Franky Sahilatua'/><category term='kecamatan'/><category term='Dorothea'/><category term='Ketapang'/><category term='budaya'/><category term='Nukman Luthfie'/><category term='Bruder FIC'/><category term='menulis'/><category term='koran'/><category term='media criticism'/><category term='books review'/><category term='email'/><category term='Arswendo'/><category term='penelitian'/><category term='gendang'/><category term='kreatif'/><category term='wawancara'/><category term='Usaba 1'/><category term='Tribun Pontianak'/><category term='asrama'/><category term='Singapura'/><category term='Yogyakarta'/><category term='mengarang'/><category term='tradisional'/><category term='warung kopi'/><category term='bocah'/><category term='redaksi'/><category term='politics'/><category term='langit'/><category term='rumah betang'/><category term='Puisi-puisi'/><category term='kampung'/><category term='pedalaman'/><category term='UFO'/><category term='Ny JC Oevang Oeray'/><category term='Savhanna Wilson'/><category term='Hongkong'/><category term='Balai Berkuak'/><category term='Malaysia'/><category term='Kota Pontianak'/><category term='SMP'/><category term='tulisan'/><category term='bidadari mungil'/><category term='James Ritchie'/><category term='TransTV'/><category term='sepa kbola'/><category term='sungai'/><category term='blogger'/><category term='Pontianak'/><category term='opinion'/><category term='mahasiswi'/><category term='features'/><category term='sakit'/><category term='menjenguk'/><category term='Putut'/><category term='desa'/><category term='Bangkok'/><category term='santo Dominikus'/><category term='Dayak'/><title type='text'>endi's blog</title><subtitle type='html'>writting, sharing, expressing</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>102</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-2118534778831835278</id><published>2012-02-08T09:35:00.001+07:00</published><updated>2012-02-08T10:26:05.602+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><title type='text'>Menjamah Keberuntungan di Tubuh Naga</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-E12SWY0tkEk/TzHe1zg_r-I/AAAAAAAAAWQ/AktQ7nj7A84/s1600/Foto+1_kompasiana.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-E12SWY0tkEk/TzHe1zg_r-I/AAAAAAAAAWQ/AktQ7nj7A84/s320/Foto+1_kompasiana.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pemain naga ampil akrobatik .t Foto: S. Endi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;RIBUAN&lt;/b&gt; warga memadati ruas Jl Gajah Mada untuk menyaksikan parade delapan replika naga pada perayaan Cap Go Meh di Kota Pontianak, Senin (6/2/12) siang. Setiap kali arak-arakan naga lewat, para remaja berebutan berlari sambil merunduk melewati tubuh panjang replika yang berkombinasi warna merah dan kuning itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orangtua mengangkat bayi mereka tinggi-tinggi sehingga bisa menjamah tubuh naga. Warga yang tak ingin melewatkan kesempatan ini, merekam atraksi itu dengan kamera saku serta telepon seluler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hubungi kenalan saya, seorang tokoh Thionghoa Pontianak, penasehat Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT), dan juga Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Pontianak, Andreas Acui Simanjaya. Saya tanyakan, apa maknanya remaja-remaja yang suka berlari merunduk melintasi tubuh naga, dan anak-anak kecil yang diangkat orangtuanya untuk menjamah tubuh naga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-OjnyeYCRUfA/TzHfC-nlDXI/AAAAAAAAAWY/AiduKcRwAm0/s1600/Foto+2_kompasiana.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://3.bp.blogspot.com/-OjnyeYCRUfA/TzHfC-nlDXI/AAAAAAAAAWY/AiduKcRwAm0/s320/Foto+2_kompasiana.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Mengabadikan atraksi dengan telepon selular. Foto: S. Endi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Menurut Acui, demikian dia biasa disapa, ada yang percaya jika melewati bagian bawah naga beberapa kali bisa membawa keberuntungan. Menjamah tubuh replika naga bagi anak-anak kecil dimaksudkan supaya mereka mengenal budaya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya anak-anak kan takut sama naga dan barongsai. Jadi dengan menjamahnya, mereka tahu kalau itu terbuat dari kain dan tak berbahaya,” ujar Acui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menambahkan, biasanya jenggot naga yang terbuat dari benang merah juga dibagikan dan disimpan oleh yang menerimanya. Ini sebagai tanda keberuntungan dan memang hanya orang yang beruntung yang bisa mendapatkan jenggot naga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan karena kesempatan ini hanya ada setahun sekali atau jumlahnya terbatas, tapi jenggot naga terbuat dari benang besar berwarna merah, warna keberuntungan dan kebahagiaan,” Kata Acui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perayaan Cap Go Meh di Kota Pontianak, delapan replika naga beratraksi dan diarak-arak oleh ratusan pemain melintasi Jl Gajah Mada yang merupakan sentra bisnis. Arak-arakan mengandung makna pengusiran atas roh-roh jahat, sehingga kesuksesan bisa diraih di Tahun Naga Air ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu naga terpanjang sekitar 70-an meter milik Yayasan Panca Bhakti, tampil dengan sekitar 100 pemain. Pemandu naga memainkan tongkat dengan bola di ujungnya, dan kepala naga meliuk-liuk akrobatik mengikuti arah bola, diiringi tabuhan tambur dan suara gemerincing. Pemain-pemain yang memegang tongkat penopang tubuh naga, beratraksi menyesuaikan dengan liukan-liukan yang memukau penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, puncak festival Cap Go Meh di Kota Singkawang, 120 kilometer dari Kota Pontianak, menampilkan atraksi 765 tatung. Tatung-tatung ini beratraksi dan berpadare di jalan-jalan tertentu, setelah sebelumnya dilepas oleh Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, Festival Cap Go Meh Singkawang menyabet rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk tatung terbayak dan naga terpanjang, tahun ini peringkat itu kembali dicatatakan oleh pawai lampion malam Minggu sebelumnya. MURI diberikan untuk lampion naga terpanjang yang mencapai 138 meter.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;SEVERIANUS ENDI&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-2118534778831835278?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/2118534778831835278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2012/02/menjamah-keberuntungan-di-tubuh-naga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/2118534778831835278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/2118534778831835278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2012/02/menjamah-keberuntungan-di-tubuh-naga.html' title='Menjamah Keberuntungan di Tubuh Naga'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-E12SWY0tkEk/TzHe1zg_r-I/AAAAAAAAAWQ/AktQ7nj7A84/s72-c/Foto+1_kompasiana.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-1061190769198136400</id><published>2012-02-01T13:35:00.001+07:00</published><updated>2012-02-08T09:36:48.996+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media criticism'/><title type='text'>Dialek Jiran di Pedalaman Kalimantan</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Note: Versi yang sudah diedit dari tulisan saya ini dimuat di Harian The Jakarta Post dengan judul "Real lives from the border available on web blog" di &lt;a href="http://www.thejakartapost.com/news/2012/02/01/real-lives-border-available-web-blog.html"&gt;link ini&lt;/a&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-D8GwjGQLXCQ/TyjcsCd8dGI/AAAAAAAAAWA/jhhoMC9kRcw/s1600/blogger+perbatasan_sanggau+ledo.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-D8GwjGQLXCQ/TyjcsCd8dGI/AAAAAAAAAWA/jhhoMC9kRcw/s320/blogger+perbatasan_sanggau+ledo.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Blogger Sanggau Ledo sedang berpose. Foto: Endi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;DUA gadis itu berbicara dalam dialek Malaysia. Padahal jelas-jelas mereka warga sebuah kampung di pedalaman Kalimantan Barat, yang letaknya dekat dengan perbatasan Negeri Jiran itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Realitas yang menggelitik karena begitu fasihnya mereka menggunakan dialek asing di tanah air sendiri. "...hati-hatilah di jalan, jangan sampai dilanggar lori," demikian bagian dialog dalam tulisan di blog itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Yunus, sang penulis, hampir tak bisa menahan tawa. Mana ada lori di jalan setapak? Lori dalam bahasa Malaysia adalah sejenis truk untuk mengangkut barang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Yunus menjadi satu di antara peserta pelatihan Border Blogger Movement (BBM) selama dua hari, Sabtu (28/1/12) hingga Minggu (29/1/12) di Kota Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Pelatihan ini menandai debut perdana program BBM. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Yunus, yang baru belajar menulis dan membut blog, menayangkan cerita itu di laman pribadinya, &lt;a href="http://anaksungkung.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;http://anaksungkung.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Pemuda ini berasal dari Sungkung, sebuah desa di pedalaman Kabupaten Bengkayang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Warga yang berdomisili di perbatasan Kalimantan Barat-Malaysia yang terpilih untuk program ini, diberikan materi mengenai jurnalisme kampung, fotografi, pembuatan video sederhana, serta pemanfaatan media sosial seperti web blog. Muncul aneka kisah human interest yang menarik dari penuturan mereka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Ada yang mengisahkan tentang suka duka warga pedalaman yang berjualan sayuran ke wilayah Malaysia melewati jalan setapak yang licin dan berjurang. Ada pula yang menceritakan, mata uang Ringgit lebih dikenal ketimbang mata uang Rupiah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;"Orang luar seringkali tidak tahu bagaimana kehidupan kami di daerah perbatasan. Lebih baik kami diberi pemahaman jurnalistik dan blog, supaya bisa berbicara tentang kehidupan yang kami alami sehari-hari," ujar A Ika Lestari, guru honorer yang bekerja di sebuah kampung pedalaman di Kacamatan Sanggau Ledo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;"Saya sering melihat siswa saya yang harus berenang menyeberangi sungai pada saat banjir. Betapa perjuangan mereka begitu berat untuk mendapatkan pendidikan. Belum lagi kesulitan hidup lainnya seperti layanan kesehatan," lanjut Ika yang mengaku senang dengan kesempatan ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Peserta lainnya, Udin, membandingkan kemiskinan di pulau Jawa dengan di wilayah perbatasan Kalbar-Malaysia. Menurut dia, hanya pemahaman yang utuh tentang kemiskinan yang bisa memunculkan kebijakan tepat sebagai solusi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;"Miskin di Jawa artinya orang tanpa rumah, tidak memiliki lahan pertanian, dan tanpa pekerjaan tetap. Di daerah kami, semiskin-miskinnya orang, masih punya rumah dan lahan pertanian. Tapi membutuhkan pemberdayaan sumber daya manusia," ujar Udin, yang juga guru honorer di kawasan dusun Paket, Kecamatan Tujuh Belas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;"Kami ingin orang luar mengetahui kisah kami langsung dari kami sendiri. Tinggal di pedalaman membutuhkan keterampilan tambahan supaya kami bisa bersuara dan didengarkan orang atas sana," sambung Okta Lapo, pria yang hanya lulusan SMA yang tinggal di Desa Pereges, Kecamatan Seluas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Dalam pelatihan dua hari itu, para peserta diminta menuliskan pengalaman mereka, kemudian diajari cara memublikasikan tulisan itu di web blog. Mereka menunjukkan semangat dan ketertarikan tinggi, karena keterampilan ini betul-betul baru bagi mereka. Penyelenggara memberi dukungan dengan peminjaman modem serta pulsa gratis semala 5 bulan program ini berlangsung. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Berikutnya, mereka secara mandiri diwajibkan aktif melakukan updating blog mereka dengan kisah-kisah sederhana di sekeliling mereka. Dalam waktu lima bulan ke depan, pengguna internet bisa membaca dan melihat foto-foto menarik buah karya warga pedalaman ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Program BBM memang secara khusus diperuntukkan bagi warga yang berdomisili di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di provinsi Kalimantan Barat. Ada lima kabupatenyang mendapat sentuhan program ini. Setelah Bengkayang, bakal berlanjut ke Kabupaten Sanggau, Kapuas Hulu, Sintang, dan Sambas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Para pelatih berasal dari kalangan jurnalis dan blogger di Kalimantan Barat, yakni Budi Miank dan Bas Andreas dari Pontianak Post, serta Aries Munandar dari Media Indonesia. Manajer Program BBM, AA Mering, berpendapat, sudah saatnya isu-isu perbatasan disuarakan sendiri oleh warga yang sehari-hari mengalami kehidupan riil di batas negara. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Wilayah Malaysia, yakni Serikin, berbatasan langsung dengan Desa Jagoi Babang, setelah sebelumnya melewati Desa Seluas, Kabupaten Bengkayang. Akses transportasi berupa jalan darat, yang semakin ke ujung semakin rusak dan tidak memadai. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Mering mengatakan, enam peserta pelatihan dari Kabupaten Bengkayang, mungkin dinilai sebagai jumlah yang kecil. Namun dengan rangkaian kegiatan ini, jumlah kecil tersebut akan berkolaborasi dengan sejumlah peserta dari empat kabupaten lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Mereka sama-sama akan menyuarakan kisah-kisah warga perbatasan menjadi lebih kuat. Total 45 peserta menjadi target program ini di lima kabupaten perbatasan. (*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN"&gt;SEVERIANUS ENDI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN"&gt; Naskah yang dimuat di The Jakarta Post:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Wednesday, February 01, 2012 13:28 PM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Headlines&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Real lives from the border available on web blog&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;Severianus Endi, The Jakarta Post, Sanggau Ledo | Wed, 02/01/2012 10:41 AM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Two Indonesian girls are speaking in the Malay dialect although they are obviously residents of a village in remote West Kalimantan, located near the border with Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The intriguing reality is that they are fluent in the foreign dialect on their own home soil. Hati-hatilah di jalan, jangan sampai dilanggar lori (Be careful on the road, don’t get hit by a truck) says part of a story on a web-site blog. The word “lori” is not familiar in the Indonesian language.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunus, the blog’s writer, who could almost not stop laughing said, “How could there be a lorry on a path? Lori, in Malay, means truck.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunus participated in a two-day, debut Border Blogger Movement (BBM) training on Jan. 28 and 29 in Sanggau Ledo city, Bengkayang regency, West Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunus, who recently started learning how to write for and create a blog, posted the story on his personal page http://anaksungkung.blogspot.com. The youngster hails from Sungkung, a village in the remote Bengkayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Residents living along the border between West Kalimantan and Malaysia, and who are invited to join a longer five-month program, are provided with training materials on village journalism, photography, simple video-making and utilizing social media, such as web blogs. They have posted several noteworthy human-interest stories.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some tell of the ups and downs of inland residents selling vegetables in Malaysia by walking along slippery paths alongside sheer cliffs, while others talk about the Malaysian ringgit, which is better known than the rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Outsiders often don’t know about our life in the border area. We’d rather be provided with knowledge about journalism and blog making, so we can tell others about the daily lives we lead,” said A. Ika Lestari, a temporary teacher in a remote village in Sanggau Ledo district.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I often see my students having to swim across the river during floods. Imagine how they struggle to obtain an education; not to mention other hardships, like healthcare,” said Ika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another participant, Udin, compared poverty in Java to areas along the West Kalimantan–Malaysia border. He said only a complete understanding about poverty could produce appropriate policies and a solution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Poverty in Java means people without homes, agricultural land or a steady job. Here, the poorest people still own homes and farms, but they need capacity building,” said Udin, who is a temporary teacher in Paket hamlet, Tujuh Belas district.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We want people to know our stories directly from us. Living in the countryside requires additional skills so that we can speak up and be heard by people over there,” said Okta Lapo, who only graduated from senior high school.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During the two-day training, participants were asked to write down their experiences, and were then trained on how to publicize their writings on the web blog. They were full of enthusiasm because the skills were new to them. The organizer provided support by lending modems and free Internet connections during the five-month program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Later, they will be required to independently and actively update their blogs with simple stories. Within five months, Internet users will be able to read the interesting stories and look at the photos posted by the rural residents.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The BBM program is especially entitled to residents living in border areas between Indonesia and Malaysia in West Kalimantan. The program has reached five regencies: Bengkayang, Sanggau, Kapuas Hulu, Sintang and Sambas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-1061190769198136400?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/1061190769198136400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2012/02/dialek-jiran-di-pedalaman-kalimantan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1061190769198136400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1061190769198136400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2012/02/dialek-jiran-di-pedalaman-kalimantan.html' title='Dialek Jiran di Pedalaman Kalimantan'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-D8GwjGQLXCQ/TyjcsCd8dGI/AAAAAAAAAWA/jhhoMC9kRcw/s72-c/blogger+perbatasan_sanggau+ledo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-1814639254663376749</id><published>2012-01-26T13:46:00.003+07:00</published><updated>2012-02-08T09:37:11.350+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media criticism'/><title type='text'>Meneriakkan Kisah Perbatasan Lewat Blog</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-0XuyzghfDys/TyY9tXdRC5I/AAAAAAAAAV4/L3iE0q19Vwg/s1600/typing.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://4.bp.blogspot.com/-0XuyzghfDys/TyY9tXdRC5I/AAAAAAAAAV4/L3iE0q19Vwg/s200/typing.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;Ilustrasi: google.co.id&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;b&gt;BANYAK&lt;/b&gt; kisah&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;human interest yang tersembunyi di kawasan perbatasan Kalimantan Barat-Malaysia, luput dari perhatian pembuat kebijakan. Hanya yang bombastis seperti pencaplokan tapal batas yang biasanya diekspos besar-besaran sampai ke tingkat nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;ebuah program bernama Border Blogger Movement (BBM) digagas oleh para bloger&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;wartawan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; di&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; Kalimantan Barat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;, diperuntukkan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;khusus bagi warga perbatasan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Melalui program ini, warga yang terpilih sebagai peserta akan dibekali dengan keterampilan jurnalisme kampung, adaptasi lokal dari model jurnalisme warga. Peserta juga diberikan materi mengenai fotografi dan video sederhana, serta pemanfaatan media social seperti web blog. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Manajer &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Program BBM&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;, AA Mering, Kamis&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;26&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;/1/12) di Pontianak, mengatakan, program ini diberikan dalam bentuk beasiswa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;. T&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;api beasiswa yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;di&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;berikan bukan dalam bentuk yang umumnya dipahami &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;sebagai pemberian sejumlah dana pendidikan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Beasiswa ini kami berikan dalam bentuk bantuan fasilitas modem dan pulsa gratis, mencetak buku t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;entang &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;perbatasan, peningkatan kapasitas berupa kursus menulis, memotret, weblog, social media, secara offline maupun online. Selain itu juga memberi&amp;nbsp;penghargaan bagi blogger terbaik dari perbatasan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;,” ujar Mering&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Program ini &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;diwujudkan be&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;kerjasama dengan Ford Foundation melalui Cipta Media Bersama. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;ari pelatihan yang digelar &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;gratis bagi setiap peserta, diharapkan berbagai persoalan sederhana namun penting dan menarik yang terjadi di wilayah perbatasan, bisa dipublikasikan secara luas melalui blog. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Dalam lima bulan periode program ini, para p&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;ara peserta wajib menayangkan kisah-kisah, foto-foto, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;video, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;dan aneka peristiwa yang terjadi di perbatasan, ke blog masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; Mering mengatakan, ada &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;impian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; bahwa &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;beberapa &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;bulan ke depan, tersedia referensi yang riil tentang perbatasan yang bisa diakses semua orang melalui internet. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Tentu bukan kisah-kisah bombastis, tetapi yang bersifat human interest dan bahkan terlewatkan oleh para bapak-ibu pejabat yang hanya berkunjung dalam kerangka formalitas belaka ke beranda yang terlupakan ini,” ujar Mering. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; font-size: 12pt;"&gt;Peserta program ini khusus bagi warga potensial yang berasal dari lima kabupaten di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sebagai langkah awal, proses sosialisasi telah dilakukan dengan Himpunan Mahasiswa Perbatasan Sekayam di Pontianak, Selasa (24/1/12). Ketua himpunan tersebut, Yana, mengungkapkan, program ini memberi kesempatan bagi dia dan anggotanya untuk semakin menambah ilmu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Selama ini kami berfikir, apa yang bisa kami buat untuk kampung halaman di perbatasan sana. Program BBM ini memberi kami harapan,” ujarnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Tim BBM segera memulai kegiatan perdana di Sanggau Ledo pada 28-29 Januari, bersama sejumlah peserta yang akan terlibat dalam program ini. Pelatihan akan digelar secara bergiliran di kabupaten-kabupaten lainnya yang berada di kawasan perbatasan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1374912124MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span id="yui_3_2_0_1_1327905907293105" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; font-size: 12pt;"&gt;Di antara kriteria&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 12pt;"&gt; bagi calon peserta&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; font-size: 12pt;"&gt;, b&lt;/span&gt;&lt;span id="yui_3_2_0_1_1327905907293102" lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;erusia minimal 17 tahun atau sudah pernah menikah, bukan PNS, bisa mengoperasikan komputer dan &lt;i&gt;hand phone, &lt;/i&gt;lebih disukai yang memiliki komputer atau laptop&amp;nbsp; sendiri dan memiliki ketertarikan terhadap dunia tulis-menulis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="yui_3_2_0_1_1327905907293105" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span id="yui_3_2_0_1_1327905907293102" lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;b&gt;SEVERIANUS ENDI&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Note: Dalam versinya masing-masing, tulisan ini juga ditayangkan di web JPNN di &lt;a href="http://www.jpnn.com/read/2012/01/27/115454/Meneriakkan-Kisah-Batas-Negara-Lewat-Blog-"&gt;link ini&lt;/a&gt;, Pontianak Post edisi cetak dan portalnya di&lt;a href="http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&amp;amp;id=105803"&gt; link ini&lt;/a&gt;, Media Indonesia di&lt;a href="http://www.mediaindonesia.com/read/2012/01/01/294249/293/14/-Warga-Perbatasan-Berlatih-Ngeblog"&gt; link ini&lt;/a&gt;, RRI stasiun Pontianak di &lt;a href="http://rri.co.id/index.php/detailberita/detail/8404"&gt;link ini&lt;/a&gt;, portal Kalbar-Online di &lt;a href="http://kalbar-online.com/news/jurnalis-sipil/meneriakkan-kisah-perbatasan-lewat-blog"&gt;link ini&lt;/a&gt;, portal Tribun Pontianak di &lt;a href="http://pontianak.tribunnews.com/2012/01/26/warga-batas-dilatih-berkisah-dalam-blog"&gt;link ini&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="yui_3_2_0_1_1327905907293105" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span id="yui_3_2_0_1_1327905907293102" lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="yui_3_2_0_1_1327905907293105" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span id="yui_3_2_0_1_1327905907293102" lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-1814639254663376749?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/1814639254663376749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2012/01/meneriakkan-kisah-perbatasan-lewat-blog.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1814639254663376749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1814639254663376749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2012/01/meneriakkan-kisah-perbatasan-lewat-blog.html' title='Meneriakkan Kisah Perbatasan Lewat Blog'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-0XuyzghfDys/TyY9tXdRC5I/AAAAAAAAAV4/L3iE0q19Vwg/s72-c/typing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-8332221468121263738</id><published>2012-01-24T15:13:00.001+07:00</published><updated>2012-02-08T09:37:48.316+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media criticism'/><title type='text'>Pelatihan Menulis: Kegundahan yang Terus Berulang</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Powtoj3Ic00/Tx5mlEsrFyI/AAAAAAAAAVg/O2yMQohxKOo/s1600/pelatihan+menulis01.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="235" src="http://1.bp.blogspot.com/-Powtoj3Ic00/Tx5mlEsrFyI/AAAAAAAAAVg/O2yMQohxKOo/s320/pelatihan+menulis01.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Menjelaskan konsep dasar penulisan berita. IST&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;BEBERAPA&lt;/b&gt; kali saya diminta memberikan pelatihan menulis. Sebenarnya panitia yang menghubungi saya tidak menyebutnya sebagai "pelatihan menulis", tapi "pelatihan jurnalistik". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerapkali saya langsung mengernyitkan dahi. Pelatihan jurnalistik? Ndak salah nih? Untuk apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalistik terkait mekanisme perencanaan, pencarian bahan, penulisan, dan penyajian suatu berita untuk "diterbitkan" atau "dipublikasikan". Itulah esensi kerja jurnalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pelatihan jurnalistik lazimnya diberikan pada para jurnalis, mulai yang baru magang sampai jurnalis yang akan meng-upgrade kemampuannya dengan berbagai teori dan genre yang terbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau hanya menulis saja, tanpa harus berpatokan pada prinsip-prinsip jurnalistik, dan TIDAK diterbitkan, apakah masih bisa disebut karya jurnalistik? Apakah pelatihan seperti ini masih bisa disebut "pelatihan jurnalistik"? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah tidak lebih tepat jika dibuat lebih spesifik, misalnya pelatihan menulis artikel opini, menulis cerita pendek, dan berbagai tulisan yang sifatnya relatif berbeda dengan kerja-kerja jurnalistik? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang peserta yang menginginkan saya menjadi instruktur itu beragam. Umumnya berasal dari kalangan mahasiswa. Pernah juga kalangan remaja putus sekolah di sebuah dusun. Dan yang menurut saya tak kalah berkesan, saat memberi pelatihan jurnalistik bagi para pastor, para imam muda dari ordo Kapusin (OFM Cap) di Pontianak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi sebagai instruktur terkait latar belakang peserta, jelas harus menyusun materi yang sesuai dengan kapasitas mereka. Berbicara di hadapan para pastor yang notabene para imam dengan tingkat pendidikan di atas rata-rata, akan sangat berbeda dengan berbicara di hadapan remaja putus sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan materi-materi yang disajikan di hadapan peserta mahasiswa, yang masih sangat fresh dengan aneka konsep, teori, dan hal-hal yang utopis dan mengawang-awang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah. Kegalauan yang saya alami, sebagaimana terungkap dalam berbagai pertanyaan itu, bisa terjawab dengan hadirnya konsep "citizen journalism" yang mulai berkembang di Pontianak sekitar era 2010. Pengetahuan dan praktik ini saya dapatkan saat masih bekerja sebagai wartawn Tribun Pontianak, sebuah harian daerah milik Kompas Gramedia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harian daerah berbendera Tribun sudah tersebar di sejumlah kota, seperti Tribun Kaltim di Kalimantan Timur, Tribun Pekanbaru di Pekanbaru, Tribun Batam di Batam, Tribun Timur di Sulawesi Selatan, dan beberapa lagi.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-AjqA2cGIvwY/Tx5m2rJDQGI/AAAAAAAAAVo/mLOWs4qEpsg/s1600/pelatihan+menulis02.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="195" src="http://3.bp.blogspot.com/-AjqA2cGIvwY/Tx5m2rJDQGI/AAAAAAAAAVo/mLOWs4qEpsg/s320/pelatihan+menulis02.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Berlatih memperdalam info dari sebuah foto. IST&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Konsep dan praktik citizen journalism bisa menjawab keinginan kalangan awam (dalam artian kalangan bukan pekerja media massa) untuk turut serta berkiprah di dunia jurnalistik. Citizen journalism memberi kesempatan bagi warga awam non wartawan untuk juga menulis berita dan diterbitkan, sejauh memenuhi kaidah-kaidah jurnalistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di sinilah relevansinya pelatihan-pelatihan yang sering dimintakan kepada saya sebagai instrukturnya! Mengajari para mahasiswa, pastor, remaja putus sekolah, untuk juga menulis peristiwa menarik dan penting yang bisa jadi tidak terjangkau oleh radar wartawan! Kenapa tidak? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegundahan berikutnya adalah: what's next? Saya menginginkan setelah pelatihan usai, selalu ada tindaklanjutnya. Bisa secara kolegial misalnya membidani terbentuknya suatu media internal dari kelompok yang saya latih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataupun tidak lanjut dalam kapasitas yang personal, memunculkan orang-orang baru yang ikut berkiprah dengan tulisannya di media massa, baik sebagai perwujudan dari citizen jornalism, penulis artikel opini atau penulis cerita pendek. Oh ya, juga penulis surat pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegundahan ini beralasan, karena jika tanpa tindak lanjut yang nyata pasca pelatihan, saya beranggapan pekerjaan ini sia-sia. Seakan pelatihan itu hanya bagian dari ritme kehidupan yang formalistik belaka, rutinitas yang hanya lewat sejenak untuk kemudian dilupakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, setiap memberi pelatihan, selalu saya "kompori" peserta untuk mempraktikkan keterampilan menulis. Medianya banyak, jangan hanya terpaku pada media massa seperti koran yang telah menetapkan standar baku untuk menerbitkan suatu tulisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era teknologi yang kian berkembang, internet sudah merambah sampai ke pelosok negeri. Melalui internet, siapapun bisa membuat akun blog yang bisa dimanfaatkan untuk menayangkan tulisan dan foto yang mereka hasilkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-WiWMCnuoFUE/Tx5ngFdEGWI/AAAAAAAAAVw/CmSusKJ_IDE/s1600/pelatihan+menulis03.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="237" src="http://2.bp.blogspot.com/-WiWMCnuoFUE/Tx5ngFdEGWI/AAAAAAAAAVw/CmSusKJ_IDE/s320/pelatihan+menulis03.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Peserta sedang mendiskusikan hasil praktik. IST&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Tapi kembali saya harus mengurut dada! Pelatihan itu lebih sering tinggal menjadi kenangan. Para peserta kembali sibuk dengan dunianya masing-masing. Memang pada masa awal, ada satu dua orang yang masih tergerak untuk menggunakan pengetahuan barunya, misalnya mencoba menulis, mengirimkannya ke koran, atau menulis di blog. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun berusaha secara rutin untuk mengunjungi blog-blog itu. Kadang saya beri umpan balik berupa kritikan dan saran untuk membuat si pemilik blog untuk terus berkarya sembari memperbaiki mutu tulisannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat laun, benar, semua tinggal kenangan. Jejak-jejak karya di laman gratis di dunia maya itu pun seakan berdebu. Tak pernah ada lagi update terbaru. Bahkan yang menyedihkan, ada yang mengeluhkan sudah lupa user name dan passwordnya. Gubrak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kisah sedih dari pelatihan menulis. Kisah sedih yang senantiasa menghadirkan kegundahan. Pada akhirnya saya sadarnya, pekerjaan menulis, baik dengan pendekatan jurnatistik ataupun tidak, selalu bersinggungan dengan kegundahan yang susul menyusul. Mungkin itu pula esensi menulis: berpindah dari kegundahan yang satu ke kegundahan yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEVERIANUS ENDI&lt;br /&gt;* tulisan ini juga ditayangkan di blog www.kompasiana.com/endi_the_djenggoet&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-8332221468121263738?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/8332221468121263738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2012/01/pelatihan-menulis-kegundahan-yang-terus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8332221468121263738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8332221468121263738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2012/01/pelatihan-menulis-kegundahan-yang-terus.html' title='Pelatihan Menulis: Kegundahan yang Terus Berulang'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Powtoj3Ic00/Tx5mlEsrFyI/AAAAAAAAAVg/O2yMQohxKOo/s72-c/pelatihan+menulis01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-3805354994625926064</id><published>2011-07-26T10:24:00.001+07:00</published><updated>2011-07-26T10:36:45.421+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><title type='text'>Masih Rindu Kampung Halaman</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-FXgFSENYhWY/Ti42Kw_m5EI/AAAAAAAAAVc/inji0t9BW-0/s1600/pulkam_EDITED.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-FXgFSENYhWY/Ti42Kw_m5EI/AAAAAAAAAVc/inji0t9BW-0/s320/pulkam_EDITED.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Meninggalkan kampung. Foto: Kek Eya Ebo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;HIDUP&lt;/b&gt; di belantara gedung-gedung bertingkat, bukanlah lagi hal yang aneh. Setidaknya jika yang dijadikan pembanding berupa kehidupan masyarakat pedalaman nun di masa lalu, pada masa-masa awal kemerdekaan, dengan masa kini yang merupakan buah era reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah begitu banyak putra-putri pedalaman yang akhirnya bisa merasakan pendidikan sebagaimana layaknya masyarakat perkotaan. Dan cukup banyak pula dari mereka yang karena perjuangan dan usahanya, berhasil mengubah kehidupan dari orang kampung menjadi orang kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saya berpikiran lain. Mengapa setiap saat selalu terasa rindu pada kampung halaman? Rindu pada kerimbunan hutan, kucuran air alam yang tak kunjung putus, tiupan angin segar, juga kicauan burung yang terbang lepas di sela-sela kanopi pepohonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah gedung pencakar langit metropolitan sudah tidak menarik lagi? Sepatu mengkilap dan pakaian rapi? Bekerja di kantor, bertemu orang-orang modern, yang jauh dari kesan “kotor-becek” karena pekerjaan di hutan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri pun sulit menjawabnya. Sebab, keinginan back to nature bukan perkara sepele. Akan banyak orang yang membelalakkan mata keheranan: mengapa setelah susah payah menempuh pendidikan di kota, mencoba bekerja di beberapa perusahaan modern, eeeh kok malah memilih pulang kampung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah pulang kampung itu simbol kegagalan? Atau menyiratkan “kemunduran” alias anti kemapanan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah terserahlah! Rupa-rupanya, tak terlalu baik juga jika terlalu memperdulikan gunjingan orang lain. Rinduku pada alam dan hutan di kampung, mungkin pengobat segala masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah sikut-menyikut di dunia perkotaan, persoalan intrik-intrik internal di kantor, atau sekadar emosi yang sering memuncak setiap saat. Pulang kampung, maka siaplah melarat, tanpa akses internet, tanpa meeting bisnis, tanpa derap modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelang pertengahan Juli 2011 lalu, aku berkesempatan pulang kampung di pedalaman Kalimantan Barat. Lumayan, aku bisa sedikit mengobati kerinduan akan hutan, alam, halaman atau pekarangan belakang yang penuh pohon buah-buahan, juga suasana kehidupan di kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasakan kembali ritme kehidupan yang unik. Belum tengah malam, suasana kampung sudah begitu sepi dan gelap. Bandingkan dengan derap kehidupan perkotaan yang seakan tidak pernah tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan gelap di perkampungan membuat tidur menjadi nyenyak, beralas tikar pandan dan lantai papan. Segar dan sejuk yang mendamaikan. Dan pagi-pagi sekali, kokok ayam yang merdu terdengar di belakang rumah, membangunkan kami dari lelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air sungai kecil di belakang rumah masih sangat jernih, masih cukup terpelihara dan belum&amp;nbsp; tercemar oleh aktivitas liar penambangan emas tanpa izin di daerah perhuluan. Bambu masih lebat dan di sela-selanya masih tumbuh subuh rebung sebagai bahan sayuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga pakis-pakis segar siap dipetik, dan jika beruntung, ikan-ikan sungai masih bisa tertangkap oleh pancing, pukat, atau bubu (perangkap ikan yang terbuat dari bambu). Tapi, memang semuanya sudah tidak alami lagi, karena kampungku sudah sebegitu tercemar oleh arus modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang serakah melakukan penambangan emas liar di perhuluan sungai besar, sehingga airnya kini menjadi keruh. Tak hanya keruh, tapi kuat dugaan cairan mercury atau air raksa limbah tambang ikut mencemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit bersyukur, karena sungai kecil di belakang rumah masih relatif terjaga dan jernih airnya. Dan sejumlah hutan kecil masih bisa kukunjungi, untuk menikmati kerindangan pepohonan yang sanggup membuat suasana siang terasa bagai sore, saking rindangnya kanopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kampungku sudah tidak sepenuhnya tradisional lagi, namun ciri-ciri “pedalaman” masih senantiasa terasa. Ada kesan yang menyapa, ada kerinduan yang sedikit terobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, benarkah, dan bisakah, aku sungguh-sungguh pulang kampung dan kembali menata kehidupan yang baru bersama segala kerinduan itu? Apakah anda tahu jawabannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note: Tulisan ini juga dimuat di blog saya yang lain di &lt;a href="http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/07/19/masih-rindu-kampung-halaman/"&gt;link ini&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;SEVERIANUS ENDI&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-3805354994625926064?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/3805354994625926064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/07/masih-rindu-kampung-halaman.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3805354994625926064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3805354994625926064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/07/masih-rindu-kampung-halaman.html' title='Masih Rindu Kampung Halaman'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-FXgFSENYhWY/Ti42Kw_m5EI/AAAAAAAAAVc/inji0t9BW-0/s72-c/pulkam_EDITED.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-5645098138834574477</id><published>2011-07-26T10:17:00.001+07:00</published><updated>2011-07-26T10:26:51.041+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><title type='text'>Menikah Adat, Memberitahu Roh Nenek Moyang</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-DXe49uikJBw/Ti4w448LgQI/AAAAAAAAAVQ/3-uKtCGbbXA/s1600/endi+for+blog2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-DXe49uikJBw/Ti4w448LgQI/AAAAAAAAAVQ/3-uKtCGbbXA/s1600/endi+for+blog2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Prosesi adat. Foto: Severianus Endi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-PgmWdVqPV5I/Ti4xL-gAATI/AAAAAAAAAVU/XjZ9oeJm9K4/s1600/endi+for+blog1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;DELAPAN&lt;/b&gt; lelaki berikat kepala duduk melingkar di ruang tengah. Di hadapan mereka terhidang berbagai sesaji yang tidak biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pelomak (ketan yang dimasak di dalam buluh), sayur umbut kelapa, tuak, daging babi, beras, peralatan adat seperti tepayan, kain, dan perhiasan kuno. Malam mulai menjelang, Senin (4/7/11), di ruang tengah sebuah rumah di Kompleks Parit Pangeran, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara pria berikat kepala itu sambung menyambung dalam bahasa Dayak Simpakng. Bahasa yang sulit dimengerti kaum muda, karena merupakan “sastra lisan” warisan nenek moyang, yang intinya sedang melakukan ritual salobar berukupm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ritual penghabisan dari seluruh rangkaian perkawinan adat menurut tradisi Dayak Simpakng di pedalaman Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Pasangan pengantin, Thomas Aleksander dan Lily Monaliza, sebelumnya telah diberkati dalam sakramen pernikahan di Gereja Katolik Santa Sisilia, Sungai Raya Dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meski kita sudah hidup di era modern, adat istiadat tempat saya berasal tetap harus dijunjung tinggi. Saya ingin adat istiadat warisan nenek moyang tetap lestari, sesuai pepatah hidup di kandung adat, mati di kandung tanah,” ujar Thomas yang juga anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan pria berikat kepala itu disebut lemaku, yakni tokoh yang mengerti adat, sekaligus perwakilan kedua pengantin. Empat orang perwakilan pengantin pria, dan empat lainnya perwakilan pengantin perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritual salobar membicarakan kancing kolit atau kunci mati, sebagai pengikat kedua pengantin. Para lemaku menyepakati berbagai aturan dan hukum adat, sebagai usaha agar kedua mempelai tetap langgeng sampai maut memisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-PgmWdVqPV5I/Ti4xL-gAATI/AAAAAAAAAVU/XjZ9oeJm9K4/s1600/endi+for+blog1.jpg" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-PgmWdVqPV5I/Ti4xL-gAATI/AAAAAAAAAVU/XjZ9oeJm9K4/s1600/endi+for+blog1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pemberkatan sensayo. Foto: Severianus Endi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Seorang lemaku, Yulius Sarneon (41), menuturkan, aturan adat misalnya ditetapkan jika suatu saat botuh barubah gunong barinset. Artinya bilamana setelah disahkan secara adat namun di waktu mendatang kedua sejoli ini saling meninggalkan pasangannya, maka sudah ada takaran hukum adat yang harus mereka penuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu sebabnya para lemaku menetapkan sejumlah aturan adat, dengan maksud pasangan ini langgeng hingga akhir hayat,” ujar Sarneon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu ritual salobar tuntas, ungkapan kegembiraan diwujudkan dengan taboh ani-ani bapantun baparabasa, yakni dengan menghamburkan beras, sebagai tanda adat ini sah dan diketahui semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia pernikahan, Maran (42), menjelaskan, adat sabat-sabatan menurut tradisi Dayak Simpakng di antaranya bermakna pemberitahuan pada roh nenek moyang yang hingga saat ini diyakini tetap menjaga kehidupan anak cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adat tetap dipegang karena memberi rambu-rambu bagi pengantin. Jangankan untuk memulai hidup, saat kematian pun ritual adat harus dilaksanakan,” ujar Maran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara prosesi adat, keluarga mendirikan sensayo di ruang tengah. Sensayo dibangun dengan kayu, tebu, pohon pisang, kemudian dilengkapi aneka hasil alam seperti buah-buahan, umbut kelapa, ketan, tuak, yang semuanya melambangkan makanan yang sudah ada sejak nenek moyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberitahuan pada roh nenek moyang akan adanya keluarga baru, diwujudkan dengan adanya sebuah wadah bernama talapm penuata, yang berisi berbagai makanan khas tersebut. Pengantin juga menjalani ritual pibu pangantin. Bentuknya, pengantin duduk didampingi pendamping yang disebut pengintu 3 laki dan 3 perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ekor ayam jantan dan betina dikibas-kibaskan, ini disebut mibu, untuk mengusir hal-hal jahat yang bisa menganggu kehidupan. Pengantin duduk di dekat sensayo dan menghadapi ke matahari terbit, sebagai lambang mereka akan memulai kehidupan baru. (*)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;SEVERIANUS ENDI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Versi yang sudah diedit dimuat di Harian Tribun Pontianak edisi Rabu, 6 Juli 2011 di rubrik Citizen Reporter. Naskah ini juga saya tayangkan di blog saya yang lain di &lt;a href="http://sosbud.kompasiana.com/2011/07/07/menikah-adat-memberitahu-roh-nenek-moyang/"&gt;link ini&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-5645098138834574477?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/5645098138834574477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/07/menikah-adat-memberitahu-roh-nenek.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/5645098138834574477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/5645098138834574477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/07/menikah-adat-memberitahu-roh-nenek.html' title='Menikah Adat, Memberitahu Roh Nenek Moyang'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-DXe49uikJBw/Ti4w448LgQI/AAAAAAAAAVQ/3-uKtCGbbXA/s72-c/endi+for+blog2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-8326847342417575909</id><published>2011-07-25T12:23:00.003+07:00</published><updated>2011-07-26T10:09:12.700+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-puisi'/><title type='text'>Mengapa Rindu Desa</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-3yZHKuQ5eKU/Ti4vjvZWPgI/AAAAAAAAAVM/vhw2qtzkVDY/s1600/kandang+ayam.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="206" src="http://3.bp.blogspot.com/-3yZHKuQ5eKU/Ti4vjvZWPgI/AAAAAAAAAVM/vhw2qtzkVDY/s320/kandang+ayam.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Autoshoot: pekarangan belakang di kampung.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Di sana ada hutan yang tidak lagi belantara&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di dalamnya ada mata air kecil tersembunyi di balik lebatnya belukar&lt;br /&gt;Pun di sana tak ada lagi kicau aneka burung selain desau angin&lt;br /&gt;Pun cuma suara kelepak sayap melintas di atas kanopi pepohonan tak lagi terdengar&lt;br /&gt;Tapi hutan muda&amp;nbsp; itu masih membiarkan pepohonan menjulang seakan hendak menerobos cakrawala&lt;br /&gt;Tapi di sana seperti surga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi orang-orang di sana tak akan pernah bisa mengerti mengapa putra desa harus kembali&lt;br /&gt;Mereka acuh dengan rasa rindu akan sejuknya hawa hutan atau merdunya gemericik air yang menetes dari ujung buluh&lt;br /&gt;Mereka sinis melihat putra desa yang kembali hanya karena mengaku rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempatmu di kota, berseragam dan bersepatu mengkilap, dan naik turun kantor bertingkat, kata mereka&lt;br /&gt;Dan jika tetap nekad kembali pulang, pangkat kegagalan disematkan di pundakmu disertai cibiran dan cemohan&lt;br /&gt;Mereka mengira hidupmu berkecukupan di kota di tengah gedung-gedung berlantai pualam&lt;br /&gt;Kau simbol kebahagiaan desa, kata mereka, dan kau harus tetap hidup di kota&lt;br /&gt;Orang-orang tak pernah akan tahu kau memikul beban dibalik seragam rapi dan sepatu mengkilap&lt;br /&gt;Tawa cela pasti menyertai derap langkah di perjalanan pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masihkah kau memelihara rindu itu?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;SEVERIANUS ENDI&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-8326847342417575909?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/8326847342417575909/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/07/mengapa-rindu-desa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8326847342417575909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8326847342417575909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/07/mengapa-rindu-desa.html' title='Mengapa Rindu Desa'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-3yZHKuQ5eKU/Ti4vjvZWPgI/AAAAAAAAAVM/vhw2qtzkVDY/s72-c/kandang+ayam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-2548799587646834789</id><published>2011-07-25T12:22:00.002+07:00</published><updated>2011-07-26T10:06:46.924+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-puisi'/><title type='text'>Menuju Pertapaan</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-pX3fImOVYrA/Ti4vGukNgvI/AAAAAAAAAVI/7gtbLdgvPAM/s1600/end+for+blog.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="186" src="http://3.bp.blogspot.com/-pX3fImOVYrA/Ti4vGukNgvI/AAAAAAAAAVI/7gtbLdgvPAM/s320/end+for+blog.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto by Boyke Sinurat (RRI Pontianak)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Jalan yang sunyi terus berliku dan seakan tiada ujungnya&lt;br /&gt;Tumbuhan perdu di sekeliling, dan pepohonan menjulang nun di kejauhan&lt;br /&gt;Nafas terus mendengus kencang, seturut tingginya tanjakan&lt;br /&gt;Hawa-hawa alam raya masih saja belum melipur dahaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa tinggi tanjakan ini?&lt;br /&gt;Seberapa curam turunan di sebelah sana?&lt;br /&gt;Seberapa jauh lagi kampung terdekat?&lt;br /&gt;Seberapa mampu tubuh ini bertahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sepi lebih terasa bagai hidup seorang diri&lt;br /&gt;Aneka bunga di pinggir jalan, bermacam kembang di seberang sana&lt;br /&gt;Berjejer hijau penuh harapan namun tampak jauh entah di alam manaTanjakan ini penuh batu, disusul turunan amat licin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana tempat itu?