Minggu, 18 Oktober 2009

Nan dari Hong Kong

Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku, Rabu (14/10) malam pukul 20.18.16 WIB. Namanya juga pesan singkat, ya isinya pun singkat. "Bisakah ketemu besok siang? Nan dari hongkong."

Aku sedikit tersenyum, membaca kalimat yang terakhir. "Nan dari Hongkong". Maklum, sudah karib suatu "prokem" di kalangan kita, menambahkan candaan dengan frasa 'Hongkong'.

Keterangan Foto: Siluet suasana saat aku berdiskusi dengan Dr Nan, Kamis (15/10) di cofee shop Hotel Kini, Kota Pontianak. Andrew Yuen menjepret momen ini, yang karena back-light lalu mengubah nuansanya menjadi siluet. 

Kalau kebetulan nonton infotainment, kadang para artis terlihat menggunakan frasa itu: 'duit dari hongkong?'. Sulit mencari padanan untuk terjemahan bebasnya. Sulit, dan tak perlu.

Aku tidak terkejut dengan pesan singkat itu. Malam itu, saat aku kembali ke kantor, seseorang memberitahukan, ada "doktor dari Hongkong ingin bertemu". Nomor telepon genggamnya pun sudah diberikan padaku dan kusimpan di phonebook.

Aku belum mengenalnya. Info yang kuperoleh hanya dari sebuah kartu nama. Bertuliskan Dr CHOI Nankyung, peneliti Southeast Asia Research Centre (SEARC), dari City University of Hong Kong.

Siang itu, aku masih "melanglang buana" menyusuri sudut kota. Jadi, pas tamu itu datang, aku lagi tak di kantor. Informasi singkat yang kudapat, dia perlu wawancara terkait penelitiannya. Entah tentang apa, yang jelas aku yang disodorkan jadi responden. Walah!

"Kau kan udah lama liputan di desk kota, jadi paham masalah politik dan pemerintahan Kalbar. Jadi kau saja ya," kata "oknum" berkumis tebal melintang di kantorku.

Pesan singkat itu aku balas dengan apa adanya: "Baik pak nan, besok aku informasikan kembali. Tks." Dia pun menjawab: "Baik. Saya tunggu. Terima kasih." Dan aku pun melanjutkan rutinitasku di meja komputer, menuntaskan berbagai tugas.

Dalam benakku, doktor dari Hong Kong ini pastilah seorang pria yang sudah cukup berumur. Barangkali, kesan itu terpancar dari namanya. Sewaktu kuliah di Yogyakarta, aku pernah bertetanggaan dengan seorang doktor sastra dari Jepang.

Namanya Dr Itoh Koji, seorang pria berumuran sekitar 50-an tahun, berpostur kurus. Entah mengapa, personifikasi Dr Itoh Koji itu lantas terhubungkan dengan doktor dari Hong Kong itu. Aku lalu membayangkan, Dr Nan adalah seorang pria yang sudah cukup berumur.

Besoknya, usai melakukan sebagian pekerjaan rutinku, aku kirim pesan singkat. Waktu menjelang pukul 12.00, aku kira sebaiknya rehat sambil berdiskusi dengan beliau. "Mat siang pak, saya punya waktu sekitar pukul 12.00. Di mana saya bisa menjumpai bapak? Tks."

Pendek kata, disepakati bertemu di sebuah cofee shop di hotel tempat dia menginap. Seorang rekan, Andrew Yuen, yang juga pengurus sebuah organisasi sayap partai besar, rupa-rupanya menjadi penghubung Dr Nan dengan para nara sumbernya.

Setelah memacu sepeda motor bututku, tibalah di cofee shop itu. Kulihat, Yuen sedang duduk bersama seorang wanita. Di mana kah Dr Nang, bathinku. Aku pun menghampiri keduanya, dan menyalami mereka.

"Saya Nan, terima kasih sudah datang," ujar wanita itu.

Hah? Jadi Dr Nan ini seorang wanita? Wajahku memerah, dan segera aku minta maaf.

"Maaf, dalam pesan singkat, saya selalu menyebut Pak," ujarku.

"Ah, tidak apa. Memang sering orang kira saya laki-laki, mungkin nama saya agak aneh di sini," ujar Nan.

Aku berusaha mengalihkan rasa malu itu, dengan berbagai basa basi. Cerita ke sana kemari, sekadar mengakrabkan. Sampai akhirnya masuk pada semacam interview. Kulihat, Dr Nan menyalakan alat perekam. Sesekali, ia membuka catatan dalam buku agendanya.