&lt;br /&gt;Mungkin di penghujung sisa-sisa nyawa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sayup suara bagai muncul dari cakrawalaAda bias-bias menyapa lewat sapuan angin dan gesekan dedaunan&lt;br /&gt;Terdengar seperti ranting patah, atau sesekali bagai auman menyeramkan&lt;br /&gt;Kosong, dan masih saja kosongIni penziarahan yang mungkin tak mengenal tempat tujuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;SEVERIANUS ENDI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-2548799587646834789?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/2548799587646834789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/07/menuju-pertapaan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/2548799587646834789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/2548799587646834789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/07/menuju-pertapaan.html' title='Menuju Pertapaan'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-pX3fImOVYrA/Ti4vGukNgvI/AAAAAAAAAVI/7gtbLdgvPAM/s72-c/end+for+blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-318259224745951535</id><published>2011-07-22T17:33:00.001+07:00</published><updated>2011-07-26T09:39:13.036+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-puisi'/><title type='text'>Di Tiang Limit</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-1qdDYpfOVus/Ti4oOtQXPtI/AAAAAAAAAVE/70BKkp6TWTA/s1600/salib2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://3.bp.blogspot.com/-1qdDYpfOVus/Ti4oOtQXPtI/AAAAAAAAAVE/70BKkp6TWTA/s320/salib2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sumber foto: kampungtki.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Hampir menjelang sore penghabisan dengan langit berwarna kemerahan dan angin nan sejuk&lt;br /&gt;Menghayalkan merdunya kucuran air rimba menimpa bebatuan alangkah sejuknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan tingkah aneka burung di ranting yang sebentar lagi siap pulang kandang&lt;br /&gt;Ada kesibukan kecil di pekarangan belakang dengan tumpukan sampah dan bilah laet&amp;nbsp; bekas menganyam tikar atau merakit serua&lt;br /&gt;Kelam pelan-pelan merangkah, dan memang malam akhirnya menjelang dengan pekatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat sudah sore penghabisan, malam pekat kini di tengah desa&lt;br /&gt;Malam pekat, sambil pikiran mengembara mencari kesejukan alam yang kian langka&lt;br /&gt;Sedikit rasa terhibur membelai kerinduan yang bertahun-tahun dahaga&lt;br /&gt;Esok segera tiba pagi permulaan entah seperti apa suasananya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pepohonan dengan kanopi rindang dan suara desau angin yang bersahaja tak pernah berubah &lt;br /&gt;Ada panggilan untuk segera pergi, ada pula desakan untuk sejenak menjauh&lt;br /&gt;Di tiang limit, di tiang limit, tempat segala keputusan harus segera dibuat&lt;br /&gt;Ruang sempit untuk mengambil langkah baru entah ke mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara deaunan rindang sesekali bergoyang di kegelapan&lt;br /&gt;Memberi tanda, atau bukan apa-apa, pada seseorang yang terlalu suka merenung&lt;br /&gt;Ini tiang limit, dan tak ada pilihan lain selain meneruskan langkah (*)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;S&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-318259224745951535?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/318259224745951535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/07/di-tiang-limit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/318259224745951535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/318259224745951535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/07/di-tiang-limit.html' title='Di Tiang Limit'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-1qdDYpfOVus/Ti4oOtQXPtI/AAAAAAAAAVE/70BKkp6TWTA/s72-c/salib2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-3743547902910879051</id><published>2011-07-11T14:14:00.000+07:00</published><updated>2011-07-11T14:14:05.161+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><title type='text'>Mereka Belajar di Bawah Atap Sagu</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-VAUxXqdX6SE/ThqhrUgMqVI/AAAAAAAAAU0/dvrDlpadIaY/s1600/SD+di+Taha.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-VAUxXqdX6SE/ThqhrUgMqVI/AAAAAAAAAU0/dvrDlpadIaY/s320/SD+di+Taha.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Tetap semangat belajar. Foto:Farida.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Beratap rajutan daun sagu, tanpa lantai alias langsung menjejak tanah, berdinding bambu dan papan seadanya, begitulah kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 30 di Kampung Tahak. Kampung ini tidak ditemukan dalam peta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letaknya lebih dari 200 kilometer dari ibu kota Kalimantan Barat, Kota Pontianak. Tapi keceriaan dan keriangan para siswa berseragam putih-merah itu tetap mewarnai hari-hari belajar di ruangan darurat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru kontrak yang mengajar di sekolah itu, Farida (25), menuturkan, hanya ada satu ruangan kelas untuk lima rombongan belajar. Sampai saat ini "bangunan sekolah" masih satu&amp;nbsp; lokal itu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada bulan Maret yang lalu, melalui swadaya warga kampung dan orangtua murid, bangunan darurat ini berhasil didirikan," ujar Farida, Senin (11/7/11). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung Tahak di Balai Pinang, merupakan bagian dari Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang. Jarak ibu kota kabupaten lebih dari 300 kilometer melalui jalan darat trans Kalimantan, yang tambal sulam antara aspal dengan jalan tanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, para siswa belajar di bawah "bangunan seadanya", berupa tiang kayu bulat beratapkan dedaunan yang disusun rapat. Tanpa dinding, apalagi lantai. Langsung menjejak tanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat minat belajar siswa yang tinggi, warga kampung dan para orangtua murid tak tinggal diam. Mereka bergotong royong menyumbangkan papan tulis, kursi dan meja, dan membangun sendiri "ruang kelas" itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kondisi bangunan sekolah itu? Atapnya dari jalinan daun sagu. Dindingnya kombinasi antara papan serta bambu (gedhek) yang meski sudah disusun rapat, tetap menyisakan celah-celah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-bA-XFCR7PP8/Thqh8-MbnUI/AAAAAAAAAU4/sjF9L5VdUkw/s1600/SD+di+Taha2.jpg" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-bA-XFCR7PP8/Thqh8-MbnUI/AAAAAAAAAU4/sjF9L5VdUkw/s320/SD+di+Taha2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Tanpa dinding. Foto: Farida.&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;"Walaupun ber-AC alami, siswa-siswa saya sangat bersemangat belajar. Bangunan darurat bukan halangan, meski ke depan kami berharap ruang kelas yang lebih memadai," ujar Faria. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farida menuturkan, SDN ini berdiri sejak 13 Juli 2009, dan waktu itu baru memiliki satu rombongan belajar yang mendaftar untuk kelas satu. Sedangkan kelas dua dan tiga merupakan pindahan dari ibu kota kecamatan, SDN 02 Balai Berkuak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun pelajaran 2010/2011, jumlah murid dari empat rombongan belajar sebanyak 98 orang. Sedangkan tenaga pendidiknya hanya empat orang: seorang berstatus pegawai negeri sipil (PNS), dua orang guru kontrak, dan seorang honorer yang dibiayai oleh komite sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SEVERIANUS ENDI&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-3743547902910879051?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/3743547902910879051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/07/mereka-belajar-di-bawah-atap-sagu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3743547902910879051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3743547902910879051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/07/mereka-belajar-di-bawah-atap-sagu.html' title='Mereka Belajar di Bawah Atap Sagu'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-VAUxXqdX6SE/ThqhrUgMqVI/AAAAAAAAAU0/dvrDlpadIaY/s72-c/SD+di+Taha.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-1193384804123803007</id><published>2011-07-06T13:50:00.000+07:00</published><updated>2011-07-06T13:50:38.378+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opinion'/><title type='text'>Seri Menulis: Pena Bulu Ayam</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-9w42s8ZJ2Y8/ThQEzhO035I/AAAAAAAAAUs/lRzTH76brUc/s1600/Pena-Tinta-300x300.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-9w42s8ZJ2Y8/ThQEzhO035I/AAAAAAAAAUs/lRzTH76brUc/s1600/Pena-Tinta-300x300.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi: ichancouru.blogspot.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;SEBELUM&lt;/b&gt; ada mesin ketik, pena dengan aksesoris bulu ayam tampak begitu elegan dalam foto-foto sejarah. Dalam film-film kolosal, kerap ditampakkan sang raja atau bangsawan atau ilmuwan masa itu, menulis sesuatu dengan pena cair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri pernah mencoba menggunakannya. Alkisah, saat SMP pada tahun 1993 di Ketapang, pedalaman Kalimantan Barat, saya tingga di asrama siswa milik bruder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asrama itu sudah ada sejak angkatan ayah saya, sehingga beberapa perangkat lama dan kuno masih di temukan. Di gudang, saya temukan banyak sekali “mata pena”, semacam mata pulpen yang terbuat dari logam berwarna kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cari bulu ayam yang biasanya berhamburan di halaman belakang. Mata pena tadi saya pasang ke pangkal bulu ayam, dan saya bersiap untuk menulis. Setelah saya celupkan ujung pena ke dalam tinta, mulailah saya menulis di selembar kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah sulitnya! Tinta berhamburan ke sana ke mari, bentuk tulisan pun tidak karuan, dan rasa-rasanya tidak mungkin digunakan untuk mencatat pelajaran di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pena Bulu Ayam: Kerja Keras&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terbayang seperti apa kerasnya perjuangan para pemikir dan cerdik pandai nun di masa dulu, saat menyalin buah pikiran mereka pada selembar kertas. Saya kira, untuk menulis sesuatu dalam selembar kertas penuh, perlu perjuangan berat: kehati-hatian, tenaga, ketelatenan, dan waktu yang terbuang cukup banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu bagaima cara Plato, Aristoteles, Socrates dan orang-orang sejamannya menuliskan hasil refleksi mereka. Tapi yang jelas, dengan keterbatasan sarana, setiap butir-butir pemikiran itu pastilah tidak sembarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era modern ini, karya-karya itu amat mudah ditemukan dalam bentuk buku yang tercetak apik. Begitu mudahnya, hanya dengan pencet tombol mesin, ribuan ekseplar buku siap dibaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya sedikit tahu dengan cara menulis Bung Karno. Beberapa tulisan tangannya yang bergaya rangkai dan condong ke kanan, bisa ditemukan di beberapa pustaka. Lengkap dengan corat-coretnya mengoreksi bagian yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun, saya yakin, Bung Karno sudah tidak menggunakan pena bulu ayam lagi, pena yang sebentar-sebentar harus dicelupkan ke tinta. Pasti Bung Karno menggunakan pena cair, yakni pena yang sudah memiliki kantong tinta di tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah membaca buku setebal bantal “Di Bawah Bendera Revolusi” yang banyak dicari-cari pada awal era reformasi itu. Ada tulisan tangan yang panjang dan lengkap ikut diterbitkan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati tulisan tangan itu, sedikit bisa menyusuri cara kerja Bung Karno. Menulis buah pikirannya nyaris tanpa kendala, terlihat dari model tulisan yang rapi. Kemudian membaca ulang atau mengoreksi, menambahi, dan membuang bagian yang salah atau kurang tepat, tampak dalam coretan-coretan revisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barulah setelah yakin semua tanpa kekurangan, mungkin saatnya sang tukang ketik bertugas. Menyalin kembali tulis tangan itu agar tersaji dalam bentuk tercetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai generasi kelahiran akhir era 70-an, saya masih merasakan masa jayanya mesin ketik. Karena kala itu, mesin ketiklah satu-satunya teknologi yang cukup terjangkau hingga ke kampung, maka saya terdorong untuk belajar menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat enjoy dan menyenangkan. Tulisan rapi dan terlihat berwibawa setelah sekian lama hanya bisa menulis ala ceker ayam di buku catatan. Cukup memasang beberapa kertas karbon, dan kopian ketikan yang sama persis ikut muncul begitu halaman demi halaman selesai dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan hingga saya memulai perkuliahan pada tahun 1997, mesin ketik masih cukup banyak dipakai. Mahasiswa kalangan “the have” tentu saja sudah jauh-jauh hari meninggalkan mesin merisik tak tik tuk itu, dan menggantinya dengan perangkat komputer yang aduhay canggihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saatnya mengumpulkan paper, alangkah mindernya. Paper hasil karya kawan-kawan begitu kinclong dengan cover cantik bervariasi huruf-huruf aneka bentuk, sementara paper saya hanya berhuruf kecil hasil ketikan mesin ketik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengerjakan sebuah paper 5 halaman saja pun, aku butuh waktu konsentrasi yang cukup panjang. Dimulai membuat kosep dengan tulisan tangan di kertas catatan, kemudian memperkayanya dengan beberapa pustaka, membaca buku rujukan, dan menuliskan kembali buah pikiran sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih belum tuntas. Karena pekerjaan berikutnya adalah mengetikkan seluruh isi paper itu dengan mesin ketik, yang harus dikerjakan ekstra hati-hati agar tidak menabrak garis margin atau salah pencet huruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena iri dan merasa hebat, tapi belakangan saya ketahui dugaan-dugaan kecurangan mahasiswa yang mengumpulkan paper yang dikerjakan dengan komputer. Konon, sekali lagi konon, mereka hanya melakukan copy paste dari bahan-bahan yang mereka peroleh di internet! Hah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebab, saya masih mencoba bangga dengan paper hasil ketikan saya dengan masin ketik, karena saya merasa benar-benar berjuang keras untuk menyelesaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Era Komputer, Era Kemanjaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kita mendengar adanya penulis karbitan di era pena bulu ayam, atau setidaknya di era mesin ketik? Kebetulan saya belum pernah dengar. Mungkin ada, tapi tak banyak terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di era komputer, rasa-rasanya cukup banyak kita mendengar kemunculan penulis-penulis baru yang buku atau artikel mereka bertaburan di mana-mana. Apalagi setelah era komputer semakin dimapankan dengan menjamurnya berbagai jaringan sosial media, yang memungkinkan siapa saja menulis apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap bahan dengan amat mudah dicari melalui search engine, dan, jika masih jujur, cukup dijadikan bahan penunjang tulisan. Tapi jika curang, begitu mudahnya copy paste dan diklaim sebagai karya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah mudahnya penggunaan komputer, sehingga orang tidak perlu khawatir lagi dengan kesalahan teknis tetek bengek huruf bahkan struktur kalimat. Kan bisa diedit nanti jika ada waktu luang, karena filenya bisa dibuka kapan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan pada era pena bulu ayam atau mesin ketik, bisakah pekerjaan itu dikoreksi sedemikian gampang? Salah ketik sedikit, bisa berarti harus mulai dari awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis yang terlalu lancar membuat kontrol kian kendur. Siapapun bisa menghujat dan berkata-kata kotor di jaringan mahaluas di dunia maya ini. Ini hanya sebuah renungan, dan setiap orang pasti punya pendapat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditanyakan pendapat saya, mungkin begini: menulislah dengan lancar di komputer anda, tetapi berfikirlah seakan anda masih menulis dengan pena bulu ayam! Mungkin prinsip ini masih bisa membuat kita tetap setia dengan kejujuran, dan menulis dengan mencurahkan segenap pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SEVERIANUS ENDI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini juga ditayangkan di blog saya yang lain di&lt;a href="http://media.kompasiana.com/new-media/2011/06/23/menulislah-dengan-pena-bulu-ayam/"&gt; link ini&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-1193384804123803007?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/1193384804123803007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/07/seri-menulis-pena-bulu-ayam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1193384804123803007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1193384804123803007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/07/seri-menulis-pena-bulu-ayam.html' title='Seri Menulis: Pena Bulu Ayam'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-9w42s8ZJ2Y8/ThQEzhO035I/AAAAAAAAAUs/lRzTH76brUc/s72-c/Pena-Tinta-300x300.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-2078069546813338287</id><published>2011-06-27T11:16:00.001+07:00</published><updated>2011-06-27T11:22:16.263+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><title type='text'>Sopan Santun di Tempat Maksiat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-left: 0px; margin-right: auto; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Ul69VEXbhM4/TggDfOoIZvI/AAAAAAAAAUk/HS7_-bSPzIo/s1600/streap+tease1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-Ul69VEXbhM4/TggDfOoIZvI/AAAAAAAAAUk/HS7_-bSPzIo/s1600/streap+tease1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasil. Foto: Net&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;&lt;b&gt;JARUM&lt;/b&gt; jam hampir menunjuk pada waktu tengah malam, ketika saya dan seorang sahabat--sebut saja Bang Toyip--memasuki sebuah tempat hiburan malam di ibu kota. Dia yang memang penduduk metropolitan menjanjikan saya sebuah hiburan pelepas penat kerja. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Sebagai orang dari pedalaman, saya segera mengiyakan ajakannya. Meski orang kampung, hiruk-pikuk hiburan malam yang full-syahwat bukanlah barang asing bagi saya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Lewat berbagai tulisan, di buku, di koran, di internet, bahkan beberapa videonya, sudah saya lihat dan cermati. Adrenalin ikut terpacu, meski menikmati dunia malam hanya lewat media semacam itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Tapi kali ini, saya bakal menyaksikannya secara langsung dengan mata kepala sendiri. Di pintu masuk, dua petugas berdasi menyambut kami dengan jabatan tangan dan memperkenalkan. Sopan sekali penyambutannya, bathinku.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Saya, tentu saja, memperkenalkan diri dengan nama palsu. Ruangan itu remang, sorot lampu tembak aneka warna beberapa kali menghujam, dan di panggung sedang ditampilkan live show music. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Saya menikmati suasana dan lagu-lagu klasik yang dilantunkan penyanyi berbusana lumayan seksi: padanan hot pants dengan atasan minimalis! Isapan rokok dan beberapa teguk minuman terasa nikmat sekali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Beberapa pelayan berpakaian seksi menghampiri kami, menyodorkan tangan, dan lagi kami berkenalan. Dengan sopan, meski berbusana seksi, mereka duduk menemani kami. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Saya masih saja tidak tergoda untuk mencandai pelayan itu, karena penampilan live show music di panggung betul-betul memikat. Lagu-lagu lama dinyanyikan dengan aransemen baru, apalagi di antaranya memang lagu kegemaran saya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Mungkin karena merasa kehadirannya tidak dikehendaki, pelayan di sampingku berpamitan. Juga ditambah dengan kata-kata ini: "Bang maaf ya, abang pengen sendiri? Saya pamit ya," sambil kami berjabatan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Dan saya memang tenggelam dalam kesendirian sambil menikmati suasana. Bukan sok suci, tapi dari awal saya tidak berniat ingin melakukan tamasya lendir. Menikmati suasana dan mempelajari sebagian kecil derap metropolitan, jauh lebih menarik bagi saya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Tibalah pada acara puncak. Lima cewek menari dipanggung diiringi musik menghentak. Satu persatu busana pink mereka dilepas, dan...kini memang hanya tinggal CD hitam, satu-satunya kain yang menutupi aurat mereka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Di luar "segitiga emas" itu, seluruhnya terbuka dan mereka berkeliling dari satu meja ke meja lainnya. Tak terkecuali meja kami. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Dan penari yang datangpun permisi dengan amat sopannya: mengatupkan kedua tangan sambil tersenyum, meminta persetujuan untuk show dengan jarak amat dekat sambil duduk di pangkuan. Bisa anda bayangkan, seorang gadis yang hanya bercelana dalam, duduk di pangkuan anda, dan melakukan gerak tari erotis? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-y3WDfnA-zjM/TggFSbCZriI/AAAAAAAAAUo/Q4GuRtM_o34/s1600/streap+tease3.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-y3WDfnA-zjM/TggFSbCZriI/AAAAAAAAAUo/Q4GuRtM_o34/s1600/streap+tease3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi. Foto: Net.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span lang="id"&gt;Tak ingin melukai hati mereka, saya pun mengatupkan kedua belah tangan dan berkata: "Sorry, sorry." Rupanya dia paham, dan tidak jadi show di depan saya. Meski begitu, dia tak putus asa mendapatkan tips, dengan berkata: "Aku minum ya bang..." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Aku pun mengangguk. Seorang pelayan dengan wadah minuman menyodorkan seloki ke penari itu, dan dalam sekali tenggak, minuman itu habis. Sekali lagi, dia minta persetujuanku untuk meneggak satu seloki lagi, dan aku iyakan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Usai sudah, dan dia berlalu untuk berkelana ke meja-meja lainnya. Pelayan membawa minuman senantiasa menyertai masing-masing penari.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Berapa bayaran yang mereka terima? Sulit melakukan kalkulasi, tetapi sepintas bisa dilihat dari sejauh mana tamu-tamu memberikan saweran saat mereka show di pangkuan, atau memberi minuman dalam sloki itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Saya diberitahu, satu sloki seharga Rp 40 ribu, berarti dua sloki tadi Rp 80 ribu. Saya tidak bisa memastikan, malam itu berapa seloki mereka menenggak minuman, serta berapa tamu yang memberi saweran, dan apakah ada yang akhirnya deal sampai ke ranjang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Kesan yang cukup terasa bagi saya terkait sopan santun di tempat-tempat semacam itu. Tidak serta merta seperti orang yang menganggap diri suci yang menghakimi semata sebagai tempat maksiat, para pekerja malam itu masih mengenal "tata krama" meski dalam ukuran yang berbeda. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Ada permisi, ada perkenalan, ada jabat tangan, dan ada kata maaf jika tidak berkenan. Masih ada tata krama di tempat yang dianggap maksiat seperti ini, dan pengunjung dibuat merasa nyaman, meleburkan diri sehingga sejenak bisa lepas dari kepenatan pikirannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Saya sering sekali menjumpai orang-orang yang menggap diri lebih suci dan bermartabat ketimbang orang lain. Tetapi pada saat yang sama, justru tingkah lakunya tidak mencermitkan martabat dan kesucian yang diklaimnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;Bukankan itu namanya munafik? Hipokrit? Lebih berhargakah orang-orang seperti ini jika dibandingkan dengan penari-penari streap tease di tempat hiburan malam? Mari kibarkan bendera perang terhadap hipokrisi manusia!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="id"&gt;SEVERIANUS ENDI&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-2078069546813338287?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/2078069546813338287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/sopan-santun-di-tempat-maksiat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/2078069546813338287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/2078069546813338287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/sopan-santun-di-tempat-maksiat.html' title='Sopan Santun di Tempat Maksiat'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Ul69VEXbhM4/TggDfOoIZvI/AAAAAAAAAUk/HS7_-bSPzIo/s72-c/streap+tease1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-3536777493203538506</id><published>2011-06-24T11:32:00.002+07:00</published><updated>2011-06-24T12:17:50.898+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='books review'/><title type='text'>Gustavo Gutiérrez: Bapa Teologi Pembebasan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-0IPUBepMe_c/TgQUqOKfrLI/AAAAAAAAAUY/s3WprFrMtaY/s1600/gutierrez-theology-of-liberation.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-0IPUBepMe_c/TgQUqOKfrLI/AAAAAAAAAUY/s3WprFrMtaY/s320/gutierrez-theology-of-liberation.jpg" width="201" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tulisan tentang Bapa Teologi Pembebasan ini saya sunting dari sumber Wikipedia bahasa Indonesia. Seorang tokoh bernama Gustavo Gutiérrez Merino OP merupakan teolog dari Peru dan juga imam Dominikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria kelahiran Lima, Peru pada 8 Juni 1928 ini dianggap sebagai pendiri Teologi Pembebasan. Gutiérrez menjabat sebagai Profesor John Cardinal O'Hara dalam bidang Teologi di Universitas Notre Dame. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menghabiskan sebagian besar masa hidupnya dengan hidup dan bekerja di antara orang-orang miskin di Lima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepak terjangnya di dunia akademis mencatatkan beberapa predikat, di antaranya menjadi profesor di Universitas Katolik Kepausan di Peru dan profesor tamu di banyak universitas terkemuka di Amerika Utara dan Eropa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga anggota Akademi Bahasa Peru. Gutiérrez menjadi anggota dewan direktur jurnal internasional berna,a Concilium. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legiun Kehormatan oleh pemerintah Perancis diberikan pada 1993 sebagai bentuk apresiasi karyanya yang tak mengenal lelah. Gutiérrez pernah belajar kedokteran dan sastra (Peru), psikologi dan filsafat (Leuven), dan mendapat gelar doktor dari Institut Pastoral d'Etudes Religieuses (IPER), Université Catholique di Lyon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya terobosan Gutiérrez yakni A Theology of Liberation: History, Politics, Salvation (1971), menjelaskan pemahamannya tentang kemiskinan Kristen sebagai suatu tindakan solidaritas penuh cinta kasih dengan kaum miskin maupun sebagai protes pembebasan melawan kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Gutiérrez, “pembebasan” sejati mempunyai tiga dimensi utama. Pertama, ia mencakup pembebasan politik dan sosial, penghapusan hal-hal yang langsung menyebabkan kemiskinan dan ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pembebasan mencakup emansipasi kaum miskin, kaum marjinal, mereka yang terinjak-injak dan tertindas dari “segala sesuatu yang membatasi kemampuan mereka untuk mengembangkan diri dengan bebas dan dengan bermartabat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, teologi pembebasan mencakup pembebasan dari egoisme dan dosa, pembentukan kembali hubungan dengan Allah dan dengan orang-orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-HtxNARVbDnA/TgQU-QQhmEI/AAAAAAAAAUc/81Q2QGsL90s/s1600/teologi+pembebasan.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-HtxNARVbDnA/TgQU-QQhmEI/AAAAAAAAAUc/81Q2QGsL90s/s320/teologi+pembebasan.gif" width="206" /&gt;&lt;/a&gt;Teologi pembebasan dan Gutiérrez telah berulang kali diperiksa secara cermat oleh Paus. Bukunya A Theology of Liberation: History, Politics, Salvation dibahas oleh Kardinal Ratzinger (kini Paus Benedictus XVI) dan ditemukan mengandung banyak gagasan yang dianggap mengganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada September 1984, sekelompok uskup Peru dipanggil ke Roma untuk mendengar langsung kecaman terhadap Gutiérrez dari Vatikan, namun para uskup itu tetap mendukung Gutiérrez. Meskipun Gutiérrez sendiri tidak dikenai sanksi, banyak teolog pembebasan lainnya mendapatkan sanksi kepausan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hubungan antara para pengikut teologi pembebasan dan kelompok-kelompok komunis seperti Sandinista, yang (umumnya karena orang-orang miskin dilihat sebagai calon potensial pemberontak komunis) banyak imam yang berpikiran pembebasan dibunuh di negara-negara Amerika Selatan pada tahun 1980-an, yang paling terkenal di antaranya adalah Uskup Agung Oscar Romero.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku yang merupakan terjemahan dari bahasa Spanyol ke dalam bahasa Inggris adalah A Theology of Liberation: History, Politics, Salvation; We Drink From Our Own Wells: The Spiritual Journey of A People; On Job: God-Talk and the Suffering of the Innocent; The Truth Shall Make You Free; The God of Life; Las Casas: In Search of the Poor of Jesus Christ. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-3536777493203538506?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/3536777493203538506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/gustavo-gutierrez-bapa-teologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3536777493203538506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3536777493203538506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/gustavo-gutierrez-bapa-teologi.html' title='Gustavo Gutiérrez: Bapa Teologi Pembebasan'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-0IPUBepMe_c/TgQUqOKfrLI/AAAAAAAAAUY/s3WprFrMtaY/s72-c/gutierrez-theology-of-liberation.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-9201346005089490980</id><published>2011-06-24T11:07:00.000+07:00</published><updated>2011-06-24T11:07:31.292+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-puisi'/><title type='text'>Lolongan Anjing Kawin</title><content type='html'>Aku melihat seekor anjing yang kerjaanya kawin terus sambil menggonggong tak tentu arah, dasar anjing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku bisa saja tak peduli dengan syahwat binatang yang tak kenal tempat dan waktu namun lolongan keparat itu selalu saja menganggu tidurku, dasar anjing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bisa saja tiba-tiba binatang itu berbalik arah dan menerkam manusia yang tidak tahu menahu apa salahnya, dasar anjing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kadang manusia tak selalu kejam mau berbagi rezeki memberi makanan atau menugaskannya menjaga rumah, dasar anjing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali kutemukan anjing-anjing lucu menggemaskan yang membuatku jatuh hati&lt;br /&gt;Hewan-hewan yang begitu ramah yang tanpa kata dan suara seakan mengangkat manusia menjadi majikannya&lt;br /&gt;Beberapa kali kupelihara anjing untuk penghibur keluarga sekaligus penjaga pintu rumah&lt;br /&gt;Saban malam dijemputnya aku yang baru kembali dari bekerja dengan sapaan goyangan ekor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidurku begitu tenteram karena sadar ada perlindungan lain yang setiap saat mengingatkanku kala bahaya coba mengusik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi anjing baik memang jarang bertahan lama dan aku tak menyadari anjing kesayangan itu benar-benar hilang entah kemana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini hanya suara-suara lolongan berisik anjing kawin yang memenuhi segenap lorong kompleks sempit alangkah berisiknya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-9201346005089490980?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/9201346005089490980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/lolongan-anjing-kawin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/9201346005089490980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/9201346005089490980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/lolongan-anjing-kawin.html' title='Lolongan Anjing Kawin'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-7369324699429042930</id><published>2011-06-23T10:05:00.000+07:00</published><updated>2011-06-23T10:05:20.547+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-puisi'/><title type='text'>Tentang Dendam Itu (5)</title><content type='html'>Seribu maafpun tak bakal mengubah warna di cakrawala pagi ataupun senja Kuingin bahtera yang penuh kebohongan itu segera karam berlatar lambaian daun kelapa di pulau-pulau tak bernama&lt;br /&gt;Lolongan maaf yang tak berguna menambah indahnya suram cahaya merambat menuju malam&lt;br /&gt;Atau kelip gemintang muram nun di jagad raya tak berbatas tanpa penanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagiamu adalah fitnah demi fitnah yang karena kali ini kujawab dengan kepalan tangan membumbung ke langit&lt;br /&gt;Bahagiamu adalah bungkamnya suara orang-orang baik yang tak berdaya oleh kebiadabanmu&lt;br /&gt;Tapi credo usang itu terus kau nyanyikan dan kian terdengar sumbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bakal kupercaya credomu&lt;br /&gt;Pun jika diucapkan dari altar kumuhmu yang penuh noda fana&lt;br /&gt;Dan khilaf kau bilang?&lt;br /&gt;Puaslah kau jungkir semua sabda, dan tak bakal kupercayai segala petuah dangkal itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bahagiaku adalah melihat kau yang meraung-raung dengan zakar remuk!&lt;br /&gt;Maka akupun ikhlas mendiami neraka&lt;br /&gt;Dengan perjanjian baru tentang kesumat yang tuntas sudah (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-7369324699429042930?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/7369324699429042930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/tentang-dendam-itu-5.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/7369324699429042930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/7369324699429042930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/tentang-dendam-itu-5.html' title='Tentang Dendam Itu (5)'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-4802308011150463457</id><published>2011-06-18T09:53:00.005+07:00</published><updated>2011-07-26T10:30:28.556+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-puisi'/><title type='text'>Doa Sekte Kami</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-nWlhn2JxnYE/Ti4gAUwkewI/AAAAAAAAAVA/e6US2TR1LiU/s1600/pohon.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="197" src="http://2.bp.blogspot.com/-nWlhn2JxnYE/Ti4gAUwkewI/AAAAAAAAAVA/e6US2TR1LiU/s320/pohon.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Lokasi: Kilodua, Juli 2011.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;hai roh pohon yang agung&lt;br /&gt;tempat berteduh segenap jiwa&lt;br /&gt;tempat berharap segenap hidup&lt;br /&gt;hai roh leluhur penjaga bumi&lt;br /&gt;tiupkan hawa sejuk pemberi nyawa!&lt;br /&gt;biarkan yang jahat berlalu, dan yang baik tumbuh mekar hijau memberi nafas kehidupan bagi akar-akarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hai roh pohon yang agung....&lt;br /&gt;masihkah ada asa lain kami gantungkan?&lt;br /&gt;nun dikala sungai masih begitu bening dengan liukan ikan bagai selendang&lt;br /&gt;tak terbayang kini akar kokohmu pun berhamburan di depan wajah orang-orang yang tak kami kenal&lt;br /&gt;terjungkal riuh dan berdebum menghantam bumi meninggalkan kencangnya lari bocah-bocah kampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dedaunan terbang bagai tarian kematian&lt;br /&gt;meliak-liuk dipadu sapuan angin merambat meniti zaman mencari tempat mendarat&lt;br /&gt;dihujam sinar matahari garang yang segera rakus menyedot mata air kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hai roh pohon yang agung&lt;br /&gt;tumbuhlah kembali, tumbuhlah kembali (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SEVERIANUS ENDI&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-4802308011150463457?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/4802308011150463457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/doa-sekte-kami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/4802308011150463457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/4802308011150463457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/doa-sekte-kami.html' title='Doa Sekte Kami'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-nWlhn2JxnYE/Ti4gAUwkewI/AAAAAAAAAVA/e6US2TR1LiU/s72-c/pohon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-1215973476176734171</id><published>2011-06-18T09:41:00.002+07:00</published><updated>2011-06-23T10:09:32.356+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-puisi'/><title type='text'>Tentang Dendam Itu (4)</title><content type='html'>Segera singkirkan petuah busukmu sebelum temali kesabaran lepas dari rontaanku&lt;br /&gt;Tak lagi mempan kau berlindung dibalik jubah-jubah kebiadabanmu&lt;br /&gt;Ooo, kau hendak bertameng kata-kata suci itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahahahahahahaha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pikir orang-orang itu lugu seperti yang kau kira?&lt;br /&gt;Kau pikir selamanya mata mereka buta?&lt;br /&gt;Ah, kali ini kaulah yang buta&lt;br /&gt;Alangkah gelinya melihat sosok ringkihmu yang masih bertahan di landasan rapuh itu&lt;br /&gt;Betapa kesumat ini mulai terobati melihat kau mulai terombang-ambing menuju kematianmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta masih kau plesetkan&lt;br /&gt;Cinta masih kau peralat&lt;br /&gt;Dan cinta akan menyulapmu dalam fatamorgana demi fatamorgana&lt;br /&gt;Menggiringmu ke sana, ke sana, ke alam sana (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-1215973476176734171?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/1215973476176734171/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/tentang-dendam-itu-4.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1215973476176734171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1215973476176734171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/tentang-dendam-itu-4.html' title='Tentang Dendam Itu (4)'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-8633202175183251093</id><published>2011-06-18T09:39:00.001+07:00</published><updated>2011-06-23T10:10:44.973+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-puisi'/><title type='text'>Tentang Dendam Itu (3)</title><content type='html'>Dan kaupun berbuat seakan-akan tak terjadi apa-apa?&lt;br /&gt;Dan kaupun terus berpesta di tengah kemunafikanmu?&lt;br /&gt;Dan kaupun pura-pura bertanya apa yang telah terjadi?&lt;br /&gt;Dan kaupun terus bermuslihat di balik klaim kesucianmu yang memualkan itu?&lt;br /&gt;Dan kaupun masih saja menganggap ini salah paham semata?&lt;br /&gt;Dan kaupun terus dan terus mempermainkan kehidupan demi kehidupan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang kau harus menelan kepongahan demi kepongahan yang siap menjebol ususmu&lt;br /&gt;Dan hanya inilah kebahagiaanku sebelum ajal menjemputku: kematianmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kau memang harus mati di tanganku! (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-8633202175183251093?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/8633202175183251093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/tentang-dendam-itu-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8633202175183251093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8633202175183251093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/tentang-dendam-itu-3.html' title='Tentang Dendam Itu (3)'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-8505933368070679878</id><published>2011-06-18T09:36:00.006+07:00</published><updated>2011-06-23T10:11:03.328+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-puisi'/><title type='text'>Tentang Dendam Itu (2)</title><content type='html'>Tak mungkin kusesali hadirku di dunia ini, kawan&lt;br /&gt;Juga tak bakal kuubah warna-warni kanvas buah karya kita dulu&lt;br /&gt;Kesumat ini, ya kesumat ini terlanjur menancap&lt;br /&gt;Bahkan senyummu pun tak lebih dari seringaian setan belang hantu ghost!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tanpa rasa bersalah terus dan terus kau menarikan bahagiamu&lt;br /&gt;Sungguh menyakitkan, kawan&lt;br /&gt;Amat menyakitkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kau lupa&lt;br /&gt;Penonton tak slalu bisa kau bodohi&lt;br /&gt;Pestamu segera berakhir, kawan&lt;br /&gt;Segera berakhir, pasti berakhir (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-8505933368070679878?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/8505933368070679878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/tentang-dendam-itu-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8505933368070679878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8505933368070679878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/tentang-dendam-itu-2.html' title='Tentang Dendam Itu (2)'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-7337131184820450214</id><published>2011-06-18T09:35:00.003+07:00</published><updated>2011-06-23T10:11:43.160+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-puisi'/><title type='text'>Tentang Dendam Itu (1)</title><content type='html'>Jangan kau coba-coba mengotbahiku, keparat&lt;br /&gt;Malamku menjadi tak lagi tenteram&lt;br /&gt;Dan tidurku terasa menggerus luka&lt;br /&gt;Nafasku kian gelisah&lt;br /&gt;Tak sabar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tak sabar&lt;br /&gt;Menanti saat itu:&lt;br /&gt;Tawamu terhenti berubah rona ketakutan&lt;br /&gt;Congkakmu menyeret kemunafikanmu menuju bara api&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di sana aku telah menantimu dengan mandau terhunus&lt;br /&gt;Sekali tebas, kaupun mampus dengan gelindingan kepala meniti jejak-jejak keangkuhan yang selalu dan selalu kausembunyikan dibalik senyummu yang memuakkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka,&lt;br /&gt;Jangan coba-coba mengotbahiku&lt;br /&gt;Karena saat itu segera tiba (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-7337131184820450214?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/7337131184820450214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/tentang-dendam-itu-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/7337131184820450214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/7337131184820450214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/tentang-dendam-itu-1.html' title='Tentang Dendam Itu (1)'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-3602923622268193814</id><published>2011-06-16T12:25:00.003+07:00</published><updated>2011-07-25T12:48:26.725+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi-puisi'/><title type='text'>Subuh Berdebu</title><content type='html'>Aroma subuh lamat-lamat mulai merambati ventilasi berdebu&lt;br /&gt;Dan masih saja kudengar lewat hembusan angin,&lt;br /&gt;Kabar-kabar duka seakan tak mau lekang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh ini memang letih&lt;br /&gt;Entah mengapa kantuk masih ragu menerkam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, di sana, masih terdengar keluh kesedihan&lt;br /&gt;Ada cemas, juga rasa takut&lt;br /&gt;Ada putus asa, juga seberkas harapan&lt;br /&gt;Tapi lebih banyak rasa yang sesungguhnya tidak berasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan langkah subuh berpadu bijaknya embun mulai membuat debu-debu ventilasi lebur&lt;br /&gt;Hari mulai lagi menjelang&lt;br /&gt;Dengkur perlahan lenyap berganti langkah-langkah tergesa mengejar matahari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan&lt;br /&gt;Di sana, teriakan ketakutan masih terus merobek-robek helai angin&lt;br /&gt;Membawanya terbang ke segenap penjuru&lt;br /&gt;Tapi ingar-bingar kehidupan membuatnya tertelan dalam sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, selebihnya memang hanya sunyi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Subuh 30 Mei 2011, menjelang kedatangan SBY ke Pontianak. Juga ada cerita tragedi berdarah di Papua sehari sebelumnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-3602923622268193814?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/3602923622268193814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/subuh-berdebu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3602923622268193814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3602923622268193814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/06/subuh-berdebu.html' title='Subuh Berdebu'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-8662626970077554805</id><published>2011-05-20T22:34:00.000+07:00</published><updated>2011-05-20T22:34:32.615+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rumah betang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kota Pontianak'/><title type='text'>Gawai Dayak, Pesta Kota di Pontianak</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-hASz26g-TNU/TdaHe2cRCcI/AAAAAAAAAUM/w-QZidNi6Tw/s1600/rumah+betang+jl+sutoyo.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-hASz26g-TNU/TdaHe2cRCcI/AAAAAAAAAUM/w-QZidNi6Tw/s320/rumah+betang+jl+sutoyo.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Menaiki tangga Rumah Betang Pontianak.&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;EVENT&lt;/b&gt; budaya tahunan Pekan Gawai Dayak (PGD) XXVI Kalimantan Barat resmi dibuka, Jumat (20/5/11), di halaman replika Rumah Betang Kota Pontianak, Jl Sutoyo. Artis ibu kota Jajang C Noer tampak berada di tengah-tengah lautan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat diwawancarai wartawan, Jajang mengatakan, event seperti ini mengingatkan akan sisi tradisionil yang jangan sampai tergilas oleh modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Misalnya cara berpakaian, hal yang paling sederhana melestarikan konveksi tradisional dan khas daerah,” ujar Jajang yang mengenakan bawahan kain batik dipadu kaus hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang dipusatkan di replika Rumah Betang Jl Sutoyo Kota Pontianak ini dimeriahkan dengan aneka atraksi tradisional dan pawai kendaraan hias keliling kota. Puluhan kendaraan roda empat yang dihiasi dengan corak khas Dayak menyusuri jalan-jalan protokol. Atraksi barongsai dengan replika naga sepanjang 30 meter dari kalangan Tionghoa juga turut menyemarakkan acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, yang juga Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD)berhalangan hadir membuka acara ini. Sebagai gantinya, diutuslah Asisten Gubernur MH Munsin, serta dari Kementerian Pariwisata diwakili Kepala Bidang Promosi Wisata Dalam Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur pimpinan DAD Kalimantan Barat, Yakobus Kumis, mengatakan, pelaksanaan PGD yang hingga saat ini terus konsisten, sebagai bukti eksistensi budaya Dayak di tengah arus modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apalagi event ini tak hanya dihadiri kalangan dalam negeri, tetapi juga dari rumpun etnis Dayak yang berdiam di Malaysia,” ucap Yakobus penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu di antara peserta dari Malaysia, Alim Ga Mindek, menuturkan, mereka hadir dalam bentuk perwakilan beberapa lembaga. Lebih dari 35 orang warga Dayak Sarawak yang hadir, tergabung dalam Dayak Chamber of Commerse and Industry (DCCI), Sarawak Dayak National Union (SDNU) serta Borneo Dayak Forum (BDF).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-F3TsH90r0ic/TdaIkdK-u2I/AAAAAAAAAUU/4ru8UKc2ZKw/s1600/jajang+c+noer+naiki+tangga+rumah+betang.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-F3TsH90r0ic/TdaIkdK-u2I/AAAAAAAAAUU/4ru8UKc2ZKw/s320/jajang+c+noer+naiki+tangga+rumah+betang.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Jajang C Noer menaiki tangga Rumah Betang.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;“Saya sangat menikmati naik kendaraan karnaval ini. Acara gawai di Sarawak tidak memiliki agenda pawai,” ujar Alim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Event PGD berlangsung selama sepekan, sehingga di halaman Rumah Betang berdiri lebih dari 30-an petak kios yang menjual berbagai pernak-pernik, busana tradisional dan kuliner khas. Panitia juga memperlombakan sejumlah permainan tradisional serta kontes Bujang Dara Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sejarah Pesta Penen&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejarahnya semula sebagai pesta panen, Gawai Dayak kini telah menjadi event modern semacam town fiesta. Event rutin tahunan yang digelar setiap bulan Mei ini telah berlangsung selama 25 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gawai Dayak menampilkan berbagai rangkaian acara unik dan menarik. Tak lagi sebatas ritual syukur ala tradisional, tetapi sudah dikombinasikan dengan penampilan kreasi seni budaya modern dengan ikon berupa kontes untuk kawula muda dengan sebutan Bujang-Dara Gawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Event budaya ini berakar dari tradisi terpenting suku Dayak, yakni upacara adat perladangan. Dari berbagai rangkaian ritual perladangan, upacara adat terakhir berupa syukur atas hasil panen kepada Jubata, sebutan untuk Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing sub suku Dayak memiliki ritual dan sebutan yang berbeda, dan di antaranya ada yang menyebut Naik Dango. Dahulu kala, upacara pascapanen ini dibatasi pada wilayah kampung atau ketimanggungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acaranya pun hanya terbatas pada pelantunan doa atau mantra yang disebut nyangahatn, serta saling kunjung sesama warga dengan suguhan utamanya makanan tradisional seperti lemang, yakni nasi ketan yang ditanak di dalam bambu dan berbagai suguhan lainnya. Pelaksanaan gawai tradisional digelar sampai tiga bulan pada rentang April hingga Juni.&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-VlMF72AO-OE/TdaHxwfK-dI/AAAAAAAAAUQ/oHOPkJGxe-Y/s1600/PARADE+KENDARAAN+HIAS_PGD_SEVERIANUS+ENDI.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-VlMF72AO-OE/TdaHxwfK-dI/AAAAAAAAAUQ/oHOPkJGxe-Y/s320/PARADE+KENDARAAN+HIAS_PGD_SEVERIANUS+ENDI.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Parade kendaraan hias.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Dalam event modern Gawai Dayak saat ini, berbagai ritual tradisional tidak ditinggalkan. Acara inti tetap berupa nyangahatn, yang digelar sebelum pelaksanaan, sebagai wujud pemberitahuan dan mohon restu kepada Jubata untuk pelaksanaan pesta adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada hari pelaksanaannya, nyangahatn dilakukan untuk memanggil semangat atau jiwa padi yang belum kembali, untuk dikumpulkan kembali dan memberkati beras agar memberi kesehatan dan kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuai event budaya, Gawai Dayak menampilkan permainan tradisional, berbagai bentuk kerajinan yang juga bernuansa tradisional. Permainan unik bisa disaksikan, seperti gasing, lomba menumbuk padi, perlombaan menggunakan senjata sumpit, sampai lomba membuat patung kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal kemunculannya pada 30 Juni 1986, hanya berupa pentas seni satu malam yang diselenggarakan oleh Sekretariat Bersama Kesenian Dayak (Sekberkesda). Sejak 1992 berubah nama menjadi Gawai Dayak dan digelar selama sepekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaanya selalu difokuskan di replika rumah panjang di Jl Sutoyo Kota Pontianak. Rumah panjang merupakan jantung kebudayaan Dayak, karena dahulu kala komunitas-komunitas orang Dayak hidup di rumah panjang.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;SEVERIANUS ENDI&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-8662626970077554805?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/8662626970077554805/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/05/gawai-dayak-pesta-kota-di-pontianak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8662626970077554805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8662626970077554805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/05/gawai-dayak-pesta-kota-di-pontianak.html' title='Gawai Dayak, Pesta Kota di Pontianak'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-hASz26g-TNU/TdaHe2cRCcI/AAAAAAAAAUM/w-QZidNi6Tw/s72-c/rumah+betang+jl+sutoyo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-7106729216348010022</id><published>2011-05-18T13:00:00.014+07:00</published><updated>2011-05-18T21:19:14.765+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sakit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Franky Sahilatua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Singapura'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Putut'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menjenguk'/><title type='text'>Balada Franky: Kenangan Membesuk di Singapura</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost" style="font-family: inherit; text-align: left;"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-left: 0px; margin-right: auto; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-MA71XI7i7Gw/TdNf3cBxbcI/AAAAAAAAAUE/9_rs4sZ8aD8/s1600/franky.jpg" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-MA71XI7i7Gw/TdNf3cBxbcI/AAAAAAAAAUE/9_rs4sZ8aD8/s1600/franky.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;Saat menjenguk Franky&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;di Singapore General Hospital, 22 Agustus 2010.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;SEBUAH&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;  pesan masuk ke email yang saya baca melalui telepon seluler, Rabu 20  April 2010. Pesan itu mengabarkan, Franky Sahilatua, sang penyanyi  balada, telah menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 15.00 WIB di  sebuah rumah sakit di Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Saya  jadi teringat, pada 22 Agustus 2010, berkesempatan menjenguk Franky di  Singapura. Waktu itu saya masih bekerja sebagai wartawan koran daerah di  Pontianak, Kalimantan Barat.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sahabat baik saya di Jakarta tiba-tiba menelpon saya dan mengajak ke Singapura. Kantor mengizinkan saya berangkat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ini  kali pertama saya berjumpa dengan Franky secara fisik. Kebetulan di  Singapura, kami bertemu dengan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Pak  Trias Kuncahyono. Maka kami pun membesuk bersama-sama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Saat  itu, Minggu (22/8/10), sekitar pukul 18.30 WIB atau 19.30 waktu  Singapura, kami tiba di ruang rawat Franky. Penyanyi balada itu tampak  tetap ceria dalam sakitnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Hei,  Putut…!” seru Franky dari kasurnya, saat sabahat saya yang baik hati,  Putut Prabantoro memasuki ruang rawat di lantai dua itu. Mas Putut lah  yang memungkinkan saya ikut membesuk, selain bersama rekan lainnya,  wartawan Trans7, Mas Ardi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kala  itu, Franky sedang makan bubur dan buah-buahan yang disiapkan rumah  sakit. Seorang perawat berdarah India datang dan menanyakan apakah ada  sesuatu yang kurang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Nah  yang begini ini membuat saya masih punya harapan. Para perawat sangat  memperhatikan pasien,” ujar penyanyi berdarah Ambon kelahiran Surabaya  itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sambil  menguyah buburnya pelan-pelan, dia tampak bersemangat mengisahkan  riwayat sakitnya. Penyakit yang tak kunjung terdeteksi saat dia  menjalani aneka tes dan scan di sebuah rumah sakit internasional di  Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Di  Singapura ini, mereka cepat tanggap dan selalu transparan terhadap  apapun kondisi pasien. Akhirnya saya tahu mengidap dua penyakit, tumor  agresif di tulang ekor dan myeloma di sumsum tulang belakang yang  menyebar ke seluruh tubuh lewat darah,” kata dia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sesekali,  istrinya Harwantiningrum, menimpali, justru setelah di Singapuralah  mereka mendapatkan penjelasan yang detail soal penyakit-penyakit itu.  Sementara saat di Jakarta, kata Franky, ibarat peta buta, menjalani  scanning terus-menerus, tapi jenis penyakit tak kunjung diketahui.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebelum  memutuskan ke Singapura, Franky mengkisahkan, dia dirawat di sebuah  rumah sakit international di Jakarta. Namun karena tidak ada kemajuan,  dia mencari second opinion atas penyakitnya ke Singapura. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;”Saya  hanya berbekal uang S$7000. Jumlah itu dibagi menjadi dua. $S6500 untuk  diagnosa penyakit dan sisanya untuk biaya tinggal isterinya di  Singapura,” tambahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tiga  hari setelah kedatangan di Singapura, Franky mulai menjalani perawatan  intensif. Penyakit yang terdiagnosa di “Negeri Singa” itu, tidak  ditemukan saat berobat di Jakarta. Padahal dia sudah menghabiskan biaya  Rp 23 juta dan diagnosanya melenceng!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Rabu  sore, saya mendapat kabar, Franky telah pergi selama-lamanya. Pun saat  sakit menderamu, berbagai kisah tentang balada orang kecil, tak hentinya  mewarnai. Beristirahatlah dengan tenang di Rumah Bapa, Amin&lt;b&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;SEVERIANUS ENDI&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-7106729216348010022?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/7106729216348010022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/05/balada-franky-kenangan-membesuk-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/7106729216348010022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/7106729216348010022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/05/balada-franky-kenangan-membesuk-di.html' title='Balada Franky: Kenangan Membesuk di Singapura'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-MA71XI7i7Gw/TdNf3cBxbcI/AAAAAAAAAUE/9_rs4sZ8aD8/s72-c/franky.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-3776403911485290113</id><published>2011-05-18T12:54:00.007+07:00</published><updated>2011-05-18T21:19:49.107+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kanada'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Savhanna Wilson'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Balai Berkuak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mahasiswi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gendang'/><title type='text'>Gadis Kanada Itu Tampak Seperti Putri Dayak</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-BlwWVyEgkbQ/TdN-OLaTB9I/AAAAAAAAAUI/NLWSC1ynwo4/s1600/sav.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-BlwWVyEgkbQ/TdN-OLaTB9I/AAAAAAAAAUI/NLWSC1ynwo4/s1600/sav.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Savhanna Wilson dengan pakaian Dayak.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;TELAH&lt;/b&gt; beberapa hari mahasiswi asal Kanada, Savhanna Wilson (24) menikmati kehidupan tradisional Dayak di kampung kami Desa Balai Berkuak, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Dia mengaku banyak menemukan hal-hal yang di luar bayangan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“More beautiful here than I could have imagined,” ucap Savhanna, yang menilai perkampungan itu jauh lebih indah ketimbang yang pernah dia bayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menuturkan, Jumat (15/4/11) pagi sempat mandi di sungai yang airnya jernih. Dia yang ditemani adik perempuan saya, mengumpulkan rebung yang mereka temui sepanjang jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Savhanna sangat tertarik melihat orang-orang di kampung memanfaatkan alam sekitar untuk kehidupan sehari-hari. Dia menyebutnya sebagai “sustainable lifestyle”, gaya hidup yang berkelanjutan dan berbasis alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“As a Canadian, I am not able to experience regularly because of the climate of my home country. I look forward to enjoying the prepared rebung for dinner,” ujar Savhanna, mengungkapkan, mencari rebung dan memanfaatkan alam sekitar tidak bisa dilakukan di negaranya. Dia pun ingin menikmati masakan “bambu muda” itu untuk makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, dia terpaksa mengurungkan niatnya memancing ikan di sungai. Hujan yang turun deras malam sebelumnya, membuat air melimpah dan tidak cocok untuk memancing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gantinya, keluarga saya mengajak dia mengunjungi ladang tua yang kini telah menjadi hutan belantara. Dia akan menanam beberapa pohon buah-buahan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelumnya, Savhanna berkunjung ke desa lain di Kecamatan Sungai Laur, di ujung Balai Berkuak. Di sana dia disambut oleh banyak warga yang penasaran. Dia pun berkesempatan mengenakan pakaian adat Dayak, dan terlihat sangat cantik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan, merasa terhormat karena tidak hanya bisa sekadar melihat, tetapi bisa sejenak mengenakannya. Dengan pakaian itu, kamu terlihat seperti putri Dayak, Sav!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I felt like one! It was a wonderful experience,” ucapnya. Keindahan yang sudah terlalu lumrah sehingga penduduk lokal pun sudah tak menyadarinya. Savhanna melihat hal lain yang bagi dia merupakan sesuatu yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ketinggalan, dia juga sempat menyaksikan ritual baboretn, yang digelar di Desa Tahak, sekitar 6 kilometer dari Balai Berkuak. Ritual baboretn yakni praktik perdukunan yang masih diyakini bisa menyembuhkan penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Savhanna terkesan dengan pengalaman pertama melihat ritual persembahan seekor babi dan dua ekor ayam untuk prosesi magic itu. Dia melihat sang dukun menari sesuai irama gendang, mengelilingi “taman” yang didirikan di tengah rumah. Taman yang dimaksud merupakan perlengkapan ritual yang berupa batang yang ditegakkan dengan hias-hiasan dedaunan dan sesajian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I did, however, enjoy my very first ritual animal sacrifice, 2 chickens and a pig, so that was exciting! No need to worry!” komentarnya tentang ritual itu. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SEVERIANUS ENDI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Versi yang sudah diedit dimuat sebagai citizen reporter di Harian Tribun Pontianak (Kompas-Gramedia) edisi Sabtu (16/4/11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Versi yang sama ditayangkan di portal berita tribunnews dot com (Kompas-Gramedia) di &lt;a href="http://www.tribunnews.com/2011/04/16/gadis-kanada-ini-tampak-seperti-putri-dayak"&gt;link ini&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-3776403911485290113?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/3776403911485290113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/05/gadis-kanada-itu-tampak-seperti-putri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3776403911485290113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3776403911485290113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/05/gadis-kanada-itu-tampak-seperti-putri.html' title='Gadis Kanada Itu Tampak Seperti Putri Dayak'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-BlwWVyEgkbQ/TdN-OLaTB9I/AAAAAAAAAUI/NLWSC1ynwo4/s72-c/sav.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-4789537027799631547</id><published>2011-05-06T13:43:00.003+07:00</published><updated>2012-02-06T13:50:28.357+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><title type='text'>Terry Suka Lidah Buaya Pontianak</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-21HgLxJ8wfM/Ty9302GRvMI/AAAAAAAAAWI/APaFkON2aC4/s1600/endi+and+terry.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-21HgLxJ8wfM/Ty9302GRvMI/AAAAAAAAAWI/APaFkON2aC4/s1600/endi+and+terry.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Saya berpose dengan Terry. &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;PRODUK&lt;/b&gt; olahan lidah buaya khas Kota Pontianak, menarik minat artis ibu kota, Terry (26). Dia ingin mencari oleh-oleh tersebut untuk dibawa pulang ke Jakarta.&lt;br&gt;&lt;br&gt;“Ini lagi siap-siap pulang ke Jakarta. Tapi mau cari oleh-oleh dulu,” ucap Terry yang saya temui di Hotel Aston, Senin (6/5/11) pagi.&lt;br&gt;&lt;a href="http://pujangga78.blogspot.com/2011/05/terry-suka-lidah-buaya-pontianak.html#more"&gt;Baca selengkapnya »&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-4789537027799631547?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/4789537027799631547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/05/terry-suka-lidah-buaya-pontianak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/4789537027799631547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/4789537027799631547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/05/terry-suka-lidah-buaya-pontianak.html' title='Terry Suka Lidah Buaya Pontianak'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-21HgLxJ8wfM/Ty9302GRvMI/AAAAAAAAAWI/APaFkON2aC4/s72-c/endi+and+terry.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-4342242745481578144</id><published>2011-04-14T08:55:00.007+07:00</published><updated>2011-05-18T21:34:02.329+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pedalaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kanada'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='email'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Savhanna Wilson'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisional'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Balai Berkuak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mahasiswi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bangkok'/><title type='text'>Mahasiswi Kanada Nikmati Kehidupan Dayak</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-111KgZhnrrc/TaZUsDESjDI/AAAAAAAAAT4/VowkyvtwzGE/s1600/sav_for_blog.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5595252702768696370" src="http://3.bp.blogspot.com/-111KgZhnrrc/TaZUsDESjDI/AAAAAAAAAT4/VowkyvtwzGE/s320/sav_for_blog.jpg" style="float: left; height: 200px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 292px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: xx-small;"&gt;Beberapa saat sebelum berangkat ke desa.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEORANG&lt;/span&gt; mahasiswi asal Kanada, Savhanna Wilson (24), menjejakkan kakinya pertama kali di Bumi Borneo, Minggu (10/4) malam. Dia sedang dalam liburan semester dari program pertukaran mahasiswa di sebuah universitas internasional di Bangkok, dan ingin mengisi liburannya dengan melihat kehidupan tradisional orang Dayak di pedalaman.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, saya terkejut menerima sebuah email beberapa minggu lalu, dari seseorang mahasiswi asing. Ternyata, dia mendapatkan email saya dari sahabat lama saya, Christian Oesterheld seorang Jerman, yang kini menjagar di universitas di Bangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Christian menyarankan Savhanna untuk mengisi liburan, dengan mengalami langsung kehidupan masyarakat pedalaman. Saya tentu senang sekali dengan rencana itu, yang akhirnya benar-benar terealisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai rencana telah disusun sehingga Savhanna tinggal melaksanakannya selama sepekan tinggal di kampung saya, Balai Berkuak, Kabupaten ketapang, yang berjarak sekitar 200 kilometer dari Kota Pontianak. Adik saya sengaja datang menjemputnya, karena Savhanna ingin mengalami naik sepeda motor untuk jarak yang lumayan jauh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Savhanna yang belum bisa berbahasa Indonesia satu patah katapun, pasti bisa memberi motivasi bagi orang-orang muda di kampung pedalaman. Karena itu, adik saya yang juga guru di SMA di kampung, sudah mempersiapkan jadwal agar Savhanna bisa berkunjung ke beberapa kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’m studying the culture of some countries and I am glad to do the field research,” ujar Savhanna, menjelaskah jika dia sedang mempelajari budaya beberapa negara dan senang melakukan studi lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kegiatan unik telah menanti Savhanna di kampung kami. Di antaranya, menyelam ke sungai untuk menembak ikan dengan senjata tradisional Dayak yang disebut sempetek. Sempetek berupa senjata mirip senapan kecil terbuat dari kayu, dengan peluru anak panah dari logam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang pedalaman, mencari ikan dengan cara itu sering dilakukan pada musim kemarau. Mereka bisa pergi menyusuri sungai menggunakan perahu dayung. Kemudian menyelam di bagian sungai yang diduga tempat persembunyian ikan-ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rowing boat? That’s sound amazing!” ucap Savhanna begitu tahu dia akan merasakan naik perahu dayung menyusuri sungai-sungai di tengah hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan lainnya, dia akan ikut serta dalam latihan bela diri pencak silat bersama anak-anak desa, berkunjung ke beberapa sekolah, mendatangi rumah betang atau lamin Dayak yang masih tersisa, serta melihat tempat keramat di tengah hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat keramat dulunya merupakan sarana pemujaan sistem kepercayaan animisme. Ini cukup penting bagi Savhanna, karena dia juga mempelajari sistem kepercayaan animisme di beberapa negara, sehingga bisa membuat perbandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga menyanggupi permintaan saya untuk menanam beberapa pohon di halaman atau di lahan milik orangtua saya. Jika pohon itu tumbuh dan berkembang, bisa menjadi semacam “monumen peringatan” atas kunjungan pertama Savhanna ke Indonesia, dan juga sebagai bentuk perhatian orang luar terhadap kehidupan tradisional di perkampungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I am pleased with all these plans, and I hope everything can be done,” ucap Savhanna, menggambarkan rasa senangnya dengan semua rencana yang diharapkan bisa terlaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada Senin (11/4) pagi, Savhanna dan adik saya berangkat menuju kampung halaman kami dengan mengendarai sepeda motor. Saya berharap, kunjungan sederhana ini memberikan kebahagiaan bagi orang-orang di kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEVERIANUS ENDI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Versi yang sudah diedit dari tulisan ini dimuat Harian Tribun Pontianak edisi Rabu, 13 April 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Versi yang sama juga dimuat di situs tribunnews dot com di&lt;a href="http://www.tribunnews.com/2011/04/13/mahasiswi-kanada-sepekan-menikmati-kehidupan-dayak"&gt; link ini&lt;/a&gt; dan juga di Banjarmasin Post di &lt;a href="http://202.146.4.120/printnews/artikel/82089"&gt;link ini&lt;/a&gt;&lt;span id="formatbar_Buttons" style="display: block;"&gt;&lt;span class="" id="formatbar_CreateLink" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 8);ButtonMouseDown(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseup="" style="display: block;" title="Tautan"&gt;&lt;img alt="Tautan" border="0" class="gl_link" src="img/blank.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-4342242745481578144?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/4342242745481578144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/04/mahasiswi-kanada-nikmati-kehidupan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/4342242745481578144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/4342242745481578144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2011/04/mahasiswi-kanada-nikmati-kehidupan.html' title='Mahasiswi Kanada Nikmati Kehidupan Dayak'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-111KgZhnrrc/TaZUsDESjDI/AAAAAAAAAT4/VowkyvtwzGE/s72-c/sav_for_blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-3104322590553208378</id><published>2010-08-06T07:49:00.004+07:00</published><updated>2011-05-18T21:18:34.716+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UFO'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kreatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mengarang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media criticism'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arswendo'/><title type='text'>Provokasi Mas Wendo</title><content type='html'>&lt;div class="mobile-photo"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TFtcHM17CXI/AAAAAAAAATg/uTZY9j-gOQ4/s1600/%3D%3Futf-8%3FB%3Fd2VuZDBfbmRpX2Nyb3AuanBn%3F%3D-772441" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5502092648539425138" src="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TFtcHM17CXI/AAAAAAAAATg/uTZY9j-gOQ4/s320/%3D%3Futf-8%3FB%3Fd2VuZDBfbmRpX2Nyb3AuanBn%3F%3D-772441" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Perjumpaan dengan Arswendo Atmowiloto, rasanya bisa sedikit menggugah semangatku. Betapa tidak, larut dalam rutinitas pekerjaan media, seakan membuat saya lupa, ada sisi lain yang tetap wajib di-upgrade, yakni kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Jumat (23/7/10) lalu, Mas Wendo berkunjung ke kantorku, Tribun Pontianak. Aku memang tak ikut pertemuan dengan jajaran redaksi itu sejak awal. Tapi saat aku menyusul kemudian, kutemukan ucapan Mas Wendo yang penuh motivasi plus provokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, diantara yang dibicarakan, terkait tulisanku tentang UFO beberapa waktu lalu. Dari Jakarta, Mas Wendo membaca tulisan itu lewat internet. Tiga media online memuat tulisanku itu, selain &lt;a href="http://tribunpontianak.co.id/"&gt;tribunpontianak.co.id&lt;/a&gt;, juga situs pusat kami &lt;a href="http://tribunnews.com/"&gt;tribunnews.com&lt;/a&gt; dan juga &lt;a href="http://kompas.com/"&gt;kompas.com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi kamu yang nulis tentang UFO? Saya baca lewat internet. Waduh, kenapa hanya muncul sekali? Sebaiknya setelah itu, kamu eksplorasi lagi, biar seru," begitu ucapnya kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, aku nulis tentang UFO yang disebut-sebut muncul di langit Kota Pontianak, bertepatan saat fenomena "hallo" matahari. Terlepas benar atau tidak, seseorang mengirimkan videonya ke facebook, saat menjelang subuh dan saya masih di kantor. Segera saya tulis beritanya untuk online, dengan sedikit wawancara pengunggah video via telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heboh, hit online berita itu meningkat drastis, dua hari pertama mencapai 2.000 hit, lumayan untuk situs lokal. Di Kompas.com malah puluhan ribu hit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu namanya news given by God. Jarang-jarang ada, dan menarik dieksplorasi. Asal kamu jujur, tulis apa adanya. Kalau pun gak bener ada UFO, tetep menarik kamu tulis ada apa dibalik itu," ujar Mas Wendo lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cuman mengangguk dan nyengir, sedikit menyesal mengapa berita itu tidak kubuat running sampai habis. Padahal, teman wartawan TransTV pagi-pagi nelpon aku nanyain berita itu. Dia diminta studionya di Jakarta untuk meliput, setelah mereka melihat beritaku di internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga satu kenalan yang kontributor Reuters di Jakarta, menanyakan hal serupa. Temannya dari Eropa pengen tahu berita ini, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang fenomena UFO rupa-rupanya info yang menarik bagi segenap jagad. Kali ini, saya teledor, membiarkan begitu saja "news given form God" ini berlalu begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan kali pertama saya jumpa wartawan senior, budayawan, dan penulis kelas wahid, Arswendo Atmowiloto. Saat kuliah di Yogya, pernah ikut seminar tentang "Humor" yang dihadiri Mas Wendo sebagai pembicara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh dari itu, beberapa bukunya juga sudah kubaca, seperti "Semesra Merapi-Merbabu", "Sudesi", dan buah karyanya di penjara, "Kisah Para Ratib". Juga provokasinya, "Mengarang Itu Gampang", dan beberapa sinetron yang skenarionya dia buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih provokasi dan motivasinya, Mas Wendo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-3104322590553208378?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/3104322590553208378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/08/provokasi-mas-wendo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3104322590553208378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3104322590553208378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/08/provokasi-mas-wendo.html' title='Provokasi Mas Wendo'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TFtcHM17CXI/AAAAAAAAATg/uTZY9j-gOQ4/s72-c/%3D%3Futf-8%3FB%3Fd2VuZDBfbmRpX2Nyb3AuanBn%3F%3D-772441' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-878395098450671376</id><published>2010-08-01T15:45:00.006+07:00</published><updated>2011-05-18T20:55:12.603+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='redaksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media criticism'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tribun Pontianak'/><title type='text'>Tak harus Jadi Gila untuk Tahan Bekerja di Koran</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TFU0x0GW3qI/AAAAAAAAATY/stFl7PnaCAI/s1600/hut+tribun+pontianak.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500360550306471586" src="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TFU0x0GW3qI/AAAAAAAAATY/stFl7PnaCAI/s320/hut+tribun+pontianak.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Genap dua tahun sudah usia harian pagi Tribun Pontianak. Acara sederhana digelar Minggu (1/8/10), bersama para karyawan dan relasi di kantor redaksi.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Pemimpin Perusahaan Agus Nugroho, mengulasbalik, koran daerah berbendera Tribun yang dimulai akhir 2003 di Kalimantan Timur, yakni Tribun Kaltim. Berikutnya disusul Tribun Timur dan Tribun Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hingga saat ini, koran berbendera Tribun sudah masuk ke 15 provinsi," ujar Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harian Tribun Pontianak terbit perdana pada 1 Agustus 2008. Setelah menapak. Usia dua tahun, Agus mengatakan, koran ini masih menghadapi persoalan terbatasnya SDM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakuinya pula, di antara koran-koran daerah milik Kompas Gramedia, Tribun Pontianak ini tergolong yang paling banyak mendatangkan tenaga bantuan tempur (banpur) saat awal-awal terbit. Setengah berkelakar, Agus menyitir sebuah pameo yang menyebutkan, hanya orang gila yang bisa tahan kerja di koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang yang mampu mengombinasikan tujuan personal dengan tujuan perusahaan, itulah yang bisa bekerja di koran. Jadi tak harus gila dulu baru bisa bertahan," kata dia yang segera disambut tawa para karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin Redaksi Albert GJ Joko, menyambung, kerja keras dengan penuh integritas, amat diperlukan dalam usia pertumbuhan ini. Terlebih, kepercayaan pembaca sangat terasa, terbukti dengan maraknya pengaduan masyarakat melalui rubrik interaktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagi sebagian masyarakat, kitalah yang dijadikan tempat mengadu. Banyak persoalan yang mereka hadapi, minta dicarikan solusinya lewat rubrik interaktif itu. Kepercaya ini harus tetap kita jaga," ujar Albert.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski acara amat sederhana, kemeriahan tetap terasa, karena para wartawan yang bertugas di daerah berkesempatan kumpul bersama. Mengenakan seragam baru yang didominasi warna hitam, para karyawan larut sejenak dalam kebersamaan yang terbilang langka. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan ini dimuat di situs &lt;a href="http://www.tribunnews.com/2010/08/01/tak-harus-jadi-gila-untuk-tahan-bekerja-di-koran"&gt;Tribunnews&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://tribunpontianak.co.id/read/artikel/14891/tak-harus-jadi-gila-untuk-tahan-bekerja-di-koran"&gt;Portal Tribun Pontianak&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-878395098450671376?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/878395098450671376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/08/tak-harus-jadi-gila-untuk-tahan-bekerja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/878395098450671376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/878395098450671376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/08/tak-harus-jadi-gila-untuk-tahan-bekerja.html' title='Tak harus Jadi Gila untuk Tahan Bekerja di Koran'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TFU0x0GW3qI/AAAAAAAAATY/stFl7PnaCAI/s72-c/hut+tribun+pontianak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-8123023730291795860</id><published>2010-07-14T22:42:00.011+07:00</published><updated>2011-05-18T21:04:44.685+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='asrama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sungai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kampung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kecamatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bocah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='desa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SMP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wartawan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bruder FIC'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ketapang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='books review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Usaba 1'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yogyakarta'/><title type='text'>Anak Kampung yang Selalu Merasa Kecil</title><content type='html'>* Kilas Balik 20 Tahun Silam di SMP Usaba 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #666666; font-family: arial; font-size: 85%;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Severianus Endi&lt;/span&gt;, siswa SMP Usaba 1 era 1990-1993, kini bekerja sebagai wartawan Tribun Pontianak, koran daerah milik Kompas Gramedia. Tulisan ini menjadi bagian buku kenangan pesta emas (50 tahun) SMP Usaba 1 Ketapang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGILAS balik ke masa silam, sekitar kurun waktu 20 tahun kebelakang dari sekarang, membutuhkan permenungan sendi&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TD3g57EW_SI/AAAAAAAAASs/mmcEhheL4Qk/s1600/ilust_blog1_dubes+vat.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5493794406175014178" src="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TD3g57EW_SI/AAAAAAAAASs/mmcEhheL4Qk/s320/ilust_blog1_dubes+vat.JPG" style="cursor: pointer; float: left; height: 214px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 300px;" /&gt;&lt;/a&gt;ri. Saat merenung itulah, tumpukan file-file di belantara kenangan masa lalu seakan terbuka satu per satu. Ada teks-teks kehidupan, juga gambar-gambar kenangan, seakan berhamburan dalam imajinasi, minta dibuka dan dilihat kembali. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #666666; font-family: georgia; font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;Foto 1: Mewawancarai Duta Besar Vatikan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666; font-family: georgia; font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;Mgr Leopoldo Girelli, saat berkunjung ke Pendopo Gubernur Kalbar, 2009. Terima kasih pada rekan fotografer Kantor &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666; font-family: georgia; font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;Berita Antara, Jessica &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666; font-family: georgia; font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;Wuysang yang mengabadikan momen ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sekitar 20 tahun lalu, seorang bocah kurus berusia 12 tahun dari kampung nun di pedalaman, untuk pertamakalinya menapakkan kaki ke sebuah "kota" bernama Ketapang. Perjalanan itu, bukanlah perjalanan biasa. Dibutuhkan waktu dua malam suntuk menyusuri sungai untuk menjangkau muara lautan, kemudian singgah di sebuah kota kecil bernama Teluk Batang. Dari teluk batang harus disambung dengan pelayaran kapal cepat, juga semalam suntuk, untuk menjangkau Kota Ketapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa asal bocah itu sesungguhnya sebuah ibukota kecamatan. Letaknya sekitar 300 kilometer dari Kota Ketapang. Balai berkuak nama kampungnya, Simpang Hulu nama kecamatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah itu, kini sudah menjadi seorang pria berusia 30-an tahun, duduk merenung, mencoba menata kembali kisah-kisah lama itu, untuk dikemas dalam sebuah buku kenangan. Terasa mengasyikkan, karena ada semacam tamasya ke masa lalu, di balik kesibukan profesi sehari-hari yang sangat menyita waktu, bahkan terkadang sering menenggelamkan nuansa kenangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih yang bisa ditulis dan dibagikan, dari pengalaman orang biasa seperti saya? Dari seseorang yang pada awalnya selalu merasa diri "kecil", udik, terbelakang, tertinggal, dan dari keluarga yang tidak serba berada? Hahaha, ini nostalgia, karena setelah 20 tahun berselang, sindrom inferioritas itu rupanya belumlah lenyap seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya harus membuka file-file lama terkait pengalaman saya sekolah di SMP Usaba 1, kurun 1990-1993. Dokumen yang paling mudah saya raih yakni ijazah. Apaboleh buat, foto di lembaran berharga itu tak pelak membuat saya tergelak. Seorang bocah menggunakan dasi model X, rambut tebal berombak, dan kelihatan betul ekspresi wajah yang culun. Saya mencoba mengingat, trend rambut model apa yang kala itu sedang berkembang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, iya, saya penggemar novel Lupus karya Hilman, dan waktu itu banyak sekali tersedia di perpustakaan sekolah. Ibu Partini, petugas perpus, sampai hafal kegemaran saya itu. Jadi, saya terobsesi dengan model rambut tokoh Lupus dengan jambul di depan, dan itulah yang saya praktekkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #666666; font-family: arial; font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;Foto 2: Berpose di ruang kerja redaksi Tri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TD3g5b5tzQI/AAAAAAAAASk/CATSuJLa5og/s1600/ilust_blog2_di_meja_kerja.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5493794397808872706" src="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TD3g5b5tzQI/AAAAAAAAASk/CATSuJLa5og/s320/ilust_blog2_di_meja_kerja.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 225px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 270px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666; font-family: arial; font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;bun &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666; font-family: arial; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-weight: bold;"&gt;Pontianak, di sela-sela mengerjakan editing berita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bukan tanpa masalah, karena saking asyiknya membaca buku itu, saya harus didenda. Lha kenapa? Buku itu hilang, dan saya masih ingat judulnya: "Kejarlah Daku Kau Kujitak". Suatu hari, Ibu Partini mendatangi saya dan menayakan buku itu. Saya mengaku, buku itu hilang. Sebagai gantinya, saya harus membeli buku jenis novel juga, dan kalau tak salah, saya cari buku itu di emperan Pasar Lama. Bukan buku Lupus, tapi, kalau tak salah, buku Wiro Sableng, karena buku Lupus rupanya hanya dijual di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang hobi membaca sejak SD, sejak dari kampung. Buku apapun saya baca, dan hobi ini semakin sempurna ketika saya sekolah di SMP Usaba 1 karena koleksinya tergolong lengkap. Saya juga baca buku Old Shatterhand karangan Karl May, yang mengisahkan kehidupan suku Apache (Indian) di pedalaman Amerika sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ, keinginan menulis semakin tumbuh, meski saya masih belum tahu bagaimana mewujudkannya. Tetapi, setiap kali membaca buku, saya sering membayangkan, jika suatu saat saya juga akan mampu menulis. (Dan akhirnya, karya tulis saya yang pertama dimuat di koran, saat kuliah di Yogkayarta, berupa resensi buku di Koran Bernas, September 1997. Sejak itu saya terus menulis, meski tak selalu lancar, dan hingga sekarang saya berprofesi sebagai wartawan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba serius saat mengikuti pelajaran bahasa Indonesia yang diampu Pak Murdianto. Beliau ini kerap memotivasi siswa, supaya mengembangkan keterampilan dan kreativitas dengan menulis. Tetapi, menulis yang baik harus disertai pemahaman tatabahasa yang benar pula. Nah, kami pun "terjebak" dalam berbagai teori, hafalan, aturan, atau apalah namanya, terkait ketatabahasaan. Harus saya akui, pelajaran itu banyak memberi pengaruh, kelak di kemudian hari. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;A big step starting from a baby step&lt;/span&gt;, kata orang barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, lama kemudian, saya bertemu kembali dengan Pak Mur di Yogyakarta. Saat itu, kalau saya tak salah, sekitar tahun 2004 atau 2005, beliau mengantarkan anaknya yang hendak kuliah di Kota Gudeg itu. Kesempatan kami bernostalgia tentang SMP Usaba 1, dan saya senang bisa menunjukkan beberapa karya saya yang dimuat di koran kepada beliau. Setidaknya, saya merasa, andil beliau sebagai pendidik mencapai tujuannya, dalam ukuran tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai bisa memahami, alangkah tak baiknya selalu berpikiran "kecil". Sangat buruk menganggap diri "bukan apa-apa" hanya karena berasal dari kampung nun di belantara hutan dan berasal dari keluarga yang tergolong tidak berada. Setidaknya saat berjumpa Pak Mur di Yogya itu, saya menjadi sadar, ada suatu titik yang menjadi kesempatan kita untuk merefleksikan kembali, sejauh mana suatu pengajaran yang pernah diterima dimasa lalu, menemukan realisasinya pada masa kini. Dan saya bahagia, melihat seyum Pak Mur saat melihat fotokopi hasil tulisan saya di sejumlah koran, baik lokal Yogya maupun koran yang terbit di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Horor di Kelas 2A&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menjadi siswa di sebuah sekolah favorit di era 90-an, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi saya. Maklum, di kampung sana, saya hanya lulusan sebuah SD negeri, yang meskipun paling top di kampung, ya tetap saja tertingga dibanding sekolah di kota. Saya lulus SD sebagai pemegang rangking 3 dari 15 siswa. Bekal ini tetap tidak sanggup mendongkrak keyakinan saya untuk mampu menaklukkan SMP favorit ini. Dan memang, sampai lulus dari SMP Usaba 1, tidak pernah saya mampu meraih rangking tiga besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu pengalaman yang tak pernah bisa saya lupakan. Kalau dijadikan film atau novel, barangkali cocok jika diberi judul: "Horor di Kelas 2A". Alkisah, saat kenaikan kelas, saya ditempatkan di kelas 2A, yang waktu itu letaknya di sayap kanan paling depan, sebelum ruang UKS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah bermula saat pelajaran bahasa Inggris yang diasuh Pak Mardiatmoko. Saya dan banyak siswa lain, memang punya phobia terhadap pelajaran cas cis cus ini. Waktu kenaikan kelas saja, nilai bahasa Inggris saya 4. Entah, mengapa pelajaran ini begitu tak menariknya, dan selalu menjadi momok, selain pelajaran matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Pak Mardi mengajar di depan kelas, iseng saya menggambar beliau. Saya goreskan di kertas, sosok seorang guru yang sedang berdiri di depan kelas. Saya tak ingat, materi apa yang diajarkan pada saat itu. Setelah pelajaran usai, saya tak tahu ke mana perginya gambar hasil karya saya itu. Sampai akhirnya, ada seorang teman--entah siapa saya tak tahu sampai sekarang--yang menambahkan tulisan di gambar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan inilah yang menjadi masalah. Teman yang tak saya ketahui siapa itu, menulis di gambar itu: "Mardi gila". Lebih apes lagi, ada seorang teman yang mungkin merasa "hero", melaporkan dan menyampaikan gambar itu ke pihak sekolah. Seketika, suasana memang menjadi horor. Kepala Sekolah, Bruder Petrus Ponidi FIC, marah besar. Dengar-dengar, kami bisa diskors sekelas selama sebulan, jika tak ada yang mengaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar, sayalah pangkal masalah ini. Bagaimana mungkin hanya gara-gara saya, sekelas bisa kena sanksi skorsing? Dengan gemetaran, saya menghadap Pak Mardi, saya akui, sayalah yang menggambar karikatur itu. Tapi disertai sangkalan, bukan saya yang menuliskan kata-kata "kasar" itu. Seingat saya, Pak Mardi menjawab datar: "O, jadi kamu yang menggambar? Kamu harus cari, siapa yang menulis!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #666666; font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;Foto 3: Mewawancarai Kepala Dinas Pen&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TD3g684C-NI/AAAAAAAAATE/bbxQI_0n3XY/s1600/ilust_blog4_kadisdik+prov.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5493794423840110802" src="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TD3g684C-NI/AAAAAAAAATE/bbxQI_0n3XY/s320/ilust_blog4_kadisdik+prov.JPG" style="cursor: pointer; float: left; height: 182px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 300px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #666666; font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;didikan Provinsi K&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;albar, Alexius Akim, 2009.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masalah belum selesai. Apalagi, beberapa teman sepertinya sinis kepada saya, karena menilai sayalah biang keroknya. Mereka tak mau tahu, kalau gambar saya sesungguhnya bukanlah masalah utama, melainkan tulisan "seorang teman misterius" yang iseng tapi tak berani bertanggungjawab. Beruntung, kami punya wali kelas yang saya nilai bijaksana. Pak Tukiyat, meskipun sangat ditakuti karena mengajar matematika dan terkenal ganas serta galak, menjelma menjadi sosok kebapakan yang sangat mengentramkan hati saya dan mungkin rekan-rekan sekelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Tukiyat sampai  menggelar rapat khusus di kelas, untuk menyelesaikan kasus ini. Di rapat itu pun, dengan gemetaran, saya berbicara. Saya akui, sayalah yang menggambar sosok Pak Mardi, tapi bukan saya yang menambahkan tulisan itu. Pak Tuikiyat pun tidak marah kepada saya. Entah bagaimana akhirnya kasus ini, saya tidak ingat. Yang jelas, kami tidak mendapat sanksi skorsing, Pak Mardi tetap mengajar seperti biasa, dan horor itu berlalu begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat sangat terganggu dengan insiden ini. Tidur menjadi tak nyenyak, setiap pagi menginjakkan kaki di sekolah ini, kekhawatiran senantiasa menghantui. Dari pengalaman ini, secara nakal, saya bisa menarik hikmah: eh, anak kampung yang merasa diri kecil, rupanya bisa bikin gempar sebuah kelas di sekolah faforit rupanya, hahaha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya angkat topi sama Pak Tukiyat. Sehari-hari, dia mengajar dengan galaknya. Jika tak bisa mengerjakan soal matematika, siap-siap pucat pasi dan berkeringat, bahkan mungkin memar karena pukulan penggaris atau cubitan. Bisa dipahami, saat itu beliau masih bujangan, barangkali jiwa muda masih berkobar. Tapi saat menjadi wali kelas 2A itu, betapa Pak Tukiyat menjadi sosok kebapakan, mengayomi, melindungi, dan mencari solusi. Kata-katanya amat menyejukkan, dan saya, sebagai pangkal masalah, merasa tidak diadili, melainkan diajari untuk bertanggungjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, ada satu pengalaman spesial di SMP Usaba 1. Ada dua "kakek" yang ikut mendidik saya, yakni Pak Murdianto dan Pak Supardjo. Ayah saya, dulunya juga siswa SMP Usaba 1, dan pernah diajar kedua kakek ini. Belakangan, saya akhirnya punya keberanian mengatakan kepada kedua beliau ini, kalau ayah saya juga dulunya murid mereka. Pak Pardjo sampai berucap: "Wah, kalau begitu, kamu ini cucu saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan itu membuat saya senang bukan kepalang. Maklum, beliau ini dikenal sebagai guru killer, yang jika sedang dilanda amarah, membuat para siswa ketakutan. Ayah saya pun pernah berpesan, berperilakulah yang baik terhadap Pak Pardjo, dengarkan penjelasan beliau, karena beliau ini memang agak galak. Tapi, justru galakknya Pak Pardjo, mengajarkan saya tentang ketekunan. Betapa sia-sianya suatu pelajaran, jika tak disertai sikap tekun, disiplin, dan serius. Pak Pardjo pasti akan marah, jika siswa bersikap tidak serius mengikuti suatu pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asrama Bruder&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya punya beberapa keluarga di Ketapang. Tetapi ayah saya bersikukuh menempatkan saya di asrama Wisma Putra Kusuma (WPK) milik Kongregrasi Fractrum Imakulate Conseptionis (FIC). Selain memiliki sejumlah sekolah seperti SMP Usaba 1, asrama putra itu menjadi karya para bruder FIC yang cukup penting di kabupaten ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tak terhitung berapa banyak putra pedalaman, yang berhasil keluar dari perangkap ketertinggalan, berkat adanya asrama itu. Artinya, selain ditampung untuk tinggal di sana, juga sekaligus bisa bersekolah di SMP yang tergolong bonafid. Hal yang barangkali jarang-jarang bisa dinikmati kaum kelas bawah di belahan dunia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti kamu tinggal di asrama bruder. Di sana enak, semuanya terjadwal, dan setiap pagi sembahyang ke gereja katedral," ujar ayah saya, setelah saya berhasil lulus ujian SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang waktu itu masih amat minim pengalaman dan merasa belum siap pisah dengan orangtua, berontak dalam hati. Padahal, batin saya, di kampung juga ada SMP negeri. Mengapa tidak sekolah di kampung saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah saya bersikukuh, dan saya tak bakal bisa menolak. Terbayang sulitnya hidup di asrama, dengan banyak orang dan jadwal yang serba ketat, nyaris menarik nafas pun tak bisa. Waktu itu, pimpinan asrama Bruder Petrus Ponidi FIC, yang juga mengepalai SMP Usaba 1. Kesan saya, Bruder Petrus sangat bijaksana dan menampakkan sisi "kebapakan". Meski harus tinggal jauh dari keluarga, saya menempatkan Bruder Petrus sebagai orangtua, baik di sekolah maupun di asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus saya akui, tidaklah mudah awalnya menjalani kehidupan di asrama. Terkadang, hukum rimba berlaku. Teman yang lebih besar bisa sewenang-wenang, di belakang pengelola asrama, untuk mengintimidasi penghuni yang lebih kecil. Maka tak heran, sering terjadi perkelahian tak seimbang antara anak asrama yang sudah senior dengan yang junior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #666666; font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;Foto 4: Berpose di atas ring dengan manta&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TD3g6QQYHdI/AAAAAAAAAS8/-Ny0kBx6nTM/s1600/ilust_blog4_elly_pical.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5493794411862564306" src="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TD3g6QQYHdI/AAAAAAAAAS8/-Ny0kBx6nTM/s320/ilust_blog4_elly_pical.JPG" style="cursor: pointer; float: left; height: 225px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 300px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #666666; font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;n juara dunia tinju Elias Pycal, usai meliput pertarungan Daud Yordan melawan petinju Philipina Robert A&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666; font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;llanic, Juni 2009.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa takut, dan hanya bisa berdiam diri jika ada senior yang mencari gara-gara. Saya tidak terbiasa berkelahi, dan tidak senang melayani pertengkaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadwal acara di asrama sudah diatur sedemikian teliti. Setiap subuh, kami sudah bangun pukul 04.00 WIB. Setelah mandi, seluruh penghuni belajar di ruang study dengan pengawasan seorang bruder. Menjelang pukul 05.30, kami berangkat ke gereja Kathedral Santa Gema Galgani, yang hanya "sepelemparan batu" jaraknya dari asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun sudah dibagi tugas masing-masing, umumnya sebagai putra altar. Dari situ, saya menjadi tak asing dengan Uskup Ketapang, Mgr Blasius Pujaraharja. Menjadi putra altar membantu uskup mempersembahkan misa, bukanlah hal yang aneh bagi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, saat saya kuliah di Yogyakarta, seorang teman dengan bangganya bercerita tentang kebahagiannya bisa bersalaman dengan uskup. Hah? Hanya bersalaman dengan uskup saja bisa segembira itu? Saya di Ketapang nyaris tiap pagi menjadi putra altar bagi uskup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barulah saya sadari, betapa beruntungnya menjadi umat di Kota Ketapang, karena antara uskup dengan umat nyaris tiada jarak. Kapan pun mau bertemu, pasti akan bertemu minimal saat misa. Lha, Yogyakarta itu hanya sebuah Kevikepan di bawah Keuskupan Agung Semarang. Jarak dan kesempatan yang jauh, sehingga wajar jika mereka menganggap perjumpaan dengan uskup menjadi sangat istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah misa pagi, kami kembali ke asrama untuk sarapan, dan berikutnya berangkat ke sekolah. Pulang dari sekolah, segera makan siang dilanjutkan istirahat. Sore hari kami bekerja sesuai pembagian: ada yang menyapu lantai, mengepel, memotong rumput, dan memasak di dapur. Menjelang gelap, setelah semua mandi dan makan malam, dilanjutkan belajar di ruang study dengan pengawasan bruder atau beberapa guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski awalnya berat, saya mulai menikmati kehidupan di asrama. Banyak nilai kehidupan, baik sosial maupun religius, bisa didapatkan jika mau menghayati secara dalam. Itu sebabnya, saya bangga karena punya pengalaman tinggal di asrama. Kelak pengalaman ini amat mempengaruhi perjalanan hidup saya, mulai dari saat kuliah nun di seberang pulau di tanah Jawa, sampai pengalaman merantau ke daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tergolong penghuni asrama WPK yang paling lama bertahan di antara rekan seangkatan. Setelah lulus SMP, saya melanjutkan ke SMA Santo Yohanes, tetap sebagai penghuni asrama. Total enam tahun saya "bertapa" di asrama itu, menikmati senang-susah, pahit-manis, dan nuansa persaudaraan yang unik, khas, dan mengesankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah menjadi warga asrama mengajarkan saya tentang hidup sederhana, saling berbagi, toleransi, dan jiwa kesetiakawanan. Ego pribadi juga bisa dikelola dengan proporsional, meskipun kadangkala bisa juga menjadi tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya semakin menyadari, dari sisi inilah karya para Bruder FIC menemukan puncaknya: menyelenggarakan pendidikan bagi semua kalangan, mendorong peningkatan kualitas manusia, sembari tidak melupakan perhatian pada kaum miskin. Bayangkan, jika tak ada asrama, mungkinkan anak-anak kampung nun di belantara rimba raya, bisa menikmati sekolah bonafid?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sindrom Inferioritas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun telah lewat tanpa terasa. Saya dan tentu semua orang, tenggelam dalam rutinitas keduniawian yang nyaris menenggelamkan sisi kemanusiaan masing-masing. Beruntung ada kesempatan dan momentum untuk merenung dan menengok ke belakang, untuk me-review sudah seperti apa "wajah" perjalanan hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya, perasaan bahwa diri ini kecil dan bukan apa-apa, tetap saja menghantui. Hanya saja, nuansanya tak sama persis seperti yang saya alami tatkala pertama kali menjejakkan kaki di asrama WPK dan SMP Usaba 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui internet, saya menjumpai beberapa teman satu sekolah di masa lalu. Saya menemukan, betapa mereka kini menjadi orang hebat dan sukses, jauh dan amat jauh jika dibandingkan kehidupan saya. Harus saya akui, sindrom inferioritas itu muncul tanpa sanggup ditepis. Tetapi bedanya, saya yang sekarang berbeda dengan saya waktu 20 tahun lalu. Kini saya memahami, masing-masing orang mengantongi talentanya masing-masing. Karunia ilahi itu, tentu tak mungkin seragam satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #666666; font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;Foto 5: Mewawancarai Sen&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TD3g6M8y49I/AAAAAAAAAS0/KsbZ4ccpA-I/s1600/ilust_blog2_petrus+lengkong.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5493794410975126482" src="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TD3g6M8y49I/AAAAAAAAAS0/KsbZ4ccpA-I/s320/ilust_blog2_petrus+lengkong.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 300px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 209px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #666666; font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;iman Pematung Dayak, Petrus Lengkong, di arena Pekan Gawai Dayak ke-24 di Kota Pontianak, Juni 2009.