Diskusi itu seputar kesan masyarakat terhadap elit Kalbar seperti pejabat pemerintah, politisi, tokoh masyarakat. Entahlah, apakah informasi dariku cukup membantu Dr Nan. Pertanyaan yang ditujukan padaku, kadang justru didominasi Yuen untuk menanggapinya. Mungkin hampir dua jam, diskusi berjalan.

Dr Nan seorang yang menarik. Dalam usianya yang 37 tahun, ia belum tampil layaknya seorang "ibu-ibu". Busananya masih berjiwa muda, mengenakan celana panjang jeans, dan sandal ikat. Seluruh jari kakinya dipolesi dengan kutek warna merah.

"Saya pernah di Jogja, pada 1997-2002," tutur Nan.

Pada tahun yang sama, aku juga berada di sana untuk kuliah di Atma Jaya Yogyakarta. Nan kuliah S-2 antropologi di UGM. Sedangkan doktornya diperoleh dari Australia jurusan politik.

Aku tergelitik untuk bertanya soal tenaga kerja wanita (TKW) di Hong Kong. Nan mengatakan, saat ini sekitar 300 ribu TKW bekerja di Hong Kong. Angka ini melampaui jumlah TKW asal Philipina, yang sebelumnya mendominasi.

"Sekarang, dominasi TKW Philipina telah tergeser oleh TKW Indonesia. TKW Philipina disukai karena pemahaman bahasa mereka lebih baik. Tapi ternyata baru-baru ini, TKW Indonesia dilatih selama 6 bulan untuk bahasa Kantonis (bahasa pergaulan di Hong Kong). Jadi kemampuan mereka sudah lebih bagus," katanya.

Lagipula, TKW dari Indonesia yang rata-rata berusia 20-25 tahun, menurut Nan, lebih mudah dikontrol, patuh, dan tidak neko-neko. Mereka juga bisa dibayar agak lebih murah ketimbang TKW dari Philipina.

"Satu bulan gaji TKW Indonesia sekitar 3.600 Dollar Hong Kong, setara sekitar Rp 4 juta rupiah. Sebenarnya agak di bawah ketentuan, tapi ya begitulah," ujarnya sembari tersenyum kecil.

Ia sendiri tidak menggunakan jasa TKW Indonesia. Untuk mengasuh anaknya, ia memakai jasa TKW Philipina, dengan alasan suaminya yang warga negara asing kesulitan dalam hal bahasa.

Dominan TKW di Hong Kong bekerja untuk sektor domestik. Seperti menjadi baby sister, berbelanja, mengantar anak sekolah, serta bersih-bersih rumah. Karena itu, jarang sekali ada tenaga kerja laki-laki dari Indonesia di sana. Hampir semuanya perempuan atau TKW.

"Tapi keluarga yang menggunakan jasa TKW hanya bagi yang sangat sibuk. Suami-istri bekerja, sehingga sering terjadi, TKW semacam ibu pertama, dan ibu asli justru seperti ibu kedua," lagi kata Nan sambil tertawa.

Satu hal yang sangat berkesan, Nan mengatakan, mereka tak pernah menyebut TKW itu sebagai pembantu. Katanya, mereka menyebut mereka sebagai "domestic helper". (*)

Jumat, 16 Oktober 2009

Cari Jeneng, Bukan Jenang

* Dua Jam Berbicang dengan Kusno

Angin puting beliung, hujan deras, dan petir yang sambar menyambar di Kota Pontianak, Selasa (13/10) lalu memberi kesan tak terlupakan bagi Kusno Setyo Utomo (32).

Ia dan seluruh penumpang pesawat dari Yogyakarta ke Pontianak sempat sport jantung, saat "montor mabur" itu kembali naik ke udara, beberapa saat sebelum menyentuh landasan di Bandara Supadio.

Di wilayah Jl P Natakusuma, angin puting beliung yang mulai menggila sekitar pukul 13.27 WIB itu merusakkan sejumlah rumah. Pemberitaan koran esok harinya berisikan sejumlah foto dan kesedihan warga yang menjadi korban.

Mas Kusno, panggilan saya untuk Kusno Setyo Utomo, adalah warga Yogyakarta, seorang wartawan Radar Jogja, dari Jawa Pos Group. Selasa sore itu merupakan kali pertama ia menginjakkan kaki ke Kota Khatulistiwa.

Kusno ikut karena menjadi bagian suatu lembaga di Kota Gudeng, yang tengah menyusun kerja sama dengan Pemkot Pontianak. Sedianya, rombongan berangkat dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta sekitar pukul 09.00 dengan Sriwijaya Air. Otoritas bandara mengumunkan delay, hingga pukul 13.00. Berangkatlah mereka menuju Kota Pontianak, namun penerbangan tidak mulus.