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui betapa teman-temanku itu menjadi orang yang sukses dan bahkan kaya raya, tetap menyelipkan rasa bangga tersendiri. Rasa bangga, karena saya pernah menjadi bagian dari mereka, setidaknya sebagai teman satu sekolah saat SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dibuang Sayang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Akhirul qalam, saya berhasil mengingat pengalaman lucu dan menggelitik, sepanjang menjadi siswa SMP Usaba 1. Usia remaja yang diwarnai dengan perkembangan pubertas, membuat saya mulai mengenal dan merasakan ketertarikan terhadap lawan jenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat menyukai beberapa siswi, meski tak pernah berani mengungkapkannya. Andaikan mendapat balasan senyum saja, bukan main rasanya, melambung ke langit ketujuh. Apalagi kalau bisa surat-suratan, yang pada masa itu populer dengan sebutan "karcis", yakni semacam surat singkat yang saling berbalasan antara kita dengan orang yang ditaksir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi, karena saya sadar sebagai orang kampung, kecil, kurus, berjerawat, mana berani mengungkapkan terus terang kalau punya perasaan suka terhadap seorang siswi? Dipendam saja dan dijadikan bunga tidur, sampai akhirnya lenyap sendiri. Siapakah orang-orang yang pernah saya taksir selama di SMP? Kali ini, jangan harap saya mengaku. Sorry lah yaw...rahasia perusahaan, hahaha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya renungkan, di masa kini, betapa remaja usia SMP sudah berani menunjukkan cara-cara berpacaran sedemikian berani. Tak jarang justru muncul skandal yang mengemuka lewat internet, yang menunjukkan norma-norma pergaulan itu telah sedemikian bergeser. Begitulah jaman yang senantiasa berubah, seturut makin tuanya usia bumi ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu impian yang tak pe&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TD3mXhKOelI/AAAAAAAAATM/hAbdhy3YM9E/s1600/ilust_blog4_james+ritchie.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5493800412174514770" src="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TD3mXhKOelI/AAAAAAAAATM/hAbdhy3YM9E/s320/ilust_blog4_james+ritchie.JPG" style="cursor: pointer; float: left; height: 225px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 300px;" /&gt;&lt;/a&gt;rnah terwujud selama SMP, yakni menjadi anggota drum band. Padahal, saat masih di kampung, ayah saya bercerita betapa asyiknya menjadi penabuh drum dalam barisan marching band ini. Dulunya, ayah saya sempat menjadi satu di antara pasukan drum band.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #666666; font-family: arial; font-weight: bold;"&gt;Foto 6: Bersama James Richie, wartawan senior Eastern Times, saat kunjungan Serawak Dayak National Union (SDNU), 21 September 2009. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sayangnya, mungkin karena postur tubuh saya yang waktu itu kecil kurus kerempeng, tidak meyakinkan untuk bergabung. Saya hanya bisa mengamati dengan takjub, setiap kali melihat teman-teman saya yang bertubuh lebih tegap memainkan alat musik itu, mengitari kota Ketapang sambil menyuarakan aneka bebunyian yang enak didengar. (*)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-8123023730291795860?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/8123023730291795860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/07/anak-kampung-yang-selalu-merasa-kecil.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8123023730291795860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8123023730291795860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/07/anak-kampung-yang-selalu-merasa-kecil.html' title='Anak Kampung yang Selalu Merasa Kecil'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TD3g57EW_SI/AAAAAAAAASs/mmcEhheL4Qk/s72-c/ilust_blog1_dubes+vat.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-5494966330694412154</id><published>2010-06-18T12:02:00.003+07:00</published><updated>2011-05-18T21:23:33.522+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dorothea'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bidadari mungil'/><title type='text'>Bidadari Mungil</title><content type='html'>&lt;div class="mobile-photo"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TBr97KEfPZI/AAAAAAAAASc/2X_769DerWA/s1600/%3D%3Futf-8%3FB%3FZXlhIGxhcHRvcC5qcGc%3D%3F%3D-756787" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5483974689034288530" src="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TBr97KEfPZI/AAAAAAAAASc/2X_769DerWA/s320/%3D%3Futf-8%3FB%3FZXlhIGxhcHRvcC5qcGc%3D%3F%3D-756787" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Beginilah, kalau Sang Bidadari Kecil ada maunya, jangan harap bisa bekerja dengan tenang di rumah. Rasa ingin tahu si sulung ini mengalahkan segalanya, dan siap-siap menerima ngambeknya jika tak dipenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya senang. Meski pekerjaan terhambat, tapi Si Kecil menampakkan ketertarikannya pada piranti berteknologi tinggi. "Eya ijam putei papa," ucapnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, meski belum genap berusia 2 tahun, ucapannya sudah bisa ditangkap merujuk ke sesuatu. Tentu bukan terjadi dengan sendirinya, karena hari demi hari adalah "sekolah" yang tak berkesudahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sent from my BlackBerry® &lt;br /&gt;powered by Sinyal Kuat INDOSAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-5494966330694412154?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/5494966330694412154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/06/bidadari-mungil.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/5494966330694412154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/5494966330694412154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/06/bidadari-mungil.html' title='Bidadari Mungil'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TBr97KEfPZI/AAAAAAAAASc/2X_769DerWA/s72-c/%3D%3Futf-8%3FB%3FZXlhIGxhcHRvcC5qcGc%3D%3F%3D-756787' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-7382101713770331047</id><published>2010-06-16T00:47:00.007+07:00</published><updated>2011-05-18T21:33:06.569+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UFO'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='langit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TransTV'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reuters'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media criticism'/><title type='text'>UFO Bawa A Lien Beli Jeruk Pontianak</title><content type='html'>Aku tak menyangka, berita yang aku tulis tentang UFO, yang dikabarkan mengitari langit Pontianak, justru bikin heboh. Berita itu menyebar ke mana-mana, karena aku tulis di media online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kenalan, wartawati &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Reuters&lt;/span&gt; di Jakarta bertanya apakah berita itu benar. Kata teman itu, Eropa heboh dengan adanya berita tersebut, sampai rekannya di Inggris mengonfirmasi hal itu melalui email.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Bagi yang ingin menyimak, berita yang saya tulis itu ditayangkan di tiga media dot com, yakni di &lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2010/06/12/08561246/UFO.Mendarat.di.Pontianak-8"&gt;Kompas(dot)com&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.tribunnews.com/index.php/2010/06/12/hah-ada-ufo-di-langit-pontianak"&gt;Tribunnews(dot)com&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://tribunpontianak.co.id/read/artikel/12283"&gt;TribunPontianak(dot)co(dot)id&lt;/a&gt;. Silakan klik satu atau ketiganya. Berita itu saya tulis subuh, saat masih berada di kantor, dan menyadari ada seseorang mengirimkan video tersebut melalui akun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;facebook&lt;/span&gt;, sebagaimana saya kisahkan di tulisan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Adi yang kontributor &lt;span style="font-style: italic;"&gt;TransTV&lt;/span&gt; di Pontianak, pagi-pagi setelah berita itu tayang di website, juga menelpon menanyakan alamat "sang penemu" UFO. Kata Bang Adi, Jakarta juga heboh gara-gara berita itu, dan menugaskan dia wawancara langsung dengan "sang penemu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berikan nomor kontak seseorang yang pertamakali meng-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;upload&lt;/span&gt; video itu di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;facebook&lt;/span&gt;, yang kudapatkan lewat komunikasi via facebook sebelumnya. Memang, setelah aku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;search&lt;/span&gt; dengan bantuan Om Gugel, banyak forum online membahas berita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai komentar pembaca muncul, mulai yang serius, menyangsikan, sampai lucu-lucuan. Ada yang bilang, alien dari UFO itu singgah sebentar untuk beli jeruk Pontianak. Ada juga yang mengatakan, UFO singgah untuk menjemput A Lien (ini terkait nama khas sebagian penduduk kota ini, dan tentu saja sekadar intermezo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UFO memang senantiasa menarik untuk dibahas. Keberadaannya masih menjadi misteri, antara ada dan tiada, antara nyata dan maya. Jadi, acam mane lah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #666666; font-family: arial; font-size: 85%;"&gt;† Severianus Endi   |   Terkait UFO di &lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2010/06/12/08561246/UFO.Mendarat.di.Pontianak-14"&gt;Kompas&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.tribunnews.com/index.php/2010/06/12/hah-ada-ufo-di-langit-pontianak"&gt;Tribunnews&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://tribunpontianak.co.id/read/artikel/12283"&gt;Tribun Pontianak&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-7382101713770331047?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/7382101713770331047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/06/petikan-wawancara-dg-cinta-laura.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/7382101713770331047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/7382101713770331047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/06/petikan-wawancara-dg-cinta-laura.html' title='UFO Bawa A Lien Beli Jeruk Pontianak'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-7179923881274016656</id><published>2010-06-15T19:08:00.009+07:00</published><updated>2011-05-18T21:02:09.695+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='warung kopi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opinion'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sepa kbola'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media criticism'/><title type='text'>Demam Bola</title><content type='html'>&lt;div class="mobile-photo"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TBdtZKcqirI/AAAAAAAAASU/YWLfjhPsnto/s1600/%3D%3Futf-8%3FB%3FSU1HMDA0MjctMjAxMDA2MTUtMTkwMi5qcGc%3D%3F%3D-748856" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5482971350415608498" src="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TBdtZKcqirI/AAAAAAAAASU/YWLfjhPsnto/s320/%3D%3Futf-8%3FB%3FSU1HMDA0MjctMjAxMDA2MTUtMTkwMi5qcGc%3D%3F%3D-748856" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Musim bola telah tiba, dan sepekan belakangan orang kasak-kusuk menyesuaikan waktu kerja dengan saat menonton tim idola merumput. Koran-koran memampang foto dramatik di halaman utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi stand by, berita online dicek tiap saat. Di Kota Pontianak, semua seakan bernuansa bola. Terutama warung kopi yang banyak dijumpai di kota ini, menyediakan layar lebar yang menayangkan siaran langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur bukan termasuk penggila bola. Setelah tenaga terkuras untuk pekerjaan rutin, istirahat tak terganggu oleh gol-gol cantik, yang esok hari tetap bisa saya nikmati di koran atau media dot com. Selamat pesta bola bagi yang gemar!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-7179923881274016656?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/7179923881274016656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/06/demam-bola.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/7179923881274016656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/7179923881274016656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/06/demam-bola.html' title='Demam Bola'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TBdtZKcqirI/AAAAAAAAASU/YWLfjhPsnto/s72-c/%3D%3Futf-8%3FB%3FSU1HMDA0MjctMjAxMDA2MTUtMTkwMi5qcGc%3D%3F%3D-748856' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-8148835414189168680</id><published>2010-06-15T16:51:00.007+07:00</published><updated>2011-05-18T21:05:38.028+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opinion'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wartawan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tulisan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media criticism'/><title type='text'>'Termakan' Tulisan Sendiri</title><content type='html'>Ini pelajaran bagus. Mungkin semacam hipokrisi. Memang, dalam keterbatasan, kerap wartawan melakukan kesalahan bertubi-tubi. Mirisnya, kadang kesalahan itu nyaris tak disadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan sering tak punya waktu utk mengurus administrasi sendiri, seperti perpanjangan SIM dsb. Dalam tulisan, juga menyorot razia polisi terhadap pengendara yg tak ber-SIM. Minta komentar ahli hukum soal ketaatan warga memiliki SIM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Giliran kena razia, baru disadari SIM-nya sendiri pun ternyata sudah out of date. Tapi, kartu pers memang sakti, cukup tunjukkan kartu itu pada polantas, dan mereka pun cuma bisa tersenyum maklum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barusan ini, wartawan dan media memblow up video mirip artis ariel-luna-tari. Tanpa ampun habis-habisan dibahas. Bagaimana kalau tiba-tiba ada juga yang "termakan" tulisan sendiri, seperti kisah wartawan senior di bawah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan renungkan berita yang dilansir detik.com berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Termakan' Tulisannya Sendiri, Wartawan Senior Mundur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Khumaini : detikNews&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;detikcom - Kentucky, Mike Alexieff (50), seorang editor koran di Kentucky, Amerika Serikat, membuat tulisan lengkap soal penangkapan terhadap pejabat publik di wilayah itu oleh kepolisian. Pejabat yang diberitakan kedapatan sedang terpengaruh minuman keras saat mengendarai mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata, Alexieff juga melakukan hal sama seperti apa yang dia tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan senior di harian Bowling Green ini tertangkap polisi sedang mabuk saat mengendarai mobil pada Sabtu (12/6/2010) dalam sebuah operasi yang dilakukan oleh kepolisian setempat. Alexieff terbukti sedang dalam pengaruh alkohol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pada Senin (14/6/2010), pria yang bekerja di kantornya sejak tahun 2001 ini pun mengundurkan diri sebagai tanggung jawab moral atas berita yang dia tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia mengundurkan diri pagi ini dan saya yang langsung menerimanya," kata atasan Alexieff seperti dilansir AFP, Selasa (15/6/2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alexieff selama ini memang terkenal keras dalam menulis berita tentang para pejabat yang gemar minum alkohol, terutama saat mengendarai mobil. Dalam sebuah tulisannya, Alexieff pernah membuat judul 'Mengemudi di Bawah Pengaruh Alkohol Penyebab Utama Kecelakaan di Kentucky.' (*)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-8148835414189168680?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/8148835414189168680/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/06/termakan-tulisan-sendiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8148835414189168680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8148835414189168680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/06/termakan-tulisan-sendiri.html' title='&apos;Termakan&apos; Tulisan Sendiri'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-6154265512639613005</id><published>2010-06-15T00:22:00.006+07:00</published><updated>2011-05-18T21:06:56.771+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opinion'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><title type='text'>Sindrom Inferioritas</title><content type='html'>&lt;div class="mobile-photo"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TBZlxskpMmI/AAAAAAAAASM/EBDdylapqK0/s1600/%3D%3Futf-8%3FB%3FSU1HMDA0MDQtMjAxMDA2MDktMTUwMC5qcGc%3D%3F%3D-762065" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5482681500823007842" src="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TBZlxskpMmI/AAAAAAAAASM/EBDdylapqK0/s320/%3D%3Futf-8%3FB%3FSU1HMDA0MDQtMjAxMDA2MDktMTUwMC5qcGc%3D%3F%3D-762065" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sudah separuh usia menjejak bumi, dan apa yang sudah kau dapat? Sindrom inferioritas tetap menjadi hantu yang senantiasa membayang-bayangi. Bahkan tak jarang menyandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa? Engkau merasa terlalu kecil di tengah belantara kehidupan fana yang tiada ampun. Mungkin kemelaratan yang menjadi selubung titik-titik berkat yang sesungguhnya dan menjadi berkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carilah sendiri, mungkin kau akan temukan! Thanks untuk fotografer Leo Prima yang telah menjepret aksi gue dalam foto ini. Suasana kantor yang lengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»»» endi_the_djenggoet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sent from my BlackBerry®&lt;br /&gt;powered by Sinyal Kuat INDOSAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-6154265512639613005?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/6154265512639613005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/06/sindrom-ingferioritas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/6154265512639613005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/6154265512639613005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/06/sindrom-ingferioritas.html' title='Sindrom Inferioritas'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/TBZlxskpMmI/AAAAAAAAASM/EBDdylapqK0/s72-c/%3D%3Futf-8%3FB%3FSU1HMDA0MDQtMjAxMDA2MDktMTUwMC5qcGc%3D%3F%3D-762065' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-1672476786712566611</id><published>2010-05-26T15:32:00.006+07:00</published><updated>2011-05-18T21:08:18.633+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politics'/><title type='text'>Baru Sekarang Saya Bisa Tertawa Lepas</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/S_zej3jq60I/AAAAAAAAASE/vie8-BT1fCQ/s1600/sri+m+_crop.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475495954766031682" src="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/S_zej3jq60I/AAAAAAAAASE/vie8-BT1fCQ/s320/sri+m+_crop.JPG" style="cursor: pointer; float: left; height: 116px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 144px;" /&gt;&lt;/a&gt;Wanita anggun itu kini pergi ke negeri lain. Dia pergi tidak tanpa beban. Air mata maupun tawa mewarnai detik-detik akhir, sebelum dia mengabdi di sebuah lembaga internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Hanya lewat layar kaca, aku bisa melihat senyatanya gestural Sri Mulyani, Rabu (26/5/20) siang. Kala itu, dia menyempatkan diri menjawab sejumlah pertanyaan wartawan, beberapa jenak sebelum keberangkatannya ke Negeri Paman Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengenakan kebaya putih, terlihat bersinar, senyumnya lepas, dan kecantikannya begitu memancar. Dia berkata-kata begitu luwes dan bijaksana, sehingga tayangan itu tidak garing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tentu beda dengan beberapa bulan belakangan, ketika kita kerap disuguhkan wajah lecek, kumal, ataupun bete dari wanita yang sebelumnya menjabat Menteri Keuangan itu. Maklum, dia sedang diserang dan digencet dugaan keterlibatan skandal Bank Century yang digitnya triliunan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hari ini, Sri tampil lain, mungkin seperti inilah performance dia waktu gadis dulu. Membuat remuk hati seorang pria yang kasmaran, dengan wajahnya yang berbinar, senyum yang memikat, dan tutur kata halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya berangkat didampingi suami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak-anak titip sama kamu saja, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya di sana kan ada masa inisiasi, saya akan pelajari bundelan dokumennya, dan siap masuk kantor per 1 Juni, nggak ada masalah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf teman-teman wartawan mungkin nunggu saya lama. Soalnya saya harus menyeleksi, mana yang perlu dibawa, mana yang tidak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke, saya sudah mau berangkat nih. Boleh ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu potongan ucapan Sri, disela hujan pertanyaan bernada tidak sabar dari para juru warta. Dia pun berlalu dengan lambaian serta permohonan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri dikenal sebagai wanita tegar berpendirian tegas sekaligus keras. Tapi belakangan, setelah dipastikan dia melepas "beban" sebagai Menkeu dan menerima jabatan di Bank Dunia, kita disuguhkan sisi manusiawi terdalam dari seorang tokoh wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baru sekarang saya bisa tertawa lepas," ucap Sri dalam sebuah tayangan perpisahannya. Dia terlihat tertawa lepas dipadu canda ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tayangan lain, Sri terlihat tersedu-sedu saat menyampaikan sambutan serahterima jabatan dengan Menkeu penggantinya. Beberapa kali pidatonya terhenti, dan seseorang memberikan air putih yang segera diteguknya sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangis itu sebagai ungkapan lega terlepas dari berbagai himpitan di negaranya sendiri. Sepertinya, pekerjaan baru nun di negeri orang, jauh lebih menjanjikan kedamaian dan ketenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya boleh nangis, karena bukan Menteri Keuangan lagi. Soalnya kalau masih Menteri Keuangan, rupiah bisa berguncang," candanya di sela isak tangis dan usapan air mata dengan tissue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sosok Sri, figur yang dihantam dari berbagai sisi justru di negerinya sendiri, tapi rupa-rupanya amat dibutuhkan di negeri orang. Jabatan baru di bank dunia pun bukan main-main, konon orang nomor dua atau tiga di lembaga internasional itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri, hanya satu hal yang belum bisa kuteladani dari dikau. Mungkin aku harus belajar lagi, bagaimana caranya bisa tertawa lepas. Dan, tentu, tawa lepas yang tanpa beban. Ajari, ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;† &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #999999; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="color: #666666; font-family: arial;"&gt;Severianus Endi   |   Foto: Kompas Image   |  Terkait Keberangkatan Sri Mulyani di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://nasional.kompas.com/read/2010/05/26/12273256/Sri.Mulyani.Tinggalkan.Jakarta-4" style="color: #666666; font-family: arial;"&gt;Kompas&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-1672476786712566611?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/1672476786712566611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/05/baru-sekarang-saya-bisa-tertawa-lepas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1672476786712566611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1672476786712566611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/05/baru-sekarang-saya-bisa-tertawa-lepas.html' title='Baru Sekarang Saya Bisa Tertawa Lepas'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/S_zej3jq60I/AAAAAAAAASE/vie8-BT1fCQ/s72-c/sri+m+_crop.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-861415132785786451</id><published>2010-05-25T19:33:00.006+07:00</published><updated>2011-05-18T21:09:46.310+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politics'/><title type='text'>Papa, Cacek Angis...</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/S_vJEYGTY3I/AAAAAAAAAR8/aw3H7vZwmNQ/s1600/Menangis04.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475190849024516978" src="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/S_vJEYGTY3I/AAAAAAAAAR8/aw3H7vZwmNQ/s320/Menangis04.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 189px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;Lelaki berusia 74 tahun itu terlihat tegar di layar kaca. Kedua putranya setia mendampingi, dalam khidmad di makam itu. Tiba saatnya tabur bunga, lelaki berbaju batik cokelat yang semula tampak tegar itu, menangis sesengukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Aku tentu mengetahui kabar kepergian Ibu Ainun (72), istri mantan presiden BJ Habibie. Tapi seperti layaknya kepergian "orang besar", aku menganggap wajar. Apalagi di usia tua, setelah bergulat dengan penyakit, dan bukan kematian tiba-tiba yang memantik rasa ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sosok tegar Habibie yang kehilangan sang tulang rusuknya itu, rupanya sanggup membuat aku menatap layar kaca lebih lama. TV swasta itu menyiarkan langsung prosesi pemakaman Selasa (25/5/10) siang itu tanpa putus, tanpa jeda komersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu segmen membuat aku terpaku, dan ikut larut dalam haru. Tatkala Habibie menaburkan bunga di liang lahat, sosok sang profesor menampakkan sisi "human" terdalam. Dia menangis tersedu-sedu, sambil menaburkan bunga-bunga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutnya menganga, layaknya orang menangis dengan kesedihan yang teramat sangat. Saat hampir larut dalam haru itulah, aku kaget dengan celoteh polos puteri sulungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Papa, cacek angis&lt;/span&gt;..." ucap Dorothea, bidadari kecilku sambil mengarahkan jari mungilnya ke layar kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa, kakek menangis, begitu maksud Dorothea. Dalam usianya yang baru 1,8 tahun, dia sudah mampu bereaksi terhadap sesuatu yang dilihatnya dengan susunan kata-kata sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tu...cacek angis tu, Pa,&lt;/span&gt;" lagi celotehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya sayang, kakek itu nangis karena sedih," ucapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Dorothea, sosok lelaki tua, siapa pun dia, selalu disebutnya "kakek". Tetangga, orang yang kebetulan lewat di depan rumah, atau sanak saudara, jika berpenampilan tua, selalu disebutnya "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;cacek&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku masih terpaku menatap siaran di layar kaca. Sosok Habibie itu, memang menampilkan aneka suasana hati. Ada ketegaran di sana, tapi juga bertumpuk perasaan yang tengah luluh lantak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan sang profesor yang sesegukan, memang bisa membuat tersedak haru. Seseorang memberikan selembar tissu, dan di layar kaca kulihat Habibie melepas kacamatanya lalu mengelap air matanya. Dia pun dipapah menuju kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segmen berikutnya, saat meletakkan karangan bunga di pusara. Habibie kembali telihat luluh dalam duka mendalam. Setelah meletakkan karangan bunga, sejenak dia menjamah ujung nisan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seikhlas apapun melepas kepergian orang tercinta, rasa kehilangan tak bisa pupus begitu saja. Hari ini, aku banyak belajar dari sosok Habibie, tentang arti cinta, keiklasan, dan sisi paling manusiawi dari seseorang: tangis duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah media online menulis berita dan memasang foto-foto yang menampakkan sisi kemanusiaan seorang Habibie. Berikut link-nya: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;VIVAnews.com&lt;/span&gt;: &lt;a href="http://nasional.vivanews.com/news/read/153339-tangis_habibie_pecah_di_atas_liang_lahat"&gt;Tangis Habibie Pecah di Atas Liang Kubur  &lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tribunnews.com&lt;/span&gt;: &lt;a href="http://www.tribunnews.com/index.php/2010/05/25/habibie-menangis-saat-jenazah-ainun-dimasu%20kkan-ke-liang-lahat"&gt;Habibie Menangis saat Jenazah Ainun Dimasukkan ke Liang Lahat &lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas.com&lt;/span&gt;: &lt;a href="http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/read/2010/05/25/14072979/Air.Mata.Berlinang.di.Pemaka%20man.Istri"&gt;Air Mata Berlinang di Pemakaman Istri&lt;/a&gt; Detik.com: &lt;a href="http://www.detiknews.com/read/2010/05/25/120259/1363614/10/air-mata-habibie-tumpah-di-pu%20sara-ainun?topnews"&gt;Air Mata Habibie Tumpah di Pusara Ainun &lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Foto Detik.com&lt;/span&gt;: &lt;a href="http://foto.detik.com/readfoto/2010/05/25/144119/1363786/157/1/air-mata-bj-habibie-tumpah"&gt;Air Mata Duka BJ Habibie&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #666666; font-family: arial; font-size: 85%;"&gt;  &lt;span style="font-size: 78%;"&gt;&lt;/span&gt; † Severianus Endi   |   Foto Ilustrasi: Detik.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-861415132785786451?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/861415132785786451/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/05/papa-cacek-angis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/861415132785786451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/861415132785786451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/05/papa-cacek-angis.html' title='Papa, Cacek Angis...'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/S_vJEYGTY3I/AAAAAAAAAR8/aw3H7vZwmNQ/s72-c/Menangis04.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-643277276102619768</id><published>2010-05-24T23:30:00.004+07:00</published><updated>2011-05-18T21:10:43.691+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politics'/><title type='text'>Anarkis dan Teror Bayangi Pemilukada di Kalbar</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/S_qqxh3RhBI/AAAAAAAAAR0/wl8MIqaFxN0/s1600/mobil+ketua+kpu_crop.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474876064902775826" src="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/S_qqxh3RhBI/AAAAAAAAAR0/wl8MIqaFxN0/s320/mobil+ketua+kpu_crop.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 225px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 300px;" /&gt;&lt;/a&gt;Aksi anarkis dan teror membayangi dua dari enam kabupaten yang menggelar Pemilukada serentak di Kalbar. Terbaru, Minggu (23/5/10) sekitar pukul 01.00 WIB, mobil Ketua KPU Ketapang, Juhardhani, dibakar oleh orang tak dikenal.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mobil dinas merek Terios itu justru dibakar saat parkir di depan rumahnya, Jl Karya Tani, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang. Saat itu, Juhardhani baru saja pulang kerja, lalu menonton televisi, sementara istrinya merangkai bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil dinas tersebut segera dilalap api dan tak terselamatkan. Menurut Juardhani, kejadian seperti ini pertama kalinya setelah Kabupaten Ketapang menjalani 9 kali Pemilukada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sulit dipastikan, siapa gerangan pelaku teror sekaligus pembakaran mobil tersebut. Di Ketapang sendiri empat pasang kandidat bertarung di ajang Pemilukada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai nomor urut, mereka adalah (1)Yasir Ansyari-Martin Rantan, (2) Henrikus-Boyman Harun (3) AR Mecer-Jamhuri, dan (4) Ismed Siswadi-Suhermansyah. Sebagai catatan, incumbent Bupati Morkes Effendy telah menjalani dua periode kepemimpinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga kali ini putra Morkes, Yasir maju didukung partai yang dipimpinnya, Golkar bersama koalisinya. Di lain pihak, incumbent Wakil Bupati Henrikus, maju dengan dukungan PDIP dan koalisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum insiden pembakaran mobil dinas Ketua KPU Ketapang, tindakan anarkis juga terjadi berupa pengerusakan papan pengumuman penghitungan cepat oleh oknum tak dikenal. Akibatnya, KPU Ketapang menghentikan update perolehan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindak anarkis terlebih dahulu terjadi di Kabupaten Bengkayang. Ratusan orang menyerang kantor KPU Jumat lalu, melakukan orasi dan melempar kaca-kaca jendela hingga pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Massa memprotes proses Pemilukada yang menurut mereka diwarnai banyak kecurangan. Pengunjukrasa menuduh, terjadi money politics di satu daerah di Kecamatan Samalantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam pasang kandidat berlaga di Pemilukada Bengkayang, di antaranya incumbent Wakil Bupati Suryadman Gidot-Agustinus Naon yang diusung Demokrat dan koalisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ada putra incumbent Bupati Yacobus Luna, Darwis (Ketua DPRD Bengkayang yang menjadi calon wakil) berpasangan dengan Moses Ahie (Kepala Satpol PP Provinsi Kalbar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kabupaten ini memang bergolak pasca-pencoblosan serentak 19 Mei lalu. Sementara empat kabupaten lain, Sekadau, Melawi, Sintang, dan Kapuas Hulu, sementara masih dalam keadaan terkontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #666666; font-family: arial; font-size: 85%;"&gt;Severianus Endi   |   Foto: Rihard N   |   Dimuat di &lt;a href="http://www.tribunnews.com/index.php/2010/05/24/peneror-bakal-mobil-ketua-kpu-dan-rusak-kantor"&gt;Tribunnews&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.tribunpontianak.co.id/read/artikel/10906/mobil-ketua-kpu-dibakar-kantor-dirusak"&gt;Tribun Pontianak Portal&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-643277276102619768?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/643277276102619768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/05/anarkis-dan-teror-bayangi-pemilukada-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/643277276102619768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/643277276102619768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/05/anarkis-dan-teror-bayangi-pemilukada-di.html' title='Anarkis dan Teror Bayangi Pemilukada di Kalbar'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/S_qqxh3RhBI/AAAAAAAAAR0/wl8MIqaFxN0/s72-c/mobil+ketua+kpu_crop.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-8457780257895781284</id><published>2010-05-20T17:09:00.004+07:00</published><updated>2011-05-18T21:11:28.972+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politics'/><title type='text'>Golkar Kembali Berjaya di Kalbar?</title><content type='html'>Meski rekapitulasi hasil Pemilukada di 6 kabupaten di Kalbar belumlah final, tapi hasil sementara telah menunjukkan suatu gejala. Yakni, kejayaan Partai Golkar yang tampaknya muncul kembali setelah sempat redup di beberapa pemilukada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Pengamat politik dari Universitas Tanjungpura Pontianak, Ori Fachriansyah, menilai, Pemilukada kali ini menjadi momentum yang sangat baik untuk menilai kematangan demokrasi lokal. Terbukti dari bergesernya isu-isu etnisitas yang sempat mengkhawatirkan, dan dinamika partai besar yang naik maupun turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hasil sementara, bisa dikatakan Golkar kembali berjaya, setelah beberapa Pemilukada yang lalu sempat terpuruk. Artinya konsolidasi internal tubuh Golkar berhasil, dan mereka kembali percaya diri," tutur Ori kepada Tribun, Kamis (20/5/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai besar yang bertarung, sebut saja Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat, di satu daerah berkoalisi, namun di daerah lain menjadi rivalitas. Menurut Ori, ini suatu bentuk kematangan demokrasi, yang memberi harapan terwujudnya kematangan politik di tingkat lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data sementara sampai Kamis siang, memang perolehan kandidat yang diusung Golkar cukup menyolok. Dari 6 kabupaten, calon yang diusung "Beringin" beserta koalisinya, tampak mulai mendominasi di 4 kabupaten, yakni Ketapang, Melawi, Kapuas Hulu, dan Sintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan Pilwako Pontianak 2009, calon Golkar kalah. Kemudian pada Pemilukada Kabupaten Kubu Raya 2009, kandidat dari jalur perseorangan yang berhasil meraih kursi nomor satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelumnya, pada Pilkada Gubernur Kalbar, justru PDIP yang menjadi pemenang. Bahkan perolehan suara PDIP pada sejumlah pemilu, baik Pilpres, Pileg, dan sejumlah Pilkada, sempat membuat Kalbar menjadi semacam "basis" bagi Moncong Putih di luar Jawa dan Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pemilukada 2010 ini ternyata membuktikan, isu etnisitas telah bergeser. Kita lihat, para kandidat berlatar sangat variatif, begitu juga basis politiknya. Juga dominasi partai besar sebelumnya tidak harus terus-menerus bertahan, supaya ada dinamika. Ini konsolidasi demokrasi lokal yang baik, mudah-mudahan seterusnya begini untuk mencapai kematangan berdemokrasi," urai Ori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat kabupaten yang sementara unggul dalam penghitungan cepat, seluruhnya kaodidat yang diusung Golkar. Di Kabupaten Melawi, incumbent Wakil Bupati Firman Muntaco unggul atas kandidat yang diusung PDIP dan Demokrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode baru lalu, bupati dari Demokrat memimpin daerah ini. Lalu Sintang, Jarot Winarno yang incumbent wakil bupati, mengalahkan Milton Crosby yang merupakan pasangannya di pemerintahan belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, dua daerah yang masih merupakan basis Golkar tetap bertahan, yakni Kapuas Hulu dan Ketapang. Di Kapuas Hulu, adik incumbent Bupati Thambul Husin, dan di Ketapang putra incumbent Bupati Morkes Effendy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan PDIP? Di Kabupaten Bengkayang, incumbent Yacobus Luna merupakan Ketua DPC PDIP, dan Pemiluakada ini putranya Darwis masih di bawah perolehan Suryatman Gidot yang diusung Demokrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gidot tak lain tak bukan merupakan incumbent wakil ayahnya dalam pemerintahan yang akan habis periode sebentar lagi. Kemudian di Sekadau, incumbent Bupati Simon Petrus yang diusung koalisi Demokrat dan PDIP masih bertengger di tangga teratas. Kita nantikan saja hasil finalnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #999999; font-size: 85%;"&gt;Severianus Endi   |   Tribun Pontianak   | Dimuat di &lt;a href="http://tribunpontianak.co.id/read/artikel/10684/golkar-kembali-berjaya-di-kalbar"&gt;Tribun Portal&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.tribunnews.com/2010/05/20/sementara-golkar-kembali-berjaya-di-kalbar"&gt;Tribunnews&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-8457780257895781284?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/8457780257895781284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/05/golkar-kembali-berjaya-di-kalbar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8457780257895781284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8457780257895781284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/05/golkar-kembali-berjaya-di-kalbar.html' title='Golkar Kembali Berjaya di Kalbar?'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-9172364664435888801</id><published>2010-05-20T01:57:00.004+07:00</published><updated>2011-05-18T21:12:12.544+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politics'/><title type='text'>Aroma Incumbent yang Amat Kental</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/S_Q1PWav6rI/AAAAAAAAARs/sKx2Meqou84/s1600/kecill.gif" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473057984994077362" src="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/S_Q1PWav6rI/AAAAAAAAARs/sKx2Meqou84/s320/kecill.gif" style="cursor: pointer; float: left; height: 149px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 115px;" /&gt;&lt;/a&gt;Sembari menanti hasil final penghitungan perolehan suara Pemilukada di Kalbar, menarik untuk mereview kembali kekhasan para kandidat yang bertarung. Aroma incumbent begitu kental terasa, jika menelaah latar belajang sejumlah kandidat. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di Ketapang dan Bengkayang, ada dua "putra mahkota" incumbent. Ayah keduanya sama-sama telah mencapai periode kedua, sehingga tak mungkin mencalonkan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yasir putra Bupati Morkes Effendy di Ketapang, dan Darwis putra Bupati Yacobus Luna di Bengkayang. Kemudian di Melawi, ada istri mendiang incumbent Suman Kurik, Yustina Indan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yustina menjadi rival bagi incumbent wakil mendiang suaminya, Firman Muntaco. Lalu di Kapuas Hulu, ada adik incumbent Bupati Thambul Husin, yakni Nasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thambul sendiri sudah mencapai dua periode kekuasaan. Nah, di dua kabuputen, baik incumbent bupati maupun wakil pecah kongsi. Masing-masing "berlayar" dengan perahu berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada incumbent Bupati Milton Crosby yang menjadi rival bagi wakilnya, Jarot Winarno. Kemudian di Sekadau incumbent Bupati Simon Petrus versus wakilnya Abun Ediyanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mereka menjadi pemenang, berarti para incumbent tak sia-sia "menitipkan" tongkat estafet kepemimpinannya. Atau, bagaimana menurut Anda?&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #999999; font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;Severianus Endi | Tribun Pontianak | Dimuat di &lt;a href="http://tribunpontianak.co.id/read/artikel/10654"&gt;Tribun Portal&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.tribunnews.com/2010/05/20/pemilukada-kalbar-diwarnai-aroma-incumbent"&gt;Tribunnews&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-9172364664435888801?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/9172364664435888801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/05/aroma-incumbent-yang-amat-kental_5406.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/9172364664435888801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/9172364664435888801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/05/aroma-incumbent-yang-amat-kental_5406.html' title='Aroma Incumbent yang Amat Kental'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/S_Q1PWav6rI/AAAAAAAAARs/sKx2Meqou84/s72-c/kecill.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-5679728180482694651</id><published>2010-01-22T16:57:00.000+07:00</published><updated>2011-06-24T17:00:33.859+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><title type='text'>Rumah Betang dengan Hutan Kecil</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Vp3JTiuNBn8/TgRfzKRpYwI/AAAAAAAAAUg/nIfGm4jmtOk/s1600/sumpit.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-Vp3JTiuNBn8/TgRfzKRpYwI/AAAAAAAAAUg/nIfGm4jmtOk/s320/sumpit.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi: SEVERIANUS ENDI&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Severianus Endi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS.com - Sebuah tugu yang anggaranya diperkirakan menghabiskan dana di atas Rp 100 juta, mulai dibangun di lahan enam hektar di Jl Trans Kalimantan, Kalimantan Barat. Tugu tersebut merupakan simbol akan adanya sebuah rumah betang baru, yakni rumah adat khas Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, Panitia Persiapan dan Pembangunan Rumah Adat Dayak (P2RAD) Kalbar sudah terbentuk sejak September 2005 silam. Mereka merencanakan pendirian rumah adat Dayak yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua P2RAD Kalbar, Herman Ivo, Jumat (22/1/2010) menuturkan, dana segar yang sudah terhimpun baru sejumlah sekitar Rp 3 miliar, yang sebagian sedang diputar untuk sejumlah usaha yang mendukung penambahan pemasukan. Jumlah tersebut masih sangat jauh dari angka yang ditargetkan Rp 39 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat ini baru memulai pembangunan tugu, sebagai simbol utama di lahan itu. Bentuknya berupa tiang sandung (khas Dayak Kapuas Hulu), yang di atasnya bertengger burung enggang," ujar Ivo kepada Tribun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bertekad mengejar realisasi target setidaknya Rp 10 miliar, agar pembangunan rumah betang bisa dimulai. Bulan ini diprogramkan untuk sosialiasi efektif ke lembaga keuangan Credit Union (CU) yang tersebar di Kalbar dan juga dengan pemerintah daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana mendirikan rumah adat baru, dikarenakan rumah betang yang ada sekarang di Jl Sutoyo Kota Pontianak, dalam kondisi tua dan tidak representatif lagi. Lokasi yang baru terletak di Jl Trans Kalimantan, Kuala Ambawang, dengan luas lahan 6 hektar merupakan bantuan dari Pemprov Kalbar melalui APBD 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana dihimpun, di antaranya dengan cara penjualan sertifikat. Kategorinya mulai dari sertifikat ekslusif dengan harga Rp 1 juta per lembar, sampai sertifikat standar yang berkisar Rp 10 ribu, Rp 25 ribu, dan Rp 50 ribu per lembar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sejumlah unit usaha dibuka, seperti rumah makan khas Dayak maupun dari penjualan aksesoris di galeri seni, yang dibuka di rumah betang, Jl Sutoyo. Rumah adat yang baru, selain sebagai pusat aktivitas budaya, juga dikonstruksikan sebagai lokasi wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akan kami bangun taman yang luas di sekitar rumah betang yang baru. Semacam hutan kecil yang memanfaatkan sekitar 50 persen dari total area," kata Ivo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ada balai pertemuan untuk berbagai kegiatan, maupun unit usaha berbasis budaya, sehingga diharapkan bisa mandiri secara ekonomis. Bakal dilengkapi juga dengan berbagai macam benda budaya, kerajinan tangan, dan situs-situs yang ada di masyarakat seperti barang antik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apabila rumah betang itu sudah jadi, berbagai kegiatan tradisional seperti mengayam, tenun, ataupun seni pahat, akan digelar setiap saat. Pengunjung dari luar bisa menyaksikan replika aktivitas budya orang Dayak," tutur Ivo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Betang yang sudah ada selama ini di Jl Sutoyo merupakan aset Pemprov Kalbar. Dibangun sekitar 1977, didesain oleh tokoh Dayak, Yacob Lomon, yang saat itu menjabat anggota DPRD Kalbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini jumlah pengunjung signifikan, tetapi Rumah Betang itu kosong. Tak ada yang bisa ditunjukkan, sehingga pengunjung hanya berfoto dengan latar ornamen khas Dayak yang ada di tiang dan dinding. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah ini merupakan tulisan yang ditayangkan di kompas (dot) com di &lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2010/01/22/15113827/Rumah.Betang.dengan.Hutan.Kecil"&gt;link ini&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-5679728180482694651?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/5679728180482694651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/01/rumah-betang-dengan-hutan-kecil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/5679728180482694651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/5679728180482694651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2010/01/rumah-betang-dengan-hutan-kecil.html' title='Rumah Betang dengan Hutan Kecil'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Vp3JTiuNBn8/TgRfzKRpYwI/AAAAAAAAAUg/nIfGm4jmtOk/s72-c/sumpit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-8094026870257042475</id><published>2009-12-19T01:09:00.002+07:00</published><updated>2011-05-18T21:13:55.563+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opinion'/><title type='text'>Hidup yang Begini-begini Saja</title><content type='html'>* Mencoba Merenung di Akhir Tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian deret tahun telah tertinggal di belakang. Bagaikan bekas kulit tapak sepatu yang lepas dari ruas jalan yang satu ke jalan yang lainnya. Meninggalkan jejak seperti con-block yang tersusun tak tentu arah. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Apa yang sudah kuraih? Apa yang sudah kucapai. Jika menggunakan ukuran alam fana, sejujurnya nyaris tak ada apa-apanya. Bagai berputar di situ-situ saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, sahabat yang "lebih beriman", bisa menilai, gue orang yang kurang bersyukur. "Udah diberi hidup sama Tuhan, loe kagak bersyukur," begitu mungkin vonisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walahu'alam. Beginilah adanya. Penghunjung 2009 kian depat. Tahun depan mulai menampakkan bayang-bayang kemunculannya. Umur kian menanjak, kehidupan masih menampakkan wajah lamanya yang senantiasa bernuasa melarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Point of no return? Entah di mana jawabannya. Masih kah mampu berbalik arah. Bukan dalam "mangsut" memutar waktu, tetapi kira-kira semacam banting stir. Mungkinkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja Sang Khalik membisikkan jawabannya, tapi biasanya suara halus begitu susah terdengar di alam fana. Aku masih melihat, betapa "gunung" ini kian terjal saja. Licin, basah, bechek, ndak ada ojhek lagi kata Chinta Laura Ler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja di balik waktu sana, ada cahaya lain. Mungkin cahaya lama, tapi lebih bersinar. Atau cahaya lama, tapi kian redup. Atau cahaya baru, penuh harapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manekehetek la... Tahun penderitaan bakal lewat, akankan tahun depan juga berstatus sama? Sekali lagi, maneketehek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 78%; font-weight: bold;"&gt;Hari terakhir di kantor menjelang cuti tahunan&lt;br /&gt;Pontianak, subuh Sabtu 19.12.09 pk 01.08 WIB&lt;br /&gt;::masuk kantor lagi 4 Januari 2010::&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-8094026870257042475?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/8094026870257042475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/12/hidup-yang-benini-begini-saja.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8094026870257042475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8094026870257042475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/12/hidup-yang-benini-begini-saja.html' title='Hidup yang Begini-begini Saja'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-519629744512136038</id><published>2009-12-18T23:54:00.006+07:00</published><updated>2011-05-18T21:14:31.887+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><title type='text'>Mereka Memanggil Saya Padre Eriberto</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Syu0Nk54dzI/AAAAAAAAARI/G6PkbRSyF78/s1600-h/pastor+tolas+cp+edisi+2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416621122180904754" src="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Syu0Nk54dzI/AAAAAAAAARI/G6PkbRSyF78/s320/pastor+tolas+cp+edisi+2.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 320px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 240px;" /&gt;&lt;/a&gt;* Pastor Asal Kalbar Bertugas di Italia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti lazimnya hari besar keagamaan, tradisi berkunjung dari rumah ke rumah saat Natal masih amat kental di Indonesia, termasuk Kalbar. Bagaimana dengan kebiasaan umat Katolik di Italia?&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Ternyata tak ada acara Natalan dari rumah ke rumah. Kalau pun ada, sangat terbatas untuk kalangan internal keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LOURDES - Berpose sejenak sebelum berziarah di Lourdes, Perancis. FOTO PRIBADI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu dituturkan Pastor Heribertus Ferry Monatolas CP (34) kepada saya melalui "sambungan internet" Jumat (18/12). Pastor Tolas, sapaan akrabnya, kelahiran desa Karab di pedalaman Ketapang, Kalbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kesannya tidak semeriah perayaan natal di negara kita. Mungkin karena Natal di negara barat jatuh pada musim dingin. Jadi suasanaya ya dingin-dingin saja," kelakarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tak semua wilayah Eropa dingin pada masa Natal. Suasana meriah dengan hiasan bernuansa merah khas Natal, seperti di mal-mal, kampung-kampung, dan orang-orang berkumpul luar biasa banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Tolas ditugaskan di Italia sejak November 2007. Di sana, ia tinggal di Sicilia, Palermo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya, ia mengemban tugas pendampingan bagi para frater (calon pastor) yang bergabung dengan Provinsi Passionis Sicilia, Palermo, Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Secara liturgis, Natal di Italia sama saja dengan di Tanah Air, sesuai Pedoman Umum Missale Romanum. Kegiatannya sangat bervariasi, meskipun tak semua paroki yang menyelenggarakannya," tutur pastor yang ditahbiskan di Gereja Tanjung Hulu, Kota Pontianak, 3 Juni 2004 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada juga paroki yang menggelar acara Natal untuk anak-anak. Atau keluarga yang menggelar pesta bersama anak-anaknya yang pulang liburan," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan acara antara pastor dengan umat, biasanya menyaksikan koser lagu dan pementasan Natal. Memang, tak semua paroki menggelar acara seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa jadwal rutin masa advent menjelang natal di Negeri Pizza itu? Menurut Pastor Tolas, tidak ada kegiatan yang khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal rutin seperti misa mingguan di paroki dan di rumah sakit. Pada masa advent, ada dua doa novena yang menjadi tradisi. Novena tersebut adalah Novena Immakulata dan Novena Natal, yang saat ini terus dilakukan hingga menjelang Natal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mengetahui pimpinan biara menugaskan dirinya ke Italia, Pastor Tolas sempat merasa cemas. Apalagi untuk menjalin komunikasi dengan bahasa yang belum pernah dipelajarinya, maupun budaya Barat yang sama sekali berbeda dengan budaya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Syu0grl6q7I/AAAAAAAAARQ/O3Hg-VvQ9Xo/s1600-h/pastor+tolas+cp+edisi+1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416621450393725874" src="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Syu0grl6q7I/AAAAAAAAARQ/O3Hg-VvQ9Xo/s320/pastor+tolas+cp+edisi+1.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;"Wah, saya tidak pernah mengambil kursus bahasa Italia. Hampir seluruhnya saya pelajari autodidak. Membeli bukunya dan bertanya kepada teman-teman," kenang Pastor Tolas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakuinya, tidak mudah menguasai bahasa Negeri Pizza. Sekadar untuk berbicara saja, butuh waktu hampir satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KELUARGA ITALIA - Pastor Heribertus Ferry Monatolas CP (kedua dari kiri) berfoto bersama sebuah keluarga Italia. Mereka memanggilnya Padre, bahasa setempat untuk sebutan Pastor. FOTO PRIBADI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sekarang? Pastor kelahiran pedalaman Simpang Hulu, Ketapang ini sudah tak lagi kaku berkomunikasi dengan umatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa sehari-hari, memimpin misa, berkotbah, atau pun melayani konsultasi umat, semua dalam bahasa Italia. Lalu, sebutan umat terhadap dirinya pun kini berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waktu bertugas di Jawa, umat memanggil saya Romo. Saat di Kalimantan, saya dipanggil Pastor. Nah, di "dunia lain" ini (Italia), mereka memanggil saya Padre Eriberto," ucap ," ucap sulung dari lima bersaudara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama beraroma Italia itu bukan bikinan, tapi ucapan orang sana menyebutkan nama baptisnya, Heribertus. Ya, Padre Eriberto, terdengar Italian Style.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal mula di Negeri Pizza, Pastor Tolas belum secara langsung bertugas di paroki. Baru pada Januari 2009, ia diminta membantu pelayanan umat di Paroki Induk Maria SS Annunziata, Partinico, Palermo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jumlah umat di paroki ini sekitar 15 ribu orang. Selain itu, juga menjadi pelayanan rohani di sebuah rumah sakit swasta di Partinico," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengisahkan, umumnya orang Italia Selatan lebih familiar dan ramah dibandingkan orang Italia Utara. Kuncinya harus memiliki keberanian bergaul dan berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah prinsip tugas seorang misionaris seperti dirinya. Harus mampu hidup di mana pun, dengan siapa pun, dan dalam keadaan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seorang misionaris tidak membawa dirinya sendiri, tetapi membawa Mandat Ilahi yaitu Warta Gembira Yesus Kristus," ucapnya mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, apa bahasa Italia untuk mengucapkan Selamat Hari Natal? Ternyata tak sulit-sulit amat: Buon Natale.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;::severianus endi::&lt;br /&gt;Harian Tribun Pontianak, Kalbar &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-519629744512136038?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/519629744512136038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/12/mereka-memanggil-saya-padre.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/519629744512136038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/519629744512136038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/12/mereka-memanggil-saya-padre.html' title='Mereka Memanggil Saya Padre Eriberto'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Syu0Nk54dzI/AAAAAAAAARI/G6PkbRSyF78/s72-c/pastor+tolas+cp+edisi+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-4804446691854712810</id><published>2009-10-18T22:42:00.005+07:00</published><updated>2011-05-18T21:15:30.058+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wawancara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hongkong'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penelitian'/><title type='text'>Nan dari Hong Kong</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sts4A9hIp7I/AAAAAAAAAQ4/N2aAGLcvOrc/s1600-h/dr+nang.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393966567870998450" src="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sts4A9hIp7I/AAAAAAAAAQ4/N2aAGLcvOrc/s320/dr+nang.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku, Rabu (14/10) malam pukul 20.18.16 WIB. Namanya juga pesan singkat, ya isinya pun singkat. "Bisakah ketemu besok siang? Nan dari hongkong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedikit tersenyum, membaca kalimat yang terakhir. "Nan dari Hongkong". Maklum, sudah karib suatu "prokem" di kalangan kita, menambahkan candaan dengan frasa 'Hongkong'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keterangan Foto: &lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Siluet suasana saat aku berdiskusi dengan Dr Nan, Kamis (15/10) di cofee shop Hotel Kini, Kota Pontianak. Andrew Yuen menjepret momen ini, yang karena back-light lalu mengubah nuansanya menjadi siluet.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Kalau kebetulan nonton infotainment, kadang para artis terlihat menggunakan frasa itu: 'duit dari hongkong?'. Sulit mencari padanan untuk terjemahan bebasnya. Sulit, dan tak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak terkejut dengan pesan singkat itu. Malam itu, saat aku kembali ke kantor, seseorang memberitahukan, ada "doktor dari Hongkong ingin bertemu". Nomor telepon genggamnya pun sudah diberikan padaku dan kusimpan di phonebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum mengenalnya. Info yang kuperoleh hanya dari sebuah kartu nama. Bertuliskan Dr CHOI Nankyung, peneliti Southeast Asia Research Centre (SEARC), dari City University of Hong Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, aku masih "melanglang buana" menyusuri sudut kota. Jadi, pas tamu itu datang, aku lagi tak di kantor. Informasi singkat yang kudapat, dia perlu wawancara terkait penelitiannya. Entah tentang apa, yang jelas aku yang disodorkan jadi responden. Walah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau kan udah lama liputan di desk kota, jadi paham masalah politik dan pemerintahan Kalbar. Jadi kau saja ya," kata "oknum" berkumis tebal melintang di kantorku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan singkat itu aku balas dengan apa adanya: "Baik pak nan, besok aku informasikan kembali. Tks." Dia pun menjawab: "Baik. Saya tunggu. Terima kasih." Dan aku pun melanjutkan rutinitasku di meja komputer, menuntaskan berbagai tugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam benakku, doktor dari Hong Kong ini pastilah seorang pria yang sudah cukup berumur. Barangkali, kesan itu terpancar dari namanya. Sewaktu kuliah di Yogyakarta, aku pernah bertetanggaan dengan seorang doktor sastra dari Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Dr Itoh Koji, seorang pria berumuran sekitar 50-an tahun, berpostur kurus. Entah mengapa, personifikasi Dr Itoh Koji itu lantas terhubungkan dengan doktor dari Hong Kong itu. Aku lalu membayangkan, Dr Nan adalah seorang pria yang sudah cukup berumur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya, usai melakukan sebagian pekerjaan rutinku, aku kirim pesan singkat. Waktu menjelang pukul 12.00, aku kira sebaiknya rehat sambil berdiskusi dengan beliau. "Mat siang pak, saya punya waktu sekitar pukul 12.00. Di mana saya bisa menjumpai bapak? Tks."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata, disepakati bertemu di sebuah cofee shop di hotel tempat dia menginap. Seorang rekan, Andrew Yuen, yang juga pengurus sebuah organisasi sayap partai besar, rupa-rupanya menjadi penghubung Dr Nan dengan para nara sumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memacu sepeda motor bututku, tibalah di cofee shop itu. Kulihat, Yuen sedang duduk bersama seorang wanita. Di mana kah Dr Nang, bathinku. Aku pun menghampiri keduanya, dan menyalami mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya Nan, terima kasih sudah datang," ujar wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah? Jadi Dr Nan ini seorang wanita? Wajahku memerah, dan segera aku minta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, dalam pesan singkat, saya selalu menyebut Pak," ujarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, tidak apa. Memang sering orang kira saya laki-laki, mungkin nama saya agak aneh di sini," ujar Nan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha mengalihkan rasa malu itu, dengan berbagai basa basi. Cerita ke sana kemari, sekadar mengakrabkan. Sampai akhirnya masuk pada semacam interview. Kulihat, Dr Nan menyalakan alat perekam. Sesekali, ia membuka catatan dalam buku agendanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi itu seputar kesan masyarakat terhadap elit Kalbar seperti pejabat pemerintah, politisi, tokoh masyarakat. Entahlah, apakah informasi dariku cukup membantu Dr Nan. Pertanyaan yang ditujukan padaku, kadang justru didominasi Yuen untuk menanggapinya. Mungkin hampir dua jam, diskusi berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Nan seorang yang menarik. Dalam usianya yang 37 tahun, ia belum tampil layaknya seorang "ibu-ibu". Busananya masih berjiwa muda, mengenakan celana panjang jeans, dan sandal ikat. Seluruh jari kakinya dipolesi dengan kutek warna merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya pernah di Jogja, pada 1997-2002," tutur Nan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun yang sama, aku juga berada di sana untuk kuliah di Atma Jaya Yogyakarta. Nan kuliah S-2 antropologi di UGM. Sedangkan doktornya diperoleh dari Australia jurusan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tergelitik untuk bertanya soal tenaga kerja wanita (TKW) di Hong Kong. Nan mengatakan, saat ini sekitar 300 ribu TKW bekerja di Hong Kong. Angka ini melampaui jumlah TKW asal Philipina, yang sebelumnya mendominasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang, dominasi TKW Philipina telah tergeser oleh TKW Indonesia. TKW Philipina disukai karena pemahaman bahasa mereka lebih baik. Tapi ternyata baru-baru ini, TKW Indonesia dilatih selama 6 bulan untuk bahasa Kantonis (bahasa pergaulan di Hong Kong). Jadi kemampuan mereka sudah lebih bagus," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, TKW dari Indonesia yang rata-rata berusia 20-25 tahun, menurut Nan, lebih mudah dikontrol, patuh, dan tidak neko-neko. Mereka juga bisa dibayar agak lebih murah ketimbang TKW dari Philipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu bulan gaji TKW Indonesia sekitar 3.600 Dollar Hong Kong, setara sekitar Rp 4 juta rupiah. Sebenarnya agak di bawah ketentuan, tapi ya begitulah," ujarnya sembari tersenyum kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sendiri tidak menggunakan jasa TKW Indonesia. Untuk mengasuh anaknya, ia memakai jasa TKW Philipina, dengan alasan suaminya yang warga negara asing kesulitan dalam hal bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominan TKW di Hong Kong bekerja untuk sektor domestik. Seperti menjadi baby sister, berbelanja, mengantar anak sekolah, serta bersih-bersih rumah. Karena itu, jarang sekali ada tenaga kerja laki-laki dari Indonesia di sana. Hampir semuanya perempuan atau TKW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi keluarga yang menggunakan jasa TKW hanya bagi yang sangat sibuk. Suami-istri bekerja, sehingga sering terjadi, TKW semacam ibu pertama, dan ibu asli justru seperti ibu kedua," lagi kata Nan sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sangat berkesan, Nan mengatakan, mereka tak pernah menyebut TKW itu sebagai pembantu. Katanya, mereka menyebut mereka sebagai "domestic helper". (*)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-4804446691854712810?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/4804446691854712810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/10/nang-dari-hong-kong.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/4804446691854712810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/4804446691854712810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/10/nang-dari-hong-kong.html' title='Nan dari Hong Kong'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sts4A9hIp7I/AAAAAAAAAQ4/N2aAGLcvOrc/s72-c/dr+nang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-6943528388426757768</id><published>2009-10-16T22:04:00.010+07:00</published><updated>2011-05-18T21:26:08.322+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opinion'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media criticism'/><title type='text'>Cari Jeneng, Bukan Jenang</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StiR9VsLpyI/AAAAAAAAAQI/_TBhYLfeIJo/s1600-h/KUSNO+S+UTOMO.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393221036756674338" src="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StiR9VsLpyI/AAAAAAAAAQI/_TBhYLfeIJo/s320/KUSNO+S+UTOMO.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 255px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;* Dua Jam Berbicang dengan Kusno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin puting beliung, hujan deras, dan petir yang sambar menyambar di Kota Pontianak, Selasa (13/10) lalu memberi kesan tak terlupakan bagi Kusno Setyo Utomo (32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dan seluruh penumpang pesawat dari Yogyakarta ke Pontianak sempat sport jantung, saat "montor mabur" itu kembali naik ke udara, beberapa saat sebelum menyentuh landasan di Bandara Supadio. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah Jl P Natakusuma, angin puting beliung yang mulai menggila sekitar pukul 13.27 WIB itu merusakkan sejumlah rumah. Pemberitaan koran esok harinya berisikan sejumlah foto dan kesedihan warga yang menjadi korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Kusno, panggilan saya untuk Kusno Setyo Utomo, adalah warga Yogyakarta, seorang wartawan Radar Jogja, dari Jawa Pos Group. Selasa sore itu merupakan kali pertama ia menginjakkan kaki ke Kota Khatulistiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusno ikut karena menjadi bagian suatu lembaga di Kota Gudeng, yang tengah menyusun kerja sama dengan Pemkot Pontianak. Sedianya, rombongan berangkat dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta sekitar pukul 09.00 dengan Sriwijaya Air. Otoritas bandara mengumunkan delay, hingga pukul 13.00. Berangkatlah mereka menuju Kota Pontianak, namun penerbangan tidak mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semula kami hendak didaratkan sementara di Pangkal Pinang, tapi tak jadi. Akhirnya mendarat sementara di Pelambang, dan sempat menunggu di sana," tutur Kusno, saat saya jumpai di tempatnya menginap, Hotel Mercure, Rabu malam sekitar pukul 21.40.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 15.00, pesawat diterbangkan dari Palembang menuju Pontianak, di tengah hujan deras. Kusno mengisahkan perjalanan itu terasa menegangkan. Seorang anak kecil yang duduk di belakangnya menangis tiada henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suara tangisan itu membuat suasana terasa mencekam. Saat hendak mendarat di Pontianak, pesawat sudah hampir menyentuh landasan. Eh ndilalah tiba-tiba gerakannya menaik lagi ke udara dengan guncangan-guncangan lumayan kuat. Semua penumpang, saya lihat, pucat wajahnya," tutur Kusno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, perjalanan pertama ke kota ini memberikan kesan tak terlupakan bagi pria bekacamata ini. Omong-omong, siapa Kusno ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kakak kelas saya, saat sama-sama kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Kami kuliah di Program Studi Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik. Saya angkatan 1997, dan Kusno duluan setahun. Tapi untuk beberapa matakuliah, kami kerap satu kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, lima tahun kita nggak ketemu, sejak wisuda bareng April 2004 lalu," kenang Kusno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang berubah dari sosok Kusno. Juga kegemarannya menggunakan busana serba hitam. Kami bercerita, tentu saja sambil mengenang saat-saat kuliah di Yogya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurno sudah menjadi wartawan Radar Jogja sejak berusia 23 tahun, dan saat masih menjalankan kuliah. Di kampus, saya semula curiga, dengan penampilan Kusno yang beda dengan mahasiswa lain. Dia selalu rapi, tak tak pernah kelihatan "cangkruk" di kantin atau selasar kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tebak, Mas Kusno pasti udah kerja," ujar saya, dalam sebuah perkuliahan yang kami ikuti bersama. Kusno hanya mengangguk dan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, di penerbitan," ujarnya, tanpa langsung menyebutkan langsung profesi wartawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang saya ingat, Kusno pandai sekali meniru tulisan tangan Bung Karno dan Pak Harto. Saat mengikuti perkuliahan yang membosankan, ia kadang menggoreskan pena cairnya ke secarik kertas, lalu menunjukkannya kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya perhatikan, persis. Mirip sekali dengan tulisan tangan Bung Karno dalam beberapa dokumen sejarah. Juga mirip tulisan Pak Harto yang bisa kita temukan dalam sejumlah sambutan penerbitan buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat bergurau, bahwa ada "hubungan" antara Mas Kusno dengan Bung Karno. Menurut sebuah buku, sebelum bernama Soekarno, Putra Sang Fadjar itu terlebih dahulu diberi nama oleh keluarganya dengan "Koesno". Mas Kusno hanya nyengir mendengar gurauan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana pekerjaannya, Mas," tanya saya dalam perbincangan di Hotel Mercurie itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini saya rasa penting, barangkali bisa mendapatkan pencerahan. Maklum, Kusno kini menapaki tahun kesembilan kiprahnya di jurnalistik. Saya kira, banyak sekali ilmu dan pengalaman yang bisa saya dengar dan pelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih seperti dulu, saya liputan tiap hari. Masih di lapangan. Sempat ditawarkan jadi redaktur, tapi masih saya tolak dulu. Saya enjoy dengan pekerjaan ini," kata Kusno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kagum dengan semangat itu. Padahal, ia sempat hampir celaka gara-gara pekerjaannya. Januari 2004, di suatu malam Jumat, Kusno dipukul oleh dua orang tak dikenal saat hendak pulang dari kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri baru tahu kejadian ini, saat ada seminar di kampus, kalau tidak salah mengenai kekerasan terhadap wartawan. Mas Kusno menjadi satu dari beberapa pembicara, menuturkan peristiwa yang dialaminya. Diduga kuat, pemukulan itu merupakan imbas dari berita yang ditulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu ia merupakan wartawan untuk desk kota, sehingga liputannya berkisar Pemkot dan DPRD Yogya. Tapi, ia tidak kapok. Kepada saya, dia mengatakan, jika mencintai suatu pekerjaan, apapun resikonya harus dihadapi dengan berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, entah tahun berapa persisnya, Kusno pernah datang ke kos saya saat masih di Yogyakarta. Memang kadang kami bertemu untuk sekadar diskusi kecil terkait tugas-tugas kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ndi, kowe nduwe montor ora?" tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menanyakan, apakah saya punya sepeda motor. Sepanjang masa perkuliahan, saya tak memiliki kendaraan pribadi. Saya hanya bisa naik bus kota atau angkot untuk berangkat kuliah atau sekadar jalan-jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waduh, ra nduwe mas. Ketoke ono gawean yo," aku menebak, dia menawarkan suatu pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iyo, Ndi. Meteor nggolek wartawan anyar," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meteor, koran kriminal milik Radar Jogja, mencari wartawan baru. Ia menawarkan peluang itu padaku, dan sayang sekali aku tak bisa mengambil kesempatan ini. Memiliki sepeda motor pribadi mutlak dimiliki wartawan. Lah iyalah, mosok nyari berita, kriminal lagi, cuman mengandalkan angkot?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku kisahkan kembali cerita itu, Kusno masih mengingatnya. Memang saat kuliah, aku sempat beberapa kali menulis di harian lokal maupun nasional. Tapi hanya berupa artikel ringan, seperti kolom mahasiswa dan resensi buku. Ada sekadar honor untuk membeli rokok kretek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perbincangan malam itu, aku menumpahkan sebagian keluh-kesahku. Tentang tantangan pekerjaan sehari-hari, suasana yang kadang tak menyenangkan, sampai pada rasa bosan yang belakangan ini sepertinya mencapai kulminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusno memang seorang Jawa yang baik. Ia mendengarkan dengan cermat, dan tidak memvonis. Usai mendengarkan keluh-kesahku, ia pun menyitir beberapa falsafah Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tidak hebat. Kebetulan saja saya lebih dulu jadi wartawan. Kamu menurut saya hebat. Meski di Pontianak ini baru setahun lebih jadi wartawan, tapi kamu sudah pernah bertugas sampai ke Kaltim," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, setelah tamat dari Universitas Atma Jaya 2004 lalu, saya berkesempatan bekerja di sebuah majalah di Kutai Barat, Kaltim selama dua tahun. Setahun sebelumnya, di tengah masa pengerjaan skripsi, saya juga berkesempatan bekerja di sebuah tabloid di Balikpapan meski hanya beberapa bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Soal kebosanan, tantangan, dan sebagainya, itu wajar lah. Namanya juga nggolek urip, Ndi. Dan kita manusia, bukan mesin. Wajar kalau ada dinamika seperti itu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun menyemangati dengan falsafah 'cari jeneng, bukan jenang'. Jeneng artinya nama. Kusno bilang, selagi masih muda, kita harus mencari 'nama'. Membangun image dan citra yang positif, untuk menapak langkah berikutnya. Bukan mencari jenang, yang diasosiasikan dengan materi yang didapat. Jenang sendiri sebenarnya sejenis makanan mirip dodol yang terkenal di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada awalnya, carilah nama. Biarlah suatu saat, orang bisa mengenal kita, sehingga pergaulan sosial menjadi luas. Materi atau penghasilan, nanti dengan sendirinya seiring kesuksesan kita," begitu sarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kepenatan hidup dan kesumpekan pikiran, bisa saja kita justru menilai orang lain lebih enak hidupnya. Tentang hal ini, Kusno pun punya falsafah menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itulah namanya wang sinawang. Artinya, kita bisa menilai hidup orang lain itu lebih enak. Padahal jika kita berada pada posisi orang itu, mungkin kita juga tetap mengeluh," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun berilustrasi Bisa saja seorang gubernur menilai, profesi tukang becak itu enak. Walaupun capek mengayuh becak, tapi uang yang diperoleh cukup untuk beli makan, dan abang becak bisa tidur pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, seorang gubernur tak perlu bersusah payah mengeluarkan tenaga seperti abang becak, dan uangnya banyak. Ia bisa makan apa saja. Tapi bisakah dia tidur nyenyak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai urusan, belum lagi menghadapi masalah politik, membuat tidur pun tak nyaman. Tukang becak bilang, jadi gubernur enak. Sebaliknya bisa saja gubernur bilang, jadi tukang becak enak. Tak banyak pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir dua jam, kami berbincang sambil duduk di kursi empuk loby hotel yang baru beberapa bulan diresmikan itu. Di luar, gerimis kembali membasahi bumi, setelah tadi siang dihajar dengan hujan deras, tiupan angin, dan kilatan petir. Saya pamit, dan Mas Kusno mengantar sampai ke pintu hall. Esoknya, sekitar pukul 12.00, ia akan kembali bersama rombongan ke Kota Gudeg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Pontianak,&lt;br /&gt;Jumat, 16/10/09, pk. 22.40 WIB&lt;br /&gt;di sela jadwal piket di kantor &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-6943528388426757768?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/6943528388426757768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/10/cari-jeneng-bukan-jenang.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/6943528388426757768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/6943528388426757768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/10/cari-jeneng-bukan-jenang.html' title='Cari Jeneng, Bukan Jenang'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StiR9VsLpyI/AAAAAAAAAQI/_TBhYLfeIJo/s72-c/KUSNO+S+UTOMO.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-660238911352197844</id><published>2009-10-13T20:31:00.005+07:00</published><updated>2011-05-18T21:12:55.554+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opinion'/><title type='text'>Saya Perlu Pencerahan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Note: Dengan sengaja dan tanpa izin penulisnya, naskah ini dikutip sepenuhnya dari http://www.miank.web.id/2009/09/saya-perlu-pencerahan.html. Segala keberatan atas pengutipan tanpa izin ini, bisa diselesaikan melalui musyawarah secara kekeluargaan. Jika masih juga mentok, disarankan untuk berperkara di Mahkamah Konstitusi.)&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pesan singkat masuk. Pesan itu datang dari seorang teman. “Saya perlu pencerahan karena semangat kerja sudah semakin melorot.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya prihatin. Bagaimana seseorang yang tegar seperti dia harus kehilangan semangat. Padahal setiap ketemu saya lihat dia begitu bersemangat. Apa yang terjadi? Saya menjadi seseorang yang haus dengan keingintahuan yang membuat teman tadi tidak bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Siangnya, teman tadi kembali mengirim pesan singkat. Ia bilang ingin bertemu. Saya langsung iyakan. Kami bertemu di sebuah warung kopi. Saya datang lebih dulu sekitar lima belas menit. Ada beberapa teman satu profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terlihat kalau dia memiliki beban berat. Justru sebaliknya. Si pengirim pesan singkat itu tetap ceria. Kami bicara banyak hal. Mulai dari hal yang tak penting hingga sesuatu yang membangkitkan semangat hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kita rasakan hari ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya harus menjawab pertanyaan ini?” Saya balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, disimpan saja,” sahutnya. “Hah,” kesal sepertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menangkap ada beban yang tersirat dari senyumannya. Saya coba menerka. “Kayaknya kami sedang mengalami masalah besar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, siapa bilang?” Dia mencoba berkelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mencoba menyembunyikan kegalauan hatinya. Padahal sebenarnya ia sedang memanggul salib yang cukup berat. Salib adalah analogi bagi seorang kristiani jika ia memanggul beban berat. Salib merupakan sebuah gambaran penderitaan. Sama halnya ketika Yesus mengalami penderitaan ketika memanggul salib ke Golgota untuk menebut dosa manusia. Tapi salib sekarang ini tidak sebesar salib yang dipikul Yesus. Begitu juga dengan beban yang dipanggul teman saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak berusaha menghiburnya. Saya malah meminta dia melawan penderitaan itu. Mengajak beban itu berkelahi. Tentu saja dengan pikiran-pikiran yang positif. Tapi bukan sebuah motivasi. Justru sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman berkilah. “Saya sudah tidak percaya dengan teori-teori motivasi. Banyak buku motivasi yang isinya tidak sesuai realita. Terkadang isinya berbohong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa jawab saya? “Itu betul. Saya juga tidak percaya dengan buku-buku yang katanya bisa memberi motivasi, memberi inspirasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya bilang sama dia, “Lebih baik kamu baca buku-buku kriminal. Serial-serial pembunuhan. Tentu saja saya tidak ingin kamu berbuat kriminal. Menjadi seorang pembunuh. Tapi sebaliknya. Dari cerita-cerita itu kamu harus membunuh bebanmu. Menangkap para kriminil yang mengganggumu sehingga kamu harus kehilangan semangat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bergeming. Hanya alisnya sedikit naik. Jenggot jarangnya dipilin-pilin. Ia tidak mengangguk-angguk. Saya kira ia bingung. Atau sedang mencari alasan agar bisa meng-kick balik apa yang saya bilang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit saya biarkan. Ia tetap bergeming. Sesekali menggaruk kepalanya. Kegatalan. Kena miang. Atau mungkin ketombean. Kadang ia memegang hidungnya yang memang tak mancung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak orang yang sepertimu. Saya juga pernah merasakan hal yang sama. Tapi saya lawan. Tentu dengan hal-hal yang negatif. Saya bunuh beban-beban itu. Saya tangkap dan penjarakan dia. Dan, itu berhasil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia makin bingung. Kopi pancung yang dipesannya diseruput. Habis. Sigaret yang tersisa sebatang disulutnya. Sekali tarik, asap mengepul. Segumpal asap bebannya turut keluar. Kembali ia tersenyum. Agak getir. Tapi ada ketenangan yang keluar. Walau sedikit. Saya kira dia mulai senang. Masih jauh dari bahagia. Semangatnya belum pulih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga jam kami ngobrol. Kami pun bubar. Sebelum bubar, saya hanya bilang, “Jalani saja apa yang kamu dapati hari ini. Bersyukurlah karena masih ada yang mau menerima tenagamu. Berbahagialah karena kamu yang terpilih. Karena banyak yang terpanggil, tapi sedikit yang terpilih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pesan singkat lain masuk. Saya buka. Isinya, “Saya perlu pencerahan karena semangat kerja sudah semakin melorot.” Sebuah pesan singkat yang sama. Hah! (*)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-660238911352197844?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/660238911352197844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/10/saya-perlu-pencerahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/660238911352197844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/660238911352197844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/10/saya-perlu-pencerahan.html' title='Saya Perlu Pencerahan'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-3347313852915565115</id><published>2009-10-04T23:20:00.004+07:00</published><updated>2011-05-18T21:16:31.469+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ny JC Oevang Oeray'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='santo Dominikus'/><title type='text'>Kedatangan Orang, Berkat bagi Kami</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SsjMUS_fRLI/AAAAAAAAAPo/ssjnDeCGTrw/s1600-h/severianus+endi_PERESMIAN+RUMAH+SANTO+DOMINIKUS.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388781603216377010" src="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SsjMUS_fRLI/AAAAAAAAAPo/ssjnDeCGTrw/s320/severianus+endi_PERESMIAN+RUMAH+SANTO+DOMINIKUS.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;* Pemberkatan Rumah Santo Dominikus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana meriah namun khidmat sangat terasa di halaman rumah di Jl Palapa 3C, Pontianak, Selasa (29/9) malam sekitar pukul 18.30 WIB. Seorang pria membuka acara dengan bacaan doa dalam bahasa Dayak Kanayatn, sambil menebarkan beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keterangan foto: &lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ny Berdanetha JC Oevaang Oeray (dua dari kiri), berdampingan dengan Pastor Edmund C Nantes OP dalam pemberkatan Rumah Santo Dominikus, Selasa (29/9) malam. Foto by SEVERIANUS ENDI &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Pria itu, Pastor Benedictus Pr, didaulat untuk membawakan ritual budaya dalam pemberkatan rumah milik para pastor dari Ordo Dominikan itu. Sebagai simbol peresmian, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak, Pastor Willian Chang OFM Cap, menetas bambu yang dilintangkan di pagar halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, ratusan umat serta undangan, para suster, dan pastor berhimpun dalam doa. Secara bergantian, sejumlah pastor memerciki bagian ruangan dan kapel dengan air kudus, diiringi lagu dan alunan musik gerejawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah rumah milik para pastor dari Ordo Dominikan. Ordo para pastor dari Philipina ini baru membuka pelayanan satu-satunya di Indonesia, yakni di Kota Khatulistiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istimewanya, rumah tersebut mewarisi sisi sejarah tersendiri. Di situ pernah berdiam Ny Berdanetha JC Oevaang Oeray, istri Almarhum JC Oevaang Oeray, gubernur pertama Kalbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya pernah tinggal di sini, setelah bapak (JC Oevaang Oeray-red) meninggal. Setelah itu saya pindah. Lalu beberapa waktu lalu para pastor membeli rumah ini," tutur Ny Berdanetha kepada Tribun dengan suara pelan dan agak bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita yang telah berusia lebih dari 80 tahun ini mengaku tak ingat tahun berapa persisnya dirinya tinggal di rumah itu. Ia yang mengenakan busana warna ungu muda saat itu, mengaku sedang kurang sehat karena mengalami sakit di kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Superior Rumah Santo Dominikus Pontianak, Pastor Edmund C Nantes OP yang juga asal Philipina, mengatakan, sisi historis rumah itu tetap dipertahankan sebagai ciri khas. Mereka memodifikasinya dengan sejumlah motif Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edmund menuturkan, kehadiran Dominikan untuk membangun perdamaian dengan semua orang. Terutama membuka dialog dengan saudara kita seperti umat Muslim, untuk menjalin persaudaraan yang erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita juga sangat menghormati sisi sejarah rumah ini, karena pernah didiami istri Gubernur Kalbar yang pertama," tutur Edmund kepada Tribun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengungkapkan kebahagiaannya melihat ramainya tamu dan undangan yang hadir. Suasana halaman rumah itu meriah, mirip pesta taman penuh keakraban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kedatangan para undangan merupakan berkat bagi kami. Dengan berkat Tuhan pula, kami berharap, karya kami membangun perdamaian dan dialog lintas agama dan etnis bisa terwujud," harapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat juga diberikan oleh pimpinan tertinggi Dominikan di Philipina atau disebut Provincial, Pastor Quirico Pedregosa Jr OP. Selain itu, Asisten Misi Justice and Peace Dominikan, Pastor Bien Trisillia Jr OP, Bendahara Dominikan Pastor Auches OP, serta Pastor Enrico Gonzales OP yang juga dosen filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian seorang pastor Dominikan kelahiran Pontianak, J Robini Marianto OP. Serta dua Dominikan lainnya, Pastor Andrian OP dan Pastor Andreas Kurniawan OP. (severianus endi)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-3347313852915565115?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/3347313852915565115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/10/kedatangan-orang-berkat-bagi-kami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3347313852915565115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3347313852915565115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/10/kedatangan-orang-berkat-bagi-kami.html' title='Kedatangan Orang, Berkat bagi Kami'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SsjMUS_fRLI/AAAAAAAAAPo/ssjnDeCGTrw/s72-c/severianus+endi_PERESMIAN+RUMAH+SANTO+DOMINIKUS.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-6774928198439479807</id><published>2009-10-04T23:08:00.004+07:00</published><updated>2011-05-18T21:17:58.711+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Malaysia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='James Ritchie'/><title type='text'>Sempit dan Rusak, Tapi Aman</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SsjJ7LbnOZI/AAAAAAAAAPg/lTh0bca1l8g/s1600-h/severianus+endi+and+james+richie.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388778972666870162" src="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SsjJ7LbnOZI/AAAAAAAAAPg/lTh0bca1l8g/s320/severianus+endi+and+james+richie.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;* Kesan Warga Malaysia Susuri Jalan Kalbar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruas jalan yang sempit dan kondisinya rusak, ternyata tak selamanya memunculkan kekesalan. Pujian bisa saja muncul dibalik carut-marut infrastruktur tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Joing Midel, satu dari 46 warga Malaysia yang berkunjung ke Kota Pontianak dalam rangkaian Borneo Dayak Cultural Heritage Safari, 18-22 September lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-weight: bold;"&gt;Keterangan foto: Saya bersama James Richie (kanan), wartawan Eastern Times, berfoto saat malam gembira di Rumah Betang Kota Pontianak, 21 September. Foto by Severianus Endi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Rombongan tersebut berangkat dari Kuching menuju Kota Pontianak, sempat menginap di Sanggau dan Singkawang. Kemudian tiba di Kota Pontianak, 21 September sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menempuh perjalanan darat 751 kilometer antara Kuching-Pontianak, menggunakan sejumlah mobil jenis sport. Joing menuturkan, ketika perjalanan bermula dari Kuching, suasana terasa nyaman dengan jalan yang lebar dan mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mulai terasa beda setelah melewati perbatasan di Entikong. Jalanan lebih sempit dan rusak, tapi hebatnya, sepanjang perjalanan itu tak terjadi satu pun accident," tutur Joing kepada Tribun, beberapa saat setelah tiba di Kota Pontianak dan melakukan check in di sebuah hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menilai, orang Kalbar sangat memahami bagaimana berkendara dalam kondisi jalan sempit dan rusak. Itupula sebabnya, ia yang baru pertama kali berkunjung ke Kalbar merasa tenang sepanjang perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya juga surprise, di sini banyak amat motocycle dan kerete. Tapi ya itu tadi, tak ada accident meskipun jalan trouble sangat," pujinya.&lt;br /&gt;Pensiunan Petronas ini menggambarkan, kondisi sebaliknya terjadi di tempat asalnya. Sedikit sekali sepeda motor dan mobil di jalanan, karena banyak orang memilih jalan kaki atau naik bis kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kerana jalanan luas dan bagus, mungkin orang-orang suka laju berkendara. Maka seringlah ada accident," katanya.&lt;br /&gt;Seorang peserta lainnya, James Richie, juga mengungkapkan perasaan senang karena rasa rindunya kepada Kalbar bisa terpuaskan. Pasalnya, ia pernah melakukan perjalanan darat amat sulit sekitar 20 tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waktu itu, kami menggunakan sepeda motor menyusuri jalan kecil. Waduh berkesan sekali. Kami banyak membuat foto hutan yang masih bagus," kenang wartawan Eastern Times ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saat kembali berkunjung ke Kalbar kali ini, pria berdarah campuran Skotlandia ini menemukan kenyataan yang lebih maju. Jalanan sudah terbuka, kendaraan banyak, meskipun hutan-hutan alami yang dulu dijumpainya sudah banyak berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Datang ke Kalbar, bisa mengobati kerinduan saya. Kita kan negara seumpun, bersaudara, bersahabat. Kalau ada waktu, saya tetap ingin berkunjung lagi ke sini," ujar Richie, yang sudah 36 tahun berprofesi sebagai wartawan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan ini mencatat aneka pengalaman berkesan sepanjang perjalanan. Di Landak,  misalnya, mereka disambut dengan tari-tarian tradisional setempat. Richie pun menunjukkan foto-foto digital dari kameranya, saat acara meriah itu berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Usia saya sudah 60 tahun lebih, tapi semangat saya untuk berkunjung tak pernah surut. Kalbar menjadi tujuan favorit saya, jika nanti ada kesempatan lagi," kata Richie sambil tersenyum. (severianus endi)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-6774928198439479807?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/6774928198439479807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/10/sempit-dan-rusak-tapi-aman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/6774928198439479807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/6774928198439479807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/10/sempit-dan-rusak-tapi-aman.html' title='Sempit dan Rusak, Tapi Aman'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SsjJ7LbnOZI/AAAAAAAAAPg/lTh0bca1l8g/s72-c/severianus+endi+and+james+richie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-6440496589525558011</id><published>2009-10-04T22:50:00.005+07:00</published><updated>2011-05-18T21:27:50.936+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><title type='text'>Cetak Biru Kerjasama SDNU dan MADN</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SsjFjU6D5NI/AAAAAAAAAPY/B1WqRiLA1Og/s1600-h/severianus+endi_KUNJUNGAN+DAYAK+SERAWAK+KE+KALBAR.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388774164847125714" src="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SsjFjU6D5NI/AAAAAAAAAPY/B1WqRiLA1Og/s320/severianus+endi_KUNJUNGAN+DAYAK+SERAWAK+KE+KALBAR.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;* Tempuh 751 KM Jalan Darat Kuching-Pontianak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cetak biru kerja sama yang dibangun Serawak Dayak National Union (SDNU) bersama Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) memasuki langkah awal yang besar. Sebuah perjalaman bersejarah untuk pertama kalinya digelar, dalam rentang 18-22 September, untuk penyerahan MoU antar negeri serumpun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%; font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Keterangan foto:&lt;br /&gt;Serah-terima cindera mata antara pejabat Kalbar-Sawarak, di malam perpisahan di Hotel Kapuas Pallace Kota Pontianak. Foto by Severianus Endi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%; font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Sebanyak 46 orang, termasuk di dalamnya 3 mantan menteri di Malaysia, menempuh perjalanan darat 751 kilometer antara Kuching-Pontianak. Sempat menginap di Sanggau dan Singkawang, rombongan tiba di Kota Pontianak Senin (21/9) sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini sebuah langkah besar dari cita-cita besar, untuk membina satu identity Dayak di Borneo. Ke depan kita akan membuat badan Dayak Sabah-Kalimantan yang bisa melingkupi semua," ujar Dr John Brian Anthony, kepala rombongan Borneo Dayak Cultural Heritage Safari tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menuturkan, kerja sama akan dibangun di bidang kebudayaan, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Karena itu, jalinan silaturahmi yang erat harus dikembangkan, agar kerja sama ini mudah direalisasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"SDNU dan MADN telah sepakat, agar bangsa serumpun di dua negara ini boleh bekerja sama. Kita akan lihat semua opportunity, baik bidang culture, education, dan juga business," kata John Brian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua MADN Wilayah Kalbar, Atan Palil, mengungkapkan, kunjungan ini sekaligus menjadi napak tilas budaya. Seperti penuturan para leluhur, kedua bangsa di dua negara yang berbeda ini, dulunya berasal dari rumpun yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Budaya menjadi alat pemersatu dan pencipta perdamaian. Kolaborasi ini akan menciptakan hubungan yang harmonis," kata Atan Palil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh pemuda Dayak, yang juga Presiden Front Pembela Dayak, Petrus SA, mengungkapkan, meski berbeda negara, jalinan persaudaraan tak boleh putus. Hanya konsep negaralah yang menjadikan wilayah berbeda, tetapi hubungan persaudaraan menembus batas-batas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kegiatan ini bukan dalam kerangka politik. Kita semakin disadarkan, saudara kita juga ada di Sarawak, begitupun sebaliknya," ujar Petrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu juga, digelar pesta penyambutan di Rumah Betang, Jl Sutoyo. Para peserta larut dalam keakraban, dengan suguhan khas Dayak serta kolaborasi mudik tradisional maupun modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sangat menggembirakan di sini. Sebelumnya dalam perjalanan, kami juga dijamu di Landak dengan tari-tarian," kata Salam, satu di antara pengurus SDNU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Salam, ini bukanlah kali pertama berkunjung ke Kalbar. Ia kerap terlihat hadir dalam beberapa acara budaya yang telah lewat, seperti Pekan Gawai Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramah-tamah dengan Gubernur Kalbar digelar di Pendopo keesokan harinya, Selasa (22/9). Pagi itu pula, Menteri Pembangunan Sosial dan Urbanisasi Negeri Sawarak Malaysia, Yang Berhormat Dato Sri William Mawan Anak Ikom, menyusul dengan pesawat jet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cornelis mengatakan, pulau Kalimantan yang besar dan dibagi menjadi tiga negara, membutuhkan hubungan saling pengertian. Apalagi sejarah mencatat, suku-suku di ketiga negara sesungguhnya berasal dari rumpun yang sama dan bersaudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Negara ini tak cukup hanya dibangun dari sisi ekonomi. Tapi juga dengan kebudayaan yang punya nilai positif yang bisa mempererat hubungan antar negera ini," kata Cornelis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pemungkas berupa serah-terima naskah MoU antara SDNU dan MADN dilakukan malam harinya, di Hotel Kapuas Pallace. Pada kesempatan itu, YB Dato Sri William Mawan Anak Ikom mengatakan, aspek sosial budaya haruslah diperjuangkan untuk meningkatkan kesejahteraan  masyarakat kedua negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kegiatan seperti ini dapat terus dikekalkan di masa-masa yang akan datang. Kita hanya dipisahkan secara geografis, tapi hubungan persaudaraan ini sudah ada sejak lama," kata Dato Sri. (severianus endi)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-6440496589525558011?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/6440496589525558011/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/10/cetak-biru-kerjasama-sdnu-dan-madn.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/6440496589525558011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/6440496589525558011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/10/cetak-biru-kerjasama-sdnu-dan-madn.html' title='Cetak Biru Kerjasama SDNU dan MADN'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SsjFjU6D5NI/AAAAAAAAAPY/B1WqRiLA1Og/s72-c/severianus+endi_KUNJUNGAN+DAYAK+SERAWAK+KE+KALBAR.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-4302068621269962266</id><published>2009-09-18T18:55:00.003+07:00</published><updated>2011-05-18T21:35:03.083+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><title type='text'>Lagu-lagu yang Membuat Bangsa Indonesia Tidak Maju</title><content type='html'>* dikutip sepenuhnya dari sebuah forum, pertamax gan!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena rakyat Indonesia sejak dini sudah didoktrin dengan lagu2 yang tidak bermutu &amp;amp; mengandung banyak kesalahan, mengajarkan kerancuan, dan menurunkan motivasi. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Mari kita buktikan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Aku seorang kapiten... mempunyai pedang panjang...kalo berjalan prok..prok.. prok... aku seorang kapiten!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsistensi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi : "mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang).. kalo berjalan prok..prok.. prok.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah, itu baru klop! jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi : "mempunyai pedang panjang... kalo berjalan ndul..gondal. ..gandul.. atau srek.. srek.. srek.." itu baru sesuai dengan kondisi pedang panjangnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Balonku ada 5... rupa-rupa warnanya... merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru... meletus balon hijau, dorrrr!!!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan warna-warna kelima balon tersebut, kenapa tiba-tiba muncul warna hijau? Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5 ! -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku.."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur. Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali..kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara.. 2X"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yang tajam mendaki lalu jadi bingung dan gak tau mau berbuat apa, bisanya cuma noleh ke kiri ke kanan aja, gak maju-maju!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Naik kereta api tut..tut..tut. . siapa hendak turut ke Bandung .. Surabaya..bolehlah naik dengan naik percuma..ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang begini ini yang parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah dewasa maunya gratis melulu. Pantesan PJKA rugi terus! terutama jalur Jakarta-Malang danJakarta-Surabaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu..mengangguk-ngangguk sambil bernyanyi tri li li..li..li..li..li.."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan kepada anak-anak akan realita yang sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit.. cuit ! kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang (catatan: acara lagu anak-anak dengan presenter agnes monica waktu dia masih kecil adalah Tra la la trili li!), bukan burung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Pok ame ame.. belalang kupu-kupu.. siang makan nasi, kalo malam minum susu.."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini jelas lagu dewasa dan tidak konsumsi anak-anak! karena yang disebutkan di atas itu adalah kegiatan orang dewasa, bukan anak kecil. Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem ya minum susu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Nina bobo nina bobo oh nina bobo... kalau tidak bobo digigit nyamuk"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menurut psikolog: jadi sekian tahun anak-anak indonesia diajak tidur dengan lagu yang penuh nada mengancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Bintang kecil dilangit yg biru..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bintang kan adanya malem, lah kalo malem mang warna langitnya biru?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Ibu kita Kartini...harum namanya"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Namanya Kartini atau Harum?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Pada hari minggu..naik delman istimewa kududuk di muka"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Nah, gak sopan khan..masa duduk di muka??)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun kita..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(kalo mau nanam jagung, ngapain dalam-dalam emang mo bikin sumur? &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-4302068621269962266?