"Semula kami hendak didaratkan sementara di Pangkal Pinang, tapi tak jadi. Akhirnya mendarat sementara di Pelambang, dan sempat menunggu di sana," tutur Kusno, saat saya jumpai di tempatnya menginap, Hotel Mercure, Rabu malam sekitar pukul 21.40.

Sekitar pukul 15.00, pesawat diterbangkan dari Palembang menuju Pontianak, di tengah hujan deras. Kusno mengisahkan perjalanan itu terasa menegangkan. Seorang anak kecil yang duduk di belakangnya menangis tiada henti.

"Suara tangisan itu membuat suasana terasa mencekam. Saat hendak mendarat di Pontianak, pesawat sudah hampir menyentuh landasan. Eh ndilalah tiba-tiba gerakannya menaik lagi ke udara dengan guncangan-guncangan lumayan kuat. Semua penumpang, saya lihat, pucat wajahnya," tutur Kusno.

Begitulah, perjalanan pertama ke kota ini memberikan kesan tak terlupakan bagi pria bekacamata ini. Omong-omong, siapa Kusno ini?

* * *

Dia kakak kelas saya, saat sama-sama kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Kami kuliah di Program Studi Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik. Saya angkatan 1997, dan Kusno duluan setahun. Tapi untuk beberapa matakuliah, kami kerap satu kelas.

"Wah, lima tahun kita nggak ketemu, sejak wisuda bareng April 2004 lalu," kenang Kusno.

Tak ada yang berubah dari sosok Kusno. Juga kegemarannya menggunakan busana serba hitam. Kami bercerita, tentu saja sambil mengenang saat-saat kuliah di Yogya.

Kurno sudah menjadi wartawan Radar Jogja sejak berusia 23 tahun, dan saat masih menjalankan kuliah. Di kampus, saya semula curiga, dengan penampilan Kusno yang beda dengan mahasiswa lain. Dia selalu rapi, tak tak pernah kelihatan "cangkruk" di kantin atau selasar kampus.

"Saya tebak, Mas Kusno pasti udah kerja," ujar saya, dalam sebuah perkuliahan yang kami ikuti bersama. Kusno hanya mengangguk dan tersenyum.

"Ya, di penerbitan," ujarnya, tanpa langsung menyebutkan langsung profesi wartawannya.

Hal yang saya ingat, Kusno pandai sekali meniru tulisan tangan Bung Karno dan Pak Harto. Saat mengikuti perkuliahan yang membosankan, ia kadang menggoreskan pena cairnya ke secarik kertas, lalu menunjukkannya kepada saya.

Saya perhatikan, persis. Mirip sekali dengan tulisan tangan Bung Karno dalam beberapa dokumen sejarah. Juga mirip tulisan Pak Harto yang bisa kita temukan dalam sejumlah sambutan penerbitan buku.

Saya sempat bergurau, bahwa ada "hubungan" antara Mas Kusno dengan Bung Karno. Menurut sebuah buku, sebelum bernama Soekarno, Putra Sang Fadjar itu terlebih dahulu diberi nama oleh keluarganya dengan "Koesno". Mas Kusno hanya nyengir mendengar gurauan saya.

* * *

"Gimana pekerjaannya, Mas," tanya saya dalam perbincangan di Hotel Mercurie itu.

Pertanyaan ini saya rasa penting, barangkali bisa mendapatkan pencerahan. Maklum, Kusno kini menapaki tahun kesembilan kiprahnya di jurnalistik. Saya kira, banyak sekali ilmu dan pengalaman yang bisa saya dengar dan pelajari.

"Masih seperti dulu, saya liputan tiap hari. Masih di lapangan. Sempat ditawarkan jadi redaktur, tapi masih saya tolak dulu. Saya enjoy dengan pekerjaan ini," kata Kusno.

Saya kagum dengan semangat itu. Padahal, ia sempat hampir celaka gara-gara pekerjaannya. Januari 2004, di suatu malam Jumat, Kusno dipukul oleh dua orang tak dikenal saat hendak pulang dari kantor.

Saya sendiri baru tahu kejadian ini, saat ada seminar di kampus, kalau tidak salah mengenai kekerasan terhadap wartawan. Mas Kusno menjadi satu dari beberapa pembicara, menuturkan peristiwa yang dialaminya. Diduga kuat, pemukulan itu merupakan imbas dari berita yang ditulisnya.

Saat itu ia merupakan wartawan untuk desk kota, sehingga liputannya berkisar Pemkot dan DPRD Yogya. Tapi, ia tidak kapok. Kepada saya, dia mengatakan, jika mencintai suatu pekerjaan, apapun resikonya harus dihadapi dengan berani.

Dulu, entah tahun berapa persisnya, Kusno pernah datang ke kos saya saat masih di Yogyakarta. Memang kadang kami bertemu untuk sekadar diskusi kecil terkait tugas-tugas kuliah.

"Ndi, kowe nduwe montor ora?" tanyanya.

Ia menanyakan, apakah saya punya sepeda motor. Sepanjang masa perkuliahan, saya tak memiliki kendaraan pribadi. Saya hanya bisa naik bus kota atau angkot untuk berangkat kuliah atau sekadar jalan-jalan.

"Waduh, ra nduwe mas. Ketoke ono gawean yo," aku menebak, dia menawarkan suatu pekerjaan.

"Iyo, Ndi. Meteor nggolek wartawan anyar," ujarnya.

Meteor, koran kriminal milik Radar Jogja, mencari wartawan baru. Ia menawarkan peluang itu padaku, dan sayang sekali aku tak bisa mengambil kesempatan ini. Memiliki sepeda motor pribadi mutlak dimiliki wartawan. Lah iyalah, mosok nyari berita, kriminal lagi, cuman mengandalkan angkot?

* * *

Ketika aku kisahkan kembali cerita itu, Kusno masih mengingatnya. Memang saat kuliah, aku sempat beberapa kali menulis di harian lokal maupun nasional. Tapi hanya berupa artikel ringan, seperti kolom mahasiswa dan resensi buku. Ada sekadar honor untuk membeli rokok kretek.

Dalam perbincangan malam itu, aku menumpahkan sebagian keluh-kesahku. Tentang tantangan pekerjaan sehari-hari, suasana yang kadang tak menyenangkan, sampai pada rasa bosan yang belakangan ini sepertinya mencapai kulminasi.

Kusno memang seorang Jawa yang baik. Ia mendengarkan dengan cermat, dan tidak memvonis. Usai mendengarkan keluh-kesahku, ia pun menyitir beberapa falsafah Jawa.

"Saya tidak hebat. Kebetulan saja saya lebih dulu jadi wartawan. Kamu menurut saya hebat. Meski di Pontianak ini baru setahun lebih jadi wartawan, tapi kamu sudah pernah bertugas sampai ke Kaltim," ujarnya.

Ya, setelah tamat dari Universitas Atma Jaya 2004 lalu, saya berkesempatan bekerja di sebuah majalah di Kutai Barat, Kaltim selama dua tahun. Setahun sebelumnya, di tengah masa pengerjaan skripsi, saya juga berkesempatan bekerja di sebuah tabloid di Balikpapan meski hanya beberapa bulan.

"Soal kebosanan, tantangan, dan sebagainya, itu wajar lah. Namanya juga nggolek urip, Ndi. Dan kita manusia, bukan mesin. Wajar kalau ada dinamika seperti itu," katanya.

Ia pun menyemangati dengan falsafah 'cari jeneng, bukan jenang'. Jeneng artinya nama. Kusno bilang, selagi masih muda, kita harus mencari 'nama'. Membangun image dan citra yang positif, untuk menapak langkah berikutnya. Bukan mencari jenang, yang diasosiasikan dengan materi yang didapat. Jenang sendiri sebenarnya sejenis makanan mirip dodol yang terkenal di Jawa.

"Pada awalnya, carilah nama. Biarlah suatu saat, orang bisa mengenal kita, sehingga pergaulan sosial menjadi luas. Materi atau penghasilan, nanti dengan sendirinya seiring kesuksesan kita," begitu sarannya.

Di tengah kepenatan hidup dan kesumpekan pikiran, bisa saja kita justru menilai orang lain lebih enak hidupnya. Tentang hal ini, Kusno pun punya falsafah menarik.

"Itulah namanya wang sinawang. Artinya, kita bisa menilai hidup orang lain itu lebih enak. Padahal jika kita berada pada posisi orang itu, mungkin kita juga tetap mengeluh," katanya.

Ia pun berilustrasi Bisa saja seorang gubernur menilai, profesi tukang becak itu enak. Walaupun capek mengayuh becak, tapi uang yang diperoleh cukup untuk beli makan, dan abang becak bisa tidur pulas.

Sebaliknya, seorang gubernur tak perlu bersusah payah mengeluarkan tenaga seperti abang becak, dan uangnya banyak. Ia bisa makan apa saja. Tapi bisakah dia tidur nyenyak?