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/4302068621269962266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/09/lagu-lagu-yang-membuat-bangsa-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/4302068621269962266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/4302068621269962266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/09/lagu-lagu-yang-membuat-bangsa-indonesia.html' title='Lagu-lagu yang Membuat Bangsa Indonesia Tidak Maju'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-1792877428446227027</id><published>2009-09-15T16:21:00.003+07:00</published><updated>2011-05-18T21:36:19.462+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='santo Dominikus'/><title type='text'>Pasar Murah untuk Jalin Persaudaraan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sq9f52jn4WI/AAAAAAAAAPQ/guJbeToOlc0/s1600-h/severianus+endi_PASAR+MURAH+ORDO+DOMINIKAN.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381625527233143138" src="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sq9f52jn4WI/AAAAAAAAAPQ/guJbeToOlc0/s320/severianus+endi_PASAR+MURAH+ORDO+DOMINIKAN.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;* Ordo Dominikan Berbagi dengan Tetangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pastor dari Ordo Dominikan Pontianak, berusaha membangun "dialog" dan kebersamaan dengan sejumlah warga tak mampu, dengan menggelar pasar murah, Senin (14/9). Untuk tahap awal, mereka menyediakan 250 paket berisi 2 kilogram beras dan 1 kilogram gula seharga Rp 10 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Jika dihitung dengan harga pasar, paket itu seharga Rp 25 ribu. Namun untuk meringankan warga di sekitar tempat itu, yakni kompleks Waduk Permai dan Tanjung Harapan, harga dipangkas hingga tinggal Rp 10 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apakah yang dimaksud Ordo Dominikan itu? Belum semua orang tahu keberadaannya, bahkan sejumlah ibu-ibu yang berbelanja di pasar murah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ordo Dominikan merupakan kongregrasi pastor atau imam yang berasal dari Philipina. Untuk Indonesia, baru di Kota Pontianak satu-satunya rumah yang dibangun, diberi nama Rumah Santo Dominikus terletak di Jl Palapa 3C, Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ordo kami hadir di sini memenuhi undangan para uskup Kalimantan, untuk pendidikan calon imam dan membangun perdamaian," jelas Superior Rumah Santo Dominikus Pontianak, Father Edmund C Nantes OP yang juga asal Philipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena rumah tersebut masih baru, dan mereka ingin bergaul dengan para tetangga terutama dari kalangan tidak mampu, tergerak hati mereka untuk membantu. Maka digelarlah pasar murah tersebut, dengan terlebih dahulu menyebarkan kupon-kupon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para frater (calon imam) disebar untuk berkunjung ke para tetangga, membagikan kupon. Ya, sebagai langkah awal membangun jalinan persaudaraan," ujar Father Edmund didampingi Pastor J Robini Marianto OP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, paket sembako tersebut ingin dilengkapi dengan satu jenis bahan pokok lagi, yakni minyak goreng. Tapi, Robini mengakui, pihaknya kelimpungan ketika mencari minyak goreng di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami tak temukan minyak goreng di pasaran. Barangkali memang stoknya sudah habis," ujar Robini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar murah tersebut akan dilanjutkan Selasa (15/9), di Sungai Raya, bertempat di Sekolah Tinggi Teologia Santo Agustinus. Mereka telah mempersiapkan seribu paket sejenis, yang diperuntukkan bagi warga tak mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Father Edmund menegaskan, tekad Ordo Dominikan untuk membangun perdamaian amatlah kuat. Apalagi di tengah masyarakat Kalbar yang pluralistik dengan keragaman kepercayaan dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami ingin menjangkau kalangan grass root, sehingga pesan perdaiaman bisa mengena. Tak lagi sekadar ide atau omong-omong, tapi tindakan nyata," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggelar pasar murah tersebut, setidaknya para tetangga berkunjung ke rumah itu. Meski hanya sebentar untuk menukarkan kupon, tapi mereka menilainya sebagai berkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal menarik, Rumah Santo Dominikus Pontianak itu ternyata punya sisi historis yang amat berharga. Gubernur Kalbar Pertama, Oevang Oeray pernah berdiam di situ!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami pertahankan konsep awal bangunan ini, dengan ciri khas Dayak-nya. Hanya perlu sejumlah sentuhan baru," ucap Father Edmund sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, rumah tersebut akan diberkati dan diresmikan oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr Hieronymus Bumbun OFM Cap pada 29 September mendatang. (severianus endi)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-1792877428446227027?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/1792877428446227027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/09/pasar-murah-untuk-jalin-persaudaraan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1792877428446227027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1792877428446227027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/09/pasar-murah-untuk-jalin-persaudaraan.html' title='Pasar Murah untuk Jalin Persaudaraan'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sq9f52jn4WI/AAAAAAAAAPQ/guJbeToOlc0/s72-c/severianus+endi_PASAR+MURAH+ORDO+DOMINIKAN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-8490521709568875560</id><published>2009-07-03T22:44:00.004+07:00</published><updated>2011-05-18T21:37:47.483+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='blogger'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nukman Luthfie'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media criticism'/><title type='text'>Tulis yang Ringan Saja</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sk4oN27WOQI/AAAAAAAAAPI/3vKsXhFWek8/s1600-h/severianus+endi_gawai+blogger+borneo+%2829%29.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354261225537943810" src="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sk4oN27WOQI/AAAAAAAAAPI/3vKsXhFWek8/s320/severianus+endi_gawai+blogger+borneo+%2829%29.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 197px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;* Catatan dari Gawai Blogger Borneo&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;BERI MOTIVASI - Pendiri portal berita ternama detik.com, Nukman Luthfie (kiri) bersama pengusaha online pertama di Kota Pontianak, Louise Wulandari, memberi motivasi pada para blogger Kalbar. TRIBUN/SEVERIANUS ENDI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Materi informasi yang ditampilkan di blog tak harus yang berat dan terlalu serius. Cukup yang ringan-ringan saja namun mampu merangsang berkembangnya komunikasi ke arah yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi seperti ini di antaranya yang disampaikan founder detik.com, Nukman Luthfie, dalam Gawai Blogger Borneo di Auditorium Universitas Tanjungpura, Senin (22/6).  Nukman bersama Louise Wulandari, pengusaha online pertama di Kota Pontianak, memberi motivasi kepada ratusan blogger yang hadir di acara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngisi blog kan tak harus yang berat-berat. Ringan-ringan saja, dan orang suka membacanya. Untuk yang berat dan sok analitis kan sudah ada media konvensional," ucap Nukman sambil berkelakar. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Membuat blog amatlah mudah dan tanpa dipungut biaya, alias gratis. Tapi sayangnya, tak sedikit warga membiarkan blognya tak terurus dan jarang diakses lagi sehingga informasi yang ada di dalamnya sangat minim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, perlu usaha untuk menghidupkan kembali geliat para blogger supaya kembali aktif dan produktif. Manfaat bagi daerah sangat besar, karena setiap orang dari luar sana bisa mengakses berbagai informasi yang kita tampilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lewat blog, orang jadi tahu seberapa pintarnya kita. Kalau tidak, bagaimana orang lain tahu kelebihan kita? Ini juga cara yang baik untuk mempromosikan diri," tandas Nukman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga menyatakan kekagumannya pada sosok Louise yang berhasil membesarkan bisnisnya lewat blog. Bahkan menurutnya, Louise termasuk 10 orang di Indonesia yang sukses mengembangkan bisnis lewat promosi di blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mencoba memasarkan produk-produk saya melalui blog. Dan hingga saat ini, banyak pembeli justru dari luar Kota Pontianak," ungkap Louise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Eksekutif Tribune Institute, Alexander Mering, mengatakan, Gawai Blogger Borneo digelar oleh lembaga yang dipimpinnya dengan Borneo Blogger Community (BBC). Kali ini, tema yang diusung menyangkut kelestarian alam dan merangsang rasa cinta pada bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita mendorong pada blogger untuk mengkampanyekan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Melalui para blogger, program penyelamatan bumi bisa terus diperjuangkan," ungkap Mering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak BBC didirikan 28 Juli 2007 silam, jumlah blogger berkembang sangat tajam. Dari semula hanya 12 blogger yang terpantau pada 2009, jumlah ini kini berlipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Per April 2009, sudah terpindai 10 ribu blogger yang menggunakan blogspot. Belum ditambah yang menggunakan wordpress dan lainnya," ujar Mering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi tersebut dinilai sangat cukup, jika diarahkan pada perjuangan penyelamatan lingkungan. Isu-isu terkait pelestarian alam bisa diangkat untuk mendorong kesadaran masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang dari WWF, mengatakan, hal yang harus diingat adalah daya dukung lingkungan di Kalbar yang kian memprihatinkan. Masalah riil yang dihadapi berupa rusaknya lingkungan, seperti penebangan liar, tercemar dan menurunnya kualitas air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog juga dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalbar, Kamaruzzaman dan Wakil Wali Kota Pontianak, Paryadi. Kamaruzzaman mengakui "dahsyatnya" media internet untuk mempromosikan potensi wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Melalui blog, saya harap adik-adik berperan menyebarkan berbagai informasi untuk 'menjual' Kalbar. Sekali di-upload di internet, seluruh dunia akan bisa mengaksesnya," ujar Kamaruzzaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Paryadi, mengaku sangat mengandrungi blog, meski tak bisa terlalu maksimal. Kesibukannya sebagai pejabat negara membuat ruang geraknya sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya punya blog dan masih eksis hingga kini. Hanya saja jarang di-update karena berbagai kesibukan," aku pria muda yang dikenal dekat dengan kalangan blogger Kalbar ini. (severianus endi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Tribun Pontianak, 24 Juni 2008&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-8490521709568875560?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/8490521709568875560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/07/tulis-yang-ringan-saja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8490521709568875560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8490521709568875560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/07/tulis-yang-ringan-saja.html' title='Tulis yang Ringan Saja'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sk4oN27WOQI/AAAAAAAAAPI/3vKsXhFWek8/s72-c/severianus+endi_gawai+blogger+borneo+%2829%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-6669247419180963296</id><published>2009-07-03T22:26:00.004+07:00</published><updated>2011-05-18T21:40:00.913+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='blogger'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nukman Luthfie'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media criticism'/><title type='text'>Gugah Blogger Pontianak</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sk4mbJ7mFvI/AAAAAAAAAPA/IvL_LblDuFk/s1600-h/endi_NUKMAN_LUTHFIE_pendiri+detik+dot+com+%281%29.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354259254954301170" src="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sk4mbJ7mFvI/AAAAAAAAAPA/IvL_LblDuFk/s320/endi_NUKMAN_LUTHFIE_pendiri+detik+dot+com+%281%29.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 320px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 302px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nukman Luthfie&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendiri Detik(dot)com, CEO Virtual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mudah menemukan informasi tentang Kota Pontianak melalui internet. Keluhan seperti ini diungkapkan founder portal berita ternama, detik.com, Nukman Luthfie, Minggu (21/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menurut saya, Kota Pontianak ini kaya potensi, tapi sayang sekali sangat miskin info," kata Nukman, yang diundang ke Kota Khatulistiwa sebagai pembicara dalam satu seminar mengenai blogger. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ia menilai, para blogger di Kota Pontianak belum peduli  terhadap perlunya menyampaikan informasi tentang kota ini di dunia maya. Akibatnya, orang luar yang hendak berkunjung, kerap tak punya bayangan tentang keunikan, kekhasan, maupun potensi daerah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelum berangkat ke sini, saya search berbagai info di internet. Sayang sekali, tak banyak informasi yang tersedia. Sampai di sini, saya malah bingung mau jalan-jalan ke mana?" ujar konsultan online terkemuka di Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, menurut Nukman, banyak sekali potensi kota yang sangat "seksi" untuk ditampilkan. Tinggal perlu kreativitas dan sedikit waktu luang bagi para blogger, untuk sekadar berbagi informasi yang bisa diakses orang seluruh jagad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyentil, sebagai orang di daerah seharusnya punya kewajiban moral untuk mengangkat nama daerah. Tak perlu pusing-pusing memikirkan caranya, toh dunia maya menawarkan begitu banyak alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah saya melihat sepintas, sesungguhnya banyak hal menarik yang bisa dikomunikasikan. Hal-hal sederhana mungkin  saja justru bisa jadi obyek wisata yang infonya bisa menarik para pelancong di luar sana," kata sarjana teknik nuklir yang justru merasa enjoy sebagai seorang penulis, dan kini pengusaha online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang bukan kali pertama Nukman datang ke Kota Pontianak. Tiga tahun lalu, ia sempat datang untuk memenuhi undangan sebuah seminar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaku banyak kemajuan dicapai Kota Pontianak, terutama terlihat dari jalanan yang sudah ramai oleh kendaraan yang lalu lalang ketimbang tiga tahun sebelumnya. Ini membuktikan, perekonomian masyarakat juga tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagi kalian, mungkin tak terasa ada kemajuan. Tapi bagi saya, yang punya jarak terhadap waktu, kemajuan itu terasa sekali. Hanya saya heran, air di hotel kok warnanya kuning?" celetuknya sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun sempat mengaku blank ketika sepintas menelusuri Kota Pontianak. Karena saking seringnya berkunjung ke berbagai kota, ia sampai lupa di mana dia berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi saya agak rancu, apakah ini Kota Balikpapan atau Kota Pontianak. Habis tak ada ciri khas sih, hahaha," tawanya berderai. (end)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Tribun Pontianak, 22 Juni 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-6669247419180963296?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/6669247419180963296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/07/gugah-blogger-pontianak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/6669247419180963296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/6669247419180963296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/07/gugah-blogger-pontianak.html' title='Gugah Blogger Pontianak'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sk4mbJ7mFvI/AAAAAAAAAPA/IvL_LblDuFk/s72-c/endi_NUKMAN_LUTHFIE_pendiri+detik+dot+com+%281%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-1310509626535155249</id><published>2009-06-19T22:52:00.003+07:00</published><updated>2009-06-19T22:56:32.742+07:00</updated><title type='text'>Eya Sudah Sembuh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sju1ASzna-I/AAAAAAAAAO4/8LH1dd_5UNI/s1600-h/eya.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sju1ASzna-I/AAAAAAAAAO4/8LH1dd_5UNI/s320/eya.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349067999085554658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Puji Tuhan, putri saya Dorothea Pane Melia (9 bulan), panggilannya Eya, sudah sehat, dan Jumat (19/6) sudah diperbolehkan pulang dari RS Santo Antonius, Kota Pontianak. Lebih sepekan, demamnya tak sembuh-sembuh, meski sudah dibawa ke dokter. Akhirnya Selasa lalu, dokter yang berbeda mengatakan, matahari kecilku itu terserang demam berdarah. Test darah menunjukkan trombositnya drop menjadi hanya 89, sehingga harus segera dibawa ke IGD RS Santo Antonius. Hari demi hari dalam perawatan, trombosit meningkat (109, 115, 214), sehingga dokter mengizinkan pulang setelah "piknik" di Ruang Lidwina lantai 2 RS Antonius selama 3 hari 3 malam.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya mengucapkan terima kasih tak terhingga teristimewa seorang 'tangan Tuhan', juga para sanak saudaraku, terutama Sang Kakek yang tergopoh-gopoh dari nun belantara hutan di kampung kita. Terima kasih kepada Pak Putut Prabantoro, Pak Emanuel Dapa Loka, dan Pak Rayendra L Toruan yang lewat milis STOLA-DUCE telah menyampaikan doa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga kepada Pastor Johanes Robini Marianto OP, Mas Christoporus Wahyu Haryo (Wartawan Kompas di Pontianak), Hentakun (Borneo Tribune-Pontianak), seluruh rekan-rekan di Tribun Pontianak (beberapa di antaranya seperti Laz, Hsm, Dian, Oji, Ita, Yun, Art, Desty, Ddx, semua deh pokoknya) atas segala bentuk dukungan hingga putri kecil saya bisa sehat kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang ayah yang baru "belajar", betapa saya kelabakan ketika menemukan putri kecil saya jatuh sakit yang agak mengkhawatirkan, di tengah tugas dan pekerjaan yang tak mengizinkan saya selalu bisa dekat dengannya. Berkat doa teman-teman semua, saya telah dikuatkan. Nak, begitu banyak orang yang menyayangimu...tetap kuat dan sehat serta tumbuhlah menjadi anak yang huebat..../div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-1310509626535155249?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/1310509626535155249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/06/eya-sudah-sembuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1310509626535155249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1310509626535155249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/06/eya-sudah-sembuh.html' title='Eya Sudah Sembuh'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sju1ASzna-I/AAAAAAAAAO4/8LH1dd_5UNI/s72-c/eya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-1991612520116739203</id><published>2009-06-06T01:59:00.006+07:00</published><updated>2009-09-14T19:24:43.897+07:00</updated><title type='text'>Bangun Listrik Sendiri di Luar PLN</title><content type='html'>* Daerah Terkesan Kurang Bersemangat&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daerah terkesan kurang bersemangat menyambut pembahasan Rancangan Undang-undang (RUU) Ketenagalistrikan yang baru. Meskipun RUU tersebut menyiratkan sinyal bagus dengan memberi kesempatan daerah menyediakan listrik, tapi "bayang-bayang besar" PLN senantiasa mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur Kalbar, Cornelis, menegaskan, industri listrik tetaplah tergantung pada PLN. Meskipun ada investor yang mampu membangun pembangkit, distribusi tetap harus melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memonopoli bisnis setrum tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak bisa, PLN kan hanya satu di republik ini. RUU itu boleh di luar listrik PLN, itu sudah dilakukan oleh pemerintah dengan listrik tenaga surya," kata Cornelis, usai peluncuran terima paket konversi minyak tanah ke elpiji 3 kilogram, di Kantor Pontianak Timur, Rabu (19/8).&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, kalau memang ada pihak swasta yang mau membangun pembangkit, dipersilakan saja. Tapi distribusinya tetap harus melalui PLN, karena hanya mereka yang punya jaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau misalnya bikin listrik, siapa yang bisa menyalurkan? Banyak sih orang pandai, tapi yang legitimate siapa? Ya PLN," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, nada keraguan terhadap investor swasta sempat muncul. Apalagi sudah ada pihak swasta yang teken kontrak dengan PLN untuk membangun listik di Mempawah, namun ternyata tak kunjung terealisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau ada swasta lain yang mau, kita siap, no problem! Yang penting sesuai aturan, ini kan untuk orang banyak dan kesejahteraan rakyat," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, mengaku sudah pernah membicarakan keinginan membangun listrik dengan beberapa kepala daerah tingkat dua. Menurutnya birokrasi untuk investasi di daerah lebih gampang ketimbang di pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Soal tarif sebenarnya bisa nego, bisa sebesar Rp 900 per kwh. Tapi PLN tak bersedia dengan tarif tersebut," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, ia mengaku belum pernah ditemui calon investor listrik. Padahal pihaknya siap saja untuk diajak membicarakan power plan tersebut.&lt;br /&gt;Terkait RUU Ketenagalistrikan, menurut Sutarmidji, penerapannya jangan hanya setengah-setengah. Apabila kewenangan itu diberikan secara bebas, ia yakin daerah bersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau separo-separo sebaiknya janganlah, pusing kita. Tapi kalau diberikan kebebasan, kita siap. Daya listrik di Kota Pontianak sangat kurang, sehingga perlu tambahan," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, ia mengatakan, kerja sama dengan PLN tetap diperlukan. Apalagi setelah membangun suatu pembangkit listrik, diperlukan jaringan distribusi yang hanya dimiliki PLN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutarmidji juga mengatakan, investasi listrik tak perlu dibuat dalam bentuk BUMD atau koperasi. Pola kerja sama dengan PLN dipandang sebagai bentuk yang pas.&lt;br /&gt;Seperti diberitakan sebelumnya, UU Ketenagalistrikan yang rencananya akan diparipurnakan September mendatang, dibuat untuk menggantikan dan merevisi UU Nomor 15 Tahun 1985. Dalam UU yang baru, tanggungjawab pemerintah pusat untuk menyediakan listrik di daerah terpencil akan dihilangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU tersebut akan memberi kesempatan bagi swasta, koperasi, dan badan usaha milik daerah dalam menyediakan listrik di wilayah yang belum terjangkau oleh PT PLN (Persero). Pemerintah setempat yang akan menunjuk pelaksana penyedia listrik, serta menerapkan tarif dan subsidi, tanpa persetujuan pusat. (end)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-1991612520116739203?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/1991612520116739203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/06/kebetulan-yang-agak-menyenangkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1991612520116739203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1991612520116739203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/06/kebetulan-yang-agak-menyenangkan.html' title='Bangun Listrik Sendiri di Luar PLN'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-1493788395546985698</id><published>2009-06-02T20:55:00.003+07:00</published><updated>2009-06-02T21:07:37.417+07:00</updated><title type='text'>Rujuk dengan YM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SiUyD0JIQcI/AAAAAAAAAOw/hZ20UXgjrBA/s1600-h/chat+YM.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 299px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SiUyD0JIQcI/AAAAAAAAAOw/hZ20UXgjrBA/s320/chat+YM.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342731574062891458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ah, chatting melalui YM asyik sekale. Udah lama nian aku gak gunakan fasilitas ini. Sudah lama pula, dikau kulupakan, oh YM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, aku sudah pisah ranjang dengan pesbuk. Sehingga dikau mendapat perhatianku lagi. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, aku chat dengan teman lama. Teman satu SMA di Ketapang, dan kini dia di Jakarta. Sebenarnya kami sempat kuliah di kotayang sama, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, waktu itu penderitaan hidup membuat kami sesama teman asal Ketapang jarang bisa bertemu di Kota Gudeg. Lama kemudian, benda canggih bernama internet bisa mempertemukan dengan beberapa teman yang sudah "pelempiar" kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BTW, skrin sut nya keren kan? Padahal gue bukan playboy...Ini hanya sebuah hikmat dari pengharaman pesbuk. Dan, masih, cuma bang Hasyim yang mengerti akyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bingung, pegangan ya? Awas, salah pegang. Dan jangan sekali-kali percaya tulisan orang stress... Hidup Golkar!!!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-1493788395546985698?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/1493788395546985698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/06/rujuk-dengan-ym.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1493788395546985698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1493788395546985698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/06/rujuk-dengan-ym.html' title='Rujuk dengan YM'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SiUyD0JIQcI/AAAAAAAAAOw/hZ20UXgjrBA/s72-c/chat+YM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-3269306338202720086</id><published>2009-05-29T23:29:00.002+07:00</published><updated>2009-05-30T00:04:59.271+07:00</updated><title type='text'>Setelah Pesbuk Di-blok</title><content type='html'>* Cuma Bang Hasyim yang Mengerti Akyu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris beberapa minggu ini, aku tak bisa mengakses pesbuk. Manajemen di kantorku telah memblok situs itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi selama ini, aku cuma bisa nge-net di kantor. Net pribadi di rumah sudah lama tak lagi aku pakai, maklum cuma sebuah modem CDMA yang kadang ngadat dan lelet minta ampyun...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi aku cuma bisa mengintip pemberitahuan apa-apa yang terjadi di pesbuk, melalui email yang kugunakan untuk sign up. Beberapa teman memang ada yang heran dan bertanya, "Kenapa kau jarang main pesbuk lagi?"&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jawab saja apa adanya. Kesimpulan mereka, jangan-jangan pesbuk memang sudah diharamkan. Ah ada-ada saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ane selalu mencoba mengambil makna positif di balik semua ini. Di antaranya, blog yang selama ini terabaikan, setidaknya saya jenguk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jari-jari ini ingin menari dan menari, merangkai kata, mencipta makna, cie...dasa dharma pramuka! Serius! Kenapa tertawa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang Anda-anda semua (terutama penggemar gua), harus pahami, bahwa suatu kebijakan institusi tempat kita menggantungkan hidup, pantang dilawan. Apalagi kalau hanya sekadar mem-blok site pesbuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue menduga, para wartawan (termasuk gue) terlalu asyik-masyuk bercinta dengan pesbuk, seusai liputan dari lapangan. Alhasil, kerjaan molor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa diterima. Walaupun sebenarnya, setelah kusut dan capek dari lapangan, pesbuk bisa jadi obat pelipur lara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai didamprat nara sumber, atau digoda cewek cakep waktu liputan, misalnya. Meski kesal, setelah membuka pesbuk bisa ketawa-ketawa dan pikiran jadi agak fresh, kalau tak tambah kusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, memang tak ada yang bisa mengerti akyu. Kalau pun ada, barangkali cuma seorang, yakni, cuma bang Hasyim yang mengerti akyu. Kaburrrr...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-3269306338202720086?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/3269306338202720086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/05/setelah-pesbuk-di-blok.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3269306338202720086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3269306338202720086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/05/setelah-pesbuk-di-blok.html' title='Setelah Pesbuk Di-blok'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-4594191583832248837</id><published>2009-05-02T01:15:00.003+07:00</published><updated>2009-05-02T01:34:56.595+07:00</updated><title type='text'>Kamu Siapa?</title><content type='html'>Sudah lama aku tak menulis. Ya, lama sekali. Meski tiap hari orang membaca koran, yang di antaranya memang hasil tulisanku, tapi bukan itu maksudku. Memang sudah lama, aku tak "menulis" dengan benar. Menulis dengan segenap hati, jiwa, dan perasaan. Apalagi dengan pikiran lapang dan perasaan yang ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai, malam ini, ketika kantor mulai sepi, dan jarum jam dinding sudah beranjak dari angka 01.15, tapi masih ada pekerjaan yang harus ditunggu. Minta diselesaikan, subuh ini juga. Sambil menanti, pikiranku terbang ke kejadian beberapa hari lewat.&lt;div class="fullpost"&gt;Entah angin apa yang mengarahkan pikiranku pada seorang teman di luar provinsi, teman lama. Saat pernah bekerja dan hidup "sebatang kara" di sana, merekalah yang sanggup membuat hidupku berbunga dan penuh warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutemukan nomor hp-nya dalam phonebook, dan segera kupencet. Setelah menanti beberapa deringan, terdengar dia mengangkat. Aku segera menyapa, tapi terdengar nada ragu di seberang sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini siapa?" tanyanya. Tentu, suara yang kukenal. Tapi, kenapa?&lt;br /&gt;"Ini Endi, mosok lupa?"&lt;br /&gt;"Endi? Endi mana?"&lt;br /&gt;"Endi Kalbar," jawabku, dan nama itu selalu kulekatkan saat beberapa tahun lalu bekerja di Kalimantan Timur, supaya mudah diingat teman-teman di sana.&lt;br /&gt;"Endi Kalbar? Aduh, yang mana ya?" lagi gugatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku agak jengkel. Ada apa? Bukankah kami sudah sedemikian akrab, serasa sudah seperti abang-adik? Tapi dia mengaku tak mengenalku? Kudengar suara berisik lewat speakerphone, dan terdengar orang bercakap-cakap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh...Endi ya, En, maaf Endi mana pun kamu, aku benar-benar lupa. Aku baru sembuh dari gegar otak," penjelasan itu membuat aku tertegun. Sampai-sampai aku terdiam, dan memutar ingatan ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanku itu memang punya riwayat epilepsi. Barangkali, bisa saja penyakit itu kumat sewaktu-waktu, dan dia terjatuh dan menyebabkan gegar otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo, Endi? Maaf, aku sama sekali lupa. Dua bulan lalu aku jatuh dari sepeda motor dan mengalami gegar otak. Ini baru saja pulih, dan mencoba masuk kerja. Tapi kalau bisa aku minta tolong memulihkan ingatan," katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebutkan beberapa nama teman kami yang paling akrab, dia katakan tak ingat. Ketika kukatakan ciri-ciri fisikku, ia pun mengatakan tak bisa mengingat (Selain Endi Kalbar, mereka juga memanggilku dengan Si Jenggot). Setelah berpesan agar dia sabar dan ucapan semoga cepat sembut, sambungan telepon kuputuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun menghubungi teman lain, dan menyampaikan berita ini. Setidaknya, meski jarak jauh, mudah-mudahan bisa membantu memulihkan ingatannya. Memang, musibah itu terjadi dua bulan silam. Saat itu pula aku memang tak terpikir untuk sekadar bertanya kabar dengannya. Rupanya, begitu banyak episode kehidupan yang lalu-lalang begitu saja, manakala kita lengah dan tak menghiraukannya. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-4594191583832248837?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/4594191583832248837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/05/kamu-siapa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/4594191583832248837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/4594191583832248837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/05/kamu-siapa.html' title='Kamu Siapa?'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-2452859536504800770</id><published>2009-04-24T23:39:00.005+07:00</published><updated>2009-04-24T23:49:07.814+07:00</updated><title type='text'>Kecil di Mata Dunia, Besar dalam Karya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SfHr4BZZPNI/AAAAAAAAAOQ/RU-ls9cO8ns/s1600-h/di+antara+dua+rahib.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 266px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SfHr4BZZPNI/AAAAAAAAAOQ/RU-ls9cO8ns/s320/di+antara+dua+rahib.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328299181836156114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;* 10 Tahun STT Pastor Bonus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana di kompleks Sekolah Tinggi Teologi Pastor Bonus yang menyatu dengan Seminari Tinggi Antonio Ventimiglia, yang terletak di Siantan, Kota Pontianak, terasa asri. Pepohonan tumbuh subur dan rindang, serta rerumputan terpangkas rapi. Suasana hening, khas nuansa kompleks yang dihuni para imam.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-size:85%;" &gt;Caption: Saya di antara dua Frater dari Kongregrasi Passionis, di halaman STT Pastor Bonus, Pontianak, dijepret 16 April 2009.&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Para frater yang dididik di sini merupakan calon Imam Katolik. Mereka merupakan frater-frater dari Kongregrasi Passionis (Ordo Sengsara Yesus Kristus), Ordo Fransiskan (OFM Cap), dan frater Keuskupan atau diosesan regio Kalimantan.&lt;br /&gt;Ketua Program Pascasarjana STT "Pastor Bonus", Dr William Chang OFM Cap, mengatakan, sejak berdiri sepuluh tahun lalu hingga sekarang, jumlah mahasiswa sebanyak 121 orang. Kemudian per 2006, yang akhirnya ditahbiskan menjadi pastor sebanyak 59 orang.&lt;br /&gt;"Di mata dunia, sekolah ini kecil. Tapi mudah-mudahan, bisa berbuat sesuatu yang besar," ujar William, saat penandatanganan prasasti peresmian STT tersebut oleh Purnomo Yusgiantoro, Kamis, (16/4).&lt;br /&gt;Purnomo hadir di kompleks yang asri di Jl 28 Oktober, Pontianak Utara itu, bukan sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Ia hadir bersama sejumlah donatur dari Jakarta, sebagai penyandang dana pembangunan fisik gedung kampus dan seminari tinggi tersebut.&lt;br /&gt;Kedatangan Purnomo sendiri sebenarnya sudah ditunggu sejak lima tahun silam. Namun kesibukannya membuat jadwal yang sempat disusun tiga kali, selalu tertunda.&lt;br /&gt;Pada prasasti itu, Gubernur Kalbar sebelumnya, Usman Ja'far, sudah membubuhkan tanda tangan. Dan baru pada hari itu, Purnomo bisa menyusul menggoreskan tanda tangannya dengan tinta emas.&lt;br /&gt;Mungkin nama Pastor Bonus agak asing bagi sebagian orang. William mengatakan, nama tersebut diambil dari Injil Yohanes 10:11, Ego sum Pastor Bonus.&lt;br /&gt;"Arti dari Pastor Bonus adalah Akulah Gembala yang Baik," jelas William.&lt;br /&gt;Hingga saat ini, dosen yang mengajar di STT tersebut sebanyak 16 orang. Koleksi berbagai buku literatur dan referensi sebanyak 6.785 buah.&lt;br /&gt;Uskup Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Hieronymus Bumbun OFM Cap, mengatakan, ide mendirikan STT ini sudah muncul sejak 1976. Seluruh uskup Regio Kalimantan berupaya agar ide tersebut terwujud.&lt;br /&gt;"Kuliah perdana akhirnya dimulai 15 September 1998, dengan hanya dua mahasiswa dan enam dosen. Waktu itu kampusnya menumpang di pastoran Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) di Sungai Jawi," tutur Bumbun.&lt;br /&gt;Perjalanan berikutnya, sebuah rumah sempat disewakan untuk kegiatan perkuliahan. Sampai akhirnya, perjuangan para Uskup Regio Kalimantan dengan bantuan para donatur, bisa mendirikan gedung tersebut.&lt;br /&gt;Penandatanganan prasasti tersebut tidak dihadiri oleh uskup-uskup di Regio Kalimantan yang lain, seperti Keuskupan Agung Samarinda, Tanjung Selor, Banjar Masin, dan Palangka Raya, karena mereka berhalangan.&lt;br /&gt;Namun, seluruh uskup di Kalbar hadir, seperti Uskup Agung Pontianak Mgr Hieronymus Bumbun OFM Cap, Uskup Sanggau Mgr Guilio Mencuccini CP, Uskup Ketapang Blasius Pudjaraharja Pr, dan Uskup Sintang Mgr Agustinus Agus Pr.&lt;br /&gt;Saat ini, sebanyak 25 frater menjalani pendidikan di STT Pastor Bonus, yang terdiri atas frater dari Kongresgrasi Passionis (CP), Fransiskan (OFM Cap), dan diosesan (Pr). Khusus frater diosesan, mereka sekaligus menjalani pendidikan di Seminari Tinggi Antonio Ventimiglia yang dipimpin rektor domus Dr Lorensius Sutadi Pr.&lt;br /&gt;Jika kelak mereka selesai menempuh pendidikan di tempat ini, mereka akan ditahbiskan menjadi pastor, dan berkarya di tengah-tengah umat.  (severianus endi/tribun pontianak)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-2452859536504800770?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/2452859536504800770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/04/kecil-di-mata-dunia-besar-dalam-karya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/2452859536504800770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/2452859536504800770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/04/kecil-di-mata-dunia-besar-dalam-karya.html' title='Kecil di Mata Dunia, Besar dalam Karya'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SfHr4BZZPNI/AAAAAAAAAOQ/RU-ls9cO8ns/s72-c/di+antara+dua+rahib.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-8277484246558996158</id><published>2009-03-12T21:56:00.006+07:00</published><updated>2009-03-12T22:30:53.743+07:00</updated><title type='text'>Agar Tak Jadi Bilik Termenung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sbkm40KwMeI/AAAAAAAAAOI/9Ni4p-oyKcc/s1600-h/mil.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sbkm40KwMeI/AAAAAAAAAOI/9Ni4p-oyKcc/s320/mil.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312319992978485730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perubahan cara memberi suara dengan memberi tanda centang di surat suara, jumlah partai politik (parpol) sebanyak 38, belum lagi caleg yang ribuan jumlahnya, menyebabkan kebingungan tersendiri bagi warga pemilih. Secara teknis, surat suara pun cukup lebar, mencapai sekitar satu meter, dan masing-masing pemilih mendapatkan empat lembar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaran tersebut untuk DPR RI, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Isinya berupa lambang parpol dan deretan nama para calon anggota legislatif (caleg) di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;"Alangkah baiknya, sebelum berangkat ke tempat pemungutan suara (TPS), para pemilih sudah menetapkan dalam hati, partai dan caleg mana yang akan dipilih," ujar Ketua KPU Kalbar, AR Muzammil, dalam perbincangan santai dengan wartawan dan redaktur di Kantor &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tribun Pontianak&lt;/span&gt;, Selasa (19/3) siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem seperti ini menuntut sikap warga pemilih yang cerdas dan menentukan pilihan secara sadar. Jika sejak berangkat ke TPS sudah terbayangkan siapa yang hendak dipilih, maka tak banyak waktu terbuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bayangkan, begitu masuk bilik suara, membuka lipatan surat suara yang lebar. Terus pemilih bingung karena banyaknya partai dan caleg. Bisa-bisa bilik suara menjadi bilik termenung," candanya disambut gelak tawa para redaktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan kocak Muzammil merujuk pada kosa kata bahasa Malaysia. Negeri serumpun itu menggunakan sebutan bilik termenung untuk toilet atau WC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sembilan kali pemilu masyarakat terbiasa mencoblos, kini berubah mencentang menggunakan alat tulis. KPU pun melakukan pengadaan ballpoint dengan tinta warna merah, sebagai alat memberi tanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang pesimis dengan sistem baru ini. Mereka khawatir, tingkat suara tidak sah akan meningkat. Karena dengan sistem coblos yang sudah sangat familiar pun, suara tidak sah masih lumayan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tetap berpikir positif. Tidak seseram yang dibayangkan orang, seperti mau kiamat saja dunia ini. Saya sehari-hari memenang balpoin, tapi ketika diberikan sebilah parang, saya masih bisa gunakan itu untuk menebas rumput. Nah, begitulah kira-kira analoginya, pemilih yang hanya biasa pegang parang, masak ndak bisa pegang pulpen hanya untuk memberi tanda centang," papar Muzammil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga tak henti-hentinya menegaskan, pekerjaan para anggota KPU menuntut penuh waktu. Maka, ia meminta para anggota KPU di daerah jangan sampai "nyambi" pekerjaan lain, sehingga tanggungjawab utama terbengkalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin sama seperti wartawan, kerja penuh waktu. Kalau orang lain long time week end, kita ini kerja long time," lagi kelakar ayah tiga anak ini. (end)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-8277484246558996158?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/8277484246558996158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/03/agar-tak-jadi-bilik-termenung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8277484246558996158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8277484246558996158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/03/agar-tak-jadi-bilik-termenung.html' title='Agar Tak Jadi Bilik Termenung'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/Sbkm40KwMeI/AAAAAAAAAOI/9Ni4p-oyKcc/s72-c/mil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-1884174424644595484</id><published>2009-01-17T14:16:00.006+07:00</published><updated>2009-01-17T14:50:24.210+07:00</updated><title type='text'>Masih Seputar Chinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SXGNs4iCVWI/AAAAAAAAAN0/AhDybPBHeg4/s1600-h/semponet.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 153px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SXGNs4iCVWI/AAAAAAAAAN0/AhDybPBHeg4/s320/semponet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292166839365948770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Chinta masih menarik pernatianku. Chinta Laura maksudku. Melihat logatnya, ingatakanku melayang ke masa lalu. Saat masih duduk di bangku sekolah, kala pelajaran bahasa Inggris menjadi momok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingatku, jangan coba-coba mempraktekkan bahasa Inggris, jika tidak mau dicap "sok" sama teman-teman. Rupanya kenyataan ini berlanjut sampai di bangku kuliah. Tak sedikit mahasiswa yang seolah "alergi" untuk mempraktekkan bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Nah, setelah tamat dan bersaing di dunia kerja, mampus! Betapa pentingnya bahasa Inggris, kan? Syukurlah, kadang-kadang aku cuek dengan stigma teman-teman. Nyatanya, beberapa kenalan dan tamu dari negeri luar, bisa juga mengerti ucapanku. Dan sejenisnya lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Chinta, kenapa kita malah gemas bahkan senang dengan logatnya? Mengapa kita menganggap dia imut dan muuuach... justru karena bicara bahasa Indonesianya yang belepotan (atau sengaja dibuat belepotan?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah bedanya. Chinta "sukses" justru karena bahasa Indonesianya yang hancur bagai jalanan di Kabupaten Kubu Raya, Kalbar. Tapi dia moncer dan dipuja di mana-mana. Padahal, ayo taruhan, semua sepakat bahwa logat dan bahasa Indonesianya ancur habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, mengapa kita minder dengan logat dan bahasa Inggris kita yang juga ancur lebur? Mengapa malu mempraktekkan, atau kalau melihat teman coba menggunakannya, lalu diejak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu ucapan barangkali, seperti didendangkan dalam lagu wajib nasional: ITULAAAH INDONESIAAA...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-1884174424644595484?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/1884174424644595484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/01/masih-seputar-chinta.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1884174424644595484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1884174424644595484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2009/01/masih-seputar-chinta.html' title='Masih Seputar Chinta'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SXGNs4iCVWI/AAAAAAAAAN0/AhDybPBHeg4/s72-c/semponet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-2811452436522611942</id><published>2008-12-14T12:49:00.003+07:00</published><updated>2008-12-14T13:04:05.690+07:00</updated><title type='text'>Sorry I'm Not a Doctor</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SUShpKw973I/AAAAAAAAAM0/NnqlEqPUL0U/s1600-h/corn.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 244px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SUShpKw973I/AAAAAAAAAM0/NnqlEqPUL0U/s320/corn.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279522391821512562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;by severianus endi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Governor of West Kalimantan Cornelis voice is typical. Penetrating and resolute. In some opportunities, provide welcome words, not infrequently the number of people in West Kalimantan is one of humor, humor, sandwich fresh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:78%;" &gt;foto by alexander mering&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The text has been prepared, not always even read. There are always opportunities burst, and usually contains the insertions can invite laughter, or at least smile.&lt;br /&gt;While giving a speech in the hall of Soedarso hospitals in Pontianak City, for example, early last October. Since the beginning of the event, some leaders have been talking.&lt;br /&gt;The atmosphere is quite cool, especially the formal process: oath and the promise of young doctors. Cornelis receive final turn deliver a speech.&lt;br /&gt;"I do not think I will be one of the officials, if it is overlooked, can be offended," he said, which immediately greeted smile.&lt;br /&gt;Former Regent Landak were asked, if still able to hear a speech? None less attentive.&lt;br /&gt;Cornelis calculate his speech text, and then mutter, "Wow, there are ten pages." Again, the sound of laughter heard.&lt;br /&gt;He also delivered a speech without a text. Content, instead of young doctors, to really learn, because dealing with the lives of people.&lt;br /&gt;"You do not mind which. Later you can be wrong dose of drugs. Logical anesthesia, but no patient build-up," he said. This time, 39 young doctors who want a new oath, unable to hide the smile and laughter.&lt;br /&gt;"You must also honest. Do not be patient until the drug three seed, you give ten seeds. Patients who are sick, must pay the excess seeds of the seven drugs," he said again, this time off less laughter can be.&lt;br /&gt;That's the way Cornelis motivate the young doctor. However, the end of his speech, he had an apology.&lt;br /&gt;"If there is one word, I apologize. Understandably, I'm not a doctor," said the father of Caroline is a doctor. (*)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-2811452436522611942?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/2811452436522611942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/12/sorry-im-not-doctor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/2811452436522611942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/2811452436522611942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/12/sorry-im-not-doctor.html' title='Sorry I&apos;m Not a Doctor'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SUShpKw973I/AAAAAAAAAM0/NnqlEqPUL0U/s72-c/corn.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-8930124416814040442</id><published>2008-12-12T22:50:00.002+07:00</published><updated>2008-12-12T23:00:35.849+07:00</updated><title type='text'>The Difference of Color Meaning</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SUKKbgNmnJI/AAAAAAAAAME/27SbQpI-X4I/s1600-h/Esly+Demas+SH+MH.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 233px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SUKKbgNmnJI/AAAAAAAAAME/27SbQpI-X4I/s320/Esly+Demas+SH+MH.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278933918339734674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;by severianus endi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Do not flirt with Esly Demas (57). Tone that speaks firmly and dignified, I rarely make frightened talking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Do not ask me too often. When I was discharged, later cases that we handle this is not finished, done," said Head of Pontianak Prosecutors (Kejaksaan Negeri Pontianak, Kejari) to journalists in this office, on Tuesday (18/11).&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;But, look a piece of smile followed by laughter from the father of three children. Of course, in the words of seriousness, he also jokes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yes, get, many files that I must sign," he said while on the table in some paper work.&lt;br /&gt;Papers for the signing of pink, yellow, and white. What is the meaning of color?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While continually put sign-in several sheet, the Esly said, the color paper in the prosecutors have established through Decree Attorney General (Keputusan Jaksa Agung, Kepja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"According to Kepja, the color of this paper to distinguish some things. Paper rose to general criminal cases and criminal special. Color yellow for guidance, and the color green for intelligence. But if the color white for the administration of the secretariat," said Esly who served Kajari Pontianak since 6 November 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suddenly, this grandfather of two grandsons to remove the glass eyes. His face expression become serious again.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Already 33 years old I worked in the prosecutors, this time a new process that kink. Imagine, the audit only for seven months for corruption cases DAK 2007," said male birth Tewang Pajangan, Central Kalimantan, 5 May 1951.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esly towards himself while serving in other areas, the process of cases files can be resolved only within 40 days. After that continues directly to the court.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Four more years, my pension. Nevertheless, many changes that can happen in four years," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a prosecutor, Esly has served in various places. Previously, he served as Kajari Pangkalan Bun, Central Kalimantan for two years.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He also was Assistant General Crime (Asisten Pidana Umum, Aspidum) Kejari Ambon in the last 3 years. At the time, double duty as a task (Pelaksana Tugas, Plt) Kejari City Masohi in Ambon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He also had served as secsion head of Civil and State Administration (Kasi Perdata dan Tata Usaha Negara, Datun) Kejari Banjarmasin for 3 years, starting in 1996 until 1998. (*)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-8930124416814040442?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/8930124416814040442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/12/difference-of-color-meaning.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8930124416814040442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8930124416814040442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/12/difference-of-color-meaning.html' title='The Difference of Color Meaning'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SUKKbgNmnJI/AAAAAAAAAME/27SbQpI-X4I/s72-c/Esly+Demas+SH+MH.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-2987985093053251214</id><published>2008-11-28T19:23:00.004+07:00</published><updated>2008-11-28T19:47:27.137+07:00</updated><title type='text'>Butchuh Chincha...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SS_nY47G1KI/AAAAAAAAALs/-wh5i6Ye1rU/s1600-h/cinta-laura-ketiak2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 306px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SS_nY47G1KI/AAAAAAAAALs/-wh5i6Ye1rU/s320/cinta-laura-ketiak2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273688103457313954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sumpah! Aku termasuk orang yang cuek terhadap artis pendatang baru yang belakangan berjubel di layar kaca. Siapapun dia, aku cuma lihat sepintas, dengar sepintas, dan melototi sepintas. Tapi, 'seekor mahluk unik' yang (sialnya) cantik-muda-seksi bernama chinta laura, membuat rasa penasaran sehingga aku menghabiskan waktu berjam-jam surfing di internet untuk mengetahui ihwal mahluk ini. Anda semua tentu lebih banyak tahu daripada saya tentang dia, khan?&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; Puncak kepenasaranku saat cewek ini mempopulerkan 'mantra' hujan-hujan gak ada ojek becek lagi. Entah sengaja atau latah, KPU di sebuah kota di Kalbar sampai membuat spanduk untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam Pilwako dengan kata-kata yang agak kurang nyambung: kalau becek, ke TPS naik oujhek (gak nyambung kan? tapi kita lihat positifnya aja deh, mereka kan ngajak pemilih mencoblos, gunakan hak pilihnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Chinta Laura, mahluk ini memang unik sekaligus aneh. Tak usah lah aku ceritakan lagi logatnya yang kadang bikin mual itu. Mual? Ah iya, sambil mengetik tulisan ini saja, aku sedang mendengarkan lagunya "Oh Baby". Tak kutampik, awalnya aku langsung mual. Yang kudengar bukan senandung merdu, tapi semacam lidah keseloe atau berkumur-kumur atau apalah, intinya seperti ada sejenis zat lengket dan licin sedang dimain-mainkan di dalam mulut. Lho?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lama kelamaan, aku kesengsen sama lagu ini. Meski aneh, tapi seolah ada aura magis dalam suara chinta, terutama saat dia mengatakan: butchuh chincha... hahaha, semacam suara yang seksi dan merangsang, yang muncul dari mulut abg belasan tahun. Lagu ini awalnya kudengar sepintas dari tetangga, seorang amoy yang nyaris saban pagi membangunkan aku dari kelelapan dengan hingar-bingar musik, di antaranya lagu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak penasaran, karena nada, lirik, dan kata-katanya aneh. Aku tak tahu persis pertama kali mendengar, lagu apa gerangan? Mantra, bahasa roh, atau orang mengigau? Ah, ternyata chinta laura, yang gaya bahasanya memang belepotan atau sengaja belepotan, entahlah. Aku pun mulai rajin mengoleksi foto digitalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, dia memang cantik. Dia seksi. Chinta Laura. Aku serasa muda melihatnya. Aku bergairah membayangkan dia. Aku tiba-tiba senewen sendiri. Betapa Tuhan menciptakan makluk dengan aneka warna, cita, dan rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, aku mulai rajin melihat penampilannya di layar kaca, koran, internet, atau di media apa saja. Aku hanya penasaran, kejutan apa lagi yang akan muncul dari abg yang sedang mekar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemmm...memang dia cantik. Seksi lagi. Manis lagi. Dan sepintas, cerdas lagi. Wah, wah, wah. Kiruuun, eh kereeen. Kalian nyanyi dulu ya? Ini nih di bawah ini ada teksnya. Tapi ada tipsnya, sebelum nyanyi, isi mulut kalian penuh-penuh dengan bubur atau sejenisnya, yang penting bisa mengucapkan kata-kata dengan logat cadel!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Baby&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bikin pusing tujuh keliling&lt;br /&gt;Buat aku mabuk kepayang&lt;br /&gt;Gayamu cool dan seksi&lt;br /&gt;Mentok aku kepada kamu&lt;br /&gt;Jadi semakin aku cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[*]&lt;br /&gt;Kau sihir aku yang sedang kosong&lt;br /&gt;Di saat aku butuh cinta&lt;br /&gt;Mantra-mantra dahsyatmu&lt;br /&gt;Menarik aku yang sendiri&lt;br /&gt;Memang lagi putus cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[**]&lt;br /&gt;Katakan-katakan kau sungguh-sungguh&lt;br /&gt;Hanya ada ku di didalam hatimu&lt;br /&gt;Katakan-katakan kau cinta aku&lt;br /&gt;Untuk selamanya kau jadi milikku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[***]&lt;br /&gt;I don’t wanna lose you&lt;br /&gt;Yes i wanna hold you&lt;br /&gt;I don’t wanna make you&lt;br /&gt;Make you sad and make you cry &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-2987985093053251214?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/2987985093053251214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/11/butchuh-chincha.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/2987985093053251214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/2987985093053251214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/11/butchuh-chincha.html' title='Butchuh Chincha...'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SS_nY47G1KI/AAAAAAAAALs/-wh5i6Ye1rU/s72-c/cinta-laura-ketiak2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-4645316013861311983</id><published>2008-11-10T22:14:00.004+07:00</published><updated>2008-11-16T16:20:35.849+07:00</updated><title type='text'>Purnawirawan, Kambing, dan Satpam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SRhRw0nuKdI/AAAAAAAAALk/wLiRrlOU3EE/s1600-h/101108_bersama+pak+de+sarbini.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SRhRw0nuKdI/AAAAAAAAALk/wLiRrlOU3EE/s320/101108_bersama+pak+de+sarbini.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267049663410612690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tak banyak yang tahu tentang perjalanan hidup saya saat menjadi pejuang kemerdekaan. Apalagi saat ini saya hanya seorang satpam, menjadi rakyat biasa saja. Saya memang tak suka memamerkan diri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat puluh enam tahun lalu, dalam kegelapan Laut Arafuru. Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Harimau bersama KRI Macan Kumbang dan KRI Macan Tutul, dihadang oleh kapal Belanda, Carel Doorman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nahas bagi KRI Macan Tutul. Kapal yang dikomandoi oleh Komodor Yos Sudarso itu dibombardir oleh Belanda. Komodor Yos Sudarso wafat, seiring tenggelamnya kapal itu ke dasar lautan. Sedangkan KRI Harimau dan Macan Kumbang selamat. &lt;div class="fullpost"&gt;"Waktu itu tepatnya 15 Januari 1962, pukul delapan malam. Saya berada di KRI Harimau sebagai anak buah Pak Sudomo yang mengomandoi KRI Harimau,” kenang Sersan Mayor (Purn) H Sarbini, saat kujumpai di sela tugasnya sebagai satpan Pengadilan Negeri Pontianak, Senin (10/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, ketiga kapal dalam perjalanan kembali dari Irian Barat. Mereka baru saja mendaratkan sejumlah perwira marinir di Tanah Papua, dan hendak kembali ke pangkalan di Ambon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarbini (73), satu di antara prajurit marinir yang mengalami tragedi Arafuru itu, kini menjalani masa tuanya sebagai satpam Pengadilan Negeri Pontianak. Tua usia, segar ingatan, begitulah sosok Sarbini yang akrab disapa Pak De ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek 14 cucu ini masih sangat hafal tentang detail kejadian di masa lalu. Ingatan tajam lainnya, tatkala berlayar dari Surabaya ke Pontianak pada 4 Desember 1970.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarbini berada di KRI Ular Sendok yang dikomandoi Kapten Yohanes Sutanto bersama Kepala Kamar Mesin Letnan Satu Wardojo. Mereka mengangkut alat-alat persiapan pemilu dengan kapal berkecepatan 24 mil per jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pelayaran sudah berjalan enam jam empat puluh lima menit, kapal Ular Sendok karam,” tutur lelaki kelahiran Magelang, 13 Januari 1940.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak De sudah sembilan tahun menjadi satpam Pengadilan Negeri, terhitung sejak 17 Juli 1999. Sebelumnya, ia menjadi satpam di Trakindo. Juga pernah enam tahun sebagai satpam di PLN, sejak 1993 sampai 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, Sarbini adalah prajurit angkatan laut (AL), yang hidup berpindah-pindah sesuai penugasan. Ia pernah tinggal di Surabaya, Jakarta, Banjarmasin, Medan, Pontianak dan masih sederet nama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa negara di Eropa pun pernah dia singgahi. Karena berpindah-pindah itulah, ia bertemu tulang rusuk’ di Batam. Seorang wanita blastaran Indonesia-Pakistan yang kemudian memberinya enam anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain keenam anak kandung, ia mengambil satu anak angkat, empat di antaranya laki-laki dan tiga perempuan. Ketiga anak lelakinya menjadi polisi, seorang sebagai wiraswasta, dan tiga anak perempuan menjadi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamatan STM jurusan mesin ini mulai tinggal di Pontianak pada 1980. Memasuki masa pensiun pada 1989 dengan pangkat Sersan Mayor, ia beternak kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejak 1989 sampai 1998, saya pelihara kambing, dan itu cukup untuk membiayai sekolah anak dan kebutuhan keluarga,” ujar suami dari Hj Azrah Supiah (58).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Sarbini tak tertarik bekerja sebagai satpam, karena menikmati aktivitas beternak kambing. Setelah didesak berkali-kali, bahkan kadang-kadang dicari-cari, ia pun mengalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kambing-kambing dijual habis, dan ia menjalani hidup baru sebagai tenaga security.&lt;br /&gt;Di Pengadilan Negeri itu, ia tak hanya sebagai satpam. Pak De sering diminta membacakan sumpah bagi para saksi atau terdakwa yang akan disidangkan. Bila sudah begitu, ia segera masuk ruang membawa Al Quran, menumpangkannya ke kepala saksi atau terdakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga rutin membuka kunci ruangan, bila sidang menjelang. Di lain waktu, ia sibuk membawa berkas ke luar untuk difotokopi. (101108)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-4645316013861311983?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/4645316013861311983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/11/purnawirawan-kambing-dan-satpam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/4645316013861311983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/4645316013861311983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/11/purnawirawan-kambing-dan-satpam.html' title='Purnawirawan, Kambing, dan Satpam'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SRhRw0nuKdI/AAAAAAAAALk/wLiRrlOU3EE/s72-c/101108_bersama+pak+de+sarbini.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-175799874677845059</id><published>2008-09-28T13:32:00.001+07:00</published><updated>2008-09-28T13:34:45.410+07:00</updated><title type='text'>Sentuhlah Si Dia Kala Stres</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SN8lWIjh51I/AAAAAAAAAIo/Nx5C9REmjyU/s1600-h/131508p.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SN8lWIjh51I/AAAAAAAAAIo/Nx5C9REmjyU/s320/131508p.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5250956752721143634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebuah survei atas lebih dari 1.000 orang dewasa diselenggarakan oleh National Consumer’s League (NCL) pada 2003 di AS untuk mengetahui sumber stres mereka. Hasil survei mengungkapkan, 39% responden mengatakan sumber stres mereka adalah pekerjaan, 30% responden mengatakan keluarga, 10% responden menyebut kesehatan, dan 9% responden menyebut ekonomi sebagai alasan.&lt;div class="fullpost"&gt;Ketika seseorang sedang dilanda stres atau bahkan saat senang, sentuhan fisik untuknya berupa pelukan, genggaman hangat, bahkan ciuman, sangat efektif dilakukan untuk menghilangkan kegundahan hati. Bila pasangan Anda yang mengalaminya, ia akan sangat menunggu jari-jemari Anda membelai rambutnya, menyentuh pipinya, mengusap-usap punggungnya, bahkan menciumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kathleen Light, profesor ilmu jiwa di Universitas of North Carolina School of Medicine, mengusap tangan, leher dan punggung meningkatkan kadar oksitosin 20 persen. Ini bukti bahwa supaya terasa menyenangkan, sentuhan tidak harus bersifat seksual.&lt;br /&gt;sumber: www.kompas.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-175799874677845059?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/175799874677845059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/09/sentuhlah-si-dia-kala-stres.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/175799874677845059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/175799874677845059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/09/sentuhlah-si-dia-kala-stres.html' title='Sentuhlah Si Dia Kala Stres'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SN8lWIjh51I/AAAAAAAAAIo/Nx5C9REmjyU/s72-c/131508p.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-5786554069495561296</id><published>2008-09-14T19:09:00.001+07:00</published><updated>2008-09-14T19:11:21.289+07:00</updated><title type='text'>Mau Berhenti Sekarang??</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SMz_WSPbE1I/AAAAAAAAAIg/snG8nngo67o/s1600-h/never-give-up-l.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SMz_WSPbE1I/AAAAAAAAAIg/snG8nngo67o/s320/never-give-up-l.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245848424298517330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dua orang mahasiswa drop out memulai sebuah perusahaan software kecil-kecilan yang sama sekali tidak diperhitungkan akan menjadi besar. Kini Bill Gates dan Tim Allen merupakan sosok besar di dunia software dengan hanya ijazah SMA.&lt;div class="fullpost"&gt; Seorang veteran perang berusia 65 tahun mempunyai gagasan menjual resep ayam goreng miliknya ke restoran-restoran. Banyak orang menertawakan dan menolak gagasannya. Berapa kali ia ditolak? 1.009 kali dalam 2 tahun!! Jika ia berhenti pada penolakan yang ke-1.000, mungkin kita tak akan mengenal nama Kolonel Sanders dan Kentucky Fried Chicken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sebenarnya tidak ada orang yang gagal. Bahkan Soichiro Honda berkata, "Apa yang orang lihat dari kesuksesan saya cuma 1%, tapi 99% yang tidak terlihat adalah kegagalan saya." Yang ada hanyalah orang yang menyerah dan berhenti sebelum mencapai sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap SEMANGAT!! (sumber: dari sebuah milis)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-5786554069495561296?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/5786554069495561296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/09/mau-berhenti-sekarang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/5786554069495561296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/5786554069495561296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/09/mau-berhenti-sekarang.html' title='Mau Berhenti Sekarang??'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SMz_WSPbE1I/AAAAAAAAAIg/snG8nngo67o/s72-c/never-give-up-l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-3329680374054836264</id><published>2008-08-07T21:41:00.004+07:00</published><updated>2008-08-07T22:08:47.975+07:00</updated><title type='text'>Kelakar Om Ka'ban</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SJsPa0gniyI/AAAAAAAAAIY/sRX6Da6G3f4/s1600-h/narsis+ah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SJsPa0gniyI/AAAAAAAAAIY/sRX6Da6G3f4/s320/narsis+ah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231792345567431458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Om Ka'ban, menteri kehutanan kita yang baru saja kena masalah suap BI, rupanya suka juga berkelakar. Sore itu, Kamis (7/8), aku terlanjur menanti Om Ka'ban sejak pukul 14.00 di Bandara Supadio. Terlanjur, maksudku jarak antara kantorku di Sungai Raya Dalam ke Supadio sekitar 25 kilometer. Mosok aku harus bolak balik, sementara RX King bututku boros premium? &lt;div class="fullpost"&gt; So, meski bete, tetap saja aku menunggu, sambil sesekali mengontak seorang chanel (ciyah...chanel ni ye) untuk memastikan, jam berapa sebenarnya helikopter yang membawa Om Ka'ban tiba. Sebelum lupa, aku ceritakan ya, Om berambut putih itu sedang ke Kapuas Hulu, menyerahkan sertifikat kepada Apui Janggut, kepala Adat Dayak Iban di Kampung Sungai Utik, Kapuas Hulu. Apui Janggut dinilai berhasil memimpin masyarakat Adat di sana melestarikan hutan desa, sehingga berhak menerima sertifikat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, nama kepala Adat itu benar Apui Janggut lho, bukan aku mengada-ada karena kegantenganku yang melebihi Achmad Dhani (lho, apa hubungannya?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Om Ka'ban. Bete aku menunggu, kucari obatnya. Lah...ini kan bandara, banyak 'porselen hidup' bergentayangan. Cuci mata! Kenapa tak dari tadi kusadari, betapa tempat ini menyuguhkan begitu banyak pemandangan indah? Paha dan betis mulus putih lalu lalang, cewek-cewek itu berbusana menggoda iman. Bukan salahku, lho! Mereka berani berpakaian begitu, artinya siap dengan konsekuansi untuk 'ditonton', khan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan melihat 'porselen mengkilap' itu, aku kontak lagi channel tadi. Dijawab: Pak Menteri baru akan tiba sekitar pukul lima sore. Dubrak!!! Apa macam bro! Menderitalah ogut. Maka pekerjaan di kantor belum seitil pun selesai, sekarang aku 'terpenjara' di belantara kaki-kaki yang berseliweran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman wartawan mengirim sms: 'kacian dech loe, tapi asyik ya cuci mata?' Teman yang reporter televisi pun menjerit: 'aduh, deadline nih, udah mau on air, sayang gue gak bisa datang!' Yah sudahlah, aku udah terlanjur menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda-tanda kehidupan mulai terasa menjelang pukul lima. Aku melangkah menuju ruang tunggu VIP, lalu menikmati sejuknya AC. Duduk di sebuah sofa empuk, akupun terlelap sejenak. Tanpa mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, dering telpon di ruangan itu mengejutkanku. "Halo, halo? Iya, iya sebentar lagi, sudah mau mendarat," ujar seorang petugas. Aku terbangun, dan mengucek mata. Benar, suara helikopter terdengar di kejauhan, bersaing dengan deru pesawat. Kapak-kapak-kapak-kapak-kapak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heli mendarat, dengan mataku yang rabun, sosok Om Ka'ban terlihat menuruni tangga heli dan melangkah menuju ruangan VIP. Rambutnya yang putih tergerai oleh angin, dan di lehernya masih melilit syal bermotif khas Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada tiga wartawan yang menanti dia. Entah pada kemana yang lain. Kami pun minta waktu ngobrol sama dia. Yah tentang apa saja deh, yang penting ada bahan. Blablabla, wawancara berjalan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu ditanya komentarnya soal buaya yang makin ganas di wilayah Pontianak, ia justru menawarkan menjadi penangkar buaya. "Kenapa Anda tidak jadi penangkar buaya saja? Kulitnya mahal lho, dihitung per inchi, bukan per meter. Selain itu dagingnya bisa diekspor, dan... tangkurnya hahaha..." kelakar Om Ka'ban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sial ni orang. Mosok ngetawain musibah kite sih? Di Desa Punggur, Kecamatan Kakap, sudah berapa nyawa melayang karena diserang buaya. Tapi ada benarnya juga kotbah Om Si Rambut Putih. Buaya, katanya, tak akan menyerang manusia jika habitatnya tidak diganggu. Ah, iya, kan ada tuh, orang-orang yang bikin tambak udang di hutan mangrove di Batu Ampar? Konon menurut sahibul hikayat, tambak itu ilegal. Males ah, gue tak mau masuk ke ranah konflik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, Om Ka'ban pun bilang: "Kan lebih enak bisnis kulit buaya, dari pada jadi buaya darat, hahaha..." Wew, jelas-jelas tampangku tak seperti buaya darat. Apa maksud Anda, Om? Eh, jangan-jangan dia tahu, saat aku menunggu kedatangannya, memanfaatkan waktu dengan cuci mata melihat 'porselen hidup' yang lalu lalang di ujung hidung eh mata...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-3329680374054836264?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/3329680374054836264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/08/kelakar-om-kaban.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3329680374054836264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3329680374054836264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/08/kelakar-om-kaban.html' title='Kelakar Om Ka&apos;ban'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SJsPa0gniyI/AAAAAAAAAIY/sRX6Da6G3f4/s72-c/narsis+ah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-281644842018012682</id><published>2008-08-06T20:56:00.004+07:00</published><updated>2008-08-06T22:25:50.584+07:00</updated><title type='text'>Menangkrik...</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SJmwFFvhzBI/AAAAAAAAAIQ/C_9q9IRc6y4/s1600-h/bear-in-cuddly-toy-teddy-bear-cuddly-toy-close-relation-~-paa188000045.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231406043654900754" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SJmwFFvhzBI/AAAAAAAAAIQ/C_9q9IRc6y4/s320/bear-in-cuddly-toy-teddy-bear-cuddly-toy-close-relation-~-paa188000045.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam pengembaraan di alam fana, sering kita menemukan hal-hal yang 'menangkrik'. Misalnya, ada kucing bermain balon, ketika balon itu dor pecah karena kuku yang panjang, sang kucing berlari, bersembunyi, bak anak kecil yang mau menghindari kesalahan dan dosa. Ada lagi contoh lain, sepasang remaja jatuh cinta di bawah asuhan bulan pur...loh, kok malah nyanyi?&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jadi, soal menangkrik atau tidaknya fenomena, rupa-rupanya sangat bergantung pada sensitifitas manusia. Apakah aku sensitif saat melihat kucing yang pura-pura gak tau kesalahannya telah memecah balon? Ataukah aku cuek bebek saja melihat seorang petugas PLN memanjati tiang listrik dan asyik mengutak-atik sesuatu di bawah hujaman sang surya yang menusuk sampai dasar tulang sehingga keringat bercucuran bagai hujan di pagi yang dingin dan sunyi? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Atau hanya sensitif saat melihat kaki atau lutur atau sedikit di atas lutut lewat (maksudnya cewek berpakai serba mini, sehingga yang terlihat cuma bagian-bagian yang telah disebutkan), sehingga segera bereaksi lahir bathin jiwa raga? &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, banyak fenomena lewat begitu saja, karena sudah dianggap terlalu biasa. Mungkin, terlalu lama bertapa justru membuat indera pengecapan 'sosial" bisa tumpul bahkan mandul. Siapa tahu? Ya tahu yang enak konon cuma ada di Sumedang. Kan ada iklannya di warung bujo Yogya, 'tahu sumedang, tahunya orang yang tahu.'&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Bicara soal menangkrik atau tidaknya, itru tretgantrung padra yang bergantrung. Dran, jangran sekrai-klari percraya tulisran orang sinting, hehe, kena loe!!! &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-281644842018012682?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/281644842018012682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/08/menangkrik.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/281644842018012682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/281644842018012682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/08/menangkrik.html' title='Menangkrik...'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SJmwFFvhzBI/AAAAAAAAAIQ/C_9q9IRc6y4/s72-c/bear-in-cuddly-toy-teddy-bear-cuddly-toy-close-relation-~-paa188000045.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-1662015940785368707</id><published>2008-08-02T20:57:00.003+07:00</published><updated>2008-08-02T21:05:26.477+07:00</updated><title type='text'>Bisakah Hidup Tanpa Masalah?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_3e-s4eoyI30/SJRozn8wnRI/AAAAAAAAAII/EsLYVE6hJew/s1600-h/surga-neraka.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_3e-s4eoyI30/SJRozn8wnRI/AAAAAAAAAII/EsLYVE6hJew/s320/surga-neraka.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229920303390432530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pertanyaan itu sangat bodoh! Ya, aku menyadarinya, stupid absolutely! Tetapi mengucapkan pertanyaan paling bodoh sekalipun, barangkali masih bisa disebut penanda seseorang sedang berpikir. Atau bingung, atau stress, atau sudah di ambang kematian.&lt;br /&gt;"Kalau tak mau ada masalah, silakan hidup di surga," jawab seseorang, entah siapa. Mungkin benar, karena dengan iman yang sangat dangkal begini, teritorial surga terasa sangat absurd untuk dibayangkan. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Teman SMP-ku dulu pernah mengalami mati suri. Suatu saat, cerita sang kawan itu, ia terkena sakit perut yang luar biasa. Lama-lama, ia merasakan tubuhnya ringan, dan tiba-tiba sudah berada di suatu tempat asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat yang dikisahkan teduh, sejuk, dan rumputan yang luas itu, ia menapak sebuah jalan lurus. Di kiri kanan jalan, ia melihat beberapa keluarga sedang duduk mengelompok, bercanda riang. Ada lelaki, ada perempuan dan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menapak jalan panjang yang tak terlihat ujungnya itu sendirian. Semakin dia menapak, semakin tidak jelas apa sebenarnya tujuan di depan sana. Sampai ia berjumpa seorang tua, yang menyuruhnya berbalik arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun mengikuti saran pak tua, dan tiba-tiba kesadarannya kembali. Selama 'pengembaraannya' di negeri asing, keluarga dan haidai taulan telah memandikan jasadnya. Tubuh kakunya telah dibaringkan di sebuah tikar, dan kain kafan pun dipersiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu ia membuka mata, bangkit duduk, orang-orang kaget dalam keheranan bercampur ketakutan sekaligus haru. Mereka bertangis-tangisan, dan temanku itu masih hidup hingga kini.&lt;br /&gt;Aku masih tak mau melucu, tapi bagian ini sedikit menggelitik. Sebelum mengalami mati suri, tak ada yang aneh di wajah temanku. Namun setelah dia 'hidup kembali', matanya menjadi sangat sipit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah perbedaan di wajahnya, sebelum dan sesudah 'kematiannya'. Sejak lulus SMP sampai sekarang, belum pernah aku bertemu dia. Tetapi dari kabar burung, kudengar dia sudah menikah dan memiliki anak. Artinya, dia masih hidup normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga teringat sebuah mahakarya Arswendo Atmowiliti yang ditelorkannya selama berada di penjara. Kira kira kisahnya begini: kalau orang tak pernah kena sakit usus buntu, ia tak akan peduli dengan pohon jambu biji di halaman. Namun setelah satu dari anggota keluarga terkena sakit itu dan harus operasi, maka pohon jambu biji jadi sasaran amuk. Ditebang, dirobohkan, dan sipersalahkan sebagai penyebab sakit usus buntu. Biji jambu yang mendekam di apendiks menyebabkan infeksi, sehingga pohonnya harus dimusnakahkan. Memang, sebuah logika nengkok dalam menyikapi masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan analogi itu, Arswendo hanya mau menceritakan tentang pahitnya masuk penjara. Ketika kita tak pernah berpikir, diri kita, keluarga kita, atau orang dekat kita, tak berhubungan dengan penjara, kita akan cuek bebek dengan segala permasalahan hukum dan penjara. Emang gue pikirin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi begitu ada satu saja keluarga tersandung masalah, katakanlah masuk penjara, atau dibunuh, atau diperkosa, atau atau yang lain, baru mata kita terbuka: oh...ternyata begitu ya?&lt;br /&gt;Demikian pula ketika kita merasakan 'nikmatnya' tidak berada dalam suatu kisaran konflik. Dalam hari pasti terucap, 'untung bukan aku'. Karena pilosofi 'untung bukan aku' itulah, kita merasa menjadi panglima yang bebas, berbuat apa pun, mengobok-obok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepekaan sosial menjadi tumpul bahkan mandul, tanpa mau peduli apa pun. Saat kita tertawa, ada orang lain yang menjerit. Dan kita menikmatinya atas nama pilosofi 'untung bukan aku'. Hei, masih terus membaca? Jangan percaya tulisan orang stress. Pergi sana! &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-1662015940785368707?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/1662015940785368707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/08/bisakah-hidup-tanpa-masalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1662015940785368707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1662015940785368707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/08/bisakah-hidup-tanpa-masalah.html' title='Bisakah Hidup Tanpa Masalah?'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_3e-s4eoyI30/SJRozn8wnRI/AAAAAAAAAII/EsLYVE6hJew/s72-c/surga-neraka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-5116710480160993584</id><published>2008-06-28T21:00:00.003+07:00</published><updated>2008-06-28T21:12:52.589+07:00</updated><title type='text'>Tegang dan Sakit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SGZFrW1VHrI/AAAAAAAAAHw/wL3nW7FIook/s1600-h/20080520_Ishaq64_foto_ekonomi.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SGZFrW1VHrI/AAAAAAAAAHw/wL3nW7FIook/s320/20080520_Ishaq64_foto_ekonomi.0.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216933829521252018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di tangan cewek ini, aku tegang! Takut ditusuk jarum suntik yang kecil tapi tajam. Huiii...tatit eh sakit!!! Tapi itulah kewajiban yang tak bisa ditolak. Aku harus merelakan beberapa takar darahku disedot dalam ampul itu, entah berapa mililiter, aku tak tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis ini, Mas makan dulu ya. Dua jam kembali lagi, entar darahnya saya sedot lagi dikit, katanya. Ehem. Lembut dan manis. Perawat yang budiman eh budiwati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari lab itu, aku makan di warung. Makan banyak, karena malamnya aku harus puasa 12 jam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ingin tahu, apa hasil pemeriksaan itu. Tapi, bagaimana pun, aku harus mengetahuinya (lho, kok kalimatnya bolak-balik? Tolooong!) Alhasil, angka collesterol total dan LDL-ku jauh melebihi ambang batas. Ampoen! Aku tak bisa berkata-kata. Goodbye, b**i kecap, panggang, sanksang, apalah namamu. Sementara, aku harus berpantang, sampai saatnya test ulang. Apakah engkau masih mendekam di sana?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-5116710480160993584?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/5116710480160993584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/06/tegang-dan-sakit.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/5116710480160993584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/5116710480160993584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/06/tegang-dan-sakit.html' title='Tegang dan Sakit'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SGZFrW1VHrI/AAAAAAAAAHw/wL3nW7FIook/s72-c/20080520_Ishaq64_foto_ekonomi.0.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-2227685426588590831</id><published>2008-06-27T21:14:00.004+07:00</published><updated>2008-06-28T18:17:03.499+07:00</updated><title type='text'>Di Sebuah Kantin, Ia Bercerita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SGYdmuQJYxI/AAAAAAAAAHo/M1cjrtpyZAc/s1600-h/082706_endi_Erma_Suryani_Ranik_c.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SGYdmuQJYxI/AAAAAAAAAHo/M1cjrtpyZAc/s320/082706_endi_Erma_Suryani_Ranik_c.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216889769443287826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sore Jumat (27/6), hujan baru saja reda. Aku memacu sepeda motorku ke Jl Sultan Abdurachman. Ada janji bertemu seseorang di sebuah kantin (hah?).&lt;br /&gt;Setelah celingak-celinguk beberapa jenak, aku menemukan orang yang kucari. Sosok mengenakan kaus putih dan celana panjang abu-abu itu kutemukan asyik di depan komputernya, di sebuah ruang yang mirip petak-petak di warnet. Husss, itu kantor keren loh, kerja sama Pemerintah Indonesia sama Uni Eropa sana. Setelah berkenalan (hehe habis emang baru jumpa sih, meski udah sering dengan namanya), kami menuju kantin. Dia memesan kopi (waks, ngopi ya?), dan aku menghisap rokok U Mild. "Aku bangga sebagai orang Dayak pertama yang pernah menginjakkan kaki di Greenland, Kutub Utara," katanya. Siapa dia? Hehehe, mau tau aza.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Erma Suryani Ranik (33), berniat menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Kalbar periode 2009-2011. Ia berencana mengambil formulir pendaftaran di sekretariat KPU Kalbar, Senin, (30/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Target saya tidak hanya menjadi anggota DPD, tetapi wakil ketua DPD RI," kata wanita yang kupanggil Kak Erma. Tadi, ia terlihat serius mengerjakan sesuatu di komputernya di kantor EC Indonesian FLEGT Support Project. Maklumlah, dengan pengalaman dan kapasitasnya yang bikin merinding itu, ia bekerja sebagai konsultan pemberdayaan masyarakat pada lembaga kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan Uni Eropa. Lembaga tersebut berkantor di kompleks Dinas Kehutanan Kalbar, dengan fokus pelestarian hutan (kalo gak salah sih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan Erma ikut dalam bursa DPD karena pengalamannya bertahun-tahun dalam pemberdayaan masyarakat di LSM Pancur Kasih, Pontianak. Selama empat tahun lebih, dia bekerja sebagai wartawan majalah Kalimantan Review.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, ia menjadi aktivis pemberdayaan masyarakat yang banyak melakukan kegiatan lapangan di pedalaman Kalbar. Ia juga telah berkali-kali menjadi pembicara seminar di luar negeri. (Gue ngeri kalo mereview pengalamannya yang segunung itu. Keren abiz!)&lt;br /&gt;"Pengalaman itu yang meyakinkan saya untuk ikut bertarung dalam bursa anggota DPD. Saya ingin ikut berperan serta membangun Kalbar," kata Erma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mempersiapkan tim untuk mengumpulkan dukungan berupa fotokopi KTP. Tim tersebut tersebar di 14 kabupaten/kota di Kalbar. Hingga saat ini, tim tersebut telah menumpulkan sekitar 1.300 KTP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meskipun ketentuan menyebutkan jumlah dukungan minimal 2.000, target saya mengantongi 4.000 KTP," ujar wanita yang masih melajang ini. (Waktu kutanya, kok masih sendiri, dia menjawab: segala seuatu indah pada waktunya. Hemmm...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana, rekans, mau kan dukung srikandi Dayak bertarung dalam bursa DPD? Jangan cuma senyum atau mengangguk. Buktikan pada 9 April 2009. Caranya? Hehe, ada deh! (end)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-2227685426588590831?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/2227685426588590831/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/06/di-sebuah-kantin-ia-bercerita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/2227685426588590831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/2227685426588590831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/06/di-sebuah-kantin-ia-bercerita.html' title='Di Sebuah Kantin, Ia Bercerita'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SGYdmuQJYxI/AAAAAAAAAHo/M1cjrtpyZAc/s72-c/082706_endi_Erma_Suryani_Ranik_c.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-3977919230548557127</id><published>2008-06-16T19:56:00.002+07:00</published><updated>2008-06-16T20:05:51.188+07:00</updated><title type='text'>Aku iri melihat orang bisa tertawa lepas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SFZlJzTyT4I/AAAAAAAAAHg/H26dIqnwzRo/s1600-h/DeadlineStress.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SFZlJzTyT4I/AAAAAAAAAHg/H26dIqnwzRo/s320/DeadlineStress.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212464837794353026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saat aku memandang ke pinggir jalan dari atas sepeda motorku yang melaju sambil ngadat-ngadat, tak jarang terlihat beberapa orang sedang bersantai sambil tertawa terbahak-bahak. Atau, ada anak dan ibu yang berbagi senyuman, sementara sang ayah asyik berbicara dengan...entah siapa, mungkin rekan bisnis, teman sekerja, atau bukan siapa-siapa. Atau, ada siswa SMU yang tanpa beban bercengkrama di sebuah kursi panjang, duduk agak mengangkang dengan rok nyaris tersibak karena badan bergoyang-goyang oleh tawa bahagia atau canda ceria. Huahhh...iri aku! Iri-iri-iri-iri! Mereka begitu menikmati hidup, mengapa aku tidak bisa?!&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di atas motorku yang super boros menenggak bensin tanpa ampun, aku terus berpikir. Mengapa aku harus iri? Mengapa aku harus sirik? Mungkin karena ketidak mampuanku menjalani hidup seperti mereka.&lt;br /&gt;Bisa saja, mereka tampak bahagia, enjoy, happy, tapi di dalam hati, siapa tahu? Tapi, ah, tidak. Tetap saja aku iri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-3977919230548557127?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/3977919230548557127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/06/aku-iri-melihat-orang-bisa-tertawa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3977919230548557127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/3977919230548557127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/06/aku-iri-melihat-orang-bisa-tertawa.html' title='Aku iri melihat orang bisa tertawa lepas'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SFZlJzTyT4I/AAAAAAAAAHg/H26dIqnwzRo/s72-c/DeadlineStress.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-1712955189196765555</id><published>2008-05-14T18:52:00.001+07:00</published><updated>2008-05-14T18:54:34.432+07:00</updated><title type='text'>Tokoh Persda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SCrSpY1A49I/AAAAAAAAAHY/Mx6gq0J7EDs/s1600-h/20080428bian%2B218.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SCrSpY1A49I/AAAAAAAAAHY/Mx6gq0J7EDs/s320/20080428bian%2B218.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5200200328233935826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tokoh persda Kompas Gramedia saat bertemu Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta (Foto dari http://bechipersda.blogspot.com)&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-1712955189196765555?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/1712955189196765555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/05/tokoh-persda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1712955189196765555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1712955189196765555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/05/tokoh-persda.html' title='Tokoh Persda'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SCrSpY1A49I/AAAAAAAAAHY/Mx6gq0J7EDs/s72-c/20080428bian%2B218.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-319714197230402778</id><published>2008-05-03T18:21:00.003+07:00</published><updated>2008-05-03T18:26:03.268+07:00</updated><title type='text'>Demi Mama yang Terkena Stroke</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SBxLJU16jDI/AAAAAAAAAHQ/IcBnWYIeUvs/s1600-h/C8608780-1275-42B9-BDCE-AA9F38506072.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SBxLJU16jDI/AAAAAAAAAHQ/IcBnWYIeUvs/s320/C8608780-1275-42B9-BDCE-AA9F38506072.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196110693664459826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Gadis itu melumurkan cream buatan Thailand ke telapak kaki dan sekujur betis. Terasa lembut dan sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya terdorong belajar pijat refleksi karena mama terkena stroke," ujar Yanti (21), yang baru satu minggu bekerja di salon The Guh Wujaya Negara.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Matanya seperti hendak berkaca-kaca saat menceritakan kisah itu. Sementara jari-jarinya yang lincah dan kokoh mulai memijat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap jari kaki disusurinya, telapak kaki ditekan-tekan dan dipijat perlahan. Otot betispun 'diobok- oboknya'. Sesekali, ia kembali mencolek cream, dan melumurkannya di bagian kaki yang hendak dipijat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dua tahun mama saya bolak-balik masuk rumah sakit. Mama terserang stroke, akibat operasi di perutnya," lanjutnya. Melihat kondisi orangtuanya itu, cewek tamatan SMU tahun 2006 ini, memutuskan ikut kursus pijat refleksi. Selama 3 bulan, ia belajar di sebuah tempat kursus di Jalan Danau Sentarum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekitar dua bulan mengikuti kursus, ia mencoba memijat mamanya. "Yah, daripada ke rumah sakit dan minum obat terus. Apalagi saat itu mama hanya bisa duduk di kursi roda," kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dipijat sekitar satu setengah bulan, kondisi mamanya berangsur membaik.Yanti mengisahkan, mamanya mulai bisa berjalan perlahan dengan tongkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi itu dulu. Saat ini mama sudah sembuh, bahkan bisa mengendarai sepeda motor sendiri. Mama bekerja sebagai guru si sebuah SD negeri," ujanya, kali ini dengan wajah berseri-seri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti yang tinggal di Jalan Suwignyo, Sungai Jawi, sebelumnya pernah bekerja di salon Johnny Andrean di Matahari Mal. "Di salon itu hanya enam bulan habis kontrak. Kalau mau melanjutkan, harus daftar dari awal lagi," katanya. Sebelum bekerja di salon The Guh, ia sempat bekerja di outlet lipstik di mal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cara memijat di salon rupanya berbeda dengan yang saya peroleh saat kursus," ujarnya. Memijat di salon, kata Yanti, memerlukan variasi yang berbeda. Namun ia sulit menceritakan, seperti apa variasi yang saling berbeda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau pijat refleksi yang dipelajari waktu kursus, bisa untuk melihat penyakit. Caranya dengan memijat jari-jari kaki, akan ketahuan sakit di kepala atau perut. Tetapi memijat di salon ternyata tidak boleh begitu. Harus disesuaikan dengan apa maunya pelanggan," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti masih dalam masa percobaan di salon The Guh. Pekerjaannya diawasi supervisor. Terkadang ia mendapat teguran, jika dianggap salah. "Ini masa penyesuaian, saya harus menemukan bagaimana cara memijat yang cocok untuk pelanggan salon ini," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel terkait: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pijat Refleksi dan Secangkir Kopi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-319714197230402778?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/319714197230402778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/05/demi-mama-yang-terkena-stroke.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/319714197230402778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/319714197230402778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/05/demi-mama-yang-terkena-stroke.html' title='Demi Mama yang Terkena Stroke'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SBxLJU16jDI/AAAAAAAAAHQ/IcBnWYIeUvs/s72-c/C8608780-1275-42B9-BDCE-AA9F38506072.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-8720244161431956561</id><published>2008-05-03T18:09:00.005+07:00</published><updated>2008-05-03T18:25:10.390+07:00</updated><title type='text'>Pijat Refleksi dan Secangkir Kopi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SBxJ4016jCI/AAAAAAAAAHI/X5RBAErJdbg/s1600-h/the_guh_salon.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SBxJ4016jCI/AAAAAAAAAHI/X5RBAErJdbg/s320/the_guh_salon.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196109310684990498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;*Relaksasi di Akhir Pekan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda pekerja keras, cobalah sekali-kali berelaksasi di akhir pekan. Beban pikiran dan ketegangan bisa dilepaskan dengan pijat refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ruangan berukuran 8 x 8 meter, didominasi warna merah diselingi hitam, dengan beberapa cermin lebar di sepanjang dinding. Itulah salon The Guh Wijaya Negara, Lantai 2 Ramayana Mal, satu- satunya di Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kursi hitam yang empuk telah menanti. Di depannya ada kursi kecil penyangga kaki. Sebelum dipijat, kaki direndam dalam sebuah baskom berisi air hangat dan busa sabun.&lt;br /&gt;Setelah sekitar lima menit direndam, kaki diangkat ke kursi penyangga. Yanti (21) si pemijat mengeringkan kaki dengan handuk kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu melumurkan cream di telapak kaki dan betis. Jemarinya yang lincah mulai beraksi.&lt;br /&gt;"Terasa ndak, Pak?" tanyanya. Memang, pijatannya terlalu lembut awalnya. Selang beberapa saat, jari- jarinya mulai 'garang'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telapak kaki dan urat-urat di sekitar jari kaki mulai terasa sakit. Melihat wajah yang meringis, Yanti tersenyum. "Sekarang saya sudah mengeluarkan tenaga dalam," candanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menikmati pijatan Yanti, Anda boleh tertidur nyenyak di sandaran kursi. Atau sambil membaca, meski majalah yang tersedia tampak kumal dan 'kadaluwarsa'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan berpendingin itu cukup sepi di hari Sabtu (3/5). "Memang agak sepi, biasanya tak sampai sepuluh orang yang pijat," kata Yanti. Pengunjung ternyata lebih banyak yang potong rambut, cuci rambut atau creambath serta meluruskan rambut atau bonding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti mengenakan hem putih yang lengannya dilipat sampai siku. Karyawan perempuan lainnya berbusana sama, namun ditambah jas hitam. Tak ada tanda pengenal yang mereka kenakan, selain bordiran nama salon di jas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cermin besar, tampak dua wanita sedang creambath. Seorang lagi sedang bonding. Karyawan salon yang sedang tak bekerja, bercengkrama sesama temannya. Suara permainan anak-anak di sebelah salon, kadang terdengar saat pintu kaca itu dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti terus memijat. Setelah jari-jari kaki mengering, ia melumurkan lagi cream buatan Thailand itu. "Ada jenis penyakit yang bisa diketahui lewat pijatan di jari kaki," ujarnya.&lt;br /&gt;Memang, saat ia memijat salah satu jari kaki, rasanya sakit sekali. "Oh, Bapak sakit maag ya," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pijatan beralih ke betis. Urat-urat yang bersimpul terasa diurai satu per satu. Kantukpun menyerang. "Kalau ngantuk boleh tidur, nanti saya bangunkan kalau sudah selesai," ucapnya lagi. Pijatan nikmat itu pun membaur dalam tidur yang nyenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 40 menit, Yanti sibuk dengan cream, jari kaki, dan betis. Lagi, ia melumurkan cream sejuk itu secara merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kedua kaki diselimuti handuk kecil. Hampir sepuluh menit kemudian, barulah ia kembali dan mengelap sisa-sisa cream.Kemudian menaburkan bedak ke seluruh telapak kaki dan betis. "Sudah selesai, Pak," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda cukup membayar Rp 16 ribu untuk pijat refleksi. Anda pun boleh memberi tips pada pemijat yang telah melayani. Jumlahnya terserah Anda, tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai pijat, Anda bisa bersantai di food court yang berjarak 5 petak dari salon. Menghirup secangkir good day coolin' cofee, sambil menghisap rokok mild. Makanan lain siap menggugah selera. Ada bakso, cap cay, serta fast food.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana Pak, enak pijatan Yanti tadi?" tanya Rendra (25) sambil menyeruput kopinya. Maklum, ia bertugas sebagai supervisor atau pengawas di salon The Guh Wijaya Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugasnya memastikan para karyawan disiplin dan melayani pelanggan dengan baik.&lt;br /&gt;Pria asal Jakarta ini baru 2 minggu menjadi supervisor di Pontianak. Ia menggantikan sementara supervisor yang telah mengundurkan diri. Sebelumnya, ia pernah menjadi supervisor di salon The Guh di Bali dan Salatiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masih Sepi&lt;/span&gt; Salon ini berpusat di Mal Mangga Dua Jakarta. Sudah membuka sekitar 100 cabang di Indonesia. "Cabang yang dibuka di Pontianak baru satu-satunya di Ramayana ini. Kalau tidak salah, dibuka sekitar tahun 2006. Belum ada rencana membuka cabang lain di sini, karena masih sepi," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, pengunjung salon The Guh memang belum banyak. Hanya berkisar 25-an orang di hari biasa dan sekitar 50-an orang di hari Minggu. Itupun kebanyakan pengunjung yang potong rambut dan keramas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peminat pijat refleksi hanya berkisar 5 sampai 10 orang saja per hari. Khusus untuk pijat refleksi, mereka memang kekurangan tenaga. "Hanya ada dua karyawan untuk pijat refleksi. Diharapkan mereka bisa menurunkan ilmunya kepada karyawan lain," ujar Rendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salon ini pun tidak menyelenggarakan trainning bagi karyawan baru. "Kami hanya menerima karyawan yang siap pakai. Mungkin sebelumnya mereka pernah ikut training di tempat lain, atau pindahan dari salon lain, itu yang kita terima," papar Rendra lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karyawan ini, lanjut Rendra, tidak diikat kontrak. Setelah melewati tiga bulan masa percobaan, mereka akan diangkat menjadi karyawan. Kinerja mereka berikutnya yang akan menentukan, apakah dipertahankan atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Disiplin dan Harga Terjangkau&lt;/span&gt; "Kami lebih menekankan kedisplinan. Selain itu, Pak Teguh sebagai pemilik melarang karyawan berdandan secara berlebihan. Cukup dengan make up sederhana, pakaian yang pantas dan sikap yang sopan. Ini untuk menghindarkan penilaian negatif orang-orang terhadap karyawan salon," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salon ini pun menggondol berbagai penghargaan. Seperti tertulis di brosurnya, meraih predikat salon berprestasi tahun 1996, juara Asia tahun 1995, dan piala bergilir Mendiknas. Sayang, tidak dijelaskan kategori apa saja yang dinilai, sehingga mendapat penghargaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karyawan salon The Guh Wijaya Negara cabang Pontianak sejumlah 13 orang. Tujuh orang capster yang melayani cuci rambut, pijat refleksi, dan facial. Empat orang stylist yang melayani potong rambut, dan sisanya kasir dan supervisor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salon dibuka setiap hari, termasuk hari besar dan libur, mulai jam 10.00 sampai 21.00 WIB. Pola kerja karyawan, satu minggu kerja full-time sesuai jam buka, minggu berikutnya sesuai shif 6 jam, begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa keistimewaan salon ini dibandingkan salon lain? "Harga bersaing dan lebih terjangkau jika dibandingkan dengan salon lain. Salon ini untuk semua kalangan, dari menengah ke bawah sampai menengah ke atas," kata Rendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar gambaran, biaya potong rambut Rp 7 ribu, creambath Rp 8 ribu, pijat relfeksi Rp 16 ribu. Bandingkan misalnya dengan salon Johnny Andrean, potong rambut Rp 7 ribu, creambath Rp 14 ribu, pijat refleksi Rp 18 ribu. Salon lain, Rudi Hadisuwarno, potong rambut Rp 20 ribu, creambath Rp 20 ribu, dan pijat refleksi Rp 30 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir pekan, saatnya anda &lt;span style="font-style: italic;"&gt;escape&lt;/span&gt; dari kesibukan kerja. Pijat refleksi boleh dicoba. Tergantung mana yang sesuai dengan selera dan kocek Anda. Iye ndak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;Artikel terkait: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Demi Mama yang Terkena Stroke&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-8720244161431956561?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/8720244161431956561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/05/pijat-refleksi-dan-secangkir-kopi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8720244161431956561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8720244161431956561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/05/pijat-refleksi-dan-secangkir-kopi.html' title='Pijat Refleksi dan Secangkir Kopi'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SBxJ4016jCI/AAAAAAAAAHI/X5RBAErJdbg/s72-c/the_guh_salon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-1028930100427712304</id><published>2008-05-02T18:20:00.002+07:00</published><updated>2008-05-02T18:23:53.007+07:00</updated><title type='text'>Pojok Bandara, Kisah Parkir dan Supir Taksi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SBr5aE16jBI/AAAAAAAAAHA/bejvToJPfhw/s1600-h/hang_nadim01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SBr5aE16jBI/AAAAAAAAAHA/bejvToJPfhw/s320/hang_nadim01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195739346497080338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ada-ada saja kelakuan para supir taksi Bandara Supadio. Seperti siang itu, Rabu (30/4), mereka meneriaki dua mobil Kijang yang salah parkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, kedua mobil berwarna biru dan abu-abu metalik menutupi jalur lewat mobil lain. Tepatnya di depan terminal kedatangan dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambah lagi, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Di jalur itu, sudah antri belasan mobil yang hendak lewat.