Berbagai urusan, belum lagi menghadapi masalah politik, membuat tidur pun tak nyaman. Tukang becak bilang, jadi gubernur enak. Sebaliknya bisa saja gubernur bilang, jadi tukang becak enak. Tak banyak pikiran.

* * *

Hampir dua jam, kami berbincang sambil duduk di kursi empuk loby hotel yang baru beberapa bulan diresmikan itu. Di luar, gerimis kembali membasahi bumi, setelah tadi siang dihajar dengan hujan deras, tiupan angin, dan kilatan petir. Saya pamit, dan Mas Kusno mengantar sampai ke pintu hall. Esoknya, sekitar pukul 12.00, ia akan kembali bersama rombongan ke Kota Gudeg.

Kota Pontianak,
Jumat, 16/10/09, pk. 22.40 WIB
di sela jadwal piket di kantor

Selasa, 13 Oktober 2009

Saya Perlu Pencerahan

(Note: Dengan sengaja dan tanpa izin penulisnya, naskah ini dikutip sepenuhnya dari http://www.miank.web.id/2009/09/saya-perlu-pencerahan.html. Segala keberatan atas pengutipan tanpa izin ini, bisa diselesaikan melalui musyawarah secara kekeluargaan. Jika masih juga mentok, disarankan untuk berperkara di Mahkamah Konstitusi.)

Sebuah pesan singkat masuk. Pesan itu datang dari seorang teman. “Saya perlu pencerahan karena semangat kerja sudah semakin melorot.”

Saya prihatin. Bagaimana seseorang yang tegar seperti dia harus kehilangan semangat. Padahal setiap ketemu saya lihat dia begitu bersemangat. Apa yang terjadi? Saya menjadi seseorang yang haus dengan keingintahuan yang membuat teman tadi tidak bersemangat.

Siangnya, teman tadi kembali mengirim pesan singkat. Ia bilang ingin bertemu. Saya langsung iyakan. Kami bertemu di sebuah warung kopi. Saya datang lebih dulu sekitar lima belas menit. Ada beberapa teman satu profesi.

Tidak terlihat kalau dia memiliki beban berat. Justru sebaliknya. Si pengirim pesan singkat itu tetap ceria. Kami bicara banyak hal. Mulai dari hal yang tak penting hingga sesuatu yang membangkitkan semangat hidup.

“Apa yang kita rasakan hari ini?”

“Saya harus menjawab pertanyaan ini?” Saya balik bertanya.

“Tidak, disimpan saja,” sahutnya. “Hah,” kesal sepertinya.

Saya menangkap ada beban yang tersirat dari senyumannya. Saya coba menerka. “Kayaknya kami sedang mengalami masalah besar?”

“Ah, siapa bilang?” Dia mencoba berkelit.

Dia mencoba menyembunyikan kegalauan hatinya. Padahal sebenarnya ia sedang memanggul salib yang cukup berat. Salib adalah analogi bagi seorang kristiani jika ia memanggul beban berat. Salib merupakan sebuah gambaran penderitaan. Sama halnya ketika Yesus mengalami penderitaan ketika memanggul salib ke Golgota untuk menebut dosa manusia. Tapi salib sekarang ini tidak sebesar salib yang dipikul Yesus. Begitu juga dengan beban yang dipanggul teman saya.

Saya tidak berusaha menghiburnya. Saya malah meminta dia melawan penderitaan itu. Mengajak beban itu berkelahi. Tentu saja dengan pikiran-pikiran yang positif. Tapi bukan sebuah motivasi. Justru sebaliknya.

Teman berkilah. “Saya sudah tidak percaya dengan teori-teori motivasi. Banyak buku motivasi yang isinya tidak sesuai realita. Terkadang isinya berbohong.”

Apa jawab saya? “Itu betul. Saya juga tidak percaya dengan buku-buku yang katanya bisa memberi motivasi, memberi inspirasi.”

Lalu saya bilang sama dia, “Lebih baik kamu baca buku-buku kriminal. Serial-serial pembunuhan. Tentu saja saya tidak ingin kamu berbuat kriminal. Menjadi seorang pembunuh. Tapi sebaliknya. Dari cerita-cerita itu kamu harus membunuh bebanmu. Menangkap para kriminil yang mengganggumu sehingga kamu harus kehilangan semangat.”

Dia bergeming. Hanya alisnya sedikit naik. Jenggot jarangnya dipilin-pilin. Ia tidak mengangguk-angguk. Saya kira ia bingung. Atau sedang mencari alasan agar bisa meng-kick balik apa yang saya bilang tadi.

Lima menit saya biarkan. Ia tetap bergeming. Sesekali menggaruk kepalanya. Kegatalan. Kena miang. Atau mungkin ketombean. Kadang ia memegang hidungnya yang memang tak mancung.