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Gerak mobil-mobil itu terhambat karena ulah mobil kijang tadi. Belasan supir taksi berteriak-teriak sambil memukulkan sesuatu ke lantai, sehingga menimbulkan suara gaduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua mobil yang  menyumbat’ jalur itu diam tak bergerak. Tampak seorang supir taksi menyeruak hujan, mengintip ke jendelanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ndak ada orang,” teriaknya sambil berlari kembali ke terminal. Bajunya basah oleh titik-titik hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil-mobil yang antre mau lewat mengeluarkan suara klakson yang memekakkan telinga. Para supir taksi pun ikut-ikutan menbunyikan klakson dari mobil mereka. Gaduh sekali, ditambah teriakan tak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, mana yang punya?” teriak seseorang. Tiba-tiba seorang lelaki berbaju coklat datang terburu-buru. Ia berlari di bawah hujan, menuju mobil paling depan berwarna biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para supir taksi meneriakinya,  Huuu...!!!” Mobil itupun segera bergerak ke areal parkiran.&lt;br /&gt;Tetapi jalur itu masih saja tersumbat’ karena masih tersisa mobil warna abu-abu metalik. Sementara para pengemudi yang antre di belakangnya semakin tak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat supir taksi akhirnya berinisiatif mendorong mobil itu. Terbukalah celah yang cukup untuk mobil-mobil lain lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tunggu siapa yang punya!” gerutu seorang supir taksi. Lama kemudian, seseorang berkemeja hijau memasuki mobil itu. Anehnya, para supir tidak berteriak-teriak seperti tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil itu mundur, sampai ke depan terminal keberangkatan. Begitu ada mobil lain yang terhalang, mobil itu maju lagi memberi jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru kemudian mundur lagi dan berhenti di depan terminal keberangkatan. Tampak tiga orang berseragam warna hijau daun masuk terburu-buru. Tidak jelas dari kesatuan mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, orang berpangkat ndak tau aturan parkir!” gumam seorang supir taksi.&lt;br /&gt;Begitulah kacaunya pengamanan parkir di Bandara Supadio. Tak tampak petugas yang turun tangan, selain para supir taksi yang berteriak-teriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, petunjuk lokasi parkir mobil jelas terpampang. Tetapi beberapa pengguna mobil masih saja nakal’. Memarkirkan mobilnya di area yang seharusnya bebas, di depan terminal keberangkatan dan kedatangan dalam negeri. Ancorrr, ancor!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-1028930100427712304?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/1028930100427712304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/05/pojok-bandara-kisah-parkir-dan-supir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1028930100427712304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1028930100427712304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/05/pojok-bandara-kisah-parkir-dan-supir.html' title='Pojok Bandara, Kisah Parkir dan Supir Taksi'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SBr5aE16jBI/AAAAAAAAAHA/bejvToJPfhw/s72-c/hang_nadim01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-7006094288170415792</id><published>2008-05-02T18:09:00.004+07:00</published><updated>2008-05-02T18:19:18.660+07:00</updated><title type='text'>Pasar Soedirman di Akhir Pekan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SBr4n016jAI/AAAAAAAAAG4/PMNRzwusVD8/s1600-h/1156583325coolstuff_GHXL08551796_i.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SBr4n016jAI/AAAAAAAAAG4/PMNRzwusVD8/s320/1156583325coolstuff_GHXL08551796_i.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195738483208653826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;*Hujan dan Kepingan DVD yang Masih Berkibar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keping-keping VCD dan DVD bajakan masih berkibar di Pasar Soedirman. Angin panas tengah hari menerpa, membuatnya berputar dan bergoyang-goyang. Hingar bingar musik memekakkan telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah lapak, tampak penunggunya sedang makan. Keping-keping digital itu sebagian digantung di depan lapak, layaknya tirai yang terjuntai.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagian lain ditata rapi, dilengkapi DVD player dan televisi 14 inchi. Beberapa judul film bercampur baur dengan lagu dangdut dan house music. Sekeping DVD dijualnya seharga Rp 7.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tampak curiga saat gue menyakan sumber DVD ini. "Abang petugas kah? Mau ada razia?" tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ia curiga dengan tubuh tegap dan sepatu boot kulit ini rupanya. "Tidak, tenang aja, saya perlu beberapa keping DVD untuk ditonton di rumah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memilih dua keping film lama, tawar menawar hanya berhasil menurunkan harga menjadi Rp 5.000 per keping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjual itu menggeleng saat ditanya, apakah ia juga menjual film dewasa. "Ndak berani, Bang, takut razia," kilahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi beberapa saat kemudian, ia menunjukkan beberapa judul film kategori xxx atau biasa disebut bokep. Harganya? Tergantung jenisnya ternyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film Barat dan Mandarin dipasang Rp 15 ribu. Sedangkan bokep lokal, maksudnya pemainnya orang Indonesia, dibanderol Rp 20 ribu. 'Tak bisa ditawar lagi, harga mati," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hikayat Pasar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Panas masih memanggang Pasar Soedirman, Sabtu (26/4) tengah hari. Amat (35) juru parkir (jukir), tampak sibuk menata kendaraan di Jalan Nusa Indah III. Agak sepi, Bang. Bulan tua kali,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menceritakan suasana sepi di kawasan Pasar Soedirman di akhir pekan. Barangkali, duganya, karena saat ini memasuki tanggal tua. Saat dompet para tukang belanja sedang tipis-tipisnya.&lt;br /&gt;Ia sudah delapan tahun menjadi jukir di depan sebuah toko sepatu. Sehari hanya bisa mengantongi antara Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu. "Giliran saya dari jam sembilan pagi sampai jam dua siang," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar Soedirman merupakan kawasan perbelanjaan umum yang terbentang dari Jalan Nusa Indah I, II, dan III. Tenda-tenda serta lapak-lapak pedagang tampak bertebaran di mana-mana. Mereka menjual pakaian, perhiasan emas, VCD dan DVD bajakan, makanan, tas, kaca mata, sampai tukang jahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekitarnya juga menjulang rumah toko (ruko). Ada yang hanya satu lantai, sampai tiga lantai. Barang- barang yang dijual di ruko seperti sepatu dan peralatan elektronik.&lt;br /&gt;Ibu-ibu tampak berjalan perlahan mengitari lapak-lapak. Di tangan mereka, tampak kantong besar belanjaan, sambil lengan lain menuntun anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari situ, lapak-lapak lain berderet. Beberapa pembeli tampak mengerumuni penjual kacamata hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ray-band atau biasa dilafalkan reben, sangat cocok untuk suasana panas begini. "Barangnya bagus, Bang, dari Semarang," promosinya. Harga berkisar belasan sampai puluhan ribu per kacamata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iapun ngecap, "Kadang kalau di mall habis, mereka beli di sini, Bang. Pilih yang bagus-bagus, lalu dijual di mall. Harganya pasti mahal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam deretan kacamata berbagai bentuk, masih ada model jaman dulu (jadul). Berbingkai besi kecil berwarna kuning, kaca menyerupai bentuk segitiga berwarna gelap. "Ya, ini model kacamata yang terkenal jaman film Rambo," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hujan dan Segelas Es Sari Kacang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, panas yang begitu menyengat berganti hujan lebat. Orang-orang berlarian menuju emperan toko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berteduh dengan wajah kucel, tangan menenteng belanjaan. Bocah-bocah ingusan tampak ingin bermain hujan. "Tadi Mama bilang, jangan ikut," ucap seorang nyonya memarahi anaknya.&lt;br /&gt;Di ujung sebuah toko sepatu, tampak berjejer warung makanan dan minuman. Meski hujan, kerongkongan yang kering ingin 'diguyur' minuman dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segelas es sari kacang terhidang. Sari kacan hijau giling dipadu gula merah, sungguh mengundang selera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di warung sebelah, asap bakso mengepul meningkahi sejuknya udara. Aromanya yang harum, kontras dengan suasana warung yang makin lama makin tergenang luapan hujan.&lt;br /&gt;Pak Tua penjual es duduk mengangkat kaki. Luapan air hujan sudah makin menggenang di lantai semen. Istrinya tampak sibuk mengangkat sampah-sampah plastik yang menghalangi aliran air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Tua berkisah tentang asal mula Pasar Soedirman. Awalnya, kawasan Jalan Nusa Indah merupakan kompleks militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ berdiri asrama tentara, lapangan bola, dan rumah sakit (rukit). Ia mengingat, kompleks militer itu dibongkar tahun 1970-an, lalu dibangunlah petak dan lapak untuk berjualan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu aku jualan es 15 rupiah segelas. Kalau sekarang si udah tiga ribu segelas,” kenangnya sambil terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papan namanya udah ndak ada Bang, kan orang udah tahu kalau ini Pasar Soedirman,” ujarnya. Memang, Anda tidak akan menjumpai papan nama pasar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keasyikan bercerita, Pak Tua tak menyadari sebelah sandalnya 'berlayar' mengikuti arus luapan air di kolong meja. Buru-buru ia mencari, sampai akhirnya sandal jepit kuning ditemukan hanyut bersama sampah-sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan masih garang. Sesekali percikan air membasahi meja. Dua wanita berlari kecil mendekat. Memesan es lalu duduk berhadapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau belanjakah? "Mau jalan-jalan saja sih, tapi keburu hujan," katanya. Mereka bekerja di sebuah daeler kendaraan bermotor, sekitar 50 meter dari tempat itu.&lt;br /&gt;Tidak belanja di mall? 'Tergantung keperluannya. Ada jenis pakaian yang hanya ada di mall, jadi belinya di mall. Ada juga merk dan kualitasnya sama dengan yang dijual di mall, ternyata dijual juga di sini. Kita pilih yang itu dong," ujarnya sedikit genit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanja di sini, kalau ndak bisa nawar, bisa kena ketok,” katanya lagi. Kena ketok, maksudnya penjual memasang harga mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah, selembar baju kaus wanita, harga awalnya bisa mencapai Rp 150 ribu. Tetapi jika getol menawar, harga bisa sangat turun menjadi Rp 35 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita-kita ini kan sukanya shoping, Bang. Soal tawar-menawar udah kerjaannya,” ucapnya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan di Pasar Soedirman mulai reda, meski masih menyisakah gerimis. Orang-orang kembali lalu lalang, keluar dari tempat berteduh. Sebagian tampak mengelap sepeda motor, lalu tancap gas membelah senja yang semakin merah. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-7006094288170415792?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/7006094288170415792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/05/pasar-soedirman-di-akhir-pekan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/7006094288170415792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/7006094288170415792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/05/pasar-soedirman-di-akhir-pekan.html' title='Pasar Soedirman di Akhir Pekan'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SBr4n016jAI/AAAAAAAAAG4/PMNRzwusVD8/s72-c/1156583325coolstuff_GHXL08551796_i.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-9161841753029219855</id><published>2008-04-28T17:31:00.002+07:00</published><updated>2008-04-28T17:42:37.900+07:00</updated><title type='text'>Saya Sering Alami Dis-Orientasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SBWoC016i_I/AAAAAAAAAGw/QsGC7w3ox0k/s1600-h/pusingdalem.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SBWoC016i_I/AAAAAAAAAGw/QsGC7w3ox0k/s320/pusingdalem.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194242511739718642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Meliput berita di lapangan memang tak mudah. Seringkali aku mengalami dis-orientasi. Pengalaman yang pernah kudapat beberapa tahun lalu, seolah menguap ditelan angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua 'rumus kimia' jurnalistik hapal di luar kepala. Teknik menulis cantik dan cepat telah dikuasai. Namun semua itu segera terbang saat di lapangan. Bagai asap rokok melayang, bergulung-gulung di udara. Semakin hilang, sampai akhirnya bubar diceraikan angin.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Padahal, segalanya sudah diajarkan oleh para pendekar jurnalistik Persda Kompas Gramedia. Mulai Sjamsul Kahar dari Aceh, Dahlan dari Makasar, Pitoyo dari Bandung, Ahmad Subechi dari Jakarta, banyaklah pokoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka orang-orang haibat di mataku.&lt;br /&gt;Tapi ya itulah, betapa bingungnya aku menghadapi berbagai realitas sosial di lapangan. Meski saat masih di kantor, sudah mendiskusikan rencana liputan bersama teman-teman. Tetap saja otak yang sudah mulai usang ini perlu scanning lebih lama. Kasihan betul ya diriku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kubertanya pada angin lalu. Sampai kapan kuharus begini? Apakah aku termasuk 'the wrong man' di tempat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, mungkin aku terlalu pesimis. Kata orang, sikap pesimis merupakan cikal bakal kegagalan&lt;br /&gt;Tadi malam baru saja aku mengisi lembaran dari PT Kapuas Media Grafika. Salah satu isinya, mungkin berupa janji untuk tidak mengeluh. Aku sudah menandatanganinyadan bertekad mematuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan ini proses yang normal. Aku ingat cerita pengalaman para pendekar jurnalistik yang namanya kusebutkan tadi. Pak Sjamsul misalnya, pernah hampir satu jam bengong di depan mesin ketik nya. Saat beritanya selesai diketikpun, segera disobek redaktur.&lt;br /&gt;Tentu, pengalaman itu semakin menempa dirinya, hingga muncul sebagai wartawan senior yang disegani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa dong? Malu juga rasanya, umur makin tua, kinerja makin mundur. Buset! Aku menyadari memang aku tidaklah terlalu muda lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam yang kian sepi, tanpa bintang dan rembulan, aku duduk menghabiskan rokok terakhirku. Masih kulihat transTV yang mengajakku bercanda. Tapi tubuh ini terlalu letih.&lt;br /&gt;Sudahlah, malam ini aku mau berdamai dengan tubuhku. Aku mau istirahat, melelapkan pikiran dalam mimpi. Hoaaahmmm...!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-9161841753029219855?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/9161841753029219855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/04/saya-sering-alami-dis-orientasi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/9161841753029219855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/9161841753029219855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/04/saya-sering-alami-dis-orientasi.html' title='Saya Sering Alami Dis-Orientasi'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/SBWoC016i_I/AAAAAAAAAGw/QsGC7w3ox0k/s72-c/pusingdalem.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-8193236305947603546</id><published>2008-04-15T18:23:00.001+07:00</published><updated>2008-04-15T18:32:25.794+07:00</updated><title type='text'>Aku baru kembali</title><content type='html'>Kawan-kawan&lt;br /&gt;Aku baru kembali dari pedalaman&lt;br /&gt;Kampung nun jauh di pedalaman &lt;br /&gt;Kata yang pernah ngukur sih, sekitar 180 KM dari Pontianak&lt;br /&gt;So, baru bisa jenguk blog nih&lt;br /&gt;Belum sempat update lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-8193236305947603546?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/8193236305947603546/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/04/aku-baru-kembali.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8193236305947603546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/8193236305947603546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/04/aku-baru-kembali.html' title='Aku baru kembali'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-5718088063172860440</id><published>2008-02-29T09:37:00.002+07:00</published><updated>2008-02-29T09:55:10.131+07:00</updated><title type='text'>Pamit Sementara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R8dzzDlwLWI/AAAAAAAAAGo/Nh8W86snbp0/s1600-h/puj78.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R8dzzDlwLWI/AAAAAAAAAGo/Nh8W86snbp0/s320/puj78.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5172230018032479586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Rekan-rekan yang baik&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan agak berat hati, saya harus berpamitan kepada kalian semua. Kalian adalah teman-teman yang luar biasa, selalu memberi semangat dan motivasi serta pencerahan. Terhitung sejak 1 Maret sampai Awal April 2008 (belum jelas kapan tanggalnya), saya pamitan dulu. Off sementara di dunia cyber kurang lebih 1 bulan ke depan. Saya akan kembali ke kampung halaman saya di pedalaman Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, tempat terpencil yang belum terjangkau oleh signal starone (koneksi inet saya menggunakan CDMA StarOne). Itu pula sebabnya, aktivitas cyber tak akan bisa dijalankan dalam perode itu. Banyak terima kasih untuk kunjungan kalian semua ke blogku yang sebetulnya jarang diupdate ini. Selamat berjuang, semoga kita bisa berjumpa lagi, meski hanya di dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Salam hormat,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;::puj78::&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-5718088063172860440?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/5718088063172860440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/02/pamit-sementara.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/5718088063172860440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/5718088063172860440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/02/pamit-sementara.html' title='Pamit Sementara'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R8dzzDlwLWI/AAAAAAAAAGo/Nh8W86snbp0/s72-c/puj78.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-306256706809846929</id><published>2008-02-22T15:49:00.005+07:00</published><updated>2008-02-29T09:34:46.265+07:00</updated><title type='text'>Pelayanan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R76fDDMItfI/AAAAAAAAAGg/Qnljy_Q7oN8/s1600-h/kopi1on4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169744297012540914" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R76fDDMItfI/AAAAAAAAAGg/Qnljy_Q7oN8/s320/kopi1on4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saat pernah jauh dari Kalimantan Barat, satu hal yang selalu membuat saya rindu tanah leluhur adalah warung kopi (warkop). Suatu siang di Balikpapan, Kalimantan Timur, awal tahun 2003, saya dan seorang rekan sekantor sedang kepanasan setelah “memburu berita”. Saya memberi usul, untuk tidak kembali ke kantor dulu. “Kita cari warkop,” ajak saya pada rekan tadi. Dia mengiyakan saja, dan saya terus memacu motor sambil menebar pandangan di pinggir-pinggir jalan yang kami lalui. Sial, tak sebiji warkop pun kami temui, malah badan tambah capek. Kami kembali ke kantor dan membuat sirop dingin sendiri. Sambil melepas lelah, kami bicara ngalor-ngidul.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Heran, tak ada warkop di Balikpapan ya,” gerutu saya. Teman saya yang kami panggil professor--karena wataknya yang pendiam, dandanan yang formil dan kacamata tebalnya selalu melorot—mengangguk-angguk. “Iya sih, Pak,” jawabnya. “Balikpapan ini kota bisnis, orang-orang tak ada waktu untuk nongkrong di warung kopi.” Ah, bathin saya, Pontianak dan Ketapang di Kalbar juga kota bisnis, tapi warung kopi bagai tiada habisnya di pinggir-pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebetulan, Pak, saya pernah membaca hasil penelitian,” lanjut rekan tadi. Dengan wajahnya yang serius, dia menjelaskan hasil penelitian yang menceritakan korelasi keberadaan suatu warkop dengan watak masyarakat. Menurut yang dia baca, semakin banyak jumlah warkop di suatu kota, semakin mengindikasikan bahwa masyarakat kota tersebut pemalas! Mereka lebih senang nongkrong dan membual di warkop, ketimbang bekerja giat. Mendengar penjelasannya, pikiran saya segera melayang ke tanah leluhur Kalbar. Mulai dari Ketapang, saya kerap menjumpai orang-orang berseragam PNS kongkow-kongkow di warkop. Di Pontianak, lebih dahsyat lagi. Warkop hadir dengan beragam nuansa. Tempat cuci mobil di siang hari, disulap jadi warkop di malam hari lengkap dengan layar lebar untuk menonton pertandingan sepak bola. Di daerah Siantan, ada warkop non-stop 24 jam, juga lengkap dengan beberapa tv plasma dan layar lebar, yang menampilkan siaran dari tv cable. Itulah nuansanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ini hasil penelitian lho Pak, jangan tersinggung,” lanjut rekan saya. Ah, buat apa tersinggung, toh itu hasil penelitian yang mencerminkan salah satu sisi kehidupan masyarakat. Meski, saya juga punya pendapat berbeda. Bagi saya, meski mungkin benar hasil penelitian yang dibicarakan rekan tadi, keberadaan warkop telah juga menampilkan realita lain. Warkop di Kalbar telah menjadi wahana social dengan beragam nuansa. Di warkop, segala sisi kehidupan menjadi lengkap. Orang membicarakan mulai dari politik, hukum, lingkungan, pekerjaan, bisnis, atau sekedar nongkrong dan membicarakan nomor buntut, judi bola, atau cuci mata. Berbagai isu tak terduga bisa jadi justru muncul dari warkop. Siapa bupati dengan dukungan paling besar, siapa anggota dewan yang suka main perempuan, siapa pejabat yang koruptor, sampai siapa yang menghamili si Tini (lho?). Intinya, warkop telah menjadi wahana sosial yang menciptakan nuansa tersendiri bagi bumi khatulistiwa. Itulah sebabnya, saat saya bekerja di luar sana, rasa rindu akan warkop selalu muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2005-an di Samarinda, ibukota Kaltim. Hal yang sama seperti di Balikpapan saya alami. Betapa susahnya jika tak ada warkop untuk nongkrong. Teman yang mengantarkan saja jalan-jalan sampai kesal, karena selera saya terlalu tinggi, katanya. Waks, tinggi bagaimana? Tenyata warkop yang ada dalam bayangan teman saya adalah cafee exelco atau sejenisnya yang biasanya ada di mall-mall. Ternyata, untuk menjelaskan “bagaimana warkop” kepada orang dari kota non-warkop, sangatlah sulit. Dan memang, baik di Balikpapan maupun Samarinda, tak ada sama sekali warkop ala Pontianak atau Ketapang. Ya sudahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pedalaman Kaltim, di sebuah kabupaten baru Kutai Barat, saya punya kenalan seorang bapak yang sudah lumayan berumur. Suatu sore, dia mampir ke kantor saya, dan bercakap-cakap ringan. Bapak ini sangat ramah dan suka melucu, karena itu kami menjadi akrab sekali. Menjelang agak senja, dia pamitan. “Mau minum kopi konyeh,” katanya. Saya heran, apa itu kopi konyeh? Di Kalbar, yang saya tahu hanya kopi pancong. Dengan terkekeh, dia menjelaskan bahwa kata konyeh itu berasal dari bahasa setempat, yang artinya kurang lebih “genit”. Kopi konyeh, kopi yang disajikan oleh orang yang genit dengan suasana yang genit pula, haha. “Begitulah,” Bung, katanya. “Di rumah saya, kopi dan gula tersedia, kurang apa? Tapi heran juga, belum minum kopi rasanya kalau belum ke kopi konyeh,” dia terkekeh lagi. Setelah saya lihat-lihat, tempat kopi konyeh itu pun sebetulnya bukanlah warkop yang bisa menuntaskan rasa rindu saya. Tempat itu berupa kafe-kafe dengan aneka suasana. Ada bir, ada kopi, dan juga ada wanita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya kembali ke tanah leluhur, Kalbar, rasa rindu saya akan warkop akhirnya tuntas sudah. Saya sering nongkrong dan berkumpul dengan teman-teman di tempat ini. Ada beberapa tempat dengan nuansa berbeda, terpilih menjadi warkop favorit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, masalah yang muncul adalah soal pelayanan. Di sebuah warkop yang terus terang saja kopinya tidak enak, saya dan teman-teman sering datang. Cukup lama warkop itu menjadi favorit, karena kami bisa sambil cuci mata. Mengapa? Di sebelah warkop, ada Warung Chinesse Food, yang mengkaryakan anak-anak gadis manisnya menjadi pelayan. Di warkop yang bersebelahan itulah, kami cuci mata sambil ngopi. Gadis di warung sebelah menjadi penarik minat. Mereka sering berpenampilan menggoda, mungkin disengaja agar dagangannya laris. Gadis-gadis yang masih remaja itu biasanya menggunakan t-shirt yang nge-pas, dan celana pendek yang juga ngepas. Belum lagi kulitnya yang putih mulus, dengan wajah bak artis film Korea, alamak! Sambil minum kopi dan melirik-lirik, saya serasa ingin menelan tubuh mereka bulat-bulat! Meskipun kopi yang kami seruput tidak enak, tapi “efek samping” itu rupanya yang justru jadi pemikat. Sampai suatu saat, kami semakin mengetahui bahwa ada yang salah dengan pilihan kami memfavoritkan warkop itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayanan warkop yang terkesan sembarangan dan tidak simpatik mulai terasa menjengkelkan. Saat sepupu saya memesan jahe hangat, pelayannya malah membuatkan es extrajoss. Ketika diminta untuk diganti, dengan santai dan tanpa dosa, pelayan hanya berucap: “Diminum aja bang, kalo diganti nanti bos marah.” Lho?! Selain itu, perilaku “gadis-gadis korea” yang montok dan mulus di warung sebelah telah menampakkan aslinya. Mereka sering berteriak sesama mereka, dan ekspresi wajahnya acuh tak acuh kepada pelanggan. Lengkaplah sudah, dan kami pun menyebutnya sebagai “margin call”, suatu kondisi saat modal tertelan arus fluktuasi pasar finansial dalam forex trading! Jadi, kami menyebutnya sebagai warkop margin call. Tak pernah lagi kami ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menjadi catatan penting adalah konsep pelayanan. Sebuah bank swasta yang mendapat predikat terbaik dari sisi pelayanan, memang membuat kita merasa ditempatkan sebagai nasabah yang selayaknya. Sejak dari satpam sampai kasir, menyapa dengan penuh keramahan. Tak hanya menyapa, tetapi juga pelayanan mereka sangat simpatik. Bandingkan dengan bank Pemerintah, misalnya, yang tega membiarkan nasabah mengantri berjam-jam, tanpa sapaan dan pelayanan yang menyenangkan. Ini sebuah contoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warkop yang terkesan asal jualan, siap-siaplah ditinggal pelanggan. Jangankan warkop, pelacur yang menjajakan selangkangannya pun harus mempunyai konsep pelayanan yang simpatik. Menyapa, tersenyum, sabar, ramah, kalau dipikir-pikir, apa sih susahnya? Apalagi itu dilakukan justru untuk menunjang keberhasilan pelayanan yang dilakukan, apapun bidang usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi beginilah hidup, ia akan selalu hadir berupa paradoks yang menampilkan nuansa aneka dan ragam! &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-306256706809846929?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/306256706809846929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/02/pelayanan.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/306256706809846929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/306256706809846929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/02/pelayanan.html' title='Pelayanan'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R76fDDMItfI/AAAAAAAAAGg/Qnljy_Q7oN8/s72-c/kopi1on4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-7761324573129645575</id><published>2008-02-08T17:44:00.000+07:00</published><updated>2008-02-08T18:17:33.391+07:00</updated><title type='text'>Ajaran “Cinta Kasih” kembali diuji</title><content type='html'>Cover majalah Tempo edisi 4-10 Februari 2008, memuat gambar Soeharto bersama anak-anaknya dengan headline “Setelah Dia Pergi”. Cover itu mengilustrasikan Soeharto duduk di tengah, dikelilingi keenam anaknya, di sebuah meja panjang. Jika diamati secara detil, cover itu mengingatkan pada sesuatu. Apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R6wzdmz35oI/AAAAAAAAAF4/sJgNQhRNZhY/s1600-h/R5UEwNLQY8.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164559456414459522" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R6wzdmz35oI/AAAAAAAAAF4/sJgNQhRNZhY/s320/R5UEwNLQY8.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Segera terbayang, lukisan The Last Supper karya Leonardo da Vinci. Bagi kalangan Kristiani, lukisan itu merupakan “rekaman” peristiwa perjamuan terakhir antara Yesus dengan keduabelas muridnya, sebelum Ia dijatuhi hukuman mati. Jika diamati dengan cermat dan diperbandingkan, memang referensi kita segera mengacu pada The Last Supper. Tak salah lagi, ilustrasi pada cover itu sangat-sangat mirip dengan lukisan karya Leonardo da Vinci!&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Apa yang terjadi kemudian? Ketua Forum Komunikasi PMKRI (Persatuan Mahasiswa Katolik Repulik Indonesia), Hermawi Taslim mendesak agar Tempo segera menarik majalah edisi tersebut. "Kami meminta majalah tersebut ditarik dari peredaran, agar tidak menimbulkan keresahan," kata Hermawi Taslim usai bertemu Pimred Tempo, seperti dikutip okezone (5/2/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan selama 1 jam dengan redaksi Majalah Tempo, memang didapatkan penafsiran yang berbeda antara umat Kristiani dengan Tempo. Hermawi mengatakan, ada 3 poin yang dibahas di dalam pertemuan. Pertama, cover tersebut menyingung hati nurani dan keimanan umat Katolik. Sebab foto penjamuan tersebut merupakan perlengkapan ibadah bagi kaum Kristiani. Kedua, permintaan klarifikasi dan maaf serta pertanggungjawaban dari pihak Tempo. Ketiga, ingin memastikan peristiwa seperti ini tidak terulang lagi, terutama bagi seluruh umat beragama lainnya di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Secara teknis susah ditarik, karena sudah beredar selama 2 hari," kilah Toriq usai menerima perwakilan umat kristiani yang mengajukan protes ke kantornya, seperti dikutip okezone (5/2/2008). Namun, ia menegaskan, untuk majalah Tempo dengan edisi bahasa Inggris tidak akan menggunakan cover tersebut. Toriq mengatakan, sangat menghargai kedatangan umat kristiani yang memprotes cover majalah Tempo. "Kehadiran mereka untuk berdialog sangat kami hargai. Karena ini merupakan aspirasi yang baik yang kami terima. Sikap damai ini sangat berguna untuk menyelesaikan masalah," katanya. Ia juga menegaskan, bahwa Tempo tidak bermaksud untuk melukai umat Kristiani dalam mencantumkan lukisan Las Supper karya Leonardo da Vinci. "Ternyata gambar tersebut sangat diagungkan umat Kristiani. Intinya ini adalah perbedaan penafsiran," pungkasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R6w0A2z35pI/AAAAAAAAAGA/lb5GMhy9Arw/s1600-h/HJHw82YZdH.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164560062004848274" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R6w0A2z35pI/AAAAAAAAAGA/lb5GMhy9Arw/s320/HJHw82YZdH.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perbedaan Penafsiran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, soal perbedaan penafsiran, sangat kentara betapa Bung Toriq—dan dengan demikian institusi Tempo--sangat dangkal pengetahuannya, khususnya soal lintas agama. Mengapa saya sampai berkesimpulan demikian? Tak harus dengan kacamata seorang kurator lukisan hebat pun, kita sudah mampu menilai “kesakralan” lukisan The Last Supper. Ada Yesus bersama murid-muridnya dalam sebuah perjamuan, yang kini kita warisi dalam sakramen ekaristi. Sakramen ekaristi, suatu puncak ibadat yang berlaku dalam tradisi Katolik Roma. Ritual tertinggi yang dirayakan di Gereja, karena Yesus berpesan, “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Aku.” Dalam sakramen ekaristi, hanya seorang pastor yang boleh mengucapkan kalimat itu, sebagai imam dan pemimpin ibadat, sebagai seseorang yang tertahbis untuk menjalankan karya perutusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, perbedaan penafsiran bagaimana yang dimaksudkan oleh Bung Toriq? Barangkali, perbedaan soal hormat atau tidaknya orang pada posisi Yesus sebagai tokoh sentral dalam lukisan itu. Logikanya, jika kita tidak menghormati seseorang, maka dengan mudah kita akan mengkamuflasekannya dalam wujud apapun. Era teknologi telah menyediakan software Adobe Photoshop, misalnya, untuk melakukan suatu “kreasi” terhadap objek apapun, tergantung nilai rasa seseorang. Jika kita tidak menghormati Bill Clinton, dengan mudah kita bisa melakukan suatu “cloning” wajahnya menjadi monyet. Jika kita tidak menghormati Pak Harto, dengan mudah kita melakukan “mountase” sehingga wajahnya menjadi Donald Duck. Maka Tempo, dengan mudah merubah wajah Yesus menjadi wajah Pak Harto dan wajah murid-murid Yesus menjadi wajah anak-anak Pak Harto! Lihatlah bacground ilistrasinya, meski dalam kontur dan ornamen yang dibuat agak berbeda, namun jelas sekali hanya manipulasi visual dari lukisan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penilaian Pribadi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi menilai, karya itu sesungguhnya kreatif. Sebuah smart move telah dilakukan terhadap sebuah karya lama dan tersohor, untuk mendaratkannya pada situasi terkini. Hanya saja, sayangnya, kedangkalan referensi sang kreator, telah membuat sebagian masyarakat Indonesia terluka, karena smart move itu dilakukan terhadap Tuhan kami! Tuhan kami, kawan, Ia adalah Yesus, Tuhan kami!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, kawan, Tuhan kami telah mengajarkan “cinta kasih” kepada umatnya. Ajaran itu menjadi hukum utama bagi umat Kristiani. Cintailah sesamamu, seperti dirimu sendiri, begitu salah satu penjabarannya. Maka, saya pribadi pun berharap, kejadian ini tak usah menjadi fanatisme sempit, solidaritas buta, yang justru melecehkan ajaran itu. Dengan semangat cinta kasih pula, majalah Tempo pasti tetap bisa melaksanakan aktivitas jurnalistiknya, tanpa harus khawatir akan serangan ke kantornya. Tak akan, tak akan terjadi, karena itu bukan ciri pengikut Yesus. Suatu dialog untuk penyelesaian akan terasa jauh lebih elegan dan berwibawa, tanpa mengurangi rasa hotmat bagi keduabelah pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar berikut, salah satu contihnya. "Kita tak ambil pusinglah soal cover tersebut. Biarkah sajalah majalah itu beredar. Biarkan umat sendiri yang menilai. Kami menganggap mungkin cover itu sebagian dari karya tulis dalam jurnalistik," ungkap Alfonsus Gultom, salah seorang aktivis Katolik Pekanbaru kepada okezone di Gereja Santa Maria, Pekanbaru, Rabu, (06/02/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Paus Yohanes Paulus II pun mengunjungi Ali Agca di penjara, dan mengampuninya. Padahal, Ali Agca nyaris menewaskannya, dengan tembakan yang merobek lambungnya. Iwan Fals pun meminta maaf pada umat Hindu saat mereka tersinggung karena gambar Dewa mereka dipasang pada sampul kaset “Manusia Setengah Dewa”. Dengan elegan, Iwan segera menarik pederadan kasetnya dari pasaran, sebagai wujud tanggungjawab dan rasa hormatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Toriq, anda tentu dimaafkan dalam kejadian ini. Tentu, kawan, tak diragukan lagi. Teruslah bekerja. Saya hanya mengingatkan, mungkin akan berbeda kenyataannya jika hal ini anda lakukan terhadap kelompok umat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R6w0eGz35rI/AAAAAAAAAGQ/9k2Hv-qyRcQ/s1600-h/yesus+gitar.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164560564516021938" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R6w0eGz35rI/AAAAAAAAAGQ/9k2Hv-qyRcQ/s320/yesus+gitar.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam situasi berbeda, Tuhan kami memang sering ditukikkan dalam masa kekinian. Saya sendiri pernah menyaksikan lukisan Yesus dengan baju lengan panjang yang disinsing sampai siku, sedang bermain hp. Juga, Yesus dengan wajah riang sedang bergitar. Marahkah saya? Tidak. Saya malah tersenyum, karena Yesus “hadir” dalam kekinian, menyaksikan perubahan dunia dan umatnya. Tapi, lukisan atau ilustrasi itu semata-mata menampilkan kekinian yang coba diwujudkan dalam diri Yesus. Bukan mengubah wajah Yesus menjadi wajah seseorang yang telah dicap sebagai penjahat oleh banyak orang! (Bung Toriq, apa yang anda rasakan, seandainya orang melukiskan Tuhan atau Nabi anda yang muncul dalam era kekinian?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Bill Clinton didera kasus perselingkuhannya dengan Monica Lewinsky, media Amerika dan &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R6w0d2z35qI/AAAAAAAAAGI/CQx320NeUhc/s1600-h/rubens-bill-and-monica-2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164560560221054626" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 242px; CURSOR: hand; HEIGHT: 207px" height="238" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R6w0d2z35qI/AAAAAAAAAGI/CQx320NeUhc/s320/rubens-bill-and-monica-2.jpg" width="264" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;dunia seakan berlomba mengejeknya. Karikatur berbagai bentuk ditampilkan. Di antaranya, karikatur ini, hanya saja referensi saya terbatas untuk melacak lukisan aslinya karya siapa dan menceritakan apa. Tak terlalu penting, kecuali sebagai gosip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kasus Tabloid Monitor&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik untuk direview saat ini adalah kasus tabloid Monitor tahun 1980-an. Arswendo Atmowiloto, pemimpin redaksinya yang beragama Katolik, membuat suatu angket tentang tokoh pilihan pembaca. Hasil angket menempatkan posisi Nabi Muhhamad pada peringkat ke-11, sedangkan Arswendo sendiri di peringkat ke-10. Artinya, pilihan bahwa Arswendo yang “lebih unggul satu digit” dari Sang Nabi, merupakan pilihan responden yang mengisi polling itu. Memang, itu merupakan hasil polling, apa adanya, bukan kemauan Arswendo dan juga bukan kemauan tabloid Monitor. Dan Arswendo, dengan enteng dan tanpa beban, memuat hasil polling itu, apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi kemudian? Sebagian masyarakat Muslim marah, terjadi keresahan di tengah masyarakat. Arswendo kemudian diproses secara hukum sampai dipenjara selama 5 tahun. Ia dianggap menghina Nabi Muhhamad. Tabloid Monitor dibreidel, dan masyarakat kehilangan satu media terlaris saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa sampai Tabloid Monitor dibreidel? Itulah hebatnya cakar rezim orde baru. Jika kita berpikir lebih dewasa dan bijak, mestinya kasus ini cukup diproses secara hukum kalau dianggap terjadi tindak pidana berat, tanpa harus mematikan terbitnya Tabloid Monitor. Kesalahan Arewendo—barangkali—soal “kepekaan sosial”. Polling itu memang apa adanya, karena bersumber dari responden, dan sebagai hasil survey sebenarnya sah-sah saja. Namun yang terlupakan, soal kepekaan sosial, akan kemungkinan hasil yang sebetulnya apa adanya itu ternyata telah melukai umat lain. Apes lagi, Arswendo beragama Katolik, maka tuduhan pelecehan itu semakin tajam. Ia harus “membayar mahal” atas kejadian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Post Scriptum&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Di era orde baru, jika ada media massa yang dianggap melanggar, dilakukan tindakan politis oleh pemerintah, yakni penghentian penerbitan atau pembredelan. Contoh yang paling terkenal adalah penghentian penerbitan Majalah Tempo, Editor dan Tabloid Detik, yang memuat pemberitaan mengenai pembelian kapal selam bekas oleh pemerintah yang dianggap sarat dengan praktek-praktek Nepotisme, Kolusi dan Korupsi (NKK) pada tahun 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU Pers yang sekarang lebih maju dan reformis. UU ini dilahirkan pada periode Presiden BJ Habibie. Tidak ada lagi kewajiban perizinan mendirikan media, seperti jaman rezim orba, dan pemerintah pun tak bisa membreidel sebuah media. Jika Anda punya dana besar dan tenaga yang dinilai mampu, silakan bangun media tanpa harus pusing memikir perijinan yang rumit. Hanya “pasar” yang memiliki power untuk mematikannya. Jika media tidak diminati pasar, dia akan mati pelan-pelan dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal cover majalah Tempo, memang mempunyai suatu pola atau style yang khusus. Mereka senang menampilkan karya karikaturistik dalam setiap desain covernya. Ini tentu saja salah satu aktivitas kreatif, sekaligus kritis. Sosok SBY bisa ditampilkan dengan segala multidimensinya dalam cover Tempo. Begitu juga tokoh lain seperti Megawati, Gus Dur, pokoknya siapa saja. Dengan lirikan dan tanpa pikir panjang, kita akan tahu citra apa yang sedang dibangun Tempo atas tokoh yang dikartunkan dalam covernya. Hal ini pernah diteliti oleh pekerja media, Agus Sudibyo, beberapa tahun lalu, yakni saat meneliti cintra Presiden Gus Dur dalam cover majalah Tempo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran cinta kasih memang sedang diuji. Seberapa mampukah ia bertahan, dalam derasnya arus globalisasi dan perkembangan media. Setiap orang bisa dengan bebas berekspresi. Tanpa ada yang sanggup melakukan sensor, selain daya kreativitas itu sendiri. Tempo sedang berhadapan dengan kelompok umat yang mengutakan hukum ‘Cinta Kasih”. Maka, kejadian ini pun pasti akan berlalu dengan elegan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;*Severianus Endi, lulusan Ilmu Komunikasi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Mantan Redpel Majalah SaKUBAR, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Seorang pengikut Yesus Kristus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-7761324573129645575?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/7761324573129645575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/02/ajaran-cinta-kasih-kembali-diuji.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/7761324573129645575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/7761324573129645575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/02/ajaran-cinta-kasih-kembali-diuji.html' title='Ajaran “Cinta Kasih” kembali diuji'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R6wzdmz35oI/AAAAAAAAAF4/sJgNQhRNZhY/s72-c/R5UEwNLQY8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-5101789958545483923</id><published>2008-02-05T02:57:00.000+07:00</published><updated>2008-02-05T03:42:30.612+07:00</updated><title type='text'>Publish or Perish!</title><content type='html'>Pernah dengar "pameo" itu? &lt;em&gt;Publish or perish!&lt;/em&gt; Terbitkan atau minggir! Sebuah pameo &lt;em&gt;*slas*&lt;/em&gt; katamutiara &lt;em&gt;*slas*&lt;/em&gt; idiom &lt;em&gt;*slas*&lt;/em&gt; semboyan yang populer di kalangan intelektual Amerika. Seorang intelektual di sana memang dituntut untuk mempublikasikan "buah keintelektualannya" dalam suatu media &lt;em&gt;*slas*&lt;/em&gt; jurnal &lt;em&gt;*slas*&lt;/em&gt; buletin &lt;em&gt;*slas*&lt;/em&gt; buku, sebagai wujud aktualisasi dirinya. Intelektual dituntut untuk mampu menyosialisasikan karyanya ke pada publik seluas-luasnya. Jika tidak? Pilihannya hanya satu: minggirlah! Tentu, dua-duanya bukanlah pilihan yang sederhana. Karya intelektual dalam bentuk tulisan memang sudah menjadi penanda level seseorang dalam jagad keilmuan. &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Apakah memang "sekasar" itu hukum yang berlaku bagi intelektual? Baiklah, tak usah bicara soal seseorang itu intelektual atau tidak. Mari bicara orang perorang yang kehidupannya dekat dengan dunia tulis menulis. Saat menjadi asisten seorang doktor yang juga sosiolog dari Lab Sosio UI, saya menanyakan apakah dirinya sudah akan dipromosikan menjadi profesor &lt;em&gt;*slas*&lt;/em&gt; guru besar? Dia menggeleng, dengan raut wajah seperti kesal. "Saya heran, Dik. Banyak guru besar kita yang karyanya kurang berbobot. Buku-bukunya diterbitkan oleh penerbit yang gak jelas. Juga banyak dosen yang gak pernah nulis. Saya gak bisa ngerti mereka-mereka itu, Dik." Lirih ucapannya di sela hisapan rokoknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sendiri baru menelorkan 2 buah buku, keduanya dalam bahasa Inggris dan berupa hasil penelitian, diterbitkan oleh lembaga riset luar negeri (sayang saya lupa lembaga riset mana yang disebutnya). Menurutnya, bukan dia tidak mampu menerbitkan banyak karya, tetapi lebih karena selektif menentukan siapa yang akan me-review, memberi kata pengantar, dan penerbit mana yang akan menerbitkan. Wah, memang sebuah sikap konsistensi yang luar biasa! "Kalau saya menulis sebuah artikel, pasti saya membaca paling tidak 2 artikel di jurnal internasional sebagai referensi, selain bahan-bahan utama yang saya miliki," lagi ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri masih memelihara asumsi, bahwa "produk" tulisan memiliki khalayaknya sendiri-sendiri. Para penggemar cerita stensilan yang dominan isinya uuuhhh &lt;em&gt;*slas*&lt;/em&gt; aaahhh &lt;em&gt;*slas*&lt;/em&gt; ooohhh yang yang erotis dan hiperbolik, tentu tak akan tertarik membaca "Burung-burung Manyar"-nya Mangunwijaya. ABG yang kecanduan bibir seksi Cinta Laura yang &lt;em&gt;bhahasha Indhoneshianya mhasih lechek-lechek&lt;/em&gt; tentu lebih tertarik membaca &lt;em&gt;Aneka Yess!&lt;/em&gt; ketimbang menelaah buku "Sejarah Perjuangan Bangsa". Penggemar Shakespiere yang bilang "apalah arti sebuah nama" mungkin saja tak suka "Salju Kilimanjaro"-nya Ernest Hemingway. Pengagum "Supernova"-nya Dewi Lestari barangkali tak tergiur oleh hasil penelitian luar angkasa NASA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian itu bisa saja terlalu menghakimi. Dalam kenyataannya, sering kita tak usah sibuk-sibuk membuat border &lt;em&gt;*slas*&lt;/em&gt; kotak &lt;em&gt;*slas*&lt;/em&gt; batas untuk memisah-misahkan sesuatu. Bahwa setiap karya memiliki publiknya sendiri, memang tak bisa disangkal. Namun bahwa setiap karya memiliki publik yang beragam, lintas publik dan lintas selera, juga bukanlah suatu kemustahilan. Kenapa tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, jika misalkan kebebasan untuk berkarya dalam dunia tulis menulis masih menjadi primadona hingga saat ini, barangkali sisi-sisi kepantasan yang harus lebih dipikirkan secara bijak, ketimbang sisi komersial semata. Jangan sampai untuk menghindarkan dakwaan "perish", maka apapun seolah sim salabim berubah menjadi karya yang sekadar asal jadi. Sebuah karya, hakekatnya merupakan hasil cipta yang original, meskipun memerlukan dukungan-dukungan dari berbagai referensi yang relevan. Terlepas dari itu semua, publik pembaca memiliki "kacamata" sendiri dalam menilai. Pernah saya temukan sebaris kalimat: "kadang pembaca lebih tajam matanya ketimbang penulis". Artinya, bersiaplah, jika karya telah dimunculkan ke publik, maka apresiasi dalam bentuk apapun akan beterbangan, atau sebaliknya adem ayem saja. Semua, tentu senantiasa menghadirkan makna. Tangkaplah makna itu!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-5101789958545483923?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/5101789958545483923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/02/publish-or-perish.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/5101789958545483923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/5101789958545483923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/02/publish-or-perish.html' title='Publish or Perish!'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-1782027081696424496</id><published>2008-01-30T21:09:00.000+07:00</published><updated>2008-01-30T21:35:28.571+07:00</updated><title type='text'>Pada suatu potong waktu</title><content type='html'>Pada suatu potong waktu, beberapa masalah menggelayut berat. Tepatnya, saat menyandang pangkat sebagai mahasiswa tua. Kata "tua" sebetulnya relatif. Kuliahku selesai dalam kurun 6,7 tahun. Bagi yang lulus lebih cepat dari rentang itu, tentulah otak dia akan berproses, dan keluar kesimpulan: lama! Beberapa mahasiswa muda "menasehati", jangan lama-lama. Jangan melawan dosen. Bla bla bla. Aku diam saja. Toh, percuma membela diri, karena dalam otak mereka yang muda itu sudah tertanam, lamanya kuliahku karena "dakwa" mereka itu. Nah, proses berjalan, mereka yang muda di antaranya mulai pada tahap sepertiku. Sebagian lancar, sebagian juga mengalami seperti yang kualami. Aku diam saja. Waktu sedang menjawab.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam "kelamaanku" berproses di dunia perkuliahan, kalau boleh sesekali berapology, rasanya sedikit kegiatan "non bangku kuliah" sempat kulakukan. Saat itu aku masih berpikir, ada baiknya menyeimbangkan teori dengan implementasi. Sempat juga bekerja, meski dalam rentang tak terlalu lama, namun langsung menukik pada bagaimana mengaplikasikan sesuatu yang pernah dipelajari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu potong waktu yang lain, aku berpikir, mungkinkah hidup tanpa masalah? Seseorang pernah berujar, entah di mana dan siapa, bahwa "kalau tak mau ada masalah, tinggal di surga saja". Implisit, hidup di dunia fana senantiasa akan menjumpai masalah. Hakekatnya, barangkali, hidup untuk masalah, dan masalah meminta solusi. Lalu muncul pameo yang pernah singgah: "the losser always has an excuse, but a winner always has a solution". Tampak jelas, masalah akan selalu ada di satu sisi, dan pilihan manusia menghadapinya di sisi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku iri melihat anak tetanggaku. Di saat hujan, dia dengan hanya memakai kolor berlari-lari, bermain air, menggoda temannya dengan memerciki air, dan setelah kuyup, pulang dan berganti pakaian. Keluguan seorang bocah, keluguan "tanpa" masalah. Lepas! Kesedihan terbesar baginya mungkin jika uang jajan kurang, atau tidak dibelikan mainan mobil remote baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia berlomba nyaris dalam segala hal. Ada yang cuap-cuap tentang nonsense, ada yang bangga tentang nonsense, dan ada yang cuma berdiam dalam nonsense. Masalah datang silih berganti, solusi muncul dan hilang bagai siluman. Ritme kehidupan di dunia nyata memang begini, barangkali. Ada plan yang telah disusun rapi, namun ada kondisi yang segera meruntuhkannya dalam hitungan detik. Lalu semua berserah pada kehendak Yang Kuasa, seolah memang wajib didakwakan padaNya. Inilah logika manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana logika saya pribadi? Nonsense, barangkali, seperti tulisan ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-1782027081696424496?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/1782027081696424496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/01/pada-suatu-potong-waktu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1782027081696424496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1782027081696424496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/01/pada-suatu-potong-waktu.html' title='Pada suatu potong waktu'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/StieITrYY3I/AAAAAAAAAQY/8d-i1UKa7dA/S220/avatar+endi+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8392853568387839178.post-1113534070224492366</id><published>2008-01-28T08:24:00.000+07:00</published><updated>2008-01-28T08:30:21.495+07:00</updated><title type='text'>Presenter ditabrak saat siaran</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R50vH2z35nI/AAAAAAAAAFw/cJSx_zly6aI/s1600-h/image0.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160332560055133810" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_3e-s4eoyI30/R50vH2z35nI/AAAAAAAAAFw/cJSx_zly6aI/s320/image0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Presenter RCTI, Lady Simarmata tertabrak mobil Land Cruiser ketika hendak menyiarkan langsung perjalanan jenazah mantan presiden Soeharto. (sumber: okezone)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, begitulah salah satu sisi riuh-rendahnya anak bangsa menghantarken daripada almarhum kepada peristirahatan terakhir. Harus jujur diakui, rasa haru tetap terasa, ternyata saya tiba-tiba sadar bahwa sisi kemanusiaan daripada diri saya masih ada. Syukurlah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8392853568387839178-1113534070224492366?l=pujangga78.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga78.blogspot.com/feeds/1113534070224492366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/01/presenter-ditabrak-saat-siaran.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1113534070224492366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8392853568387839178/posts/default/1113534070224492366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga78.blogspot.com/2008/01/presenter-ditabrak-saat-siaran.html' title='Presenter ditabrak saat siaran'/><author><name>Severianus Endi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01521580309489123995</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail'