“Banyak orang yang sepertimu. Saya juga pernah merasakan hal yang sama. Tapi saya lawan. Tentu dengan hal-hal yang negatif. Saya bunuh beban-beban itu. Saya tangkap dan penjarakan dia. Dan, itu berhasil.”

Dia makin bingung. Kopi pancung yang dipesannya diseruput. Habis. Sigaret yang tersisa sebatang disulutnya. Sekali tarik, asap mengepul. Segumpal asap bebannya turut keluar. Kembali ia tersenyum. Agak getir. Tapi ada ketenangan yang keluar. Walau sedikit. Saya kira dia mulai senang. Masih jauh dari bahagia. Semangatnya belum pulih.

Tiga jam kami ngobrol. Kami pun bubar. Sebelum bubar, saya hanya bilang, “Jalani saja apa yang kamu dapati hari ini. Bersyukurlah karena masih ada yang mau menerima tenagamu. Berbahagialah karena kamu yang terpilih. Karena banyak yang terpanggil, tapi sedikit yang terpilih.”

Sebuah pesan singkat lain masuk. Saya buka. Isinya, “Saya perlu pencerahan karena semangat kerja sudah semakin melorot.” Sebuah pesan singkat yang sama. Hah! (*)

Minggu, 04 Oktober 2009

Kedatangan Orang, Berkat bagi Kami

* Pemberkatan Rumah Santo Dominikus

Suasana meriah namun khidmat sangat terasa di halaman rumah di Jl Palapa 3C, Pontianak, Selasa (29/9) malam sekitar pukul 18.30 WIB. Seorang pria membuka acara dengan bacaan doa dalam bahasa Dayak Kanayatn, sambil menebarkan beras.

Keterangan foto: Ny Berdanetha JC Oevaang Oeray (dua dari kiri), berdampingan dengan Pastor Edmund C Nantes OP dalam pemberkatan Rumah Santo Dominikus, Selasa (29/9) malam. Foto by SEVERIANUS ENDI
Pria itu, Pastor Benedictus Pr, didaulat untuk membawakan ritual budaya dalam pemberkatan rumah milik para pastor dari Ordo Dominikan itu. Sebagai simbol peresmian, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak, Pastor Willian Chang OFM Cap, menetas bambu yang dilintangkan di pagar halaman.

Berikutnya, ratusan umat serta undangan, para suster, dan pastor berhimpun dalam doa. Secara bergantian, sejumlah pastor memerciki bagian ruangan dan kapel dengan air kudus, diiringi lagu dan alunan musik gerejawi.

Itulah rumah milik para pastor dari Ordo Dominikan. Ordo para pastor dari Philipina ini baru membuka pelayanan satu-satunya di Indonesia, yakni di Kota Khatulistiwa.

Istimewanya, rumah tersebut mewarisi sisi sejarah tersendiri. Di situ pernah berdiam Ny Berdanetha JC Oevaang Oeray, istri Almarhum JC Oevaang Oeray, gubernur pertama Kalbar.

"Saya pernah tinggal di sini, setelah bapak (JC Oevaang Oeray-red) meninggal. Setelah itu saya pindah. Lalu beberapa waktu lalu para pastor membeli rumah ini," tutur Ny Berdanetha kepada Tribun dengan suara pelan dan agak bergetar.

Wanita yang telah berusia lebih dari 80 tahun ini mengaku tak ingat tahun berapa persisnya dirinya tinggal di rumah itu. Ia yang mengenakan busana warna ungu muda saat itu, mengaku sedang kurang sehat karena mengalami sakit di kaki.

Superior Rumah Santo Dominikus Pontianak, Pastor Edmund C Nantes OP yang juga asal Philipina, mengatakan, sisi historis rumah itu tetap dipertahankan sebagai ciri khas. Mereka memodifikasinya dengan sejumlah motif Dayak.

Edmund menuturkan, kehadiran Dominikan untuk membangun perdamaian dengan semua orang. Terutama membuka dialog dengan saudara kita seperti umat Muslim, untuk menjalin persaudaraan yang erat.

"Kita juga sangat menghormati sisi sejarah rumah ini, karena pernah didiami istri Gubernur Kalbar yang pertama," tutur Edmund kepada Tribun.

Ia mengungkapkan kebahagiaannya melihat ramainya tamu dan undangan yang hadir. Suasana halaman rumah itu meriah, mirip pesta taman penuh keakraban.

"Kedatangan para undangan merupakan berkat bagi kami. Dengan berkat Tuhan pula, kami berharap, karya kami membangun perdamaian dan dialog lintas agama dan etnis bisa terwujud," harapnya.

Berkat juga diberikan oleh pimpinan tertinggi Dominikan di Philipina atau disebut Provincial, Pastor Quirico Pedregosa Jr OP. Selain itu, Asisten Misi Justice and Peace Dominikan, Pastor Bien Trisillia Jr OP, Bendahara Dominikan Pastor Auches OP, serta Pastor Enrico Gonzales OP yang juga dosen filsafat.

Kemudian seorang pastor Dominikan kelahiran Pontianak, J Robini Marianto OP. Serta dua Dominikan lainnya, Pastor Andrian OP dan Pastor Andreas Kurniawan OP. (severianus endi)

Sempit dan Rusak, Tapi Aman

* Kesan Warga Malaysia Susuri Jalan Kalbar

Ruas jalan yang sempit dan kondisinya rusak, ternyata tak selamanya memunculkan kekesalan. Pujian bisa saja muncul dibalik carut-marut infrastruktur tersebut.

Adalah Joing Midel, satu dari 46 warga Malaysia yang berkunjung ke Kota Pontianak dalam rangkaian Borneo Dayak Cultural Heritage Safari, 18-22 September lalu.

Keterangan foto: Saya bersama James Richie (kanan), wartawan Eastern Times, berfoto saat malam gembira di Rumah Betang Kota Pontianak, 21 September. Foto by Severianus Endi
Rombongan tersebut berangkat dari Kuching menuju Kota Pontianak, sempat menginap di Sanggau dan Singkawang. Kemudian tiba di Kota Pontianak, 21 September sore.

Mereka menempuh perjalanan darat 751 kilometer antara Kuching-Pontianak, menggunakan sejumlah mobil jenis sport. Joing menuturkan, ketika perjalanan bermula dari Kuching, suasana terasa nyaman dengan jalan yang lebar dan mulus.

"Mulai terasa beda setelah melewati perbatasan di Entikong. Jalanan lebih sempit dan rusak, tapi hebatnya, sepanjang perjalanan itu tak terjadi satu pun accident," tutur Joing kepada Tribun, beberapa saat setelah tiba di Kota Pontianak dan melakukan check in di sebuah hotel.

Ia menilai, orang Kalbar sangat memahami bagaimana berkendara dalam kondisi jalan sempit dan rusak. Itupula sebabnya, ia yang baru pertama kali berkunjung ke Kalbar merasa tenang sepanjang perjalanan.

"Saya juga surprise, di sini banyak amat motocycle dan kerete. Tapi ya itu tadi, tak ada accident meskipun jalan trouble sangat," pujinya.
Pensiunan Petronas ini menggambarkan, kondisi sebaliknya terjadi di tempat asalnya. Sedikit sekali sepeda motor dan mobil di jalanan, karena banyak orang memilih jalan kaki atau naik bis kota.

"Kerana jalanan luas dan bagus, mungkin orang-orang suka laju berkendara. Maka seringlah ada accident," katanya.
Seorang peserta lainnya, James Richie, juga mengungkapkan perasaan senang karena rasa rindunya kepada Kalbar bisa terpuaskan. Pasalnya, ia pernah melakukan perjalanan darat amat sulit sekitar 20 tahun silam.

"Waktu itu, kami menggunakan sepeda motor menyusuri jalan kecil. Waduh berkesan sekali. Kami banyak membuat foto hutan yang masih bagus," kenang wartawan Eastern Times ini.

Nah, saat kembali berkunjung ke Kalbar kali ini, pria berdarah campuran Skotlandia ini menemukan kenyataan yang lebih maju. Jalanan sudah terbuka, kendaraan banyak, meskipun hutan-hutan alami yang dulu dijumpainya sudah banyak berkurang.

"Datang ke Kalbar, bisa mengobati kerinduan saya. Kita kan negara seumpun, bersaudara, bersahabat. Kalau ada waktu, saya tetap ingin berkunjung lagi ke sini," ujar Richie, yang sudah 36 tahun berprofesi sebagai wartawan ini.

Rombongan ini mencatat aneka pengalaman berkesan sepanjang perjalanan. Di Landak, misalnya, mereka disambut dengan tari-tarian tradisional setempat. Richie pun menunjukkan foto-foto digital dari kameranya, saat acara meriah itu berlangsung.

"Usia saya sudah 60 tahun lebih, tapi semangat saya untuk berkunjung tak pernah surut. Kalbar menjadi tujuan favorit saya, jika nanti ada kesempatan lagi," kata Richie sambil tersenyum. (severianus endi)

Cetak Biru Kerjasama SDNU dan MADN

* Tempuh 751 KM Jalan Darat Kuching-Pontianak

Cetak biru kerja sama yang dibangun Serawak Dayak National Union (SDNU) bersama Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) memasuki langkah awal yang besar. Sebuah perjalaman bersejarah untuk pertama kalinya digelar, dalam rentang 18-22 September, untuk penyerahan MoU antar negeri serumpun ini.

Keterangan foto:
Serah-terima cindera mata antara pejabat Kalbar-Sawarak, di malam perpisahan di Hotel Kapuas Pallace Kota Pontianak. Foto by Severianus Endi

 
Sebanyak 46 orang, termasuk di dalamnya 3 mantan menteri di Malaysia, menempuh perjalanan darat 751 kilometer antara Kuching-Pontianak. Sempat menginap di Sanggau dan Singkawang, rombongan tiba di Kota Pontianak Senin (21/9) sore.

"Ini sebuah langkah besar dari cita-cita besar, untuk membina satu identity Dayak di Borneo. Ke depan kita akan membuat badan Dayak Sabah-Kalimantan yang bisa melingkupi semua," ujar Dr John Brian Anthony, kepala rombongan Borneo Dayak Cultural Heritage Safari tersebut.

Ia menuturkan, kerja sama akan dibangun di bidang kebudayaan, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Karena itu, jalinan silaturahmi yang erat harus dikembangkan, agar kerja sama ini mudah direalisasikan.

"SDNU dan MADN telah sepakat, agar bangsa serumpun di dua negara ini boleh bekerja sama. Kita akan lihat semua opportunity, baik bidang culture, education, dan juga business," kata John Brian.

Ketua MADN Wilayah Kalbar, Atan Palil, mengungkapkan, kunjungan ini sekaligus menjadi napak tilas budaya. Seperti penuturan para leluhur, kedua bangsa di dua negara yang berbeda ini, dulunya berasal dari rumpun yang sama.

"Budaya menjadi alat pemersatu dan pencipta perdamaian. Kolaborasi ini akan menciptakan hubungan yang harmonis," kata Atan Palil.

Tokoh pemuda Dayak, yang juga Presiden Front Pembela Dayak, Petrus SA, mengungkapkan, meski berbeda negara, jalinan persaudaraan tak boleh putus. Hanya konsep negaralah yang menjadikan wilayah berbeda, tetapi hubungan persaudaraan menembus batas-batas itu.

"Kegiatan ini bukan dalam kerangka politik. Kita semakin disadarkan, saudara kita juga ada di Sarawak, begitupun sebaliknya," ujar Petrus.

Malam itu juga, digelar pesta penyambutan di Rumah Betang, Jl Sutoyo. Para peserta larut dalam keakraban, dengan suguhan khas Dayak serta kolaborasi mudik tradisional maupun modern.

"Sangat menggembirakan di sini. Sebelumnya dalam perjalanan, kami juga dijamu di Landak dengan tari-tarian," kata Salam, satu di antara pengurus SDNU.

Bagi Salam, ini bukanlah kali pertama berkunjung ke Kalbar. Ia kerap terlihat hadir dalam beberapa acara budaya yang telah lewat, seperti Pekan Gawai Dayak.

Ramah-tamah dengan Gubernur Kalbar digelar di Pendopo keesokan harinya, Selasa (22/9). Pagi itu pula, Menteri Pembangunan Sosial dan Urbanisasi Negeri Sawarak Malaysia, Yang Berhormat Dato Sri William Mawan Anak Ikom, menyusul dengan pesawat jet.

Cornelis mengatakan, pulau Kalimantan yang besar dan dibagi menjadi tiga negara, membutuhkan hubungan saling pengertian. Apalagi sejarah mencatat, suku-suku di ketiga negara sesungguhnya berasal dari rumpun yang sama dan bersaudara.

"Negara ini tak cukup hanya dibangun dari sisi ekonomi. Tapi juga dengan kebudayaan yang punya nilai positif yang bisa mempererat hubungan antar negera ini," kata Cornelis.

Acara pemungkas berupa serah-terima naskah MoU antara SDNU dan MADN dilakukan malam harinya, di Hotel Kapuas Pallace. Pada kesempatan itu, YB Dato Sri William Mawan Anak Ikom mengatakan, aspek sosial budaya haruslah diperjuangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kedua negara.

"Kegiatan seperti ini dapat terus dikekalkan di masa-masa yang akan datang. Kita hanya dipisahkan secara geografis, tapi hubungan persaudaraan ini sudah ada sejak lama," kata Dato Sri. (severianus endi)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution